
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya ya. Mendekati akhir dari novel ini, author harap semuanya akan memberikan banyak perhatian kepada novel ini, Terimakasih....
...*...
...*...
...*...
...*...
Waktu menunjukkan pukul enam sore, pada ruangan yang dingin nan gelap beberapa orang berada di sana. Eksekusi Dewina dan Mr.Frank akan dilakukan sebentar lagi, Edison dan Lyra sudah ada disana cukup lama, mereka ingin melihat dengan mata mereka penyesalan dari kedua orang itu.
"Hati - hati, kamu belum boleh banyak menggunakan kaki mu!!"
Suara yang cukup untuk dikenal oleh Edison dan Lyra mereka hanya menatap satu sama lain dan tertawa.
"Ini tidak banyak, dari tadi juga kamu terus menggendong ku! Aku juga mau berjalan sendiri"
Lyra selalu iri kepada Nissa, bukan karena ia iri atas kebahagiaan dari istri teman nya itu tapi Lyra iri kepada apa yang istri teman nya itu dapatkan. Nissa bisa bermanja kepada Ben dan mengungkapkan isi hati nya dengan mudah, namun Lyra tidak bisa seperti itu meski ia ingin mengatakan banyak hal kepada Edison. Ia ingin memeluk Edison dan mencintai nya dengan kemanjaan dan senyum yang cerah, namun ia terlalu kaku untuk melakukan hal itu di hadapan Edison.
"Sudahlah Ben, Istrimu hanya ingin berjalan, kau selalu saja berlebihan, Aku tahu kau cinta pada istrimu tapi tolong jangan berlebihan dan memamerkan cinta kalian!!" Edison menggoda Ben saat Ben dan Nissa baru masuk ke dalam ruang bawah tanah.
"Ed!! Kau tidak mengerti!! Kaki Istriku ini sangat berharga..."
"Tapi aku hanya menuruni tangga itu saja!! Sejak turun dari mobil sampai ke tangga itu, kamu selalu menggendong ku" Nissa masih memprotes hal itu. Kaki nya juga butuh berjalan sedikit untuk membiasakan diri.
Nissa melihat nya raut terpana dari Lyra, Lyra terus menatap nya dengan pandangan itu sejak Nissa melihat nya saat ia masuk.
"Kenapa Lyr?" Tanya Nissa dengan lembut.
Lyra langsung tersadar dan kembali mengontrol ekspresi nya. Nissa dan Ben bisa melihat ada kecanggungan di antara Lyra dan Edison. Edison terus mengetuk - ngetuk kursi roda nya dengan jari sedangkan Lyra terus mengalihkan wajah nya.
"Ed, ada apa dengan kalian? Kenapa kalian begini? Bukan nya kalian sudah mulai berbaikan?" Tanya Ben.
__ADS_1
Edison yang menyerah pun akhirnya berbicara kepada Ben dan Nissa.
"Aku melamar Lyra sejak kemarin, Yang kupikirkan saat itu hanyalah ingin melamar nya dan menikahi nya, Aku tak ingin jauh dari nya sama sekali, Aku hanya ingin bersama nya selama yang ku bisa"Ucap Edison.
"Bagus lah, lalu apa masalah nya?" Ben masih belum mengerti apa yang berusaha Edison sampai kan.
"Aku menolak lamaran itu" Perkataan dari Lyra membuat Ben semakin tak mengerti.
"Bukankah kau mencintai nya lyr? Lalu kenapa? Kenapa kau menolak Ed?"
"Sudahlah, Kau tidak mengerti Ben!"
"Lyr, Apa kau sudah tidak cinta pada Ed lagi? Jika kau menolak lamaran itu tentu saja kau harus punya alasan untuk hal itu"
Lyra hanya mendesah dengan kuat, ia memilih tak menjawab sama sekali.
"Itulah yang aku bingung kan darinya! Kenapa dia menolak ku? Apa dia sudah tidak cinta? Saat kutanya dia hanya diam dan tidak menjawab ku!!"
"Baiklah, kita bicarakan ini nanti, sekarang kita lihat saja proses eksekusi Dewina dan Mr.Frank"
Mereka berempat pun menuju ke ruangan dimana Dewina dan Mr. Frank akan bersiap untuk dieksekusi. Ben melihat Mr. Frank yang terus menangis dan memohon meminta pengampunan kepada nya untuk membebaskan Dewina saja.
"Tolong lepaskan anak ku!! Aku akan menerima hukuman nya tapi tolong lepaskan anak ku!! Aku akan membayar semua kerugian yang ada tapi lepaskan Dewina!!" Jerit Mr.Frank
Nissa berjalan dengan pincang ke arah Mr. Frank dan menampar nya dengan kuat. Air mata Nissa terus jatuh karena luapan amarah nya.
"Kalian berdua telah banyak membuat nyawa orang lain hilang karena perbuatan kalian!! Apa kalian tahu berapa banyak pengawal dan pelayan kami yang mati dan terluka?! Bahkan beberapa pelayan di rumah kami masih belum sadarkan diri karena terkena ledakan dan tembakan kalian!!" Bentak Nissa.
Nissa ingin menampar Mr. Frank dengan keras namun tangan nya tak mampu melakukan lebih dari itu. Mr.Frank dan Dewina sama sekali tak merasa bersalah atas perbuatannya. Elsa salah satu pelayan favorit Nissa saat ini masih berada dalam masa kritis akibat ledakan. Belum lagi para pengawal di gerbang, nyawa mereka lenyap seketika terkena tembakan dan Bom.
"Itu salah mereka yang bekerja dalam rumah kalian!" Jawab Dewina.
"Apa?! Kenapa kalian tidak merasa bersalah sedikitpun terhadap korban? Dan kalian bilang ingin membayar kerugian?! Kalian pikir uang itu bisa mengembalikan nyawa seseorang?!!!" Nissa telah menghilangkan rasa simpati nya kepada Dewina dan Mr. Frank.
__ADS_1
Saat itulah eksekusi pun mulai dilakukan. Para Eksekutor bertanya kata - kata terakhir yang ingin disampaikan oleh Dewina maupun Mr.Frank, Mr. Frank memilih untuk tidak mengatakan apapun dan menerima hukuman nya.
"Sampai Akhir pun dia tidak mau meminta maaf" Ucap Nissa kepada Ben.
Ben mengangguk dan saat hukuman dilayangkan kepada Mr. Frank Ben segera menarik Nissa dalam dekapannya dan menutup mata Nissa dengan tangan nya.
"Lebih baik kamu tidak melihat nya, gunakan saputangan mu dan tutup hidung mu" Ucap Ben.
Bau darah memenuhi ruangan, saat itulah giliran hukuman untuk Dewina.
"Apa ada kata - kata terakhir?" Tanya Eksekutor.
"Aku hanya menyesal...."
Nissa sedikit bersimpati saat Dewina mengatakan hal itu.
"Aku hanya menyesal menyia - nyiakan waktuku untuk menunggu, jika aku lebih cepat menemui Benedict sebelum wanita itu, pria itu pasti akan jadi milik ku, Aku menyesal membiarkan wanita itu mendului langkah ku"
Sraaaakkkk......
Saat itulah suasana menjadi hening. Untuk Lyra dan Edison mereka sudah biasa dengan hal itu, sehingga mencium darah dan melihat pemandangan itu bukan aneh lagi bagi mereka. Yang Ben khawatir kan adalah Nissa, karena saat itu juga Nissa langsung pingsan karena mencium bau darah yang pekat dan sangat kuat.
"Istrimu kenapa kesini sih kalau tidak bisa melihat hal begini?!" Protes Edison.
"Nissa kan tidak mau jauh dari ku, lagian dia ingin melihat penyesalan dan permintaan maaf dari keduanya, Aku sudah bilang itu mustahil tapi dia masih bersikeras ingin ikut"
"Kau terlalu lemah pada istrimu"
Ben hanya tertawa mendengar perkataan Edison.
-bersambung-
__ADS_1