
Pagi itu,,
Setelah kepergian Bayu ke kantor untuk bekerja, Risha juga memutuskan pergi ke pengadilan agama bersama pengacara yang telah Ia tunjuk untuk menangani kasus perceraiannya nanti dengan Bayu..
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini, Risha..? Lebih baik kamu pikirkan lagi dengan matang sebelum berkas-berkas ini kita masukkan ke dalam.." tanya pengacara itu yang tidak lain adalah teman dari Risha dan Ayu saat kuliah dulu, yang juga telah menghadiri acara pernikahannya pada waktu itu.
"Iyaa Aabid, aku yakin dengan keputusanku ini.."
"Coba kamu pikirkan lagi Ris, gimana nanti dengan perasaan kedua orang tua Bayu.. Pasti mereka akan sangat kecewa.." ujar Aabid yang sangat menyayangkan keputusan yang telah Risha ambil, karena di usia pernikahan mereka yang masih sangat baru tapi harus segera bercerai.
"Aku tau itu, tapi aku akan pastikan rasa kecewa mereka akan berganti dengan bahagia.."
"Maksud kamu apa, Ris..? Aku gak ngerti.." tanya Aabid yang terlihat bingung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Risha..
"Nanti juga kamu akan tau sendiri, yaa udah ayo kita masuk ke dalam. Semoga ini awal yang baik.."
Risha dan Aabid pun segera masuk ke dalam sebuah gedung pengadilan agama, untuk memasukkan berkas-berkas yang di butuhkan dalam proses gugatan cerai yang akan Risha layangkan pada Bayu.. Meski pada awalnya mendapat penolakan dari Ayu yang tidak ingin pernikahan Risha dan Kakaknya berakhir secepat itu, namun Risha yang berusaha meyakinkan Ayu akhirnya bisa mengerti dan menerimanya.
"Aku anterin kamu yaa Ris, kalau perlu sekalian aku temenin kamu di makam sampai kamu pulang.." seru Aabid pada Risha yang ingin berziarah ke makam orang tuanya, karena urusan mereka kini telah selesai.
"Gak usah Bid, aku pergi sendirian aja. Kamu juga pasti masih punya banyak urusan kan.."
"Tapi Ris, Ayu udah pesan sama aku kalau urusan kita udah selesai aku harus nganterin kamu pulang.." ujar Aabid yang tidak ingin melanggar perintah dari wanita yang selama ini diam-diam Ia sukai itu.
"Udah gak apa-apa, omongan Ayu gak udah di dengerin. Aku bisa pergi dan pulang sendiri kok, aku kan bukan anak kecil lagi.."
"Tapi, Ris--"
Aabid hanya bisa menghela nafasnya, saat melihat Risha pergi begitu saja dengan menaiki sebuah taksi yang sudah Risha pesan sebelumnya. Tidak menunggu lama, Aabid pun segera menghubungi Ayu untuk memberitahukan bahwa Risha tidak ingin di antar pulang olehnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, kini Risha telah tiba di sebuah pemakaman yang di buat khusus hanya untuk keluarga besar dan kerabatnya. Dengan area yang cukup luas dan banyak pepohonan serta bunga, membuat siapapun berziarah tidak merasa takut untuk berlama-lama berada di sana.
__ADS_1
"Ayah, Bunda.. Risha datang jengukin Ayah sama Bunda.. Maafin Risha yaa, karena udah lama gak datang ke sini.." ucapku sembari menaburkan bunga dan menyiramkan air ke pusara Ayah dan Bunda, lalu berdo'a untuk keduanya.
"Ayah sama Bunda baik-baik aja kan di sana..? Di sini Risha juga baik-baik aja, jadi Ayah sama Bunda gak usah cemas. Risha minta maaf yaa Bun, Ayah.. Karena Risha gak bisa buat Ayah dan Bunda bangga, apa lagi ngebahagiain. Bahkan saat ini pun Risha mungkin udah buat Bunda sama Ayah kecewa.."
Tidak terasa air mata Risha menetes begitu saja, Ia merasa sedih saat mengingat permintaan dari Bunda nya untuk menikah dengan Bayu. Kini pernikahan mereka tidak lama lagi akan berakhir dengan perceraian, yang pasti akan membuat kedua orang tua Bayu kecewa.
Risha yang sudah puas menumpahkan segala keluh kesah dan air matanya, kini bergegas untuk kembali pulang. Meski dalam hati Ia ingin menemui Cindy, namun Risha takut merasa kecewa untuk kesekian kalinya saat kekasihnya itu ternyata tidak berada di kost-an seperti yang sudah-sudah.
"Ayu, Aabid..! Kok kalian berdua bisa ada di sini..?!"
Langkah Risha terhenti dan merasa terkejut, saat melihat sosok Ayu yang berjalan menuju ke arahnya bersama Aabid yang juga ikut bersama dengannya.
"Iyaa Ris, aku cemas sama keadaan kamu. Karena aku tau, kalau sekarang kamu pasti lagi sedih.." ucap Ayu sembari memeluk Risha..
"Tapi gak perlu sampai kamu dan Aabid jemput aku ke sini Yu, kenapa gak langsung ke rumah aja..?"
"Langsung ke rumah aja gimana, orang kamu sendiri aja masih di sini,mmmh.. Yaa udah ayo kita pulang bareng..!" ajak Ayu sambil menggandeng tangan Risha, sedangkan Aabid yang melihat itu hanya mengikuti mereka berdua dari belakang.
Di sebuah kamar kost-an, terlihat Cindy yang sedang memeriksa setiap sudut di dalam lemari pakaiannya. Ia berusaha untuk menemukan uang yang barangkali masih ada tersimpan, karena saat ini keuangannya sudah mulai menepis. Terlebih sejak Ia mengenal se'orang laki-laki yang menjadi teman kencannya, hampir setiap kali bertemu selalu Cindy yang menghabiskan uang untuk pria itu.
"Aku harus ketemu sama Risha, sebelum uang aku benar-benar habis.." ucap Cindy dengan seringai liciknya, Ia pun segera bersiap-siap untuk menemui Risha. Karena hanya Risha yang selama ini telah banyak membantunya dalam masalah keuangan, hingga membuat Cindy menjadi ketergantungan dan malas untuk bekerja.
Cindy yang kini sudah berada di depan pintu rumah Risha, segera mengetuk pintu beberapa kali. Ia beruntung, karena waktu itu tidak jadi membuang alamat rumah Risha yang di tinggalkan oleh Risha untuknya.
"Cindy..! Kok gak bilang kalau mau ke sini..? Yaa udah ayo masuk.." ajak Risha pada Cindy yang mengikutinya dari belakang, sambil melihat ke arah Ayu lalu mengedipkan matanya. Ayu yang mengerti maksud dari isyarat yang di berikan oleh Risha, segera bergegas untuk pergi.
"Ada tamu yaa Ris..? Yaa udah kalau gitu, aku mau pulang dulu yaa.. Sampai ketemu besok.." seru Ayu sambil tersenyum penuh arti, rasanya Ia tidak sabar menunggu cerita selanjutnya dari Risha tentang hubungannya dengan Cindy..
"Siapa dia..? Selingkuhan kamu..?!" tanya Cindy dengan ketus dan berpikir bahwa sepertinya Ia pernah melihat dan bertemu Ayu, tapi entah dimana. Ia pun tidak ingin ambil pusing, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Yaa gaklah Sayang, itu adiknya Bayu.. Kamu gak perlu cemburu.."
__ADS_1
Risha pun duduk di samping Cindy dan membelai rambutnya dengan lembut, dan menggenggam tangan Cindy..
"Aku seneng banget kamu mau datang ke sini, karena aku kangen banget sama kamu, Sayang.."
"Iyaa, karena aku mau minta tolong sesuatu sama kamu.." ucap Cindy yang menepis dengan perlahan tangan Risha yang ingin memeluk dirinya, namun Risha yang mendapat penolakan halus itu hanya tersenyum.
"Memang kamu mau minta tolong apa..? Ngomong aja, pasti aku bantu semampu aku.."
"Aku mau pinjam uang sama kamu, Ris.. Karena uang aku udah hampir habis, nanti pasti akan aku ganti kalau aku udah dapat pekerjaan.." ujar Cindy yang selama ini sering kali mengatakan hal yang sama, ingin meminjam uang dari Risha. Namun tidak pernah berniat untuk mengembalikannya, dan Risha juga tidak pernah meminta Cindy untuk mengembalikan uang yang di pinjam darinya.
"Ohh,, iyaa Cindy, kamu tunggu sebentar yaa.."
Risha segera berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu membuka lemari dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang. Ia pun keluar kamar dan berjalan menghampiri Cindy, yang terlihat menatapnya dengan tersenyum lebar.
"Ini buat kamu, kamu pakai aja buat keperluan sehari-hari dan yang lainnya. Gak usah di kembalikan, aku ikhlas kok.."
"Terimakasih yaa Sayang, kamu memang baik banget.." sahut Cindy seraya memeluk tubuh Risha, dan Risha pun membalas pelukannya.
"Kalau gitu aku mau pulang dulu.." ucap Cindy yang bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu, Cindy..! Kok cepat banget udah mau pulang, aku masih kangen sama kamu.."
"Tapi aku gak kangen sama kamu, Ris.." gumam Cindy hanya dalam hati.
"Aku masih ada urusan, besok aja kita ketemu lagi yaa.." balas Cindy sembari tersenyum dan mencium pipi Risha, lalu berlalu pergi meninggalkan Risha yang masih berdiri menatapnya dengan raut wajah yang kecewa.
"Sekarang kamu udah benar-benar berubah, Cindy.." gumam Risha dalam hati, lalu menghela nafasnya dengan dalam...
Bersambung...
🙏😊 A59⭐
__ADS_1