
Ibu Rumi yang hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang oleh dokter, kini sedang bersama dengan Cindy di dalam sebuah mobil yang akan mengantarkan mereka menuju ke rumah Ibu Rumi..
"Maaf yaa Cindy, Ibu terus saja merepotkan kamu. Karena mengantarkan Ibu pulang ke rumah, kamu sampai tidak masuk kerja.." ucap Ibu Rumi..
"Tidak apa-apa kok Bu, aku justru senang bisa membantu. Apa lagi Ibu juga sudah aku anggap seperti Ibu ku sendiri.." sahut Cindy sembari tersenyum, Ia juga tidak mungkin membiarkan Ibu Rumi untuk pulang sendirian. Meskipun kondisinya sudah membaik, namun masih belum benar-benar pulih sepenuhnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, kini keduanya pun telah tiba di depan sebuah rumah yang terlihat sepi. Karena selain agak jauh dari tetangga, banyaknya pepohonan yang ada di sana juga membuat rumah itu terlihat terpencil dari rumah yang lainnya.
"Ini rumah Ibu, tempat Ibu dan Andre tinggal selama beberapa tahun ini.." ucap Ibu Rumi sembari memandangi raut wajah Cindy yang terlihat berubah.
"Di tempat sepi begini Bu, apa Ibu tidak takut..?" tanya Cindy yang melihat di sekeliling rumah itu yang banyak di tumbuhi pohon dan rumput ilalang.
"Saat baru-baru tinggal di sini, memang Ibu sempat merasa takut. Tapi lama-kelamaan Ibu terbiasa, begitu juga dengan Andre. Karena memang cuma rumah ini yang tersisa, saat Ayahnya Andre meninggal dunia.." ujar Ibu Rumi sambil menghela nafasnya dengan berat, kenangan masa lalu yang kelam itupun tiba-tiba saja muncul dalam ingatannya.
"Ibu kenapa..? Apa Ibu baik-baik saja..?" tanya Cindy saat melihat wanita itu tiba-tiba saja tetunduk diam.
"Ibu tidak apa-apa Cindy, ayo kita masuk ke dalam.." ajak Ibu Rumi sambil tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan dalam hatinya, mengingat betapa malangnya nasib dirinya bersama putranya itu.
"Beginilah kondisi rumah Ibu, Cindy.. Sederhana dan biasa saja, sangat jauh dari kesan mewah.." ucap Ibu Rumi sambil mempersilahkan Cindy untuk duduk.
"Ibu tidak perlu bicara seperti itu, aku sama sekali tidak menilai dan mempermasalahkan itu semua.." sahut Cindy sembari mengeluarkan air minum dan makanan yang tadi sengaja Ia beli untuk Ibu Rumi..
"Ini Bu, di makan dan di minum dulu. Barangkali Ibu haus atau capek.." ucap Cindy yang meletakkan minuman dan beberapa makanan di atas meja.
"Maafkan Ibu yaa Cindy, karena Ibu tidak punya minuman atau makanan apa-apa untuk bisa di suguhkan buat kamu. Justru kamu yang sebagai tamu memberikan tuan rumah makanan dan minuman.."
Ujar Ibu Rumi dengan rasa bersalah bercampur sedih di dalam hatinya, karena setelah suami yang Ia cintai meninggal dunia. Kehidupannya dan Andre langsung berubah seratus delapan puluh derajat, kehidupan yang awalnya penuh dengan rasa bahagia dan sangat berkecukupan berubah menjadi serba kekurangan. Bahkan Andre juga terpaksa harus berhenti dari kuliahnya saat itu.
"Tidak apa-apa Bu, aku bisa mengerti kok bagaimana keadaan Ibu sekarang. Yang penting Ibu banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, agar Ibu bisa benar-benar pulih dan sehat kembali.." sahut Cindy yang semakin merasa kasihan dan tidak tega dengan kehidupan Andre dan Ibunya, yang selama ini ternyata mengalami kesulitan.
__ADS_1
"Iyaa Cindy, Ibu pasti akan banyak beristirahat biar cepat sembuh. Agar Ibu bisa berjualan lagi.." balas Ibu Rumi yang bertekad untuk lebih bekerja keras lagi untuk bisa memenuhi kebutuhannya, meski kini kondisinya dan tenaganya tidak bisa seperti dulu lagi.
"Iyaa Bu, yang terpenting kesehatan Ibu dulu harus di jaga.." sahut Cindy yang bisa merasakan bagaimana kesulitan hidup yang selama ini Ibu Rumi alami, karena Ia sendiri juga pernah mengalaminya.
Keduanya kini melanjutkan perbincangannya, hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Cindy pun berpamitan untuk pulang ke kost-annya, meski dalam hati Ia merasa tidak tega meninggalkan Ibu Rumi sendirian di rumah itu.
"Apa Ibu tidak apa-apa sendirian di rumah..?" tanya Cindy memastikan.
"Tidak apa-apa Cindy, Ibu sudah terbiasa. Kamu tenang saja.." sahut Ibu Rumi sambil tersenyum.
"Yaa sudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu, Bu.." ucap Cindy sembari menyalami tangan wanita itu, lalu berlalu pergi meski dengan perasaan berat hati.
"Kamu hati-hati di jalan yaa, Cindy.." balas Ibu Rumi yang mengantarkan Cindy hingga di luar teras, lalu menatap kepergiannya yang semakin jauh berjalan.
🐝
Keesokan harinya,,
"Ibuu..!"
Teriak Andre sembari memeluk erat tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu, dengan air mata yang berlinang membasahi kedua pipinya. Selain karena perasaan rindu yang teramat sangat, Ia juga merasakan kesedihan dan rasa bersalah pada Ibunya yang telah Ia buat kecewa.
"Apa kamu baik-baik saja, Nak..? Ibu sangat mengkhawatirkan kamu.." tanya Ibu Rumi seraya memegang wajah Andre dengan kedua tangannya, lalu menghapus air mata Andre yang terus saja mengalir.
"Maafin aku, Bu.. Karena udah buat Ibu jadi khawatir dan kecewa sama aku, aku benar-benar minta maaf.." ucap Andre yang langsung bersimpuh di hadapan Ibunya.
"Kenapa kamu lakukan itu, Nak..? Ayah dan Ibu tidak pernah sekalipun mengajarkan kamu untuk menyakiti orang lain, apa lagi sampai mencelakai.." ucap Ibu Rumi mengungkapkan rasa kekecewaannya pada Andre..
"Iyaa Bu, aku memang salah. Waktu itu aku benar-benar di kuasai oleh perasaan cemburu dan sakit hati, hingga membuat aku menjadi gelap mata dan hilang kendali. Tolong maafin aku, Bu.." pinta Andre dengan penuh harap, agar Ibunya bersedia untuk memaafkannya.
__ADS_1
"Ibu sudah memaafkan kamu, Andre.. Meski di hati Ibu masih merasakan kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur terjadi, kamu harus menjadikan ini semua sebagai pelajaran dan terima hukuman ini atas semua yang sudah kamu lakukan.." ujar Ibu Rumi sembari menarik nafasnya dengan dalam.
"Iyaa Bu, aku memang pantas di hukum dan mendapatkan ini semua. Gimana keadaan Ibu sekarang..? Apa udah jauh lebih baik..?" tanya Andre yang langsung memperhatikan tubuh Ibunya dari atas ke bawah.
"Ibu semakin kurus banget.." ucap Andre menatap wajah Ibunya dengan perasaan yang sangat sedih dan bersalah.
"Ibu baik-baik saja Andre, kamu tidak usah khawatir. Apa lagi sekarang ada Cindy yang sering menjenguk dan mengunjungi Ibu, dia memang wanita yang sangat baik.."
Andre yang mendengar itupun langsung mengalihkan pandangannya pada Cindy, yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan Ibu dan dirinya.
"Syukurlah kalau gitu, Bu.." sahut Andre sambil tersenyum. "Terimakasih yaa Cindy, karena selama ini udah mau menjenguk dan menemani Ibu ku.."
Ucap Andre pada Cindy dengan tulus dan sangat bersyukur, karena jika tidak ada Cindy entah bagaimana keadaan Ibunya sekarang.
"Iyaa Andre, sama-sama. Aku udah anggap Ibu Rumi seperti Ibu ku sendiri, lagi pula aku juga gak punya siapa-siapa lagi. Tante dan keluarganya udah gak peduli lagi sama aku.." ujar Cindy sambil menahan rasa pusing dan mual yang tiba-tiba saja muncul.
"Jangan sekarang.." gumam Cindy dalam hati, namun lama-kelamaan Ia sudah tidak bisa menahan lagi, ada sesuatu di dalam perutnya yang sangat ingin keluar saat itu juga.
"Maaf Bu, aku mau ke kamar mandi dulu yaa.." Cindy pun segera berjalan dengan terburu-buru seraya menutup mulutnya.
"Cindy kenapa yaa, apa dia sedang sakit..?" ucap Ibu Rumi yang sejak tadi melihat Cindy seperti orang yang sedang tidak enak badan.
"Mungkin karena Cindy lagi hamil, Bu.." ucap Andre tanpa sadar, membuat Ibunya yang mendengar itupun langsung menatapnya dengan tatapan yang tajam dan penuh tanya.
"Maksud kamu apa, Andre..? Cindy sedang hamil..?" tanya Ibu Rumi pada Andre yang terlihat hanya diam, tanpa menjawab pertanyaan darinya.
"Jawab pertanyaan Ibu, Andre..!"
Belum sempat Andre menjawab pertanyaan dari Ibunya, dari arah belakang terlihat Cindy yang berjalan ke arah mereka dengan wajah yang terlihat agak pucat...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59⭐