
Tokk,, tokk,, tokkk..
"Ris,, Risha..!" terdengar sebuah suara yang tidak asing lagi bagi Risha..
"Iyaa, sebentar.." sahut Risha sembari bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ke arah pintu kamar.
"Tumben pakai di kunci segala, Ris..? Memang kamu lagi ngapain sih..?" tanya Ayu yang langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan melihat ke sekeliling.
"Tadi aku lagi sibuk ngetik Yu, memang ada apa..? Udah jam segini kenapa belum berangkat ke butik juga.." ucap Risha sembari merapikan buku-buku yang ada di atas meja.
"Iyaa sebentar lagi aku ke butik, aku ke sini cuma mau menyampaikan pesan dari Cindy buat kamu. Nih kamu baca aja sendiri.." sahut Ayu yang langsung memperlihatkan isi pesan dari Cindy yang ada di ponselnya pada Risha..
"Ohh,, iyaa aku ngerti.."
"Terus gimana, kamu mau gak ketemu sama Cindy dan keluarga kecilnya..?" tanya Ayu sembari tersenyum tipis, mendengar pertanyaan itu Risha terlihat berpikir dan menghela nafasnya.
"Menurut kamu gimana, Yu..?" balas Risha yang balik bertanya.
"Kalau menurut aku yaa kamu temui aja Ris, apa kamu gak mau ketemu sama Cindy..? Memang kamu gak kangen sama dia,hee.." goda Ayu seraya menahan tawanya.
"Kangen sih, tapi--"
"Tapi apa, Ris..?" tanya Ayu lagi yang merasa penasaran dengan apa yang ingin di ucapkan oleh Risha..
"Gak apa-apa Yu, kamu bilang aja sama Cindy kalau aku mau bertemu di luar aja dan cukup Cindy yang datang. Kamu bisa kan mengaturnya..? Sekalian kamu berikan alasan, kenapa aku gak mau bertemu dengan Andre dan Ibunya.." pinta Risha yang sebenarnya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka.
"Oh gitu, iyaa aku akan mengaturnya, kamu tenang aja dan tunggu kabar dari aku nanti. Apa perlu nanti aku temenin kamu ketemu sama Cindy..?" tanya Ayu yang mengkhawatirkan Risha, karena Ia tahu pertemuan itu nanti pasti akan membuat Risha kembali merasa sedih.
"Gak usah Yu, aku bisa pergi sendiri. Sebelumnya terimakasih yaa, kamu udah banyak banget bantuin aku, Ayu.." ucap Risha dengan tersenyum tulus.
"Ngapain sih pakai ngomong terimakasih segala, kita kan sahabat, keluarga dn mantan ipar. Jadi harus saling membantu,hehehee.." sahut Ayu sambil tertawa terkekeh-kekeh..
"Kamu ini Yu, aku ngomong serius juga,mmmh.." balas Risha yang langsung menggelengkan kepalanya. " Yaa udah kamu pergi ke butik sana, udah mau siang ini.."
__ADS_1
Risha pun menarik dan mendorong tubuh Ayu dengan perlahan, lalu membuka pintu kamarnya agar Ayu segera keluar.
"Yahh,, di usir deh, nanti kamu ke butik yaa Ris.. Aku tunggu, jangan lupa..!" seru Ayu yang perlahan menghilang dari balik pintu, meninggalkan Risha yang kini tampak termenung di samping jendela kamarnya.
🐝
Malam harinya,,
Seperti yang sebelumnya sudah di atur oleh Ayu, kini Risha dan Cindy pun bertemu. Di sebuah ruangan pribadi yang berada di restoran mewah, keduanya duduk saling berhadapan satu sama lainnya. Suasana seketika hening, saat tidak ada se'orang pun dari mereka yang memulai untuk bicara.
"Mau sampai kamu diam..?" tanya Risha sambil menarik nafasnya, karena sejak tadi Ia berharap Cindy yang memulai untuk mengajaknya bicara. Namun, Cindy masih tetap diam sambil terus menatap wajahnya.
"Aku lagi menikmati pemandangan yang ada di depanku.." sahut Cindy sambil tersenyum, tanpa mengalihkan pandangannya pada Risha..
"Gak usah bercanda, atau ngomong sesuatu hal yang konyol.." balas Risha sembari meneguk minumannya.
"Kamu yakin gak mau makan malam dulu..?" tanya Risha yang sebelumnya sudah menawarkan Cindy untuk menikmati makan malam bersamanya, tapi Cindy tetap menolaknya.
"Aku gak lapar, lihat kamu aja aku udah ngerasa kenyang.." balas Cindy yang lagi-lagi membuat Risha merasa canggung dengan ucapannya yang terdengar tidak biasa itu. "Tapi kalau kamu laper, yaa udah kamu aja yang makan. Biar nanti aku suapin.." ucap Cindy lagi.
"Ini minum dulu, Ris..!" seru Cindy pada Risha, seraya memberikan segelas air putih.
"Kamu kenapa mendadak ngomongnya aneh gitu..? Seperti biasa aja Cindy, gak usah yang aneh-aneh.." ucap Risha yang semakin merasa bingung dengan cara bicara Cindy yang tidak seperti biasanya itu.
"Aku cuma ingin bersikap dan bicara lebih baik, seperti layaknya pada pasangan atau orang yang aku sayangi. Aku masih sayang banget sama kamu, Ris.." sahut Cindy yang sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya.
"Iyaa aku tau, terus ada hal apa kamu ngajak aku ketemu..?" tanya Risha yang sengaja mengalihkan pembicaraan, karena Ia tidak ingin Cindy membahas tentang perasaan padanya.
"Ohh,, iyaa itu karena aku ingin berterimakasih sama kamu, karena kamu udah mau membantu untuk kebebasan Andre.. Dan aku juga tau, kalau kamu lah yang sengaja mempekerjakan Andre di perusahaan milik orang tua kamu itu.." ujar Cindy..
"Pasti kamu tau semua itu dari Ayu,mmmh.. Padahal aku udah ngelarang dia untuk gak ngomong sama kamu soal itu.." sahut Risha..
"Kamu jangan marah sama Ayu, karena aku sendiri yang udah maksa dia untuk cerita semuanya. Aku banyak berhutang sama kamu Ris, kamu udah banyak banget bantuin aku. Termasuk juga Andre dan Ibunya.." ucap Cindy dengan rasa bersalah dalam hatinya, karena mengingat selama ini Ia sudah berulang kali membuat Risha kecewa.
__ADS_1
"Aku ikhlas ngelakuin itu semua, yang penting kamu dan si kecil bisa hidup dengan bahagia.." sahut Risha sembari tersenyum, meski ada rasa sedih yang Ia rasakan saat ini.
"Iyaa Risha, terimakasih banyak. Tadinya Andre dan Ibunya juga ingin bertemu sama kamu, untuk mengucapkan terimakasih secara langsung. Tapi Ayu bilang, katanya kamu hanya ingin bertemu sama aku. Kenapa, Risha..? Apa kamu marah sama mereka berdua, atau kamu sengaja mau berduaan sama aku..?" tanya Cindy sembari tersenyum menatap Risha yang kini juga menatapnya.
"Aku cuma gak mau aja ngerasain suasana yang kaku dan canggung, di saat bertemu sama mereka berdua.." jawab Risha..
"Atau karena kamu juga gak mau ngerasain cemburu..?" sahut Cindy yang bisa mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Risha saat ini.
"Jangan ngomong sembarangan, aku gak cemburu dan gak ada yang perlu aku cemburuin. Kalau gak ada lagi yang mau di omongin, lebih baik kita pulang aja.." balas Risha, yang sebenarnya Ia takut jika tidak bisa menahan perasaannya yang masih ada pada Cindy..
"Tunggu, Ris..! Maaf, kalau omongan aku buat kamu jadi ngerasa gak nyaman. Aku juga ingin mengembalikan ini.." Cindy menyerahkan sebuah kartu ATM pada Risha, yang dulu di berikan oleh Ayu padanya.
"Sebagian udah aku pakai untuk sewa toko dan juga modal usaha bersama Ibu Rumi, tapi nanti aku akan mencicil setiap bulannya.." ucap Cindy..
"Tapi ini memang buat kamu, gak perlu di kembalikan.." sahut Risha yang tidak mau menerimanya, namun Cindy juga tetap menolaknya.
"Jangan buat aku banyak berhutang budi dan kebaikan kamu, Ris.. Karena aku gak akan mampu untuk membalas semuanya, udah cukup semua yang kamu berikan dan lakukan buat aku dan orang lain.." ujar Cindy sembari tersenyum.
"Yaa udah kalau gitu, aku terima dan kamu juga gak perlu mengembalikan atau mencicil uang yang udah kamu gunakan itu.." sahut Risha..
"Aku akan tetap mengembalikannya, Risha.." balas Cindy yang tetap bersikukuh ingin mengembalikan uang milik Risha yang telah Ia pakai.
"Yaa udah terserah kamu, lebih baik sekarang kita pulang.." sahut Risha..
"Apa benar-benar gak ada kesempatan buat kita bisa bersama lagi, Ris..?" tanya Cindy sembari menggenggam tangan Risha yang langsung menatapnya, lalu menghela nafasnya dengan berat.
"Kenapa kamu diam aja, Ris..? Ayo jawab, apa aku salah karena masih berharap sama kamu..? Aku tau, kalau kamu juga masih sayang banget sama aku.." Setelah mengatakan itu, terlihat air mata yang jatuh menetes membasahi kedua pipi Cindy..
"Aku memang masih sayang sama kamu, tapi aku gak mau egois. Sekarang keadaannya udah gak sama, kamu udah punya kehidupan kamu sendiri dan aku gak mau mengusik itu.." jawab Risha seraya melepaskan genggaman tangan Cindy..
"Apa karena sekarang aku punya anak..? Kalau memang karena itu, aku akan serahkan anak itu sama Andre dan Ibunya. Biar mereka yang akan menjaga dan mengurusnya.." sahut Cindy yang berharap Risha akan mengerti dan memenuhi keinginannya...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59⭐