Jangan Sentuh Aku

Jangan Sentuh Aku
Tidak Pada Umumnya


__ADS_3

Andre yang baru saja masuk ke dalam kamar, segera menghampiri Cindy yang tengah menidurkan putri mereka. "Apa anak kita udah tidur, Cindy..?" tanya Andre dengan berbisik, karena Ia tidak ingin membuat putri kecilnya merasa terganggu oleh suaranya.


"Risha baru aja tertidur.." jawab Cindy dengan suara perlahan, lalu Ia pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Melihat hal itu, Andre langsung mendekat pada anaknya dan seperti biasa Ia membelai dan menyentuh lembut wajah serta tangan mungil dari buah hatinya yang sangat mirip sekali dengan dirinya.


"Anak cantik Ayah tidur yang nyenyak yaa, besok kita main bersama lagi.." gumam Andre sembari tersenyum bahagia, karena kini Ia memiliki se'orang putri yang cantik dan istri yang sangat baik. Meski kehidupan rumah tangga mereka tidak seperti suami istri pada umumnya, tapi Andre selalu bersyukur karena bisa memiliki mereka berdua.


"Apa kamu udah ngantuk dan mau tidur, Cindy..?" tanya Andre saat melihat Cindy baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku masih belum ngantuk, tapi aku mau istirahat.." jawab Cindy dengan wajah datarnya, membuat Andre hanya bisa tersenyum kelu melihat dan menghadapi sikap Cindy yang di rasa semakin dingin padanya.


"Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu.." ucap Andre meski dalam hati ia merasa ragu, karena takut akan merasa kecewa lagi.


"Iyaa, ngomong aja.." sahut Cindy singkat.


"Apa kita akan seperti ini terus..?" tanya Andre dengan hati-hati.


"Seperti ini terus, maksud kamu apa..?" balas Cindy yang justru balik bertanya, meskipun sebenarnya Ia sudah bisa menebak apa maksud dari pertanyaan Andre padanya. Namun, Ia ingin Andre bertanya dengan lebih jelas lagi.


"Iyaa seperti ini, kita suami istri tapi gak seperti layaknya semua istri.." jawab Andre yang memperjelas pertanyaannya.


"Bukannya dari awal kamu udah tau jelas, gimana hubungan kita yang sebenarnya..? Apa sekarang kamu mau menuntut lebih..?" tanya Cindy yang kini mulai tersulut emosi.

__ADS_1


"Maafin aku, Cindy.. Kalau pada akhirnya aku berharap lebih sama kamu.." Andre menarik nafasnya dengan berat, lalu menggeser posisi Ia duduk yang sebelumnya mengarah pada Cindy..


"Aku pikir, setelah menikah kamu akan berusaha untuk merubah sikap dan belajar untuk menerima aku sebagai suami kamu serta mencintaiku.."


Ujar Andre yang kini kembali merasakan kecewa atas penolakan dari Cindy padanya, karena sejak keduanya menikah siri mereka tidak pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri. Bahkan, tidur dalam satu ranjang pun belum pernah sama sekali.


"Harus berapa kali aku bilang sama kamu, kalau pernikahan kita hanya untuk membuat suasana di rumah ini lebih nyaman dan tenang. Terutama dari mulut orang-orang yang berpikir kalau kita bukan pasangan suami istri.." sahut Cindy seraya mengelus-elus kepala bayinya yang sepertinya merasa terusik dengan suara Ibunya.


"Yaa udah kalau gitu, aku gak akan bertanya dan berharap apapun lagi. Mungkin aku memang gak pantas untuk mendapatkan cinta kamu, atau mungkin cinta itu udah milik orang lain.."


Ucap Andre sembari menarik nafasnya dengan dalam, bukan tanpa sebab Ia bisa mengatakan hal itu. Karena selama Ia tinggal bersama Cindy, Andre sering melihat Cindy sibuk dengan ponselnya. Kadang tersenyum dan kadang juga menangis saat sedang berbicara di telepon dengan sese'orang, yang Ia sendiri tidak pernah tahu itu siapa.


Setelah mengatakan itu dan tidak ada respon dari Cindy, Andre pun memilih untuk keluar dari dalam kamar. Dari pada harus kembali berdebat dengan Cindy seperti sebelumnya, kini Ia merasa benar-benar tidak bisa memahami bagaimana se'orang Cindy..


Meski ada rasa bersalah dalam hatinya pada Andre, namun Ia juga tidak bisa untuk berpura-pura bersikap baik selayaknya sebagai se'orang istri. Kecuali saat di depan Ibu Rumi, yang kini sudah menjadi Ibu mertuanya.


🐝


Di sisi lain, tepatnya di ruang nonton TV. Terlihat Andre yang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil melihat acara di televisi. Walau pada kenyataannya, pikirannya melayang jauh entah dimana.


"Kamu lagi nonton TV atau TV yang nonton kamu, Andre..?!"


"Ehh,, Ibu..! Ngagetin aku aja,mmmh.." sahut Andre sembari mengelus dada, sambil menetralkan pernafasannya yang sempat merasa terkejut dengan kehadiran Ibunya yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Iyaa maaf, Ibu tidak sengaja. Habis kamu, menonton televisi tapi pikiran entah ada dimana. Apa kamu sedang bertengkar dengan Cindy..?" tanya Ibu Rumi yang kini duduk bersebelahan dengan Andre..


"Gak Bu, aku dan Cindy gak berantem kok.." jawab Andre sembari tersenyum kaku, sebisa mungkin Ia bersikap seperti biasanya dan menutupi apa yang saat ini di rasakan dalam hatinya.


"Syukurlah kalau begitu, lalu apa yang membuat kamu melamun seperti itu..? Apa ada masalah..?" tanya Ibu Rumi yang merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Andre, karena tidak biasanya putranya itu termenung sendiri. Sekalipun ada masalah yang terjadi, Andre pasti akan cerita padanya.


"Biasalah Bu, masalah kerjaan aja. Kadang aku merasa gak mampu untuk menyelesaikannya, mungkin karena aku yang tidak berpengalaman.." jawab Andre sebisa mungkin, untuk mengalihkan pikiran Ibunya agar tidak menduga dan berpikir yang bukan-bukan.


"Ohh, jadi seperti itu, kamu yang sabar yaa Andre.. Segala sesuatunya itu butuh waktu dan proses, tapi Ibu yakin jika kamu terus berusaha dan belajar lama-kelamaan kamu pasti bisa mengerjakannya dengan lebih baik lagi.." ujar Ibu Rumi memberikan nasehatnya.


"Iyaa Bu, terimakasih yaa.. Aku pasti akan mengingat itu.." sahut Andre seraya tersenyum dan menggenggam tangan Ibunya. Setelah mendengar perkataan dari Ibunya itu, kini hati Andre merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Sama-sama Andre, sekarang lebih baik kamu tidur. Besok kamu sudah harus bekerja lagi.." ucap Ibu Rumi dengan tersenyum dan membelai rambut putranya itu.


"Ibu juga tidur yaa, aku masuk ke kamar dulu.." balas Andre yang langsung mematikan televisi, lalu berjalan masuk menuju kamar.


Setelah berada di dalam kamar, Andre pun segera menata tempat tidurnya. Bukan bersama Cindy dan anaknya, melainkan di tempat tidur lain yang memang telah Cindy sediakan di kamar itu. Perlahan Andre menghampiri putranya yang terlihat tertidur dengan pulas, lalu mengecup keningnya.


"Ayah sayang kamu, Nak.." gumam Andre dalam hati, lalu kembali ke tempat tidur miliknya yang berukuran kecil, yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Ia pun langsung menarik ujung selimut, dan menutupi tubuhnya.


Cindy yang sebenarnya belum tidur, melihat adegan Ayah dan anak itu. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya, namun Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat hubungannya dengan Andre menjadi lebih baik...


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59⭐


__ADS_2