
"Jangan pernah kamu lakukan itu Cindy, dia anak kamu dan darah daging kamu. Sebagai se'orang Ibu, gak sepantasnya kamu berbuat seperti itu sama anak kamu sendiri.." sahut Risha yang tidak bisa menerima dengan apa yang ingin Cindy lakukan pada anaknya.
"Terus apa yang harus aku lakukan, agar kita bisa bersama lagi..? Aku masih sangat mencintai kamu, Ris.." ucap Cindy yang tidak ingin menyerah begitu saja, untuk bisa bersama kembali dengan Risha..
"Gak ada yang harus kamu lakukan, kesempatan itu udah berlalu, Cindy.. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah, berusaha untuk menerima semua keadaan dan kenyataannya. Hiduplah dengan baik bersama mereka, orang-orang yang sangat menyayangi dan membutuhkan kamu.." ujar Risha sembari menahan air matanya, lalu hendak melangkah pergi.
"Tunggu, Risha..!"
Cindy pun bergegas menarik tangan Risha dan menatap ke arah wajahnya, lalu perlahan mengecup bibir tipis milik Risha. Untuk sesaat, keduanya menikmati kecupan mesra itu yang sudah sangat lama tidak mereka rasakan. Namun perlahan, Risha melepaskan pagutan bibirnya pada bibir Cindy dan memeluknya dengan erat.
"Hiduplah dengan bahagia bersama Andre dan putri kalian, aku selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu.." ucap Risha yang langsung melepaskan pelukannya, lalu beranjak pergi dari ruangan itu meninggalkan Cindy begitu saja dengan tergesa-gesa.
"Risha, tunggu..! Tolong berikan aku kesempatan, aku mohon.." seru Cindy dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, namun Risha telah menghilang jauh dari pandangannya. Membuat tubuhnya seketika itu langsung terasa lemas, dan jatuh terkulai di lantai.
Sementara itu, Risha yang kini berada di tempat lain tidak jauh dari tempat Cindy berada. Sengaja berdiri di sebuah sudut ruangan yang tidak terlihat oleh siapapun, Ia ingin memastikan bahwa Cindy tidak mengejarnya.
"Maafin aku, Cindy.. Semua tentang kita memang harus berakhir, itu lebih baik untuk semua orang.." gumam Risha dalam hati, lalu berlalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke parkiran mobil. Tidak lupa juga, Ia segera menghubungi Ayu agar mengantarkan Cindy pulang ke rumahnya. Meski tadinya Ia ingin mengantarkan Cindy pulang, tapi melihat suasananya jadi seperti itu membuat Risha mengurungkan niatnya.
🐝
"Tolong bantu aku untuk bisa bersama dengan Risha lagi, Ayu.. Aku mohon sama kamu.." ucap Cindy yang kini telah berada di satu mobil bersama Ayu..
"Maaf Cindy, aku gak bisa. Lagi pula kamu udah buat Risha kecewa berulang kali, apa lagi di tambah sekarang kamu punya anak dan semua orang mengira kamu dan Andre adalah suami istri.." sahut ayu..
"Ini semua gara-gara Andre, laki-laki brengxxx itu udah menghancurkan hidup aku.." balas Cindy yang kini kembali menangis. "Kenapa ini semua terjadi sama aku..? Seandainya aku bisa memutar waktu, aku akan menjaga dan menghargai hubungan aku sama Risha dengan baik.." ucapnya sambil menangis terisak-isak.
"Udahlah Cindy, percuma kamu menangis dan menyalahkan Andre. Semuanya udah terlanjur terjadi, lebih baik kamu berusaha untuk ikhlas menerima semua kenyataan ini. Setidaknya kamu harus bisa menghargai, semua pengorbanan yang udah Risha lakukan untuk kamu.." ujar Ayu yang berharap Cindy bisa mengerti dan menerima semuanya.
"Tapi semua itu gak mudah Ayu, aku juga pengen bisa bahagia sama Risha bukan sama Andre.." sahut Cindy..
"Tapi Risha gak mau dan gak bisa lagi sama kamu, Cindy.. Seharusnya kamu sadar dan ngerti itu, karena gak semua hal yang kita mau bisa kita dapatkan. Kadang, kita juga harus menerima apa yang bertentangan dengan hati kita. Mungkin itu yang terbaik.." ucap Ayu berusaha menghibur dan memberi pengertian pada Cindy yang kini terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Aku dan Risha masih saling menyayangi dan mencintai, Ayu.. Apa aku salah, kalau masih berharap untuk bisa bersama Risha..? Rasanya gak adil buat aku.." balas Cindy yang mengungkapkan semua yang Ia rasakan saat ini.
"Apa yang kalian rasakan itu memang gak salah, tapi kalau kamu memaksakan perasaan dan keinginan itu udah pasti salah dan gak baik nantinya. Kamu tau jelaskan, gimana usaha Risha untuk bisa hidup bersama kamu waktu itu..?! Tapi apa, kamu gak bisa menjaga dan menghargainya. Dan seperti yang kamu tau dari dulu, Risha bukan tipe orang yang bisa mentolerir yang namanya pengkhianatan.."
"Tapi aku gak sengaja, Ayu.. Semua itu terjadi gitu aja, aku benar-benar khilaf.." sahut Cindy mencoba membela diri.
"Iyaa, kamu memang khilaf. Tapi khilaf itu gak akan terjadi kalau kamu bisa menjaga hati dan diri kamu sendiri, di saat Risha lagi berjuang untuk hubungan kalian. Tapi kamu malah bersenang-senang dengan laki-laki yang selalu kamu sebut teman, tanpa kamu sadar kamu udah memberi ruang untuk orang lain masuk ke dalam hubungan kalian.."
"Iyaa Ayu, aku memang salah dan aku benar-benar menyesal.." ucap Cindy yang hanya bisa menangis meratapi nasib percintaannya yang kandas begitu saja, karena kesalahan dari dirinya sendiri.
"Kita udah sampai.."
"Iyaa Ayu, terimakasih yaa udah mau nganterin aku.." ucap Cindy yang segera turun dari mobil.
"Aku harap, kita gak akan pernah berurusan lagi, Cindy.." sahut Ayu seraya melajukan mobilnya dan meninggalkan Cindy yang masih berdiri mematung. Sambil menyeka air matanya yang terlihat sayu, Ia pun berjalan menuju ke arah toko.
🐝
🐝
"Iyaa udah, Ris.." jawab Ayu sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Syukurlah kalau gitu, terimakasih yaa, Ayu.. Aku mau ke kamar dulu.." ucap Risha yang langsung ingin beranjak pergi.
"Ehh,, tunggu dulu, Ris..!" seru Ayu yang membuat langkah Risha pun terhenti.
"Ada apa, Ayu..?" tanya Risha dengan perasaan yang tidak enak.
"Apa kamu gak mau tau, apa yang Cindy omongin tadi sama aku..? Terus sampai dia nangis-nangis juga.." ucap Ayu yang sengaja membuat Risha penasaran.
"Mmmh,, memang Cindy ngomong apa aja sama kamu..?" tanya Risha pada Ayu, Ia sebenarnya tidak ingin bertanya tentang itu. Karena Ia sendiri tahu, Ayu pasti sengaja hanya ingin membuatnya penasaran saja.
__ADS_1
"Ceritanya di kamar aja yaa, biar aman dan tenang,hehee.." sahut Ayu sembari tersenyum senang, karena sudah berhasil membuat Risha penasaran dengan perkataannya itu.
Keduanya pun segera naik ke lantai atas, dimana kamar Risha dan Ayu berada. Namun seperti biasanya, Ayu memilih kamar Risha untuk di jadikan tempat mereka bercerita tentang apapun.
"Yaa udah, sekarang kamu ceritain semua apa yang tadi Cindy omongin sama kamu. Jangan ada yang terlewatkan sedikitpun.." ucap Risha saat mereka kini telah berada di dalam kamar.
"Ciee,, yang penasaran soal mantan pacarnya, hehehee.." ledek Ayu sembari tertawa kecil.
"Gak lucu Ayu, aku lagi gak mau bercanda sekarang.." sahut Risha pada Ayu yang kini mulai bicara serius.
"Iyaa Ris, iyaa.. Aku akan cerita semuanya yang tadi Cindy omongin.."
Ayu pun mulai menceritakan, dari saat Ia menemukan Cindy yang tengah terduduk di lantai sambil menangis. Lalu apa saja yang di katakan oleh Cindy saat berada di dalam mobilnya.
"Karena aku kasihan sama Cindy, yaa udah aku peluk dia biar tenang, Ris.." ucap Ayu yang langsung membuat wajah Risha berubah, padahal Ia sengaja hanya ingin mengerjai Risha..
"Serius, tadi kamu ada peluk Cindy..?" tanya Risha dengan rasa tidak percaya sekaligus kesal.
"Iyaa Ris, serius. Kasian Cindy, dia sedih banget terus nangis dan butuh untuk di tenangkan.." jawab Ayu sambil menahan tawanya.
"Ohh,, jadi gitu, yaa udah gak apa-apa.." ucap Risha sembari menarik selimutnya.
"Apa kamu marah Ris, atau cemburu..?" tanya Ayu..
"Sama sekali gak Ayu, karena aku tau kalau itu semua cuma karangan kamu aja. Mana mungkin Cindy mau di peluk sama kamu ataupun sebaliknya.." jawab Risha sembari tersenyum.
"Kok kamu bisa tau sih Ris,mmmh.."
"Yaa udah aku mau tidur, kalau kamu mau keluar jangan lupa di tutup pintunya.." ucap Risha sembari memejamkan matanya.
Tidak lama kemudian, Ayu pun segera keluar dari kamar. "Aku tau Ris, pasti sekarang kamu lagi sedih dan pengen nangis.." gumam Ayu dalam hati, sembari menatap ke arah Risha yang terlihat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59⭐