
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok..? Kesehatan Risha semakin membaik bukan..?" tanya Mamaa pada dokter keluarga yang beberapa hari ini rutin memeriksa kondisi Risha..
"Seharusnya begitu, tapi kelihatannya sakit pada kepalanya semakin sering terjadi. Apa belakangan ini Risha sering memikirkan sesuatu..? Karena biasanya rasa sakit akan semakin sering muncul, jika pasien yang pernah mengalami koma memiliki beban pikiran.." tanya dokter pada Mamaa yang langsung mengingat tentang sesuatu.
"Sepertinya tidak ada Dok, tapi nanti akan Saya coba tanyakan pada Risha tentang apa yang menjadi beban pikirannya.." jawab Mamaa yang sebenarnya sudah bisa menebak tentang apa yang di pikirkan oleh Risha..
"Iyaa Bu Alisa, sebaiknya memang harus di tanyakan. Karena kalau kondisinya seperti ini terus, itu akan mempengaruhi fungsi kerja pada otaknya yang pernah terluka.." jelas dokter yang membuat Mamaa saat itu juga langsung merasa khawatir.
"Yaa sudah kalau begitu, Saya pamit dulu yaa Bu Alisa. Salam saja buat Bapak Aji dan Bayu, mungkin beberapa hari lagi Saya akan datang kembali untuk memeriksa kondisi Risha.."
"Iyaa Dok, nanti akan Saya sampaikan. Terimakasih banyak.." sahut Mamaa sembari tersenyum, lalu mengantarkan dokter itu hingga ke depan pintu keluar.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Risha, dia harus baik-baik saja.." gumam Mamaa dengan perasaan cemas dalam hatinya, lalu berjalan menuju ke lantai atas untuk melihat keadaan Risha saat ini.
Namun setibanya di sana, Ia melihat Risha yang tengah tertidur pulas. Hingga Mamaa pun kembali turun ke bawah, karena tidak ingin membuat Risha jadi terbangun dari tidurnya. Mendengar suara pintu yang kembali tertutup, Risha pun segera membuka matanya.
"Maafin Risha yaa Maa, tapi cuma itu caranya agar Mamaa mau mencabut tuntutan terhadap Andre.." gumam Risha dalam hati seraya menarik nafasnya dengan dalam, ada rasa bersalah yang kini menyelimuti hatinya. Namun, Ia juga belum merasa tenang jika belum bisa membuat Andre di bebaskan.
Sedangkan Mamaa yang masih memikirkan dengan apa yang di katakan oleh dokter, segera mendatangi suaminya yang saat ini ada di dalam ruangan kerjanya.
"Apa Papaa masih sibuk..?" tanya Mamaa sambil memperhatikan Papaa yang terlihat masih sibuk dengan laptopnya.
"Sebentar lagi selesai Maa, apa ada sesuatu yang mau Mamaa bicarakan..?"
"Iyaa Paa, tapi kalau memang Papaa masih ada yang harus di kerjakan tidak apa-apa. Papaa lanjut dulu saja.." jawab Mamaa sembari tersenyum.
Akhir-akhir ini suaminya itu memang memilih untuk bekerja dari rumah, karena Bayu telah di percayakan untuk mengurus pekerjaan di kantor agar Ia terbiasa dan siap jika nanti sudah tiba waktunya untuk menggantikan posisi Papaa-nya.
__ADS_1
"Ini juga sudah selesai kok, Maa.. Memang apa yang ingin Mamaa bicarakan..? Papaa jadi penasaran.." ucap Aji menatap wajah istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ini soal Risha, Paa.." jawab Alisa sambil menarik nafasnya.
"Kenapa dengan Risha, Maa..? Oh iyaa, bagaimana hasil pemeriksaan dari dokter tadi pagi..?" tanya Aji..
"Justru masalah itu yang ingin Mamaa bicarakan dengan Papaa, hasil pemeriksaannya kurang bagus, Paa.. Belakangan ini sakit kepala Risha sering kambuh, dan kalau keadaannya seperti itu terus kemungkinan akan berpengaruh dengan fungsi kerja otaknya yang kemarin terluka.." ujar Alisa dengan raut wajah cemasnya.
"Apa dokter ada mengatakan, apa yang menyebabkan sakit kepala Risha sering kambuh, Maa..?" tanya Aji yang juga ikut merasa cemas memikirkan tentang kondisi Risha saat ini.
"Dokter bilang, kemungkinan besar itu karena Risha terlalu keras berpikir atau dia memiliki beban pikiran, Paa.." jawab Alisa..
"Apa mungkin itu ada kaitannya dengan permintaan Risha waktu itu, Maa..?" tanya Aji yang selama ini mengetahui kebiasaan Risha, yang pasti akan memikirkan sesuatu itu jika sesuatu yang di inginkannya belum bisa di dapatkan.
"Mamaa juga sempat berpikir seperti itu, terus kita harus bagaimana sekarang, Paa..? Mamaa tidak ingin kondisi Risha kembali memburuk, apa lagi sampai kembali koma. Membayangkannya saja sudah membuat Mamaa sangat khawatir.." ujar Alisa..
"Kalau Risha tetap ingin kita untuk mencabut tuntutan terhadap Andre, bagaimana Paa..?" tanya Alisa yang kini merasa serba salah.
"Kalau soal itu, Papaa juga bingung, Maa.. Mungkin lebih baik Mamaa bicarakan dulu saja sama Risha, baru nanti Mamaa putuskan apa yang harus di lakukan. Tapi dalam hal ini, kesehatan Risha adalah yang terpenting.." jelas Aji yang tidak ingin membela ataupun berpihak pada siapapun.
"Baiklah Paa, nanti akan Mamaa coba bicarakan dengan Risha.. Yaa sudah kalau begitu Mamaa mau keluar dulu, Papaa lanjutkan lagi saja pekerjaannya kalau memang belum selesai.." ucap Alisa yang kini merasa sedikit lebih lega setelah mendengar pendapat dari suaminya itu.
"Iyaa Maa, Papaa mau siap-siap ke kantor dulu. Karena ada pekerjaan yang harus Papaa tangani di sana.." sahut Aji sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Apa tidak bisa di wakilkan oleh Bayu, Paa..?" tanya Alisa..
"Tidak bisa Maa, harus Papaa langsung yang menanganinya.." jawab Aji yang kemudian meninggalkan ruang kerjanya bersama dengan istrinya.
__ADS_1
🐝
"Gimana Ris, berhasil gak..?" tanya Ayu yang saat ini berada di dalam kamar Risha yang tengah berbaring di tempat tidurnya.
"Hampir berhasil Yu, tinggal sedikit lagi aja,hee.." jawab Risha sembari tertawa kecil.
"Baguslah kalau gitu, berarti gak sia-sia dong sandiwara aku di depan dokter itu tadi pagi.."
Sahut Ayu yang merasa senang, karena tadi pagi sebelum Ia pergi ke butiknya. Ia sengaja menemui dokter yang menangani Risha terlebih dulu, dan mengatakan bahwa belakangan ini Risha sering termenung seolah ada yang di pikirkannya. Dokter itupun sepertinya percaya dan menganggap, bahwa itu yang menjadi penyebab Risha jadi sering sakit pada kepalanya.
"Iyaa Ayu, terimakasih yaa.. Selama ini kamu udah banyak banget bantuin aku, kalau gak ada kamu gak tau deh gimana hidup aku,hehee.." ujar Risha sambil tersenyum menatap Ayu..
"Udah deh Ris, gak usah berlebihan gitu. Aku langsung mual tau gak dengernya.." balas Ayu yang juga ikut tertawa.
"Sebentar yaa Ayu, aku mau cari sesuatu dulu buat kamu.." ucap Risha sambil mencari-cari sesuatu di dalam laci meja.
"Kamu cari apa sih, Ris..? Cari cek yaa,hehee.." tanya Ayu..
"Nah, ini dia baru ketemu. Ini buat kamu, Yu.." ucap Risha seraya menyerahkan sebuah kantong plastik pada Ayu yang langsung terlihat kesal.
"Kantong plastik buat apa, Ris..? Kamu ada-ada aja sih, kirain mau ngasih aku selembar cek gitu,mmmh.." gerutu Ayu dengan raut wajah yang di tekuk.
"Kan tadi kamu bilang lagi mual, kalau mual berarti mau muntah dong.." sahut Risha sembari menahan tawanya.
"Yaa gak gitu juga, Risha..!" seru Ayu yang langsung mencubit kedua pipi Risha, dan tidak lama kemudian keduanya pun tertawa terkekeh-kekeh...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59⭐