
"Kamu udah bangun, Ris..? Ayo kita sarapan, tadi aku udah buatin nasi goreng. Semoga aja kamu suka.." ucap Maya seraya tersenyum menatap Risha yang segera duduk di sebelahnya.
"Iyaa May, aku cobain yaa.." sahut Risha seraya menikmati nasi goreng yang sudah Maya siapkan untuk dirinya.
"Gimana Ris, enak gak..?" tanya Maya dengan wajah seriusnya.
"Lumayan enak May, kamu sama seperti Ayah Rama yaa.. Sama-sama pinter masak,hee.." puji Risha sambil melanjutkan sarapannya.
"Kamu bisa aja Ris, tadi Mas Bayu juga ngomong begitu sama aku. Tapi aku harus tetap belajar masak, karena aku pengen bisa masak makanan kesukaan Mas Bayu.." ujar Maya dengan tersenyum lebar.
"Kenapa gak belajar masak sama Ayah Rama aja, pasti Ayah tau banyak tentang resep masakan.." balas Risha..
"Kamu benar juga Ris, kenapa aku bisa lupa yaa kalau Ayah kan jago masak. Yaa udah, nanti deh aku belajar masak sama Ayah kalau pulang ke rumah.." sahut Maya yang juga sambil menikmati nasi goreng buatannya.
"Oh yaa May, udah jam segini kok masih belum berangkat kerja..? Memang gak masuk kerja yaa..?" tanya Risha..
"Aku memang gak masuk kerja hari ini, rasanya gak enak badan aja dari kemarin. Sekalian nanti aku juga mau ke rumah Ayah, karena aku kepikiran sama Ayah yang sendirian di rumah.." ujar Maya dengan raut wajah yang tampak sedih, karena selama ini Ia hanya hidup berdua dengan Ayahnya. Namun setelah Ia menikah dengan Bayu, Ia terpaksa harus meninggalkan Ayahnya tinggal sendiri di rumah.
"Gimana kalau kita ajak Ayah tinggal di sini aja..? Atau kita yang tinggal di sana.." ucap Risha yang bisa mengerti dengan kesedihan Maya yang harus berjauhan dari Ayahnya.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu, cuma aku harus omongin itu sama Mas Bayu dan juga Ayah. Karena belum tentu mereka akan setuju, di tambah lagi orang tua Mas Bayu kadang suka datang ke sini kan..?!"
"Benar juga sih, yaa udah kalau gitu nanti kamu omongin aja dulu sama Bayu dan Ayah.." kini keduanya melanjutkan sarapannya, sambil sesekali Risha menatap ke arah ponsel miliknya yang ada di meja makan. Berharap Cindy menghubungi atau membalas pesan darinya.
"Ohh yaa Ris, apa kamu punya pacar atau mencintai sese'orang..?" tanya Maya tiba-tiba.
"Uhukk,, uhukk.." Risha yang terdesak mendengar pertanyaan Maya segera mengambil air minum yang ada di depannya.
"Pelan-pelan dong Ris makannya.." ucap Maya sembari menepuk-nepuk pundak Risha..
__ADS_1
"Iyaa udah gak apa-apa kok.." sahut Risha sambil menarik nafasnya dengan dalam, dan suasana pun seketika hening. Masih belum ada jawaban dari Risha atas pertanyaan Maya, membuat Maya kembali mengulang pertanyaannya.
"Kok diem sih Ris, jawab dong..! Kamu tenang aja, aku gak akan bilang ke siapa-siapa kok.." ucap Maya meyakinkan Risha agar mau menjawab pertanyaan darinya dengan jujur.
"Aku gak punya pacar May, dan gak mencintai siapa-siapa.." bohong Risha yang tidak ingin membahas masalah hubungan ataupun perasaan, karena saat ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Terlebih saat Ia mengingat, bahwa kini sikap Cindy padanya semakin berubah. Membuat Ia bertanya-tanya, dan ingin mencari tahu apa penyebabnya.
"Mmmh,, kamu pasti bohong, mana mungkin se'orang Risha gak ada yang suka dan mau jadi pacar kamu. Atau jangan-jangan kamu suka atau cinta sama sese'orang secara diam-diam yaa, hayo ngaku..!" seru Maya sambil menunjuk ke arah Risha yang terlihat hanya menghela nafasnya.
"Yaa udah kalau kamu gak percaya, ayo buruan siap-siap.." ucap Risha sambil melangkah pergi ke dapur untuk mencuci piring kotornya.
"Siap-siap, memang kita mau kemana, Ris..?" tanya Maya yang langsung menghampiri Risha yang tengah mencuci piring.
"Bukannya mau ke rumah Ayah Rama yaa, masa kamu lupa sih. Baru juga nikah, udah pelupa aja.." ledek Risha sambil tertawa kecil.
"Oh iyaa,hee.. Tapi apa hubungannya baru nikah sama pelupa..? Gak nyambung tau, Ris.." balas Maya..
"Nanti juga nyambung sendiri, yaa udah buruan siap-siap gih.."
🐝
Risha yang tidak bisa berlama-lama di rumah Maya, segera berpamitan pada Rama dan Maya untuk pergi. Karena Ia ingin menemui Cindy dan melihat bagaimana keadaannya saat ini, mengingat saat Ia pergi berlibur pada waktu itu Cindy dalam keadaan sakit.
"Itu bukannya laki-laki yang dulu pernah pergi ke butik Ayu bersama Cindy.." gumam Risha dalam hati, sambil melihat kepergian laki-laki itu dari kost-an Cindy dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Risha..! Kamu--"
"Iyaa Cindy, ini aku.." sahut Risha yang menatap wajah Cindy yang terlihat terkejut dengan kedatangannya.
"Kok gak bilang dulu kalau mau datang..?" tanya Cindy yang kini mulai merasa cemas.
__ADS_1
"Kenapa harus pakai bilang dulu..? Apa karena kamu mau pergi dan bersenang-senang sama laki-laki tadi itu..?!"
Degg..
Cindy yang mendengar ucapan Risha itupun langsung merasa takut, dan berpikir bila Risha mungkin telah mengetahui sesuatu yang terjadi antara dirinya dan teman prianya itu.
"Kok kamu malah diam..? Apa kamu masih sakit, Cindy..?" tanya Risha yang menatap Cindy dengan raut wajah yang aneh.
"Ehh,, iyaa aku udah baikan, ayo masuk. Kamu udah lama banget gak datang temuin aku, aku kangen banget sama kamu.." ucap Cindy yang sengaja mengalihkan pembicaraan tentang teman prianya itu, seraya memeluk erat tubuh Risha..
"Iyaa aku juga kangen banget sama kamu, Cindy.. Maaf yaa, baru sekarang aku bisa datang temuin kamu. Karena ada urusan penting yang harus aku selesaikan, kamu juga kenapa gak mau angkat telepon dan balas pesan dari aku..?" tanya Risha menyelidik sambil membelai lembut rambut Cindy..
"Habis aku kesel sama kamu, aku sakit kamu malah pergi liburan sama suami kamu itu. Memang urusan penting apa yang lebih penting dari aku..?!" tanya Cindy dengan raut wajah yang cemberut.
"Aku gak bisa cerita ke kamu, tapi itu semua demi hubungan dan keinginan kita untuk bisa terus bersama.." sahut Risha dengan senyuman manisnya, Cindy yang mendengar itupun hanya menganggukkan kepala dan tidak ingin bertanya lebih lanjut.
"Ohh iyaa, ini aku punya sesuatu buat kamu.." ucap Risha sembari menyerahkan sebuah kotak kecil pada Cindy..
"Ini apa..?" tanya Cindy saat menerima pemberian dari Risha dengan hati yang bahagia, karena selama ini Risha sudah sering memberikan dirinya hadiah-hadiah yang tergolong mewah.
"Kamu buka aja Sayang, aku yakin kamu pasti suka.." sahut Risha sambil tersenyum menatap wajah Cindy yang terlihat bahagia.
"Yaa ampun, Sayang..! Ini bagus banget, pasti harganya mahal. Kamu ngapain pakai beliin aku kalung semahal ini.." seru Cindy yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, sebuah kalung emas dengan liontin yang terukir namanya.
"Karena aku tau, kalau kamu suka dan menginginkan kalung dengan liontin nama kamu.." balas Risha pada Cindy yang kini langsung memeluknya.
"Terimakasih yaa Sayang, kamu baik banget.." ucap Cindy dengan rasa haru, namun Ia juga merasa bersalah pada Risha. Karena mengingat sikapnya yang selama ini dingin, kasar dan kadang semaunya. Di tambah lagi dengan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan teman prianya itu, semakin membuat Cindy merasa bersalah dan takut jika Risha sampai tahu segalanya...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59⭐