Jangan Sentuh Aku

Jangan Sentuh Aku
Hanya Bisa Berdo'a


__ADS_3

Cindy yang menyadari sejak tadi Ibu Rumi sedang memandanginya, membuat Ia pun merasa malu dan bertanya. "Ibu kenapa dari tadi memandangi aku..? Apa ada sesuatu di wajahku, Bu..?"


"Tidak ada sesuatu di wajah kamu, Cindy.. Hanya saja Ibu berharap sesuatu di dalam hati.." jawab Ibu Rumi sambil tersenyum dan menyudahi makan siangnya.


"Memang sesuatu apa yang Ibu harapkan..?" tanya Cindy yang mulai penasaran dengan ucapan Ibu Rumi padanya.


"Cukup hanya Ibu dan Tuhan yang tau, Cindy.." ucapnya sembari tersenyum. "Oh iyaa Cindy, apa kamu tau bagaimana sekarang keadaan perempuan yang di tabrak oleh Andre itu..? Siapa namanya, Ibu lupa.." tanya Ibu Rumi sembari mengingat nama perempuan yang menjadi korban penabrakan oleh Andre..


"Namanya Risha, Bu.." jawab Cindy dengan raut wajah yang kini terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Ohh iyaa, namanya Risha. Apa dia baik-baik saja..?"


"Dia masih dalam keadaan koma Bu, dan kabarnya hari ini dia di bawa ke luar negeri untuk menjalani perawatan yang lebih intensif di sana.." ujar Cindy sambil menghela nafasnya dengan berat, entah kenapa mengingat dan membahas tentang Risha membuat hatinya jadi langsung merasa sedih dan bersalah. Namun Ia tetap berusaha keras untuk menutupinya.


"Jadi separah itu kondisinya yaa, Cindy..? Semoga Tuhan segera memberikan kesembuhan padanya.."


"Aamiin.." ucap Cindy dan Ibu Rumi bersamaan.


"Maafkan Ibu yaa Cindy, karena sudah banyak merepotkan kamu. Kita tidak memiliki ikatan atau hubungan apapun, tapi kamu sudah mau membantu membiayai perawatan Ibu.." ucap Ibu Rumi yang merasa menjadi beban bagi Cindy, orang yang belum lama ini Ia kenali.


"Ibu tidak perlu bicara seperti itu, aku senang bisa membantu Ibu. Karena Ibu Rumi sudah aku anggap seperti Ibu ku sendiri.." ucap Cindy dengan tulus, meski dalam hati Ia memang membenci Andre sebagai penyebab kecelakaan yang terjadi pada Risha..


"Terimakasih yaa, Nak Cindy.. Tapi kamu tidak perlu sering datang menjenguk Ibu, karena kamu juga pasti punya kesibukan sendiri.." ujar Ibu Rumi..


"Iyaa sama-sama Bu, kalau ada waktu luang pasti aku akan datang menjenguk Ibu. Kebetulan beberapa hari ini aku izin tidak masuk kerja, karena ada urusan. Mungkin besok baru akan masuk kerja, Bu.." sahut Cindy tanpa mengatakan yang sebenarnya, tentang alasan Ia tidak masuk kerja karena memang kondisinya yang masih sering merasa pusing dan mual-mual.


Kini keduanya kembali berbincang-bincang, Ibu Rumi menceritakan tentang kehidupannya bersama Andre selama ini. Begitu juga dengan Cindy, meski tidak semua hal tentang hidupnya Ia beritahukan pada Ibu Rumi, tapi setidaknya bersama Ibu Rumi kini Ia merasakan sosok se'orang Ibu.


"Apa kamu berteman dekat dengan Andre, Cindy..?" tanya Ibu Rumi tiba-tiba yang langsung membuat suasana hati Cindy berubah saat itu juga.


"Aku dan Andre hanya berteman biasa kok Bu, dan kami berdua juga belum begitu lama saling mengenal.." jawab Cindy..


Namun setelah mendengar jawaban dari Cindy, Ibu Rumi justru merasa bahwa Cindy menyembunyikan sesuatu tentang hubungannya dengan Andre. Tapi Ia juga tidak ingin bertanya lagi, karena merasa takut itu akan membuat Cindy menjadi tidak nyaman berbicara dengannya.

__ADS_1


"Ohh,, jadi seperti itu, Ibu kira kalian kalian berdua pacaran,hee.. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab Cindy, karena kamu adalah wanita yang baik.." ucap Ibu Rumi..


"Semoga saja, terimakasih yaa Bu atas do'anya. Ibu Rumi juga, semoga lekas sembuh dan sehat kembali.." sahut Cindy yang tidak lama setelah itu berpamitan untuk pulang.


🐝


Keesokan harinya, Cindy yang hari ini sudah mulai masuk bekerja lagi tetap menyempatkan diri untuk menjenguk Ibu Rumi. Entah kenapa Ia merasa, semakin Ia sering bertemu dengan wanita paruh baya itu semakin membuatnya merasa nyaman dan tenang di sampingnya. Seolah Ia bisa merasakan kembali, kasih sayang dari se'orang Ibu.


"Kamu kenapa harus repot-repot untuk datang ke sini menjenguk Ibu, Cindy..? Padahal kamu harus bekerja.." ucap Ibu Rumi saat melihat pagi-pagi sekali Cindy sudah datang menemuinya dengan membawa makanan dan buah-buahan.


"Tidak repot kok Bu, tapi aku tidak bisa lama-lama karena harus berangkat ke kantor dulu yaa, Bu.." sahut Cindy yang langsung bergegas pergi meninggalkan Ibu Rumi yang menatapnya sambil tersenyum.


"Andai saja Cindy menjadi menantu ku, ahh tapi itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin Cindy mau menjadi istri dari Andre, se'orang narapidana,mmmh.." ucap Ibu Rumi sembari menarik nafasnya dengan berat.


Ia berharap bisa secepatnya pulih dan kembali pulang ke rumah, semakin lama Ia berada di rumah sakit maka akan semakin banyak biaya yang akan di tanggung oleh Cindy. Meski Ia telah berjanji pada Cindy untuk mengembalikannya, tapi tetap saja Ia merasa tidak enak hati karena sudah banyak berhutang budi.


🐝


🐝


"Sudah Maya, lebih baik kamu duduk saja di dalam rumah dan istirahat. Kamu ini keras kepala sekali.." ucap Rama sembari menggelengkan kepalanya, karena Maya masih saja asyik mengurus tanaman-tanaman yang kebetulan baru saja datang.


"Aku gak apa-apa Ayah, ini juga sambil duduk dan istirahat. Ayah dari kemarin melarang aku untuk melakukan ini itu, aku kan jadi bosan. Walaupun lagi hamil, tapi aku harus tetap banyak gerak Ayah biar bayi aku di dalam sini juga ikut sehat.." sahut Maya sembari tersenyum dan mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


"Hmmm,, anak ini di kasi tau, malah ngeyel.." ucap Rama dengan lirih.


"Ayah ngomong apa barusan..?" tanya Maya yang tidak mendengar ucapan Ayahnya dengan jelas.


"Ayah bilang, semoga kandungan kamu baik-baik saja, Maya.." jawab Rama dengan tersenyum, lalu melanjutkan kegiatan berkebunnya bersama beberapa pekerja yang ada di sana.


Maya yang sedang asyik memindahkan bibit-bibit bunga ke dalam pot, tiba-tiba mendengar suara berdering yang berasal dari ponselnya yang berada di dalam tas. Dengan langkah yang terburu-buru, Ia pun segera mengambilnya dan masuk ke dalam rumah.


Maya: "Hallo assalamu'alaikum, Mas Bayu.."

__ADS_1


Bayu: "Wa'alaikumsalam, kamu dari mana aja, Sayang..? Kok lama jawab teleponnya.."


Maya: "Iyaa maaf Mas, aku tadi lagi tidur terus kebangun karena dengar ada yang telepon.."


Bayu: "Oh gitu, yaa udah kalau gitu kamu tidur lagi aja Sayang. Jangan kemana-mana yaa, banyak istirahat aja di rumah.."


Maya: "Iyaa Mas, ini juga sambil istirahat. Gimana keadaan Risha sekarang Mas, apa ada perubahan..?"


Bayu: "Soal itu nanti aja aku cerita kalau udah pulang yaa, Sayang.."


Maya: "Memang kenapa, Mas..?"


Bayu: "Gak kenapa-kenapa Sayang, kamu dan Ayah do'ain Risha yaa.. Lusa aku pulang kok, teleponnya aku matiin dulu yaa, Sayang. Wassalamu'alaikum.."


Maya: "Iyaa Mas, pasti di do'ain. Wa'alaikumsalam.."


Sambungan telepon pun terputus, Maya segera keluar dari rumah yang berukuran kecil yang berada di kebun itu. Lalu menghampiri Ayahnya dan duduk tidak jauh dari Rama berada.


"Kamu kenapa, May..? Kok mukanya kelihatan sedih begitu, tadi siapa yang telepon..?" tanya Rama..


"Tadi Mas Bayu yang telepon, lusa dia jadi pulang, Ayah.." jawab Maya..


"Ohh,, terus kenapa kamu sedih..? Bukannya kamu harus merasa senang, karena lusa Bayu akan pulang.."


"Aku tanya soal keadaan Risha sekarang gimana, tapi Mas Bayu gak mau cerita. Katanya nanti aja kalau udah pulang baru cerita, apa keadaan Risha gak baik-baik aja yaa, Ayah..?" tanya Maya dengan nada suara yang sedih dan mata berkaca-kaca. Membuat Rama yang melihatnya pun segera berjalan mendekat ke arah Maya..


"Jangan berpikir yang tidak-tidak Maya, mungkin memang Bayu tidak bisa lama-lama berbicara di telepon sama kamu. Kita berdo'a saja buat adik kamu, Risha.. Semoga Risha cepat sadar dan sehat kembali, biar bisa kembali pulang dan berkumpul lagi bersama kita semua di sini.."


"Aamiin.." ucap Maya dan Rama bersamaan.


"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk sama Risha, Ayah.." ucap Maya yang langsung memeluk erat tubuh Ayahnya, lalu tidak lama setelah itu Ia pun menangis tersedu-sedu.


"Risha pasti akan baik-baik saja Maya, kamu percaya sama Ayah. Adikmu itu kan sangat kuat.." balas Rama yang mencoba untuk menenangkan putri semata wayangnya itu, meski dalam hati Ia sendiri turut merasakan kesedihan seperti yang Maya rasakan saat ini. Namun Ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya, karena tidak ingin membuat Maya semakin sedih...

__ADS_1


Bersambung...


🙏😊 A59⭐


__ADS_2