
Tidak seperti biasanya, kini Risha dan Bayu yang pergi menemui kedua orang tuanya di rumah. Hal ini di karenakan keadaan Mamaa yang kurang sehat dalam waktu beberapa hari ini, membuat Risha dan Bayu memilih untuk menjenguknya.
"Mamaa senang sekali kalian berdua pulang ke rumah, Mamaa kangen banget Sayang.." ucap Mamaa sambil memeluk Risha, menantu kesayangannya itu.
"Masa cuma Risha aja yang di peluk, aku gak di peluk nih, Maa..?!" seru Bayu dengan tersenyum lebar, lalu berjalan mendekati Ibunya.
"Pasti Mamaa juga kangen banget sama kamu, Bayu.." sahut Mamaa yang langsung memeluk Bayu..
"Mamaa kok gak bilang kalau lagi kurang sehat..? Risha kan bisa pulang ke rumah lebih awal.."
"Mamaa tidak apa-apa sayang, sebentar lagi juga akan sembuh. Bagaimana, apa kamu dan Bayu sudah memiliki kabar baik untuk Mamaa dan Papaa..?"
Risha dan Bayu yang mengerti dengan maksud pertanyaan Mamaa, hanya terdiam dan saling bertatapan satu sama lainnya. Mamaa yang juga mengerti hal itu pun tersenyum, seolah Ia telah tahu jawaban apa yang tersirat dari wajah keduanya.
"Kalau memang belum, tidak apa-apa sayang.." ucap Mamaa sembari membelai rambut Risha..
"Maafin Risha yaa Maa, belum bisa memberikan apa yang Mamaa inginkan. Tapi Risha janji, akan buat Mamaa dan Papaa bahagia nantinya.."
"Iyaa Sayang, Mamaa percaya itu.." sahut Mamaa seraya kembali memeluk Risha, menantu yang sangat Ia sayangi dan harapkan untuk bisa memberikan se'orang penerus bagi keluarganya.
Sedangkan Risha yang membalas pelukan dari Mamaa, kini hanya bisa tersenyum meski dalam hati Ia merasakan sedih. Memikirkan dan membayangkan, bagaimana nanti setelah Mamaa dan Papaa tahu tentang rencana perceraian dirinya dan Bayu yang saat ini masih dalam proses pengadilan.
"Mamaa dan Risha ngobrol aja dulu yaa, Bayu mau nemuin Papaa di luar.." seru Bayu yang memilih untuk pergi meninggalkan Risha dan Ibunya, Ia pun dalam diam merasakan cemas dan sedih yang sama seperti halnya Risha. Namun Bayu berusaha untuk menutupi dan bersikap seperti biasa.
"Kamu sedang memikirkan apa, Bayu..? Papaa perhatikan dari tadi kamu tidak fokus mendengarkan cerita Papaa.." tanya Papaa menyeledik, karena tidak seperti biasanya putra yang Ia banggakan itu terlihat tidak bersemangat saat berbincang dengan dirinya.
"Aku gak mikirin apa-apa kok Paa, cuma kepikiran Mamaa yang lagi sakit aja.." jawab Bayu sambil tersenyum.
"Kamu yakin karena itu..?! Jangan sampai kamu memikirkan perempuan lain, karena Papaa akan marah nanti.." sahut Papaa sembari tertawa kecil.
"Gak kok Paa, Papaa jangan berpikir yang aneh-aneh gitu.." balas Bayu, dan kini keduanya pun melanjutkan obrolannya. Dari seputar masalah pekerjaan, hingga tentang cucu yang di inginkan oleh orang tuanya.
__ADS_1
🐝
Setelah puas berbincang-bincang bersama Mamaa dan Papaa, Risha dan Bayu pun bergegas untuk pulang ke rumah. Karena hari sudah menjelang malam dan suasana saat itu juga tengah hujan deras, hingga membuat Bayu terpaksa memperlambat laju kendaraannya.
"Jangan melamun, nanti kesambet lho.." seru Bayu memecah suasana hening di antara keduanya.
"Aku gak melamun, cuma inget terus sama kata-kata Mamaa tadi.."
"Memang Mamaa ngomong apa sama kamu..? Masalah anak lagi..?!" tanya Bayu mencoba menebak apa yang di pikirkan oleh Risha sejak tadi.
"Iyaa Bay, kamu harus secepatnya menikahi Maya.."
"Apaaa..?!!" teriak Bayu yang langsung menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.
"Apa kamu udah gila, Ris..? Kita aja belum resmi bercerai, dan pengadilan belum mengirim surat panggilan persidangan. Rasanya terlalu cepat kalau sekarang harus membahas masalah pernikahan aku dengan Maya, lagi pula Om Rama gak mungkin akan setuju.." ujar Bayu sambil menarik nafasnya, Ia tidak habis pikir dengan apa yang di ucapkan oleh Risha. Lalu kembali menyalakan mobilnya, dan melanjutkan perjalanan.
"Apa kamu mau Maya di ambil orang..? Harusnya kamu senang di suruh nikah cepat sama Maya,mmmh.."
"Andre,, memang siapa dia..?"
"Dia laki-laki yang memberitahu Om Rama tentang pernikahan kita waktu itu, laki-laki yang selama ini masih mengejar Maya.." jelas Bayu dengan raut wajah yang tidak suka.
"Ohh,, justru karena itu kamu dan Maya buruan nikah, soal Om Rama nanti biar aku yang akan membujuknya.."
"Apa gak sebaiknya kita omongin dulu masalah ini sama Maya..? Gimana kalau seandainya dia gak setuju..?" tanya Bayu..
"Aku yakin, Maya pasti setuju.."
Ucap Risha seraya turun dari mobil, karena saat ini keduanya telah sampai di rumah. Bayu yang melihat Risha sudah melangkah masuk ke dalam rumah segera mengikutinya, untuk kembali melanjutkan pembicaraan mereka.
"Apa kamu yakin dengan mempercepat rencana pernikahan aku dan Maya, gak akan menimbulkan masalah nantinya..?" tanya Bayu menatap Risha dengan tatapan yang serius.
__ADS_1
"Masalah apapun kemungkinan pasti bisa terjadi Bay, yang penting kita harus memiliki cara untuk mengantisipasi dan menghadapinya kalau memang benar terjadi. Kenapa, kamu ragu..?"
"Aku memang merasa ragu, tapi aku akan tetap menikahi Maya.. Dan kamu harus bisa membuat Om Rama untuk menyetujuinya, gimana..?" ucap Bayu..
"Baiklah, kamu tunggu aja kabar baiknya. Tapi sebelum itu, kamu harus ngomong dulu ke Maya.. Agar dia juga bisa ikut membantu, untuk meyakinkan Ayahnya.."
"Iyaa Ris, nanti aku akan ngomong sama Maya soal ini.." balas Bayu..
Selesai membahas tentang rencana mereka selanjutnya, Risha dan Bayu pun segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Seperti biasa, Bayu menghubungi Maya sebelum Ia memejamkan mata. Sedangkan di kamar yang lain, terlihat Risha yang masih mencoba menghubungi nomor kekasihnya. Namun setelah melakukan beberapa panggilan telepon, nomor Cindy masih tidak bisa juga di hubungi.
"Cindy kemana yaa, kenapa nomornya gak bisa di hubungi..?"
Tanya Risha dalam hati, sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bayangan tentang foto Cindy dan se'orang laki-laki yang bersamanya pun kini terlintas di benaknya, membuatnya semakin sulit untuk memejamkan matanya.
🐝
🐝
"Mamaa tumben tidak menyuruh Bayu dan Risha untuk menginap di rumah..? Biasanya kan Mamaa pasti tidak akan membiarkan mereka pulang begitu saja.." tanya Papaa yang merasa aneh dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya.
"Biarkan saja mereka pulang Paa, agar besok mereka bisa menghabiskan waktu bersama.." sahut Mamaa yang sebenarnya telah merencanakan sesuatu, untuk mengetahui apa saja yang di lakukan oleh anak dan menantu kesayangannya itu.
"Ohh,, jadi begitu yaa Maa, Papaa pikir kenapa. Yaa sudah, sekarang kita tidur. Mamaa harus banyak istirahat, agar lekas sembuh.." ujar Papaa sembari menarik selimut Mamaa hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Papaa.."
"Iyaa Maa, ada apa..? Apa Mamaa membutuhkan sesuatu..?" tanya Papaa sembari menoleh ke arah wanita yang sudah menemani dirinya selama puluhan tahun itu.
"Tidak Paa, Mamaa tidak membutuhkan apa-apa. Hanya saja, apa menurut Papaa kita akan segera mendapatkan se'orang cucu..?" tanya Mamaa yang sebenarnya bukan itu hal ingin di tanyakan pada suaminya, karena Ia pikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang anak dan menantunya itu...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59⭐