
Beberapa bulan sudah berlalu, namun keadaan Risha masih tetap sama. Belum ada perubahan dan perkembangan yang signifikan dalam dirinya, meski semua dokter yang menangani telah berusaha semaksimal mungkin. Namun semua usaha yang di lakukan masih belum menunjukkan adanya hasil.
"Gimana nih Maa, Risha masih belum sadar juga dari komanya. Padahal udah lebih dari enam bulan, tapi masih belum ada perubahan apa-apa.." ucap Ayu sambil menghela nafasnya dengan berat.
"Tidak peduli berapa lama, kita harus tetap mengusahakan yang terbaik agar Risha bisa sadar. Kita tidak boleh menyerah Ayu, apa lagi putus asa.." sahut Mamaa yang sebenarnya sedang menguatkan dirinya sendiri, karena Ia pun merasa sangat sedih melihat kondisi Risha yang terus dalam keadaan koma seperti itu.
"Tapi gimana kalau Risha gak sadar-sadar juga, Maa..?" tanya Ayu yang merasa frustasi menghadapi kondisi Risha saat ini.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Ayu.. Risha pasti akan sadar, kita hanya perlu berusaha keras dan terus berdo'a. Jangan pernah menyerah.." ucap Mamaa sembari memeluk erat tubuh Ayu yang saat ini sedang menangis, dan tidak lama kemudian Mamaa pun turut menangis.
Suasana di ruangan itu pun seketika menjadi hening, hanya terdengar suara isak tangis yang perlahan menghilang. Ayu yang tidak ingin terus larut dalam kesedihannya, memilih untuk keluar dari ruangan itu. Sedangkan Mamaa masih setia menemani Risha yang terbaring lemah tidak berdaya.
"Kamu bisa mendengar suara Mamaa kan Sayang..? Cepat sadar yaa Nak, jangan buat Mamaa khawatir dan sedih terus.." ucap Mamaa sembari menggenggam erat tangan Risha, lalu membelai lembut rambut dan wajahnya yang terlihat pucat.
Mamaa yang sangat ingin dan berharap agar Risha segera sadar dari komanya, telah melakukan banyak usaha dan cara. Termasuk dengan mengajak Risha berbicara setiap harinya, seperti yang di sarankan oleh dokter yang merawat Risha. Seperti saat ini, Mamaa juga membacakan beberapa buku cerita. Mengingat bahwa selain se'orang penulis, Risha juga sangat suka membaca buku cerita dan novel.
🐝
Sementara itu di tempat yang lain, Bayu dan Maya sedang berada di sebuah toko perlengkapan bayi. Mereka mulai mempersiapkan semua keperluan untuk calon bayi mereka yang di perkirakan akan lahir dua bulan lagi, dengan di temani oleh Rama suasana berbelanja itupun terlihat semakin menyenangkan.
"Apa kalian yakin kalau bayi kalian berjenis kelamin laki-laki..?" tanya Rama sembari melihat dan memilih pakaian bayi laki-laki.
"Yakin, Ayah.." jawab Bayu dan Maya dengan kompak sembari tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu.." sahut Rama dengan senyuman bahagianya, yang tidak lama lagi akan menyandang status sebagai se'orang Kakek.
"Jangan yang warna itu Ayah, masa bayi laki-laki warna pakaiannya pink.." ucap Maya pada Ayahnya.
"Tidak apa-apa Maya, semua warna sama saja. Yang penting modelnya bagus, bukan begitu Bayu.."
"Iy-iyaa Ayah,hee.." sahut Bayu sembari menatap ke arah Maya yang terlihat tidak setuju dengan jawaban yang di berikan oleh suaminya itu.
"Kamu kenapa jawab iyaa iyaa aja sih Mas, yang hamil itu aku tapi kenapa malah Ayah yang sibuk mencari semua perlengkapan buat bayi kita,mmmh.." gerutu Maya yang kadang merasa kesal dengan sikap Ayahnya, karena semenjak Ia hamil Rama bersikap sangat posesif padanya melebihi suaminya sendiri.
"Gak apa-apa Sayang, itu berarti Ayah sayang banget sama cucunya dan mau memberikan yang terbaik. Harusnya kamu senang dan bersyukur, karena gak semua anak bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari Kakek atau Neneknya.." sahut Bayu sembari tersenyum, lalu mencubit hidung Maya dengan gemas.
"Iyaa juga yaa Mas, aku jadi ngerasa bersalah sama Ayah. Padahal selama ini Ayah se'orang diri menjaga dan merawat aku, dan sekarang Ayah juga begitu menyayangi calon cucunya.." balas Maya dengan perasaan bersalah dan juga haru terhadap apa yang sudah Ayahnya lakukan selama ini.
🐝
🐝
Di sebuah toko kue yang terletak tidak jauh dari perkotaan, terlihat dua orang wanita sedang melayani pembeli yang saat itu tampak begitu ramai. Keduanya dengan tersenyum ramah melayani satu persatu pembeli yang sejak tadi sudah mengantre. Setelah cukup lama, akhirnya semua pembeli sudah selesai di layani dan berlalu pergi.
"Akhirnya,, bisa istirahat juga sekarang,huhh.." ucap salah satu dari wanita itu yang tidak lain adalah Cindy..
"Iyaa Cindy istirahatlah dulu, kamu pasti capek sekali. Nanti biar Ibu saja yang melayani kalau ada pembeli lagi.." sahut Ibu Rumi, yang merasa tidak tega melihat Cindy terus saja membantunya berjualan kue di toko.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bu, cuma capek sedikit saja,hee.." balas Cindy sambil tertawa kecil.
Tidak lama setelah Ibu Rumi tinggal bersama dengannya, Cindy sengaja menyewa sebuah ruko untuk memudahkan Ibu Rumi dalam berjualan kue nya sekaligus menjadi tempat tinggal mereka saat ini. Dan beberapa bulan inipun, penjualan mereka semakin meningkat. Membuat keduanya terkadang merasa kewalahan melayani semua pembeli.
"Lebih baik kita cari karyawan saja untuk membantu berjualan di sini, Ibu tidak mau melihat kamu kelelahan seperti ini, Cindy.. Apa lagi sekarang kamu sedang hamil besar, kamu harus banyak istirahat.." ujar Ibu Rumi sembari mengusap perut Cindy..
"Iyaa Bu, kalau soal itu aku setuju. Tapi aku tetap ingin membantu Ibu di dapur, karena kalau hanya diam saja dan istirahat terus pasti nanti aku bosan.." sahut Cindy yang sejak kehamilannya jadi lebih banyak melakukan kegiatan, agar Ia tidak merasa jenuh dan banyak pikiran.
"Yang penting kamu jangan sampai kelelahan, Cindy.." balas Ibu Rumi sambil tersenyum senang, karena kini kehidupannya perlahan mulai membaik. Di tambah lagi dengan kehadiran Cindy dan juga kehamilannya yang banyak membuat perubahan di dalam hidupnya dan juga Andre..
"Bu,, besok kita tutup toko lebih awal yaa, setelah itu kita jenguk Andre.." ucap Cindy yang membuat Ibu Rumi agak tercengang mendengarnya.
"Iyaa Cindy, kita juga sudah lama tidak menjenguknya. Karena terlalu sibuk berjualan di toko.." sahut Ibu Rumi yang sempat berpikir, apakah mungkin Cindy perlahan mulai membuka hatinya untuk Andre. Namun Ia tidak ingin berharap lebih, karena tidak mau merasa kecewa pada akhirnya nanti.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat di dalam saja Cindy, sekarang pembeli sudah mulai sepi. Nanti Ibu bisa melayaninya sendiri.."
"Baik Bu, aku masuk ke dalam dulu. Ibu juga sambil istirahat yaa.." sahut Cindy yang langsung berjalan masuk ke dalam, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Gimana keadaan Risha sekarang yaa..? Aku kangen banget sama kamu, Risha.." gumam Cindy dalam hati sembari mengingat kembali, saat terakhir Ia bertemu dengan Risha...
Bersambung...
🙏😊 A59⭐
__ADS_1