Jangan Sentuh Aku

Jangan Sentuh Aku
Rutinitas Baru


__ADS_3

"Ayo Maya, kita pulang.." ajak Rama sambil merangkul tubuh Maya yang sedang menghapus air matanya, Ia tadi memang sempat menangis saat melepas kepergian Bayu, Ayu dan kedua orang tuanya yang pergi untuk mengantarkan Risha menjalani perawatan di luar negeri.


"Sudah, jangan menangis lagi. Malu di lihat sama banyak orang.." ucap Rama sambil tersenyum.


"Iyaa Ayah, aku gak nangis lagi kok. Apa kita akan langsung pulang ke rumah atau mau ke kebun dulu Ayah..? Maya udah lama gak melihat kebun Ayah, apa banyak tanaman baru yang Ayah tanam..?" tanya Maya sembari berjalan berdampingan bersama Ayahnya.


"Apa kamu mau kita ke sana terlebih dulu sebelum pulang..?" ucap Rama yang balik bertanya pada Maya, karena mulai saat ini putrinya itu akan tinggal bersamanya.


"Iyaa Ayah, kalau Ayah gak keberatan.." jawab Maya dan langsung mendapat persetujuan dari Rama, keduanya pun segera berjalan menuju tempat parkiran.


"Apa tidak sebaiknya kamu ikut bersama Ayah saja Maya..? Nanti mobil Bayu biar supir dari orang tua Bayu yang akan mengambilnya.." ucap Rama yang merasa khawatir jika membiarkan putrinya itu mengendarai mobilnya sendiri.


"Gak apa-apa Ayah, biar aku aja yang bawa. Maya akan membawanya pelan-pelan, lagi pula kan ada Ayah yang bersamaku.." sahut Maya sembari tersenyum, lalu keduanya pun mengendarai mobilnya masing-masing dan meninggalkan bandara.


Setelah beberapa jam perjalanan, Maya dan Ayahnya telah tiba di sebuah kebun bunga yang sangat indah. Di sana terlihat ada banyak bunga dan tanaman lain dengan berbagai jenis, Rama yang merawat dan menjaganya dengan sangat baik membuat kebun itu terlihat seperti sebuah taman.


"Wahhh,, banyak banget bunga dan tanaman Ayah sekarang, cantik-cantik lagi..!" seru Maya sambil menatap dan menikmati keindahan setiap bunga yang Ia pegang.


"Sejak Ayah menambah beberapa pekerja di kebun, Ayah juga menambah beberapa bibit bunga dan tanaman. Hasilnya seperti yang kamu lihat saat ini, Maya.." ujar Rama dengan tersenyum lebar, karena usahanya yang di rintis dari sejak Maya masih kecil kini semakin maju dan berkembang.


"Syukurlah kalau gitu Ayah, Maya ikut seneng.." sahut Maya yang masih asyik melihat dan mencium bau wangi bunga-bunga, Ia pun mulai mengelilingi setiap sudut kebun untuk melihat semua tanaman yang ada di sana.


Setelah puas dengan kegiatannya, Maya pun segera menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di kursi depan teras sebuah rumah kecil yang ada di sana.

__ADS_1


"Sudah selesai melihat semua tanaman Ayah..?" tanya Rama pada Maya yang kini telah duduk di sampingnya.


"Iyaa udah, Ayah memang hebat..! Udah jadi pengusaha tanaman sukses sekarang,hee.." ucap Maya sambil tersenyum.


"Kamu memuji atau meledek, Ayah..?"


"Pasti memuji Ayah dong, Maya ikut seneng dan bangga banget sama, Ayah.. Kalau Ibu masih ada, pasti Ibu juga merasa sangat senang dan bangga, karena selama ini Ayah udah berusaha keras untuk memajukan usaha Ayah ini.." ujar Maya yang selama ini tahu dari cerita Rama, bahwa Ibunya juga pecinta bunga dan tanaman sama seperti Ayahnya.


"Kamu benar Maya, mungkin Ibu kamu juga bisa melihatnya dari sisi lain yang kita tidak tau.." sahut Rama yang langsung teringat kembali, kenangan-kenangan indah bersama istri tercintanya kala itu.


"Ayah,, Ayah..!" panggil Maya pada Rama yang terlihat termenung. "Ayah kok melamun, pasti teringat sama Ibu yaa..?" tanya Maya yang membuat Rama menghentikan lamunannya.


"Iyaa Maya, Ayah teringat almarhum Ibu kamu dan akan selalu mengingatnya.." jawab Rama dengan mata yang berkaca-kaca, hingga kesedihan pun turut hadir di dalam hatinya.


"Dulu Andre juga sering membantu Ayah di sini, May.." ucap Rama dengan tiba-tiba, membuat Maya menghentikan gerakan tangannya.


"Jangan sebut nama laki-laki itu Ayah, aku gak mau dengar namanya. Karena dia, sekarang Risha jadi koma, Ayah.." sahut Maya sembari menarik nafasnya, karena itu mengingatkan Ia dengan keadaan Risha yang saat ini masih koma.


"Ehh, Ayah tidak sengaja Maya, maafkan Ayah yaa.." balas Rama yang membuat suasana menjadi hening, Ia sendiri pun merasa sangat kecewa dan tidak menyangka. Andre yang di kenal sebagai pria yang baik, ternyata tega ingin mencelakai putrinya. Mengingat kenyataan itu, membuat Rama juga merasa marah dalam hatinya.


🐝


Di sisi yang lain, terlihat se'orang wanita yang tengah berdiri menatap ke arah luar melalui sebuah jendela. Ia menatap langit biru dengan tatapan kosong, ada perasaan sedih dan hampa yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Saat mengingat beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini, terlebih saat Ia mengenang kembali sosok wanita yang masih sangat di rindukannya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu, Risha.. Saat ini kamu pasti sudah pergi jauh, aku akan menunggumu kembali. Meski bukan lagi sebagai kekasih, tapi sebagai orang yang akan selalu menyayangimu.." gumam Cindy dalam hati, sembari menghapus air matanya yang entah sejak kapan terjatuh.


Cindy yang tidak ingin larut dalam kesedihan, kini bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Ibu Rumi. Hal itu akan menjadi rutinitas barunya, mengingat hanya dirinya yang kini Ibu Rumi miliki setelah Andre masuk ke dalam penjara.


"Kamu sudah datang, Cindy..? Ibu senang sekali, di sini Ibu merasa kesepian karena tidak ada teman untuk di ajak mengobrol.." ucap Ibu Rumi yang sejak beberapa hari ini telah di pindahkan ke ruangan khusus, hal ini terjadi atas permintaan dari Ayu untuk memberikan perawatan yang terbaik agar Ibu Rumi bisa secepatnya pulih.


"Iyaa Bu, kan sekarang aku sudah ada di sini menemani Ibu. Bagaimana keadaan Ibu sekarang..?" tanya Cindy dengan tersenyum ramah.


"Keadaan Ibu sudah berangsur membaik, Cindy.."


"Syukurlah kalau begitu, Cindy sangat senang mendengarnya. Apa Ibu sudah makan..?" tanya Cindy sembari melihat ke arah meja, di sana terdapat sebuah nampan dengan makanan yang masih terlihat utuh karena belum tersentuh sama sekali.


"Belum Cindy, Ibu rasanya tidak ada selera untuk makan.." jawab Ibu Rumi yang belakangan ini sering kali memikirkan Andre, hingga membuat nafsu makannya menghilang.


"Jadi begitu, tapi Ibu harus tetap makan agar cepat sembuh dan sehat kembali. Apa Ibu tidak ingin untuk segera sembuh agar bisa menjenguk Andre..?" tanya Cindy yang membuat Ibu Rumi akhirnya mau untuk memakan makanan yang telah di siapkan untuknya.


"Biar Cindy suapin Ibu yaa, biar Ibu makannya bisa lahap dan cepat habis,hehee.." ucap Cindy seraya tersenyum, Ibu Rumi yang mendengar itupun hanya menganggukkan kepala tanda setuju dan ikut tersenyum.


"Cindy memang anak yang baik, andai saja dia mau menikah dengan Andre dan menjadi menantuku. Pasti aku akan sangat bahagia sekali.." gumam Ibu Rumi dalam hati sambil memandangi wajah Cindy..


Bersambung...


🙏😊 A59⭐

__ADS_1


__ADS_2