Jangan Sentuh Aku

Jangan Sentuh Aku
Belum Ada Perubahan


__ADS_3

Tidak terasa tiga hari pun berlalu, kini Bayu telah pulang dan kembali berkumpul bersama Maya serta Ayah mertuanya. Sedangkan untuk kedua orang tua dan adiknya, masih berada di negara S untuk menemani Risha di sana. Maya yang sudah tidak sabar ingin mengetahui tentang perkembangan keadaan Risha saat ini, langsung mengajukan beberapa pertanyaan pada suaminya.


"Maya,, suami kamu itu baru sampai di rumah, biarkan dia istirahat terlebih dulu.." ucap Rama saat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh Maya pada menantunya itu.


"Gak apa-apa kok Ayah, ini juga Bayu sambil istirahat.." sahut Bayu..


"Yaa udah Mas, ayo cepat cerita gimana kondisi Risha sekarang..? Apa udah sadar dari komanya..?" tanya Maya yang mengulangi pertanyaannya tadi.


"Risha masih dalam keadaan koma, dan juga belum ada perubahan apa-apa. Bahkan dokter yang menangani Risha di sana juga bilang, kalau kondisinya seperti itu terus maka peluang untuk Risha sadar dari komanya akan semakin lama.." ujar Bayu..


"Tapi kenapa, Mas..? Bukankah di sana peralatan medis nya lebih canggih dan dokternya juga lebih berpengalaman dalam menangani kasus seperti yang di alami oleh Risha..?" tanya Maya yang seolah tidak bisa menerima dengan apa yang Bayu katakan tentang Risha barusan.


"Tadinya semua orang juga berpikir seperti itu, tapi kenyataan yang terjadi justru berbeda. Tapi dokter juga mengatakan sesuatu hal yang penting soal Risha.." jelas Bayu..


"Sesuatu hal apa itu, Bayu..?" tanya Rama dengan rasa penasaran di hatinya, karena Ia juga sempat mengira bahwa dengan di bawanya Risha keluar negeri untuk di rawat akan membuat kondisinya segera membaik dan sadar dari komanya. Tapi ternyata tidak demikian.


"Dokter itu bilang, secanggih apapun peralatan medis dan seberapa banyak pun usaha yang di lakukan oleh para dokter. Jika dari Risha sendiri tidak ada keinginan dan tekad kuat untuk bisa sadar dari koma, maka sampai kapanpun dia akan mengalami koma.." jelas Bayu pada Maya dan Rama yang bisa mengerti maksud dari semua ucapan Bayu soal Risha..


"Apa yang di katakan oleh dokter itu memang benar adanya, karena dulu Ayah juga pernah dengar ada kasus yang sama seperti Risha. Tapi pada akhirnya pasien sadar, karena dorongan semangat dan dukungan yang selalu di berikan oleh keluarga dan kerabatnya. Membuat pasien itu bisa sadar dari koma.." ujar Rama yang tidak ingin berhenti berharap untuk kesembuhan putri angkatnya itu.


"Iyaa Ayah, lagi pula Risha baru beberapa hari menjalani perawatan. Jadi mungkin wajar kalau masih belum ada perubahan.." sahut Bayu sembari menatap ke arah Maya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi gimana kalau Risha gak sadar-sadar juga Mas, Ayah..?" tanya Maya dengan nada sedih, karena jujur dalam hatinya Ia masih sering menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi pada Risha..

__ADS_1


"Udah yaa Sayang, kamu jangan mikir seperti itu. Kita harus tetap berpikir optimis dan berdo'a untuk kesembuhan Risha.." jawab Bayu seraya menggenggam tangan Maya dan berusaha untuk menenangkannya, karena Ia pun bisa mengerti dengan apa yang di rasakan oleh istrinya itu.


"Benar apa yang di katakan sama Bayu, kamu jangan banyak pikiran. Jaga kandungan kamu baik-baik, Maya.. Soal Risha kita pasrahkan saja pada Tuhan, kita hanya harus berusaha yang terbaik untuk Risha.." ujar Rama ikut menimpali.


Mendengar perkataan Ayah dan suaminya, membuat Maya kini merasa sedikit tenang dan lega. Meski perasaan sedih kerap kali datang dalam hati, terlebih saat Ia mengingat kondisi Risha saat ini.


"Bayu,, lebih baik kamu bawa Maya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, jangan biarkan dia banyak berpikir yang bukan-bukan.." ucap Rama pada Bayu..


"Baik, Ayah.." sahut Bayu sembari merangkul tubuh Maya untuk ikut masuk bersamanya ke dalam kamar, namun setibanya di kamar Maya langsung memeluk erat tubuh Bayu..


"Kamu kenapa nangis, Sayang..? Apa ada yang sakit..?" tanya Bayu yang merasa cemas, sembari membalas pelukan Maya padanya.


"Gimana kalau Risha masih gak sadar-sadar juga, Mas..? Aku gak mau nanggung rasa bersalah seumur hidup, di karenakan aku keadaan Risha jadi seperti itu.." ucap Maya sambil menangis sesenggukan.


"Sayang,, lihat aku dan ingat apa yang mau aku omongin ini.." ucap Bayu yang menatap dan menyentuh wajah Maya dengan kedua tangannya, hingga keduanya kini saling bertatapan.


"Apa yang terjadi sama Risha bukan salah kamu, Sayang.. Itu semua terjadi atas kehendak Tuhan, Andre memang salah udah menabrak Risha. Tapi semua itu juga gak akan terjadi, kalau Tuhan gak menghendaki. Jadi mulai sekarang, berhentilah menyalahkan diri kamu sendiri yaa.. Itu cuma akan buat aku dan Ayah jadi sedih.." ucap Bayu yang langsung memeluk erat tubuh Maya..


"Maafin aku, Mas.. Aku benar-benar minta maaf, aku cuma mau Risha cepat sadar dan sehat kembali. Risha juga udah aku anggap seperti adikku sendiri, aku gak mau kehilangan dia.." sahut Maya dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi pipinya.


"Iyaa Sayang, kita gak akan kehilangan Risha.. Karena Risha itu wanita yang kuat.." balas Bayu yang merasa sedih melihat kondisi Maya belakangan ini, karena sejak kecelakaan yang di alami oleh Risha. Maya jadi sering terlihat murung dan sedih, hingga membuat Bayu pun merasa cemas memikirkan kandungan Maya..


🐝

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan kondisi Risha yang belum ada perubahan, kini keadaan Ibu Rumi sudah jauh lebih baik. Dokter yang merawatnya juga mengatakan, bahwa dalam waktu dekat ini Ibu Rumi sudah di perbolehkan untuk pulang. Hal inipun membuat Cindy merasa senang, dan akan menyampaikan kabar baik itu pada Andre yang selama ini selalu bertanya tentang bagaimana keadaan Ibunya.


"Akhirnya, tidak lama lagi Ibu sudah bisa pulang ke rumah.." ucap Cindy dengan raut wajah yang bahagia.


"Ini semua berkat kamu, Cindy.." sahut Ibu Rumi..


"Kok berkat aku, Bu..?"


"Karena kamu yang sudah membantu Ibu, hingga Ibu bisa mendapatkan perawatan yang terbaik di sini. Jadi Ibu bisa pulih dengan lebih cepat.." ujar Ibu Rumi seraya menggenggam tangan Cindy..


"Ini semua karena berkat kebaikan hati Risha, yang masih sangat peduli sama aku dan Ibu Rumi. Entah bagaimana keadaan Risha sekarang.." gumam Cindy dalam hati sambil menahan air matanya agar tidak menetes.


"Cindy,, kamu kenapa, Nak..? Kok malah bengong seperti itu.." tanya Ibu Rumi sembari memperhatikan raut wajah Cindy yang terlihat sedih.


"Tidak kenapa-kenapa kok Bu, aku cuma teringat sama almarhum Ibu.." bohong Cindy sembari memaksakan diri untuk tersenyum, meski di dalam hati sebenarnya Ia sangat ingin menangis dan memanggil nama Risha saat itu juga. Namun itu tidak mungkin bisa Ia lakukan.


"Ohh,, jadi seperti itu, pantas saja Ibu lihat wajah kamu langsung terlihat sedih seperti itu. Kamu yang sabar yaa Cindy, anggap saja Ibu ini seperti Ibu kamu sendiri.." balas Ibu Rumi yang langsung memeluk erat Cindy, dengan perasaan penuh kasih sayang seperti se'orang Ibu pada anaknya.


Tanpa sadar, Cindy pun meneteskan air matanya. Ada rasa sedih dan haru yang Ia rasakan dalam hatinya, mengingat akan sosok Risha dan juga sosok Ibunya yang telah lama tiada...


Bersambung...


🙏😊 A59⭐

__ADS_1


__ADS_2