
Beberapa bulan telah berlalu, hubungan Risha dan Cindy masih tetap baik-baik saja. Meski komunikasi di antara keduanya telah semakin berkurang, hal ini di sebabkan oleh kesibukan Cindy pada pekerjaannya. Namun Risha bisa mengerti dan tidak mempersalahkan itu, justru Ia selalu memberi semangat dan dukungannya pada Cindy untuk menjadi se'orang wanita yang mandiri.
Siang itu saat jam istirahat, Cindy yang tiba-tiba merasa sakit kepala mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin yang tersedia di perusahaan tempat Ia bekerja. Karena sudah tidak tahan lagi menahan sakit di kepalanya, Cindy pun memutuskan untuk segera memeriksakannya ke dokter.
"Bagaimana hasilnya, Dok..? Sebenarnya saya sakit apa..? Kenapa beberapa minggu ini saya sering merasa pusing dan bahkan mual..?" sederetan pertanyaan itu langsung di lontarkan oleh Cindy, karena Ia merasa bingung dengan keadaan fisiknya yang semakin hari semakin merasa lemah.
"Tenang yaa Mbak, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Justru Mbak harus senang, karena sebentar lagi Mbak akan menjadi se'orang Ibu. Selamat yaa..!" ucap se'orang wanita yang berprofesi sebagai dokter itu, sambil menyerahkan sebuah kertas yang berisi hasil dari pemeriksaan pada Cindy. Namun bukannya merespon dengan bahagia, Cindy justru terlihat diam dengan raut wajah yang sangat bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Ini tidak mungkin, Dok..! Pasti ada yang salah dengan hasil pemeriksaannya, coba dokter periksa lagi.." pinta Cindy yang terlihat sangat panik, karena Ia tidak pernah menyangka bahwa hubungan intim yang Ia lakukan pada malam itu akan membuatnya hamil.
"Tapi tidak ada yang salah dengan hasil pemeriksaannya, Mbak memang positif hamil.." jelas dokter yang kini sudah bisa membaca bagaimana situasi yang terjadi pada Cindy, yang menunjukkan bahwa Ia tidak menginginkan kehamilannya itu.
Setelah mendengar perkataan dari dokter yang meyakinkan dirinya, bahwa memang saat ini Ia sedang hamil. Cindy pun bergegas keluar dari ruangan tersebut, seraya menggenggam kertas yang kini tampak kusut dan langsung membuangnya ke tempat sampah.
"Siapapun gak ada yang boleh tau soal ini.." gumam Cindy dalam hati dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Cindy berhenti dan berbalik arah untuk menghampiri tempat sampah.
"Akan aku tunjukkan ini pada laki-laki brengxxx itu..!" seru Cindy yang merasa sangat marah namun juga menyesal, seandainya waktu bisa di putar Ia tidak ingin mengenal laki-laki itu. Tapi semua sudah terlanjur terjadi, Ia tidak bisa menghindari apa lagi lari dari kenyataan yang terjadi pada dirinya saat ini.
Karena keadaannya yang tidak baik, Cindy memilih untuk kembali pulang ke kost-an. Ia ingin beristirahat dan menenangkan pikiran, meski kenyataannya Ia merasa sangat tidak tenang. Terlebih saat memikirkan, bagaimana jika nanti Risha tahu tentang keadaannya yang sedang hamil muda itu.
"Aakhh...! Ini semua gara-gara dia, dasar laki-laki bajixxxx..!" umpat Cindy seraya membanting beberapa barang yang ada di dekatnya.
🐝
Sementara itu di tempat yang lain, Risha yang saat itu sedang sibuk dengan kegiatan menulisnya tiba-tiba mendapat sebuah pesan singkat dari Aabid yang mengajaknya untuk bertemu sekaligus makan siang bersama.
__ADS_1
"Tumben Aabid ngajak makan siang..? Pasti ada sesuatu yang lain ingin dia bicarakan.." ucap Risha dalam hati, Ia pun segera menutup laptopnya dan bergegas pergi untuk menemui Aabid di tempat yang telah di tentukan.
Tidak berapa lama kemudian, Risha telah tiba di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari tempat Aabid bekerja. Di sana terlihat se'orang pria yang begitu tampan, dengan kemeja putih di lengkapi dengan dasi berwarna biru tua sedang duduk dan melambaikan tangan ke arahnya. Risha yang mengetahui bahwa itu adalah Aabid, Ia pun segera menghampirinya.
"Cepat sekali kamu sampainya, Ris..? Pasti kamu kangen banget yaa sama aku,hehee.." ledek Aabid sambil menikmati minumannya.
"Yaa udah kalau gitu, aku balik lagi aja ke rumah.." sahut Risha yang langsung bangkit dari tempat duduknya, namun segera di tahan oleh Aabid..
"Jangan pergi dulu dong Ris, aku kan cuma bercanda. Sekarang lebih baik kamu pesan minuman atau makanan dulu, habis itu baru kita ngobrol.." ujar Aabid pada Risha yang menuruti keinginannya, Risha pun memesan sebuah minuman yang sama dengan Aabid..
"Apa ada sesuatu yang penting, sampai kamu ngajak aku keluar, Bid..?" tanya Risha yang sejak awal memang sudah di buat penasaran oleh Aabid, karena tidak biasanya pria itu mengajak Ia keluar kecuali ada urusan penting. Terlebih hanya ada mereka berdua, tanpa ada Ayu yang biasanya juga di ajak ikut bersama.
"Kamu minum dulu aja, gak sabaran banget sih jadi orang. Lebih baik kita nikmati dulu saat kebersamaan kita ini, jarang-jarang kan kita bisa duduk berdua sambil menikmati suasana siang yang cerah ini,hee.." ujar Aabid yang memang sengaja ingin membuat Risha semakin penasaran.
"Aku lagi gak pengen bercanda, Aabid.. Kamu ngomong sekarang, atau aku beneran pulang nih..!" seru Risha yang merasa kesal, karena Ia tahu Aabid pasti sengaja ingin membuatnya dirinya penasaran dan kesal.
"Aku punya kabar baik buat kamu, Ris.. Bukan cuma buat kamu, tapi juga buat Bayu dan istrinya.." ucap Aabid sambil menyerahkan sebuah amplop putih pada Risha..
"Apa ini, Bid..?"
"Kamu buka aja, nanti juga tau isinya itu apa.." jawab Aabid sambil tersenyum menatap Risha yang perlahan membuka dan melihat apa isi dari amplop yang Ia berikan.
"Yaa ampun, Aabid..! Ini serius, jadi aku udah resmi berpisah dari Bayu..?!" tanya Risha yang terlihat seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, tapi juga tersenyum bahagia. Karena keinginannya selama ini untuk berpisah dari Bayu, akhirnya telah tercapai.
"Iyaa Ris, itu surat dari pengadilan yang menyatakan kalau kamu dan Bayu udah resmi bercerai. Apa kamu senang sekarang..?" tanya Aabid yang sebenarnya sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Iyaa Bid, aku seneng banget. Terimakasih yaa, kamu memang bisa di andalkan.." sahut Risha yang terlihat begitu sangat bahagia, seolah beban yang selama ini Ia pendam telah hilang begitu saja.
"Eits,, jangan senang dulu, itu gak gratis lho.." ucap Aabid sambil tersenyum.
"Iyaa Bid, aku tau kok. Kamu tenang aja yaa, nanti pasti aku transfer lagi ke kamu dengan jumlah yang lumayan. Anggap aja sebagai rasa terimakasih aku ke kamu.." balas Risha yang sangat menghargai usaha Aabid dalam membantunya untuk bisa bercerai dengan Bayu..
"Bukan itu yang aku mau, Ris.."
"Terus apa dong kalau bukan itu..?" tanya Risha yang merasa bingung dengan apa yang di inginkan oleh Aabid darinya.
"Aku mau--"
"Mau apa..? Ngomong aja Aabid, jangan setengah-setengah gitu.." sahut Risha yang kembali merasa kesal dengan tingkah Aabid yang menurutnya menyebalkan itu.
"Aku mauu,, peluk cium peluk cium. Mmmuuaacchhh mmmuuaacchhh mmmuuaacchhh,hahahaa.."
Pletak..!
"Auww,, sakit tau Ris..!" seru Aabid yang mendapat sentilan cukup keras dari Risha di keningnya.
"Siapa suruh mesum..!" balas Risha.. "Yaa udah kalau gitu, aku mau pergi dulu. Sekali lagi terimakasih yaa, Aabid.." ucap Risha yang langsung berlalu pergi dengan tergesa-gesa.
"Tunggu, Ris..! Aku masih belum selesai ngomong..!" teriak Aabid sambil menarik nafasnya.
"Padahal aku pengen minta bantuan kamu, biar bisa dekat dan pacaran sama Ayu.. Gagal deh..!" ucap Aabid dalam hati...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59⭐