Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 101. Teriakan Batin


__ADS_3

Lian tiba di sekolah Nathan dan mulai mencari sosok yang amat ia rindukan. Namun tak semudah itu Lian bisa masuk kedalam sekolah. Lian harus bertemu dengan penjaga sekolah dan diberi beberapa pertanyaan.


Sekolah Nathan bertaraf internasional, tentu saja fasilitas dan penjagaannya cukup ketat. Lian memohon untuk diijinkan masuk, tapi si penjaga tetap saja tidak mengijinkan dia masuk.


"Aku mohon, Pak. Tolong ijinkan aku masuk! Aku harus bertemu dengan anakku!" Lian memohon seakan tak ada hari lain untuk bertemu Nathan.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa mengijinkan Anda masuk. Lagipula Anda tidak terdaftar sebagai pengantar atau penjemput siswa di sekolah ini. Tolong mengertilah!"


Si penjaga meninggalkan Lian yang masih menunggu di depan gerbang sekolah.


Di tengah teriknya matahari, Lian setia menunggu di depan sekolah.


"Aku harus bertemu dengan anakku! Aku harus bertemu dengan anakku!" Gumam Lian berkali-kali.


Ketika akhirnya sekolah telah usai dan murid-murid mulai keluar dari kelasnya. Entah kenapa Nathan merasa ada seseorang yang menantinya di luar gerbang sekolah. Bahkan saat guru dan penjaga sekolah memanggil dan mengerjarnya, Nathan makin berlari kencang menuju keluar.


Lian yang melihat Nathan berlari langsung tersenyum gembira dari luar gerbang. Ia yakin ikatan batin diantara mereka sangatlah kuat meski mereka terpisah selama bertahun-tahun.


"Nathan!!!" seru Lian dengan mata berkaca-kaca.


"Bibi Lian!" Nathan balas memanggil Lian.


Mata Lian berbinar melihat kedatangan Nathan yang berlari ke arahnya. Nathan meminta penjaga gerbang membuka pintu.


Ketika netranya menangkap sosok lelaki kecil itu, Lian segera berjongkok dan merentangkan tangannya.


Tanpa di duga Nathan memeluk Lian yang bersiap menyambutnya.


"Anakku!!" Seru Lian sambil memeluk erat tubuh kecil itu.


Julian yang baru tiba di depan sekolah Nathan ikut tertegun melihat pemandangan ibu dan anak itu. Ada rasa lega ketika Lian akhirnya menemukan putranya. Namun kecemasan juga menghantuinya kala melihat Kartika menghampiri mereka berdua dan segera melepas pelukan Lian dan Nathan.


"Lepaskan putraku!" Seru Kartika.


Lian tercengang mendapati Kartika ada disana.


"Kak! Kumohon ijinkan aku memeluknya! Dia adalah anakku!" Lian memohon dengan air mata yang sudah tak lagi terbendung.


"Kau! Kau melewati batasmu, Lian! Nathan adalah putraku! Ayo, Nak! Kita pergi!" Kartika segera menarik tangan Nathan dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Kak! Tolong kembalikan anakku!" Lian memegangi kaki Kartika.

__ADS_1


Julian segera menghampiri keduanya.


"Julian! Tolong bawa wanitamu ini! Dan jangan lagi mengganggu aku dan anakku! Aku membiarkan dia memeluk anakku saat itu. Tapi aku tidak tahu jika kau akan melewati batas. Lepaskan!" Kartika mengibaskan kakinya hingga Lian terjerembab.


"Kak Tika! Dia adalah anakku!" Lian masih meronta.


"Lian! Hentikan!" Julian memegangi lengan Lian dan membantunya berdiri.


"Dia adalah anakku, Kak! Kumohon biarkan aku mengambil anakku!"


"Lian! Tenangkan dirimu! Apa kau sudah tidak waras? Kartika tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau jangan membuatnya malah menjauhkanmu dari anakmu!" Lerai Julian.


"Ya! Aku memang sudah tidak waras! Bagaimana bisa kalian tega melakukan ini padaku! Kau dan wanita yang bernama Zara itu sama saja! Kalian sudah memisahkan aku dan anakku!" Lian berteriak di depan Julian.


Julian terdiam. Ia berpikir sejenak. Tidak akan bagus jika dirinya juga ikut terbawa emosi seperti Lian.


"Baiklah, aku minta maaf. Sekarang sebaiknya kita pulang dulu. Aku janji aku akan bicara dengan Kartika tentang masalah ini. Aku mengenalnya. Aku yakin bisa membuatnya mengerti. Oke?" Bujuk Julian dengan suara lembutnya.


Lian mengangguk paham. Ia pun mengikuti arahan Julian untuk masuk ke dalam mobil. Julian membawa Lian kembali ke rumah keluarga Avicenna dan meminta penjaga mengawasi rumah dengan ketat agar Lian tidak lagi pergi diam-diam seperti hari ini.


......***......


Malam harinya, Julian datang ke rumah Kartika. Sebenarnya ia ragu apakah Kartika akan menerimanya atau tidak. Tapi sepertinya Kartika juga ingin tahu apa yang telah terjadi dengan Lian hingga histeris seperti siang tadi.


Kartika masih diam dan mendengarkan apa yang akan Julian sampaikan.


"Lian adalah adik iparku. Dia adalah istri Roy. Kau masih ingat dengan Roy?"


"Eh?" Kartika sedikit terkejut.


"Lian dan Roy kehilangan putra mereka lima tahun lalu. Ada yang menukar bayi mereka saat di rumah sakit. Selama ini yang Lian tahu jika putranya telah meninggal. Tapi beberapa hari yang lalu, kami sudah menemukan bukti jika anak Lian dan Roy masih hidup. Dia diadopsi oleh keluarga Langdon. Itu nama suamimu, bukan?"


Kartika masih diam.


"Aku tidak tahu harus bagaimana menyampaikannya. Tapi, aku tidak tahan dengan penderitaan yang dialami Lian. Aku sudah berjanji akan menemukan putranya dan membawanya pulang." Julian bicara dengan suara sehalus mungkin.


"Dan kau datang kemari ingin mengambil putraku? Begitu?"


"Tidak seperti itu. Aku hanya ingin bicara denganmu. Mungkin kau bisa memahami bagaimana perasaan Lian."


"Lalu bagaimana denganku? Aku merawat Nathan selama tiga tahun ini. Aku menyayanginya seperti putraku sendiri. Bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja? Apa Lian pernah berpikir bagaimana perasaanku? Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Kalian hanya peduli pada perasaan Lian saja! Ini sangat aneh, Julian. Aku baru saja kembali dan aku harus mendapati kenyataan ini! Aku tidak bisa menerimanya. Nathan adalah anakku! Meski aku tidak melahirkannya tapi dia adalah anakku!"

__ADS_1


Julian tak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang dikatakan Kartika benar. Selama ini dialah yang sudah merawat Nathan. Pasti sangat sulit jika harus menyerahkan Nathan pada keluarga kandungnya.


"Aku permisi dulu. Kita akan bicara lagi saat semuanya sudah lebih tenang. Sekali lagi aku minta maaf." Julian berpamitan pada Kartika.


Kartika terdiam tidak memberikan jawaban apapun pada Julian. Ia segera menuju kamarnya dan menumpahkan segala kesedihan hatinya.


Sebenarnya, Kartika sendiri sudah menduga, keputusannya untuk kembali ke Indonesia bukanlah hal yang baik. Ia memiliki firasat jika disini, Nathan akan kembali menemukan keluarga kandungnya. Dan ternyata semua firasatnya itu benar.


Kartika menghubungi George dan memintanya datang ke rumah. George langsung menuju kediaman Kartika ketika mendengar suara isak tangis Kartika dari sambungan telepon.


"Dimana Nyonya Kartika?" Tanya George saat tiba di rumah Kartika.


"Nyonya ada di kamarnya, Tuan." Jawab seorang pelayan.


"Sebenarnya siapa yang baru saja di temui Nyonya tadi?"


"Tadi ada seorang pria datang menemui Nyonya, Tuan."


George mengangguk. "Baiklah. Aku akan menemuinya."


George mengetuk pintu kemudian masuk. Dilihatnya Kartika sedang duduk di tepi ranjang sambil menerawang jauh.


"Kartika..." panggil George.


George duduk disamping Kartika.


"Tolong bawa kami pergi, George!" Pinta Kartika sambil memegangi lengan George.


"Eh? Apa maksudmu?"


"Mereka ingin mengambil Nathan, George! Aku tidak bisa membiarkan mereka merebut Nathan dariku!" Tangis Kartika makin pilu.


"Jadi, kau bertemu dengan keluarga kandung Nathan?"


Kartika menggeleng. "Aku tidak akan menyerahkan Nathan, George. Dia anakku! Dan akan selamanya begitu!"


George membawa Kartika dalam dekapannya.


Inilah yang aku takutkan, Kartika. Kau akan terluka jika kau kembali ke Indonesia. Batin George.


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


"Too much dramas?


Gak papa lah yaa, kan orang indonesia suka drama ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€"


__ADS_2