Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 31. Kenangan Pahit


__ADS_3

Roy melangkah pelan dengan memegangi dadanya. Seharian ini ia terlalu lelah belajar bersama Boy, juga pertengkarannya dengan Zara membuat Roy tak tenang dan memikirkan banyak hal.


Roy bersandar di dekat pintu lift. Ia menekan tombol lift untuk naik ke kamarnya di lantai 20. Nafasnya mulai memburu. Ia butuh obatnya segera.


Tanpa di duga pintu lift terbuka dan menampakkan sosok yang tak asing.


"Roy?" Dia adalah Patrick yang baru keluar dari dalam lift.


Patrick ikut panik melihat kesakitan yang dialami Roy.


"Roy, kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Tolong antarkan aku ke kamarku." ucap Roy menahan rasa sakitnya.


"Baiklah, ayo!" Patrick memapah tubuh Roy masuk ke dalam lift dan menekan angka 20.


Tiba di kamar apartemen, Roy meminta Patrick mengambil botol obat di dalam lemari. Patrick mengangguk paham dan mencari botol obat yang Roy maksud.


Sejenak Patrick tertegun memandangi botol obat yang ia pegang. Karena terlalu lama, Roy menghampiri Patrick dan merebut botol obat dari tangannya.


"Jangan melewati batas, Julian!" sungut Roy. Ia segera mengambil satu obat dan menelannya. Tak lupa ia mengambil air minum.


"Roy... Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" tanya Patrick cemas.


"Tidak ada. Aku hanya kelelahan saja. Sekarang pergilah. Aku ingin istirahat!" usir Roy.


"Kau bahkan tidak berterimakasih padaku." Cibir Patrick.


"Baiklah. Terima kasih. Sudah puas?"


Patrick menggeleng pelan kemudian berlalu dari kamar apartemen Roy. Di luar kamar, Patrick memikirkan tentang kondisi Roy.


"Apa dia sakit? Atau memang hanya kelelahan saja?" gumam Patrick lalu ia kembali menuju lift dan kembali ke kamarnya di lantai 17, lantai yang sama dengan milik Belinda.


Tiba di kamarnya, Patrick masih terdiam di depan meja kerjanya. Ia duduk diam dengan memikirkan banyak hal. Ia membuka layar datar di mejanya dan mengetikkan sesuatu disana.


Namun hasil pencariannya nihil. Kemudian ia menghubungi Kenzo yang belum kembali ke apartemen. Akhir-akhir ini Kenzo memiliki banyak pekerjaan diluar pekerjaan sebagai seorang dokter.


Usai menghubungi Kenzo, Patrick kembali terdiam. Semua teka teki ini belum bisa ia pecahkan. Ia menatap layar datarnya yang berisi foto-foto dirinya bersama Boy dan Belinda.


Kemudian ia menatap satu foto yang sudah cukup usang. Itu adalah foto mendiang ibunya. Lalu ada juga satu foto seorang gadis yang tersenyum ceria.


"Aku janji aku pasti akan menemukan pelaku yang sudah melakukan semua ini pada kita, Mom. Maafkan aku juga, Bels. Hingga sekarang aku tak bisa mengungkap kebenaran dibalik kematianmu. Maafkan aku, Bels..." Patrick memegangi kepala dengan kedua tangannya dan tertunduk. Air matanya lolos tanpa permisi. Kenangan pahit kembali menyeruak dalam hatinya. Bahu Patrick bergetar di sertai dengan isakan dalam diam.


......***......


Tak terasa Patrick tertidur di ruang kerjanya dengan beralaskan lengannya sebagai bantal. Ia terbangun karena merasakan getaran yang berasal dari ponselnya yang ia letakkan di meja.

__ADS_1


Patrick mengerjapkan matanya kemudian meraih ponselnya. Beberapa pesan dari Kenzo. Patrick membuka dan membacanya.


Tubuhnya seketika melemas setelah membaca pesan dari Kenzo. Beberapa jam yang lalu, Patrick menghubungi Kenzo dan bertanya tentang obat yang tadi dikonsumsi Roy. Patrick adalah pengingat yang handal. Ia masih ingat apa yang ia baca di botol obat milik Roy.


Patrick terdiam cukup lama. Hingga ia sadar jika sekarang sudah pukul tiga pagi. Patrick kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuh lelahnya disana.


Ia ingin kembali ke alam mimpi namun matanya enggan terpejam. Ingatannya tentang pesan Kenzo membuatnya tak bisa kembali terlelap.


"Obat yang dikonsumsi Roy adalah untuk penderita penyakit jantung kronis. Apa ini? Apa Roy memang sakit?" lirih Patrick.


Patrick membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Ingatan masa kecilnya bersama Roy kembali hadir. Patrick dan Roy terpaut usia 3 tahun.


"Kakak... Jika besar nanti, aku ingin menjadi seperti kakak. Aku ingin kuat seperti kakak..." ucap Roy kecil yang sedang bermain robot-robotan bersama Julian, kakaknya.


"Tentu saja. Kau pasti akan kuat seperti superhero. Sekarang kau harus istirahat agar kondisimu pulih."


"Iya, Kak." Julian mengusap rambut adiknya yang wajahnya pucat itu.


Sejak kecil Roy memang sering sakit-sakitan. Tapi sebagai kakak, Julian selalu ada bersamanya dan juga menghiburnya. Mereka seakan tak terpisahkan. Mereka saling menyayangi satu sama lain.


Hingga akhirnya, Helena, ibu Roy tak suka dengan kedekatan putranya dengan Julian.


"Roy!!! Ayo masuk!!!" seru Helena yang meminta Roy masuk kedalam rumah.


"Tapi, Mom. Aku sedang bermain bersama Kak Julian." rengek Roy.


"Ampun, Mom!!! Jangan pukul lagi!!" pekik Julian kesakitan.


"Mom, hentikan! Jangan pukul Kak Julian!" Roy memegangi tangan Helena agar tidak memukuli tubuh Julian.


"Biarkan saja, Roy! Jangan membelanya! Ini semua karena dia! Dia yang sudah membuatmu sakit begini!!"


"Tidak, Mom! Jangan!!"


Helena tanpa ampun memukuli Julian.


"Ampun, Mom! Maafkan aku! Ampun!!!"


Kenangan pahit itu kembali membuat hati Patrick sakit dan sesak.


"Aarrgghh!!!!" teriak Patrick sendiri di kamarnya. Bukan karena dia seorang pria lalu ia tak pantas meneteskan air mata. Ia hanya manusia biasa yang juga bisa menangis. Dan pagi itu di isi dengan tangis pilu dari seorang Patrick yang mengenang masa lalunya.


......***......


Pukul tujuh pagi Patrick berdiri di depan kamar apartemen Roy. Ia menunggu Roy keluar dari kamar tanpa berniat menekan bel.


Tak lama Roy keluar dari kamar dan kaget melihat Patrick ada disana.

__ADS_1


"Tuan Hensen?" sapa Roy heran.


"Hai, Dokter Roy." balas Patrick canggung.


"Ada apa? Apa ada yang ingin kau bicarakan?"


"Umm, begini... Aku ... aku ingin mengajakmu sarapan bersama."


"Eh?"


"Ada satu warung tenda yang menyediakan makanan khas Jogja. Gudeg. Bukankah kau menyukai makanan manis. Ayo kita makan bersama!" ajak Patrick kikuk.


"Oh? Okay! Lagipula sudah lama aku tidak makan Gudeg." jawab Roy.


Mereka pun berjalan bersama. Tiba di parkiran apartemen mereka mengendarai mobil mereka masing-masing.


Roy turun dari mobil dan melihat suasana warung tenda yang cukup ramai.


"Apa kau bersedia makan disini, Roy?" tanya Patrick ragu.


"Ayo masuk! Aku tak masalah dengan keramaian." Balas Roy tersenyum.


Mereka berdua masuk dan duduk saling berhadapan.


"Kudengar penjualnya asli orang Jogja. Jadi, dijamin pasti rasanya enak." tutur Patrick.


"Oh ya? Wah, aku tak sabar untuk memakannya."


Tak lama pesanan mereka pun datang. Roy terlihat antusias menatap menu makanan di depannya.


"Wah, sepertinya sangat enak, Kak!" kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Roy.


Patrick tertawa kecil kemudian tangannya terulur mengusap puncak kepala Roy.


"Makanlah yang banyak, adikku!" ucapnya.


Roy tertegun dengan sikap Patrick. Ia melihat mata Patrick yang mengembun.


"Kakak... Kak Julian..." gumam Roy.


......***......


#bersambung...


"Oh my God!!! 😭😭😭😭aku mewek bikin part ini πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Maaf jika aku membuat kalian mewek juga, hehehehe.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan kalian dgn karya receh satu ini πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2