Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 60. Kepingan Masa Lalu


__ADS_3

...[ Cerita Helena ]...


Saat itu aku masih berusia 20 tahun, ketika kakakku, Herlin, dipinang oleh lelaki mapan berwajah campuran bernama Dandy Avicenna. Aku berpikir jika kakakku sangatlah beruntung bisa mendapatkan suami seperti pria itu.


Sementara aku? Aku terjebak dengan pria miskin yang dijodohkan ayah denganku. Aku merasa hidup ini tidak adil. Sejak kecil, kakakku, Herlin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.


Satu tahun usia pernikahan mereka, Kak Herlin di karuniai seorang putra yang diberi nama Julian Patrick Avicenna. Kehidupannya bertambah sempurna dengan kehadiran seorang putra pewaris yang akan mewarisi semua kekayaan keluarga Avicenna.


Tahun berganti, dan aku masih menyedihkan dengan kehidupanku. Aku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Gusman. Pria pilihan ayahku. Toh ayah juga sudah meninggal. Tak ada gunanya aku mempertahankan hubungan itu.


Aku mulai ingin menarik perhatian kakak iparku sendiri. Ya, aku ingin menjadi duri dalam daging di pernikahan kakakku sendiri. Aku dibutakan oleh rasa cemburu dan iri pada Kak Herlin.


Hingga ternyata gayung bersambut dan cintaku diterima oleh kakak iparku. Kami selalu bertemu dibelakang Kak Herlin. Dan setelah satu tahun berlalu, aku ingin juga seperti kakakku yang diperistri olehnya. Aku menuntut untuk dinikahi.


Lalu kami menikah secara diam-diam. Aku sangat bahagia karena Dandy memperlakukanku bak seorang putri raja. Sampai akhirnya aku hamil. Aku sangat senang karena janinku juga seorang laki-laki. Aku bertekad akan menjadikan dia sebagai pewaris tunggal keluarga Avicenna.


"Jika anak kita lahir, kau ingin memberinya nama apa?"


"Hmm, aku suka nama Roy." jawabku.


"Bagus juga. Bagaimana kalau Vincent Roy Avicenna. Aku yakin dia akan menjadi pria yang hebat suatu saat nanti."


"Iya. Aku yakin itu. Dan akan kupastikan itu." tegasku.


Namun ternyata semua tak selalu berjalan sesuai rencanaku. Saat aku dan Dandy memeriksakan kandunganku ke dokter, Kak Herlin memergoki kami.


Tentu saja dia sangat marah saat itu. Namun Dandy berhasil menyelamatkanku dari amukan Kak Herlin.


Aku menyusn rencana agar Kak Herlin tidak merusak rencanaku. Aku tidak akan membiarkan dia merusak kebahagiaanku.


"Tega sekali kamu melakukan ini padaku, Helena? Kau mengkhianati aku bersama suamiku? Apa kau tidak memikirkan perasaan Julian? Bukankah dia seperti putra untukmu?" Hari itu Kak Herlin datang padaku dengan berlinang air mata dan kemarahan di matanya.


"Aku juga ingin bahagia, Kak. Aku juga ingin merasakan cinta dari seorang pria kaya raya. Dan asal kau tahu, putraku lah yang akan menjadi pewaris keluarga Avicenna."


Aku sudah menyusun semuanya. Aku tahu jika Kak Herlin memiliki riwayat penyakit jantung seperti ayah kami. Setelah aku mengatakan semua padanya, dia memegangi dadanya.


"Helen! Tega sekali kau! Aarrgghh!!!"


"Maaf, Kak. Tapi aku hanya ingin melindungi anakku."


Aku sudah menyiapkan sebuah rencana indah untuk kakakku. Aku meminta bantuan seorang pembunuh bayaran untuk melenyapkan kakakku agar terlihat seperti kecelakaan.


"Cepat bawa dia!" perintahku.


Tubuh kakakku kurebahkan di mobilnya sendiri yang akan menjadi saksi terakhir meregang nyawanya.


"Tidak! Jangan lakukan, Hel! Bagaimana dengan Julian? Putraku masih kecil, Hel. Kumohon jangan lakukan!"


Aku tidak mendengarkan kata-katanya. Aku tetap memerintahkan pria itu untuk membawa mobil kakakku beserta dirinya.

__ADS_1


"Ingat ini baik-baik, Hel! Kau akan menerima balasan atas apa yang kau lakukan padaku dan juga putraku! Kau akan menyesalinya, Helena!"


Itulah kata-kata terakhir kakakku sebelum mobilnya didorong masuk kedalam jurang. Aku mengelus perut buncitku dengan tersenyum puas.


"Tenang saja, Nak. Mama akan melindungimu. Mama akan menjadikanmu sebagai pewaris tunggal keluarga Avicenna." gumamku penuh keyakinan.


*


*


*


Dan disinilah Helena kini, bersimpuh lemah di depan ruang rawat Roy yang terbaring koma.


Kata-kata yang diucapkan Herlin sebelum Helena melenyapkannya, kini terngiang ditelinga dan pikirannya.


"Mungkinkah ini sebuah karma untukku?" batin Helena.


Donald menatap Helena iba. "Dimana suamimu, Helena? Apa dia tahu jika putranya sedang meregang nyawa?"


Helena tak bisa menjawab pertanyaan Donald.


"Apa dia sedang bermain dengan gadis muda lainnya?" seru Donald.


Lian menatap Ben dengan tatapan penuh tanya.


Lian kembali saling tatap dengan Ben.


"Ben, tolong bawa kakek untuk beristirahat. Aku akan menjaga Mas Roy disini," ucap Lian pada Ben.


"Mari, Tuan!" Ben dengan sopan memapah Donald untuk menuju paviliun rumah sakit yang sengaja di bangun untuk tempat istirahat keluarga Avicenna.


Lian menghampiri Helena yang masih tersungkur di lantai.


"Mom, ayo bangun! Apa Mom tidak ingin menemui Mas Roy?" bujuk Lian dengan suara lembutnya.


Helena tidak menyangka jika wanita yang sudah ia sakiti berkali-kali ini masih bersikap baik padanya.


"Bicaralah dengan Mas Roy. Siapa tahu Mas Roy terbangun karena mendengar suara Mommy." bujuk Lian lagi.


Helena mengangguk kemudian masuk kedalam ruang rawat Roy. Dilihatnya putra kebanggaannya itu tengah terbaring dengan banyaknya alat yang terpasang di tubuhnya.


Lian meninggalkan Helena untuk menghabiskan waktu bersama Roy.


"Roy..." Helena terisak.


"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu tidak pernah memberitahu Mommy soal penyakitmu?"


Helena menggenggam tangan Roy.

__ADS_1


"Aku melakukan semua ini untukmu, Roy. Bangunlah! Mommy tidak bisa melihatmu terbaring lemah seperti ini, Roy."


Lian duduk di bangku panjang depan kamar Roy. Maliq menghampiri Lian.


Lian tersenyum menyambut kedatangan Maliq.


"Sabar ya. Aku yakin Roy pasti kuat. Kami masih menunggu donor jantung untuknya." ucap Maliq yang duduk di sebelah Lian.


"Bukankah donor tidak bisa diberikan jika bukan sedarah?"


Maliq menggeleng. "Aku bisa mengusahakannya. Jadi, bersabarlah."


Lian mengangguk.


"Kau pasti terkejut dengan kenyataan yang terjadi di keluarga suamimu."


Lian kembali mengembangkan senyumnya.


"Kuberitahu satu hal padamu. Alasan kenapa Roy menuruti saran kakeknya untuk melakukan proyek rahasia milik Profesor Gerald adalah ... karena dia tidak bisa melakukan hubungan suami istri."


"Eh?" Lian terkejut sekaligus menahan malu. Memang benar sejak menikah mereka belum pernah melakukan hal lebih jauh dari sekedar berciuman.


"Jantungnya tidak kuat jika harus melakukan hubungan intim. Makanya dia bersedia melakukan percobaan itu agar Kakek Donald bisa memiliki pewaris karena ia pikir ia tidak bisa mengandalkan Julian."


"Apa Julian punya niat jahat?"


"Tidak. Dia sangat menyayangi Roy. Meski mereka lahir dari rahim yang berbeda. Julian merasa jika dia dan Roy adalah korban dari keegoisan para orang tua."


Lian menghela nafas. Hatinya sakit mengetahui banyak hal yang tersembunyi dalam keluarga suaminya.


"Oh ya, kau belum makan, bukan? Bagaimana kalau kau makan dulu bersama Bibi Helena." usul Maliq.


"Tapi, Mas Roy...?"


"Kau tenang saja. Aku mengawasi kondisi Roy selama 24 jam penuh. Lagipula ada perawat yang senantiasa mengawasi. Setelah makan, ajak Bibi Helena ke paviliun keluarga. Dia butuh istirahat."


Lian menurut dan masuk ke kamar lalu membujuk Helena untuk makan bersama dengannya. Tak disangka Helena menurut.


Selepas kepergian Lian dan Helena, Julian datang menghampiri Maliq.


"Bagaimana kondisi Roy?" tanya Julian.


"Kau bisa melihatnya sendiri."


Julian masuk kedalam kamar Roy. Matanya berembun melihat kondisi adiknya yang tidak berdaya.


"Bertahanlah, Roy. Lakukan demi Berlian dan Boy. Aku mohon! Maaf jika aku harus membalas semua hal yang terjadi di masa lalu," ucap Julian sambil menyeka air matanya.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2