Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 36. Memutuskan Hubungan


__ADS_3

Roy memandangi kotak cincin yang dikembalikan oleh Belinda. Ia sudah mengira jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Ia mengusap wajahnya. Sungguh ia ingin bisa memulai hubungannya bersama Belinda.


"Zara! Ini semua karena dia! Karena dia, Belinda jadi salah paham. Aku harus segera memutuskan hubunganku dengan Zara. Pertunangan ini harus segera kuakhiri." ucap Roy berapi-api hingga dadanya terasa sesak.


Roy segera mengambil obatnya dan meminumnya. Ia merebahkan diri di sofa dan memijat pelipisnya pelan.


"Sampai kapan aku bisa bertahan hidup? Aku harus kuat agar aku bisa melihat Boy tumbuh dewasa." gumam Roy.


Setelah membaik, Roy menuju kamarnya kemudian membersihkan diri. Bayangan Belinda kembali hadir kala Roy mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Dengan cepat Roy berganti baju dan keluar dari kamar apartemennya. Ia akan menemui Belinda sekali lagi dan meyakinkannya.


Roy berlari menuju lift dan segera menuju ke lantai 17. Ia menekan bel kamar Belinda. Setelah menunggu beberapa saat, munculah Belinda dari balik pintu dengan raut wajah bingung.


"Dokter Roy?"


Belinda sangat terkejut dengan kedatangan Roy yang tiba-tiba. Roy mengatur nafasnya yang memburu.


"Kita harus bicara, Bels." ucap Roy.


Belinda terdiam kemudian ia menjawab.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Belinda segera menutup pintu kamarnya namun secepat kilat Roy menahannya.


"Kumohon, Bels. Aku tidak akan pergi sebelum kau bersedia bicara denganku!" tegas Roy.


Dengan berat hati Belinda kembali membuka pintu.


"Sebenarnya apa yang kau ing..."


Belum sempat Belinda melanjutkan kalimatnya, Roy segera mendekap tubuh Belinda.


"Maafkan aku..." lirihnya.


Belinda terdiam. Ia memejamkan mata menerima pelukan Roy.


"Aku tahu aku tidak akan termaafkan meski aku memohon padamu ratusan bahkan ribuan kali..." lanjut Roy.


Mata Belinda menghangat mendengar kata-kata Roy. Ia tahu ada nada penyesalan dalam suaranya.


"Maafkan aku, Bels."


"Lepaskan aku!" ucap Belinda.


Roy merenggangkan pelukannya.


"Kumohon jangan membuatku jatuh hati padamu..." Air mata Belinda kini lolos melewati pipinya.


"Jangan bicara begitu, Bels. Aku mendekatimu bukan karena ada Boy diantara kita. Tapi karena memang hatiku memanggilmu. Kumohon bersabarlah! Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Zara. Dan setelah itu, aku janji..."


"Jangan pernah mengucap janji padaku!" seru Belinda.


"Bels... Berikan aku kesempatan!"


"Kesempatanmu sudah hilang, dokter Roy! Aku sadar siapa diriku. Aku tidak akan pernah bisa bersanding dengan keluarga Avicenna yang hebat itu. Itulah kenapa keluargamu memilihku. Karena aku adalah wanita lemah dan miskin."


Roy memilih tidak menjawab.


"Sekarang pergilah! Berbahagialah dengan calon istrimu itu!"

__ADS_1


Roy masih diam. Ia menghela nafas kemudian berujar,


"Baiklah. Tenangkan dirimu dulu, Bels. Aku akan bicara saat kau sudah merasa tenang. Aku permisi."


Roy pamit undur diri dari hadapan Belinda. Belinda kembali menutup pintu dan bersandar disana.


Belinda memukuli dadanya. Ia menangis dalam diam. Entah kenapa hatinya sakit melihat kepergian Roy.


Dan malam itu menjadi malam yang kelam untuk dua insan yang saling memendam rasa.


......***......


Tekad Roy sudah bulat, ia tak bisa lagi mempertahankan hubungannya dengan Zara. Sudah cukup lama Roy menahan semua rasa yang sudah menghilang untuk Zara. Bukan salahnya jika kini ia memilih cinta yang lain.


Kebersamaan selama belasan tahun sirna sudah ketika Zara meninggalkan Roy hanya untuk memuaskan egonya. Namun saat kembali Zara bertindak seolah semuanya baik-baik saja.


Alasan itu juga yang akhirnya membuat Roy menerima tawaran Gerald untuk masuk kedalam proyek ilegal miliknya. Roy kesal karena Zara meninggalkannya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Roy.


Ditambah vonis dokter yang menyatakan jika dirinya tidak akan bisa memiliki keturunan. Sungguh membuat hati Roy hancur. Ia tak memiliki tempat untuk berbagi selain kakeknya. Hanya Donald yang memahami bagaimana perasaan Roy saat itu.


Malam ini, Roy datang ke rumah keluarga Avicenna. Ia bermaksud mengutarakan semua isi hatinya didepan ayah dan ibunya. Ia tak mau lagi menjadi boneka yang diatur oleh Helena, ibunya.


"Mommy senang kau bisa menyempatkan waktu untuk datang kemari, Nak," sambut Helena ketika Roy datang.


"Aku datang karena ada yang ingin kubicarakan dengan kalian." ujar Roy.


"Eh? Apa itu, Nak? Apa jangan-jangan kau ingin segera menikah dengan Zara?" tebak Helena.


"Tidak, Mom! Aku kemari karena..."


"Kita bicara di ruang keluarga saja," potong Donald yang menghampiri Helena dan Roy.


Roy segera mengikuti langkah Donald. Donald meminta pelayan untuk memanggilkan Dandy agar ikut berkumpul di ruang keluarga.


"Ada apa? Kenapa ayah memintaku datang?" gumam Dandy.


Setelah semua orang berkumpul, Roy segera membuka pembicaraan.


"Terima kasih karena sudah bersedia berkumpul disini." buka Roy.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Dandy sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Mom, Dad, Kakek. Aku ... aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Zara."


Bagaikan tersengat aliran listrik, Helena memelototkan matanya mendengar pernyataan Roy.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya Helena.


Sementara para pria hanya terdiam mendengar penuturan Roy.


"Mom, selama ini aku selalu menuruti keinginan Mommy. Tapi kali ini, kumohon biarkan aku memilih jalanku sendiri."


Helena tak habis pikir dengan pemikiran putranya itu.


"Apa kau sudah tidak waras, Roy? Kenapa tiba-tiba membicarakan hal tak masuk akal seperti ini?" Helena masih tak terima dengan pernyataan Roy.


"Aku masih waras, Mom. Makanya aku mengatakan ini di depan kalian."


Helena menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Hubunganku dan Zara tidak sebaik yang kalian kira. Aku dan Zara..."


"Cukup! Dalam suatu hubungan bukankah wajar jika ada perdebatan dan pertengkaran? Kau jangan menganggapnya serius, Roy." Cegat Helena.


"Maaf, Mom. Tapi aku mencintai wanita lain."


Helena makin membulatkan matanya.


"Apa katamu?! Sejak kapan kau berselingkuh, Roy? Siapa gadis itu?" Helena naik pitam.


"Mom, aku tidak selingkuh! Aku hanya sudah kehilangan rasaku terhadap Zara."


Roy menatap Donald untuk mencari pertolongan dari kakeknya itu. Sebelum Roy datang ke rumah, ia sudah lebih dulu bicara dengannya.


"Tolong aku, Kek. Hanya kakek yang bisa menolongku untuk bicara dengan Mom dan Daddy."


"Kau yakin kau mencintainya? Apa semua ini bukan karena dia adalah ibu kandung Boy? Atau sebagai pelampiasan."


"Bukan, Kek. Aku sangat yakin jika rasa ini berbeda. Kumohon tolong aku!"


Donald menghela nafasnya.


"Jika kau mencintainya, maka kau sendiri yang harus memperjuangkannya." ucapnya.


"Baiklah, Kek. Tapi, nanti tolong bantu aku saat Mommy terus mendesak."


Donald mengangguk.


"Kakek tahu jika ibumu tidak akan tinggal diam mengenai masalah ini."


Roy mengangguk paham. Ia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Donald.


Roy masih menatap Donald yang meminta bantuan darinya.


"Biarkan Roy memilih jalan hidupnya sendiri, Helena." ucap Donald pada akhirnya.


"Tapi, Ayah..."


"Sudahlah! Jadi, kau datang kemari hanya ingin membicarakan hal ini?" Dan akhirnya Dandy ikut bicara.


"Sayang, beritahu pada putramu untuk jangan gegabah dalam mengambil keputusan." rayu Helena pada Dandy.


Dandy menatap Roy yang juga sedang menatapnya. Roy juga berharap jika ayahnya ikut mendukungnya.


"Baiklah. Sebaiknya biarkan Roy memilih calon istrinya." ucap Dandy yang membuat mata Roy berbinar.


......***......


#bersambung...


"Sekedar info jika kisah ini kembali mengalami perubahan judul 😅 semoga kalian masih tetap setia menanti 😍😍😍


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS

__ADS_1


💯VOTE


...THANK YOU...


__ADS_2