
"Profesor Gerald?!" seru Belinda.
Belinda menghampiri pria tua itu yang sedang terbatuk-batuk. Ia mengangkat tubuh renta itu hingga duduk dan bersandar pada brankar.
"Profesor, Anda tidak apa-apa?"
"To..long am..bil..kan o..batku!" perintah Gerald dengan suara lemahnya.
"Obat?" Belinda segera mencari keberadaan obat yang di maksud Gerald.
Belinda menemukan botol obat yang ada di lemari. Ia segera mengambil satu obat dan membantu Gerald meminumnya. Tak lupa ia juga mengambil segelas air putih setelah Gerald meminum obatnya.
"Terima kasih," ucap Gerald.
"Profesor, kenapa Anda ada disini? Jadi selama ini Anda berada di kamar ini? Siapa yang melakukan ini pada Anda, Prof?"
Gerald tertawa kecil mendengar pertanyaan Belinda yang beruntun.
"Apa Profesor tidak mengenaliku?" tanyanya lagi.
Gerald memicingkan matanya. "Siapa kau?"
"Aku adalah Putri Berlian." aku Belinda.
"Apa?! Kau adalah ... gadis itu?"
Belinda mengangguk.
"Bagaimana kau bisa ada disini? Siapa yang membawamu kemari?"
Belinda menggeleng pelan. Memang ia tidak tahu siapa yang sudah membayar produser Kim untuk membawanya kemari.
"Kau harus mencari cara agar bisa keluar dari sini."
"Lalu Profesor sendiri bagaimana? Semua orang mencari keberadaan Anda."
"Aku tahu."
"Siapa yang sudah mengurung Profesor disini?"
Gerald hanya tersenyum.
"Aku senang kau hidup dengan baik, Nak."
"Eh?" Belinda tidak mengerti.
"Dimana putramu? Apa dia baik-baik saja?"
Belinda menatap getir pada pria tua yang sudah membuatnya menjalani hidup yang keras sebagai ibu tunggal.
"Apa profesor tahu dimana keberadaan kedua orang tuaku?"
"Tidak, Nak. Bukan aku yang sudah membuat kau kehilangan orang tuamu."
Mata Belinda menghangat. Air matanya telah menumpuk di sudut matanya.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku? Kenapa aku harus menjalani kehidupan yang kejam ini?"
Belinda menangis. Ia merasa semua tentang keluarga Avicenna sudah merenggut kebahagiaannya.
"Maafkan aku, Nak. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu."
Tubuh Belinda beringsut di lantai. Hatinya amat sedih saat mengingat tentang kesakitan yang dialaminya di masa lalu.
......***......
Roy menjemput Belinda di butik Jimmy Choo. Namun yang ia dapat adalah hal yang tak terduga.
"Apa? Pergi ke lokasi syuting?"
"Iya, Dokter Roy. Aku juga tidak tahu kenapa mereka belum juga kembali."
Roy meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Belinda.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi."
"Nomornya tidak aktif," ucap Roy.
__ADS_1
"Heh?! Kalau begitu akan kucoba menghubungi Eric." Kini giliran Jimmy yang meraih ponselnya dan menghubungi Eric Kim.
Wajah Jimmy berubah pucat.
"Tidak aktif juga, dokter."
"Apa kau tahu dimana lokasi syutingnya?"
Jimmy menggeleng. Roy mengumpat kesal. Otaknya dipaksa untuk berpikir jernih.
"Jim, coba kau hubungi orang-orang yang berhubungan dengan produser itu. Aku curiga ada yang tidak beres disini."
Jimmy mengangguk. Roy segera pergi dari butik Jimmy dan kembali melajukan mobilnya. Entah ia akan berkendara kemana. Ia memutuskan untuk menghubungi Patrick.
"Halo, Julian. Dimana kau sekarang?"
"Ada apa, Roy?"
"Belinda menghilang!"
"Apa katamu?! Dimana kau sekarang?"
"Aku sedang didalam mobil. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana."
"Baiklah, kita bertemu di apartemen. Aku akan menjemput Boy."
Sambungan berakhir.
Roy memijat pelipisnya pelan. Pikirannya di isi dengan hal buruk yang bisa saja menimpa Belinda.
"Zara!!!" pekik Roy tiba-tiba.
Roy segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia yakin jika Zara ada hubungannya dengan menghilangnya Belinda.
Tiba di rumah sakit, Roy berlari menuju ruangan Zara. Ia bertemu Kenzo disana.
"Kenzo, dimana Zara?" tanya Roy dengan wajah panik.
"Eh? Dokter Zara hari ini tidak masuk. Sepertinya dia ada urusan."
"Apa? Kurang ajar!"
"Belinda menghilang."
"Apa?! Bagaimana bisa? Bukankah tadi pagi dia berangkat dengan dokter?"
"Iya, itu benar. Tapi setelah itu aku bekerja dan dia juga bekerja."
"Apa dokter sudah menghubungi Patrick?"
"Sudah. Kami akan bertemu di apartemen."
"Baiklah. Aku juga akan segera menyusul."
Roy mengangguk. "Sebaiknya jangan memberitahu dulu pada Riana. Aku takut dia khawatir."
"Baik, Dokter."
Roy kembali pergi dari rumah sakit. Ia tak menemukan Zara di rumah sakit. Ia menuju ke rumah Zara.
"Semoga saja gadis itu ada di rumahnya." gumam Roy sambil melanjutkan perjalanan menuju rumah Zara.
......***......
Roy menggedor pintu rumah Zara. Tak ada jawaban disana. Bahkan penjaga rumahnya pun tidak ada.
Roy mengambil ponselnya dan menelepon Zara. Ponselnya aktif. Namun tidak ada jawaban.
"Sial! Dia pasti tidak mau mengangkat panggilan dariku."
Roy kembali menggedor pintu rumah Zara. Sebuah mobil tiba-tiba datang. Itu adalah mobil Zara.
Roy yang sudah tak bisa menahan kekesalannya segera menghampiri Zara yang baru keluar dari mobilnya.
"Dimana kau sembunyikan Belinda!" Roy berucap dengan berapi-api.
"Ada apa ini, Roy? Aku baru saja datang tapi kau langsung mencecarku begini." balas Zara santai.
__ADS_1
"Aku yakin kau dibalik menghilangnya Belinda."
"Wow! Jadi wanita pujaanmu itu menghilang? Lalu apa hubungannya denganku?"
"Hanya kau yang mampu melakukan ini, Zara. Katakan dimana dia?!" Roy bahkan menarik kerah baju Zara.
Zara tersenyum seringai. "Dengar, Roy. Bukan salahku jika terjadi sesuatu dengannya. Harusnya kau tahu kau sedang berhadapan dengan siapa."
"Dasar wanita jahat!"
Zara menepis tangan Roy kasar. "Jangan pernah datang ke rumahku lagi! Aku tidak ada hubungannya dengan wanita ja'langmu itu." Zara meninggalkan Roy dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Roy mengumpat kesal. "Sial!!! Dia tidak akan bicara dengan mudah."
Tiba-tiba ponsel Roy bergetar. Tertera nama Patrick disana.
"Baiklah, aku akan segera kesana." Roy mengakhiri panggilan dan segera pergi dari rumah Zara.
Roy kembali ke apartemen dan menuju kamar Belinda. Ia menekan bel dan munculah Patrick dari balik pintu.
"Bagaimana? Apa sudah ada informasi?" tanya Patrick.
Roy menggeleng. "Kau sendiri bagaimana?"
"Mari ikut denganku! Boy sedang berusaha melacak posisi Belinda."
"Eh? Boy?" Roy mengerutkan dahi.
Roy dan Patrick masuk ke dalam kamar Boy dan melihat anak kecil itu sedang mengotak-atik keyboard notebook miliknya.
"Paman, apa paman sudah bilang pada Mama untuk selalu memakai jepit rambut yang paman berikan?" tanya Boy.
"Iya, aku sudah bilang padanya untuk selalu membawanya. Bagaimana? Apa kau bisa menemukan titik lokasinya?"
"Belum, Paman. Aku masih mencari titik pastinya."
Roy memperhatikan tingkah dua orang yang ada didepannya. Ia sama sekali tak tahu jika Boy juga ahli dalam mengotak atik komputer.
"Bisa kalian jelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi? Dan kau, Boy! Jadi kau juga ahli dalam bidang IT?"
Boy menatap kearah Patrick.
"Begitulah, Pa. Aku cukup mahir mengotak atik benda ini bahkan menghack beberapa situs milik perusahaanmu."
"Apa? Lalu apa hubungannya dengan jepit rambut?"
"Beberapa waktu lalu, aku membuatkan jepit rambut untuk Mama yang sudah kuisi dengan chip pelacak. Itu hanya untuk berjaga-jaga setelah Mama dan Paman Patrick di serang saat mereka pergi ke kampung halaman Mama." jelas Boy.
"Kampung halaman Belinda? Maksudmu sebuah desa di pesisir pantai?" tanya Roy.
"Benar, Roy."
"Jadi, rumah yang hangus itu adalah rumah orang tua Belinda?"
Patrick mengangguk. "Ada kemungkinan ini berhubungan dengan keluargamu, Roy. Tapi aku belum bisa menemukan siapa yang sudah menyembunyikan kedua orang tua Belinda."
"Jadi, sebenarnya apa pekerjaanmu, Jul? Bagaimana bisa kau dan Boy melakukan hal seperti ini?"
Boy dan Patrick kembali saling pandang.
"Aku dan Boy ... kami adalah ... agen FBI."
"Hah?! Apa? Agen FBI?" Roy membulatkan matanya.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
__ADS_1
...THANK YOU...