
...Kau tahu, menggapai kebahagiaan terasa amat jauh bagaikan aku menggapai bintang...
...Jiwa yang resah menjadi gulana bahkan tak bertepi...
...Semoga kita bertemu di sebuah waktu yang membuatku tertawa dan menangis sekaligus...
......***......
Di pelosok desa yang jauh dari hingar bingar kota, seorang pemuda sedang meratapi kesendiriannya sambil ditemani kepulan asap rokok yang entah sejak kapan menjadi kawan sejatinya.
Sambil memandangi langit malam yang memang selalu pekat. Tubuh lelahnya tak menginginkan apa pun lagi selain keheningan malam.
"Pak dokter Rion! Ada telepon untuk pak dokter," ucap seorang pelayan rumah kontrakan yang di sewa Rion.
"Siapa yang menelepon?" tanya Rion.
"Dari kota, Pak dokter."
"Cih, pasti mereka hanya ingin bicara hal yang tidak penting."
"Tidak, Pak Dokter. Katanya ini darurat. Ini mengenai orang tua Pak Dokter."
"Ada apa lagi dengan mereka? Paling mereka hanya ingin memintaku pulang ke rumah."
"Sebaiknya Pak Dokter angkat saja dulu. Sepertinya ini benar-benar hal yang mendesak," bujuk Lastri, asisten rumah tangga yang menyiapkan segala kebutuhan Rion.
Dengan malas Rion beranjak dari duduknya dan mematikan rokok di tangannya. Sejak tiga tahun lalu, Rion memutuskan untuk tidak menggunakan ponselnya. Ia lebih memilih telepon rumah agar ia lebih fokus bekerja. Mungkin sebenarnya lebih tepatnya agar ia tak mendengar kabar tentang Aleya maupun tentang Boy. Terakhir kali ia menggunakan ponsel adalah setelah pernikahan Dion dan Zetta.
Rion meletakkan gagang telepon ke telinganya.
"Halo," ucap Rion malas.
"Astaga, Rion! Susah sekali menghubungimu!" sungut seseorang di seberang sana yang adalah Dion.
"Ada apa? Jika kau meneleponku hanya untuk menyuruhku pulang, maka..."
"Ayah dan Ibu kecelakaan."
"Apa?! Jangan bercanda! Apa sekarang kau membohongiku hanya untuk membuatku kembali?"
"Aku tidak bohong! Untuk apa aku berbohong mengenai hal seperti ini?"
Rion berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Dion memang ada benarnya.
"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Rion.
"Mereka ada di rumah sakit. Kumohon kembalilah! Aku membutuhkanmu untuk mengurus kebutuhan ayah dan ibu. Kau sendiri tahu Zetta sedang hamil besar. Aku tidak mungkin memintanya untuk mengurus semuanya."
Rion menghela napasnya. "Akan kupikirkan."
"Kau sudah tidak waras! Ini adalah ayah dan ibumu! Tega sekali kau bicara begini!"
Sambungan telepon terputus. Dion sengaja memutusnya karena kesal. Rion mengacak rambutnya yang mulai panjang. Penampilannya sangat kacau dengan jambang yang memenuhi rahang tegasnya dan rambut awut-awutan. Sungguh kurang pantas untuk seorang dokter anak yang harus selalu berpenampilan rapi.
"Ada apa, Pak Dokter?" tanya Lastri.
"Ayah dan ibuku kecelakaan."
"Ya Tuhan! Kalau begitu Pak Dokter harus segera pulang."
Rion menatap tajam wanita paruh baya yang sudah membantunya selama ini.
__ADS_1
"Aku takut ini adalah akal-akalan mereka saja. Bibi tahu kan bagaimana selama ini mereka menginginkan aku untuk kembali."
"Kalau begitu Pak Dokter harus kembali. Bibi rasa mereka tidak akan berbohong tentang hal seperti ini. Jangan sampai Pak Dokter menyesal jika ternyata memang benar terjadi sesuatu dengan orang tua Pak Dokter."
"Ah, sialan!" Rion meninju udara untuk mengutarakan kekesalannya.
"Sudah saatnya Pak Dokter kembali. Masa kontrak Pak Dokter sudah selesai di desa ini. Bibi permisi dulu!"
Rion menatap kepergian Lastri.
"Apa memang sudah saatnya aku untuk kembali? Bagaimana jika aku bertemu Aleya ataupun Boy? Pasti mereka sudah menikah sekarang," gumam Rion dalam hati.
......***......
Hari ini Rion kembali pulang ke kota setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Orang suruhan Dion menjemputnya di bandara. Meski wajah Rion menunjukkan keterpaksaan, namun ia tetap menuruti keinginan kakak dan orang tuanya.
Rion langsung menuju ke rumah sakit bersama beberapa orang bertubuh besar.
"Apa-apaan ini? Kalian pikir aku akan kabur, huh?!" kesal Rion yang duduk diantara pria bertubuh besar itu didalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mobil SUV hitam itu tiba di pelataran rumah sakit Avicenna. Kedatangan Rion disambut oleh Dion di depan lobi rumah sakit.
"Rion?" Dion mengerutkan dahi ketika melihat penampilan Rion yang tidak seperti biasanya. Rambut yang mulai panjang dan seperti sengaja tidak dipotong dan jambang yang memenuhi wajah Rion membuat pria tampan itu tidak dikenali.
"Jadi seperti ini yang kau lakukan selama ini di desa? Bagaimana bisa pasienmu betah dengan penampilanmu yang awut-awutan begini? Sebaiknya kau pergi ke salon dulu sebelum menemui ayah dan ibu. Mereka pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Ayo!"
Dion menyeret tubuh Rion masuk kembali ke dalam mobil. Kali ini Dion sendiri yang mengendarai mobil.
"Kak! Kita mau kemana?" tanya Rion.
"Tentu saja mengubah penampilanmu. Kau benar-benar keterlaluan. Jika kau memutuskan kontak dengan keluargamu, setidaknya kau hidup dengan baik disana."
"Aku baik-baik saja, Kak."
Usai merapikan rambut dan penampilannya, Rion dan Dion kembali ke rumah sakit. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kamar Marinka.
Dion mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian membuka handel pintu diikuti Rion dibelakangnya.
"Ayah, ibu!" sapa Dion yang membuat Marinka dan Maliq menoleh kearah mereka berdua.
"Rion!" seru Marinka.
Rion tersenyum kaku. Maliq menepuk bahu Rion dan menuntunnya menuju brankar Marinka.
"Putraku!" Marinka memeluk Rion. Rasa rindunya tak bisa lagi ia tahan.
Marinka merangkum wajah Rion. "Apa kabarmu, Nak? Kau semakin tampan setelah ibu tidak melihatmu selama bertahun-tahun."
Dion memutar matanya malas. Untung saja dia berhasil mendandani Rion sebelum pria itu bertemu Marinka.
"Aku baik, Bu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa mengalami kecelakaan?" tanya Rion.
"Kami terlibat kecelakaan bersama pengendara sepeda motor. Beruntung kami selamat karena seorang gadis menyelamatkan nyawa kami," terang Maliq.
Rion memeluk ibunya kemudian beralih memeluk ayahnya.
"Syukurlah kalian baik-baik saja," lirih Rion.
......***......
Tiga hari kemudian, Marinka sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Meski begitu Marinka harus tetap meminum obatnya hingga habis.
__ADS_1
Rion merawat Marinka dengan telaten. Ia ingin menebus semua kesalahan pada ibunya. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati Rion dan ingin ia tanyakan pada ibunya namun ia urung. Ya, ini mengenai Aleya dan juga Boy.
Beberapa hari tinggal di rumah sakit membuat Rion bertanya-tanya kenapa ia tak menemukan sosok Boy sebagai dokter di rumah sakit Avicenna. Ingin bertanya pada Dion pun rasanya ia amat sungkan.
"Ada apa, Nak? Apa ada hal yang kau pikirkan?" tanya Marinka yang melihat Rion melamun.
"Tidak, Bu. Tidak ada apa-apa," balas Rion tak ingin ibunya khawatir.
"Jika ada yang mengganjal di hatimu, katakan saja! Kau jangan menahannya. Ibu sangat mengenalmu, Nak. Kau tidak bisa membohongi ibumu."
Rion menimang-nimang apakah ia akan mengatakan rasa penasarannya atau tetap menyembunyikannya.
Di tempat berbeda, Zetta dengan perut buncitnya menemui seseorang yang sudah menunggunya di sebuah taman bermain anak-anak.
"Mama!" seru Andra yang melihat kedatangan Zetta.
"Hai, sayang. Apa kau senang bermain dengan Daddymu?"
"Iya, Mama. Aku senang karena Daddy mengajakku kesini. Ma, aku mau main lagi kesana."
"Iya, sayang. Hati-hati ya!" Zetta membelai rambut Andra sebelum bocah itu kembali berlarian.
"Hai," sapa Zetta pada pria yang dipanggil 'daddy' oleh Andra tadi.
"Hai. Bagaimana kabarmu? Perutmu sudah semakin besar ya!"
"Ya begitulah. Sudah masuk usia 7 bulan."
"Apa dulu kau juga begitu saat mengandung Andra?"
Zetta terkekeh. "Tentu saja. Semua ibu hamil pasti berperut buncit, Ken."
"Aku senang kau hidup dengan baik bersama Dion," ucap pria yang adalah Kenji.
"Kau juga harus menata hidupmu, Ken. Carilah gadis yang baik dan hidup bahagia dengannya."
"Entahlah. Aku bisa dapat dimana gadis seperti itu?"
"Yang jelas bukan di klub malam," sindir Zetta.
"Yeah. Meski aku mendapatkannya satu."
"Ish, kau!" Zetta memukul lengan Kenji. Kemudian mereka berdua tertawa.
Zetta memutuskan untuk berdamai dengan masa lalunya dan menatap masa depan. Ia sudah sepakat dengan Kenji dan Dion akan mengasuh Andra bersama-sama. Beruntung bocah enam tahun itu sangat memahami situasi yang terjadi. Justru dia merasa senang karena memiliki dua ayah sekaligus.
"Mama! Daddy!" Andra melambaikan tangan kearah Zetta dan Kenji.
......***......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*Masih penasaran dimana Boy dan Aleya? Tahan ya genks. Nanti juga mereka kembali hadir ๐๐๐...
...
__ADS_1
...