Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 109. Dokter Kecil yang Tampan


__ADS_3

Berlian masih terus memikirkan apa yang diucapkan Julian di depan semua orang tadi. Pastinya ia juga mengkhawatirkan Boy karena putranya itu begitu dekat dengan Natasha.


Lian masih ingat betul seringai Noel saat dirinya mengunjungi pria itu di rumah tahanan. Pria itu menyimpan dendam yang dalam pada keluarga suaminya.Dan dirinya ikut terseret karena kini ia juga menjadi bagian keluarga Avicenna.


"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" Roy datang dan memeluk Lian dari belakang saat dirinya menatap langit malam dari depan jendela kamarnya.


"Eh? Mas, apa Kak Julian sudah pulang?"


"Sudah. Begitu juga dengan Kenzo dan Riana. Namun Natasha merengek minta menginap disini."


Lian menghela nafas.


"Kenapa? Kau khawatir?" tanya Roy.


"Tidak. Hanya saja..."


"Apa kau memikirkan apa yang dikatakan Kak Julian?"


Lian memilih tidak menjawab.


"Tenang saja! Bagaimanapun juga Natasha itu masih anak-anak. Sama seperti Boy. Kita jangan menghakimi dia terlalu keras. Kita akan tetap mengawasi mereka berdua."


Lian menganggukkan kepala.


"Semoga semuanya baik-baik saja ya, Mas."


"Iya. Percayalah padaku dan Kak Julian." Roy meraih tubuh Lian dan mendekapnya.


"Sayang, apa kau tidak ingin menambah momongan?" tanya Roy menggoda Lian.


"Ish, Mas. Saat ini masih banyak yang harus kita hadapi. Aku belum memikirkan soal itu. Lagi pula, aku tak enak hati pada Kak Tika. Dia bahkan tidak memiliki rahim lagi. Bagaimana bisa aku dengan sengaja hamil didepannya?"


Roy tersenyum geli. "Kau ini! Selalu saja memikirkan orang lain. Apa kau pernah memikirkan perasaanku?"


"Tentu saja aku memikirkanmu, Mas. Kau sudah banyak berkorban untukku dan anak-anak kita." Lian mengeratkan pelukannya.


"Kita akan pikirkan suatu cara, sayang. Aku juga sedih melihat Kak Julian dan Kak Tika yang sepertinya sangat menginginkan seorang anak."


......***......


Satu hari setelah hari ulang tahunnya, Boy merasa jika dirinya sudah beranjak dewasa dengan pemikiran yang dewasa pula. Ternyata apa yang dipikirkan oleh Roy juga dipikirkan oleh Boy.


"Boy, kau mau pergi kemana?" tanya Natasha ketika melihat Boy yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana jeansnya.

__ADS_1


Boy tampak seperti pria dewasa yang tampan yang membuat hati wanita manapun bergetar saat melihatnya.


"Aku akan ke rumah sakit. Ada yang harus kulakukan dengan Papaku," jawab Boy.


Natasha hanya diam.


"Kau mau ikut denganku?" ajak Boy.


"Entahlah. Aku hanya ingin liburan disini. Aku baru datang dan kau langsung akan pergi."


"Bukan begitu. Setelah aku selesai di rumah sakit, aku akan mengajakumu berkeliling kota. Bagaimana?"


Senyum yang manis terbit di bibir Natasha.


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu." Natasha meraih lengan Boy dan memeluknya mesra.


.


.


.


Tiba di rumah sakit, Boy menemui Ben dan bertanya tentang keberadaan Roy, ayahnya. Seperti biasa Roysednag melakukan pelatihan otopsi untuk para dokter muda di rumah sakit.


Beberapa orang yang melihat ketampanan wajah Boy langsung berdecak kagum. Bahkan Natasha bisa merasakan jika pria yang ada disampingnya ini akan memiliki banyak penggemar saat dewasa nanti.


Setelah menunggu selama satu jam, ternyata Roy masih belum selesai juga dari ruang otopsi. Boy menunggu sambip mengutak atik notebook yang ia bawa. Sedangkan Natasha, ia mulai bosan karena hanya memainkan ponselnya.


"Boy, aku sudah bosan disini. Apa kita tidak bisa pergi dari sini?" rajuk Natasha seperti biasa.


"Aku masih harus menunggu Papaku. Jika kau merasa bosan dan ingin pulang ke rumah, maka aku akan meminta supir untuk mengantarmu pulang."


Natasha mengerucutkan bibirnya namun Boy sama sekali tak melihat karena mata Boy fokus pada layar datar didepannya.


"Aku akan pulang ke rumahku saja. Kau masih terlalu sibuk dengan duniamu." Natasha keluar dari ruang kerja Roy dengan menghentakkan kaki dan tak melihat Boy.


Boy melirik kearah Natasha yang kesal.


"Dasar! Selalu saja begitu dan tidak berubah. Setelah ini aku akan kerumahnya dan meminta maaf," gumam Boy.


Karena sudah menunggu lama dan ayahnya tak kunjung datang, akhirnya Boy mendatangi ruang otopsi dimana ayahnya berada sekarang. Boy berjalan dengan tegap dan selalu ramah menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.


Banyak juga yang berbisik jika dirinya sangat mirip dengan ayahnya sewaktu muda. Semangat dan ketampanannya menurun dari sang ayah.

__ADS_1


Tiba di depan ruang otopsi, Boy melambaikan tangan pada Roy. Ayahnya bahkan lupa jika sedari tadi putra sulungnya sudah menunggu di ruang kerjanya.


"Astaga! Aku lupa jika Boy sudah menungguku." Roy menepuk dahinya pelan.


Roy mengakhiri pertemuannya dengan dokter-dokter muda yang akan meneruskan perjuangannya menjadi dokter forensik.


"Maaf ya, Nak. Papa terlalu asyik mengajar hingga lupa jika kau sedang menunggu Papa," sesal Roy.


"Tidak apa, Pa. Suatu saat nanti aku juga pasti akan gila bekerja seperti Papa," jawab Boy.


Roy tergelak. " Tapi sebaiknya kau jangan gila bekerja, Nak. Karena kita memiliki orang-orang yang kita cintai yang ternyata merekalah yang selalu mendukung kita. Kita harus meluangkan waktu untuk mereka yang sudah berjasa pada kita."


Boy mengangguk paham.


"Jadi, ada perlu apa kau datang kemari? Ben bilang kau datang bersama Natasha, lalu dimana dia?"


"Natasha sudah leboh dulu pulang. Dia bilang dia bosan menungguku."


"Kalau begitu kau harus mulai berpikir, jika ada orang-orang disekitarmu yang tidak suka jika kau tidak mempedulikannya."


"Natasha hanya sahabatku, Pa. Bukan berarti dia... Ah sudahlah, aku kemari karena ingin menunjukkan ini pada Papa." Boy membuka notebooknya kemudian menunjukkan sesuatu pada Roy.


"Bayi tabung?" Roy mengernyitkan dahi.


"Benar, Pa. Aku ingin membuat eksperimen ini untuk Paman Julian dan Bibi Kartika. Ini benar-benar bayi tabung, Pa. Aku akan menyiapkan wadah tabung yang bisa ditinggali oleh benih yang sudah berupa gumpalan daging," jelas Boy.


"Hah?!" Roy terperangah dengan ide dari putranya itu.


"Papa pernah mendengar kisah Mahabharata? Keluarga Kurawa yang berjumlah 100 orang itu dibentuk dengan cara seperti ini. Gumpalan daging di pisahkan dan diletakkan pada wadah suci lalu diberkati dengan doa. Tapi, masyarakat sekarang tentu tidak akan melakukan hal seperti itu. Dan itu hanya sebuah kisah dalam sebuah kitab. Maka dari itu, aku ingin melakukan hal yang rasanya tidak mungkin menjadi mungkin. Bagaimana menurut Papa?"


Roy terdiam sejenak.


"Nak, ini sungguh ide yang luar biasa. Kau akan banyak membantu pasangan diluar sana yang belum dikaruniai momongan. Bahkan mereka tidak perlu hamil tapi sudah bisa mendapatkan bayi dari proses ini."


"Sebaiknya hanya untuk pasangan yang sulit memiliki momongan saja, Pa. Untuk pasangan seperti Papa dan Mama, kurasa kalian tidak perlu melakukan proses ini," goda Boy.


Roy tertawa karena menahan malu. "Kau ini bisa saja, Nak." Roy kembali tergelak tawa.


Sedangkan Boy hanya bisa menggelengkan kepala karena melihat ayahnya yang salah tingkah.


...B E R S A M B U N G...


"Andai saja ada proses begini beneran, emak gak susah2 buat ngeden pas lahiran dan disobek perutnya, wkwkwkwk"

__ADS_1


"Siapa disini yang belum dikasih momongan? Semoga disegerakan ya genks. Jangan lupa berdoa dan berusaha. 😇😇


__ADS_2