
Ada yang bilang, terkadang kita menjalani takdir yang aneh
Mungkin bukan aneh, hanya saja...
kita yang tidak bisa menerima takdir itu,
Itu saja. Ya, hanya itu saja.
......***......
"Nah, sudah selesai, Pak. Setelah ini bapak harus rajin meminum obat untuk antibiotik dan juga mengganti perban luka bapak. Bapak bisa datang kesini, atau juga meminta tolong pada keluarga di rumah," terang Aleya.
"Baiklah, Nak Aleya. Sekali lagi terima kasih."
"Iya, Pak. Sama-sama. Lain kali bapak harus berhati-hati jika mencari kayu bakar di hutan."
"Baik, Nak. Saya permisi."
Aleya mengangguk. Ia menghela napas dan merapikan perban dan gunting yang tadi dipakainya.
"Permisi, Nona. Tolong periksa saya!"
"Ya? Tunggu sebentar ya!" balas Aleya namun tidak menatap pasien yang sudah duduk di depannya.
"Apa bapak sudah mendaftar di loket pendaftaran?"
"Sudah."
"Apanya yang sakit?" tanya Aleya masih belum menatap si pasien.
"Sakit rindu..."
"Eh?" Seketika Aleya menoleh. Tubuhnya mematung melihat sosok pasien yang tersenyum padanya.
"Kak Rion?"
"Apa kabar, Aleya?"
"Apa yang kakak lakukan disini?"
"Tentu saja ingin menemuimu. Aku sudah meminta ijin pada dokter Mina. Ikutlah denganku!"
"Eh?" Aleya tidak mengerti dengan maksud Rion. Ia hanya mengikuti langkah Rion karena tangannya ditarik oleh Rion.
Rion membawa Aleya ke taman rumah sakit.
"Bagaimana bisa kakak ada disini?" tanya Aleya ketika mereka duduk di bangku panjang taman.
"Tentu saja aku akan bertugas disini," jelas Rion.
"Maksud kakak?"
"Kontrak Dokter Mina sudah selesai, aku yang akan menggantikannya."
"Hah?!"
"Kenapa? Kau tidak suka aku datang kemari?"
"Bu-bukan begitu. Aku senang bisa bertemu lagi dengan kakak."
Rion tertawa kecil. "Jangan tegang begitu."
Aleya tersenyum canggung. "Kenapa kakak ingin bertugas disini?"
"Umm, tidak ada alasan. Aku hanya ingin menambah pengalaman saja. Oh ya, aku ingin memberimu ini." Rion menyerahkan sebuah selebaran.
"Apa ini?" Aleya membaca dengan seksama. "Beasiswa di Universitas Avicenna?"
"Iya. Kurasa ini bagus untukmu. Kau bilang kau ingin menggapai cita-citamu. Ini adalah waktu yang tepat. Aku akan membantumu untuk bisa mendapatkan beasiswa itu."
Aleya terdiam.
"Kenapa? Kau masih tidak berani mengungkapkan keinginanmu pada ayahmu?"
"Bu-bukan begitu. Tentu saja aku ingin menggapai cita-citaku. Tapi..."
"Sudah, kau pikirkan saja dulu. Aku masih lama berada disini."
Aleya mengangguk.
"Kesempatan tidak datang dua kali, Aleya. Maka pikirkanlah dengan baik." Rion meninggalkan Aleya.
"Tunggu, Kak!"
"Ada apa?"
"Aku tidak perlu memikirkannya. Aku ingin meraih cita-citaku," jawab Aleya mantap.
Rion tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu siapkan dirimu! Aku akan menemuimu lagi nanti. Sekarang aku harus mengurus administrasi untuk proses kepindahanku disini."
Aleya mengangguk. "Iya, Kak."
Sepeninggal Rion, Aleya kembali terdiam dan berpikir.
"Apakah ini adalah keputusan yang benar?" gumam Aleya.
"Sebenarnya aku ingin bertanya tentang Kak Boy. Tapi ... rasanya sangat aneh jika aku bertanya pada Kak Rion." Aleya menghela napas kasar.
......***......
Aleya kembali ke rumahnya setelah selesai bekerja di rumah sakit. Hatinya masih bimbang untuk bicara dengan ayahnya. Ia memandangi selembar kertas yang Rion berikan.
__ADS_1
Hati yang rapuh,
Hati yang bimbang,
Dengarkan hatiku,
Aku hanya ingin bisa tersenyum,
Hanya itu,
Bisakah?
Aleya memutuskan untuk pergi ke alam mimpi. Ia akan bicara dengan ayahnya besok saja.
"Aku akan menguatkan hatiku besok. Ya! Aku harus bisa!" Setelahnya Aleya memejamkan mata. Berharap besok bisa menjadi hari yang bahagia untuknya.
.
.
.
Aleya terbangun karena mendengar suara tawa ayahnya yang terdengar renyah.
"Ayah! Apa yang membuat ayah tertawa seperti itu?"
Aleya turun dari tempat tidur, membersihkan diri lalu keluar kamar.
Aleya mencari sosok ayahnya yang ternyata sedang bersama seseorang.
"Kak Rion?" Aleya membulatkan matanya.
"Selamat pagi, Aleya," sapa Rion.
Aleya mengulas senyumnya. "Ayah, aku sudah siapkan sarapan. Kak Rion, ayo ikut sarapan juga."
"Mari, Nak Rion. Aleya itu sangat pandai mengolah makanan."
"Iya, Pak. Mari!"
Mereka bertiga duduk bersama dalam satu meja makan. Aleya terlihat canggung karena kehadiran Rion dan juga memikirkan cara untuk meminta ijin pada ayahnya.
"Nak, ayah sudah dengar dari Nak Rion," ucap Kosih.
"Eh?" Aleya menatap Rion tak mengerti apa yang dibicarakan ayahnya.
"Ini tentang keinginanmu untuk melanjutkan sekolahmu, Nak," lanjut Kosih.
"Ayah..."
"Ayah setuju! Jika kau memang ingin melanjutkan pendidikanmu dan ingin menjadi seorang dokter. Ayah akan mendukungmu!"
Mata Aleya berkaca-kaca.
"Sistem online?"
"Benar. Jarak desa terdekat untuk bisa memakai jaringan internet sekitar 1 jam perjalanan dari sini. Aku yakin kau pasti mampu. Jika kau bisa mendapatkan beasiswa ini, maka semua biaya kuliahmu gratis. Dan kau juga mendapat fasilitas untuk kuliah online nanti."
Aleya menatap Kosih dengan mata berbinar.
"Ini aku bawakan beberapa buku untuk kau pelajari. Tes untuk mendapatkan beasiswa adalah tiga hari lagi. Aku akan mengantarmu ke desa terdekat untuk bisa mengikuti ujian."
Aleya terharu dengan semua penjelasan Rion.
"Terima kasih, Kak."
"Jangan berterimakasih dulu. Kau harus lolos tes agar bisa berterimakasih padaku."
Aleya mengangguk mantap.
"Bersemangatlah, Nak! Kesempatan tidak akan datang dua kali," nasihat Kosih.
"Iya, Ayah. Terima kasih karena ayah sudah mengizinkan aku untuk kuliah."
Kosih menganggukkan kepala.
......***......
Dengan dibantu Rion, Aleya belajar di pondok bersama beberapa remaja desa yang ingin melanjutkan pendidikan seperti Aleya.
Aleya belajar mengerjakan soal-soal tes yang terdiri dari pengetahuan umum, matematika dan bahasa asing. Ada juga psikotes sebagai tes terakhir untuk bisa lolos menerima beasiswa.
Tiga hari pun berlalu dengan cepat. Aleya dan sepuluh temannya pergi ke desa terdekat yang pastinya tempat dan akomodasi sudah disiapkan lebih dulu oleh Rion dan pihak universitas.
Cukup berat perjuangan Rion untuk bisa mendapat izin agar bisa membuka kesempatan untuk mengadakan program beasiswa untuk anak-anak desa terpencil yang memiliki potensi.
Rion menemui Lian sebagai pihak yayasan agar bisa menyetujui program yang ia cetuskan ini. Tak disangka Lian menyetujui rencana Rion.
Maka disinilah ia sekarang. Mengantar Aleya dan kawan-kawannya untuk mengikuti tes dalam memperebutkan beasiswa yang diberikan oleh pihak universitas.
Rion optimis jika Aleya pasti bisa lolos tes. Ia melihat tekad yang besar dari diri Aleya untuk bisa mencapai cita-citanya.
......***......
Hari pengumuman pun tiba, Aleya dan teman-temannya sangat khawatir mereka tidak akan lolos dalam mendapatkan beasiswa ini.
Rion mengutak atik tablet pintarnya untuk mencari nama Aleya dalam daftar penerima beasiswa.
"Aleya!"
"Iya, Kak!"
__ADS_1
Aleya menatap Rion dengan harap-harap cemas.
"Kau lolos!" seru Rion.
"Hah?!"
"Kau lolos, Aleya!" Rion menyadarkan Aleya yang mematung.
"A-apakah itu benar?"
Rion mengangguk mantap. Tanpa aba-aba Aleya langsung memeluk Rion.
"Terima kasih, Kak! Terima kasih!"
Rion yang masih tidak percaya dengan pelukan Aleya hanya bisa mematung.
Sebuah senyum terbit di wajah tampannya. Tanpa menunggu lama lagi, tangannya terulur membalas pelukan Aleya. Ia makin mengeratkan pelukannya.
Sadar dengan apa yang sudah dilakukannya, Aleya segera melepaskan diri.
"Ma-maafkan aku, Kak!" ucap Aleya tertunduk.
"Tidak apa."
"Aku hanya ... terlalu senang dan tidak percaya."
"Aku yakin jika kau pasti bisa. Sekarang, kau harus mulai menyiapkan dirimu untuk menjadi mahasiswi Universitas Avicenna."
Aleya mengangguk. "Iya, Kak. Aku tidak akan mengecewakan kakak dan ayah!"
"Ayo, sekarang kita beritahu ayahmu! Beliau pasti sudah menunggu di rumah."
.
.
.
Malam harinya, Rion ikut bergabung makan malam bersama Aleya dan ayahnya. Mereka bercengkerama dengan hangat dan akrab.
Kosih bisa melihat jika dokter muda dan tampan ini menaruh hati pada putrinya, namun putrinya itu tampak tidak peka dengan perasaan Rion. Kosih akan menyerahkan semua keputusan pada putrinya saja. Toh jalan hidup Aleya masih panjang. Ia baru saja memasuki babak baru dalam hidupnya.
"Aleya, ada yang ingin kusampaikan padamu," ucap Rion usai makan malam berakhir.
"Soal apa, Kak?"
Rion nampak ragu untuk bicara.
"Ada apa, Kak?"
"Ini..." Rion memberikan sebuah kartu pada Aleya.
Aleya menerimanya.
"Itu adalah undangan pernikahan Boy dan Natasha..."
DEG
Tangan Aleya bergetar saat membaca kartu undangan itu.
"Kau dan ayahmu, juga beberapa warga desa diundang untuk datang ke pernikahan Boy."
Aleya mengerjapkan mata berusaha menahan air matanya.
"Jika kau tidak bisa datang, maka..."
"Tidak! Aku pasti datang! Aku dan ayah ... pasti datang. Kalian sudah banyak membantu desa ini, tidak mungkin kami tidak mengindahkan undangan ini. Iya kan?"
Rion melihat ada ketegaran yang dipaksakan di mata Aleya saat ia menatapnya. Karena tak ingin membuat Aleya makin larut dalam kesedihan, Rion pun pamit undur diri.
Malam semakin pekat namun Aleya malah berjalan menuju bukit air terjun. Ia ingin menenangkan diri disana. Dalam kesunyian dan kesendirian.
Masih dengan jelas dalam ingatannya saat ia membaca undangan pernikahan Boy tadi. Ada foto Boy dan Natasha disana.
"Mereka sangat cocok. Tidak mungkin aku yang hanya seorang gadis biasa mengharapkan dia yang berada jauh diatas sana," lirih Aleya. Air matanya kini luruh membasahi wajah cantiknya.
...Aku pernah dengar sebuah cerita, jika kita memohon pada bintang jatuh, maka permintaanmu akan terkabul....
...Kali ini saja, aku ingin memohon,...
...Bintang jatuh, bintang jatuh,...
...dengarlah pintaku,...
...Bintang jatuh, aku hanya meminta satu hal padamu,...
...Jaga dia selalu untukku,...
...karena cintaku selalu bersamanya......
...B E R S A M B U N G...
๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ
Nyesek nyesek nyesek
...HAPPY MONDAY...
SENIN, NGANGENIN ๐๐
YG mau kasih Vote buat Boy dan aleya bolwh banget, yuk dukung mereka ๐๐
__ADS_1
...terima kasih ...