
Roy mendengar suara benda pecah dari arah kamarnya. Ia melirik Nathan dan Lusi bergantian kemudian berjalan cepat menuju kamar.
"Lian!" seru Roy yang melihat istrinya nampak kesal duduk di tepi ranjang.
"Sayang, ada apa?" tanya Roy dan duduk disamping Lian.
"Mereka sudah melewati batas, Mas. Boy adalah anak kita. Kenapa dia memilih menemui Riana lebih dulu dari pada menemuiku? Aku adalah ibunya, Mas. Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya," ucap Lian dengan berapi-api.
"Tenanglah! Kau jangan seperti ini!" Roy memeluk tubuh Lian yang bergetar.
"Dia bahkan mengakui Boy sebagai putranya! Harusnya Riana tahu batasannya!" kesal Lian.
Nathan dan Lusi hanya melihat kemarahan Lian dari ambang pintu.
Lusi memberi isyarat agar Nathan beranjak.
"Ayo, Nak!" ajak Lusi. Nathan mengangguk. Sebenarnya Nathan juga marah dengan kakaknya. Tapi ia tak ingin menunjukkan kemarahannya. Ia tak ingin Lian makin bersedih.
"Kau harus membayar atas apa yang sudah kau lakukan pada Mama, Kak. Aku tidak akan membiarkan Mama bersedih lagi," batin Nathan.
......***......
Boy berpamitan pada Riana dan Kenzo usai menyantap makan malam di rumah keluarga Watanabe. Natasha terus mengembangkan senyum karena merasa menang mendapatkan hati Boy. Masalah Boy yang mengigau saat tidur tadi, hanya dianggap sebagai bunga tidur saja olehnya.
"Sayang, kau yakin aku tidak perlu mengantarmu?" tanya Natasha yang rasanya enggan berpisah dengan Boy.
"Iya, Nat. Kau istirahat saja! Lagi pula bukannya besok kau harus kembali bekerja?" tolak Boy dengan memakai alasan yang logis.
"Hmm, baiklah. Supir akan mengantarmu hingga tiba di rumah dengan selamat. Kabari aku saat kau sudah tiba di rumahmu." Natasha mengecup singkat bibir Boy.
"Masuklah! Angin malam tak baik untuk kesehatan."
Natasha mengangguk. Ia melambaikan tangan melepas kepergian kekasihnya.
Boy masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil. Ia memerintahkan supir keluarga Natasha untuk segera melajukan mobil menuju kediaman Avicenna.
Sepanjang perjalanan pikiran Boy diisi dengan seseorang yang berada jauh darinya.
"Apa yang terjadi denganku?" Boy memijat pelipisnya pelan.
"Tolong keluarkan Aleya dari pikiranku!" Boy memejamkan mata. Ia terlelap kembali karena merasakan lelah yang mendera tubuhnya.
Setibanya di kediaman Avicenna, si supir membangunkan Boy yang sedang terlelap.
Boy terkesiap dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
"Sudah sampai ya?" tanya Boy.
"Iya, Tuan."
"Terima kasih karena sudah mengantarku. Kau boleh langsung pulang, Pak." Boy turun dari mobil dan memasuki rumah yang dua bulan ini ia tinggalkan.
Ketika masuk ke dalam rumah, Boy bertemu dengan Nathan yang menatapnya dengan kilatan amarah.
"Nathan, dimana semua orang?" tanya Boy yang tak disambut oleh siapapun termasuk ibunya.
"Mereka semua sedang beristirahat. Lagi pula ini juga sudah malam. Mana ada yang akan makan malam jam segini?" ucap Nathan sarkastik.
__ADS_1
"Apa maksudmu bicara begitu?"
"Maaf jika aku bicara kasar pada kakak. Tapi setidaknya aku tidak membuat hati Mama hancur berkeping karena putranya lebih memilih pulang ke rumah keluarga lain dari pada pulang ke rumahnya sendiri," sungut Nathan.
"Kau sendiri tahu jika Natasha yang merajuk dan memintaku untuk datang ke rumahnya lebih dulu," argumen Boy tak ingin kalah.
"Kakak memang tidak pernah bisa menolak permintaan Kak Tasha! Kakak selalu jadi budak cintanya Kak Tasha!"
"Kau!" Boy mulai geram.
"Sudah, sudah. Kenapa kalian malah bertengkar?" Lusi datang melerai perdebatan kakak beradik itu.
"Boy! Kau pasti lelah. Sebaiknya kau pergi ke kamarmu!" perintah Lusi.
"Iya, Nek. Maaf aku pulang terlambat," sesal Boy.
"Iya, tidak apa. Kita bicara besok pagi saja!" jawab Lusi untuk mengakhiri perbincangan.
"Kau sebaiknya kembali ke kamarmu juga," imbuh Lusi menunjuk Nathan.
Dengan malas, Nathan pun menuruti keinginan neneknya itu.
......***......
Keesokan paginya, Boy sengaja bangun lebih pagi untuk menyiapkan kejutan istimewa untuk keluarganya terutama Lian, ibunya. Boy berkutat di dapur dan memakai celemek. Ia ingin membuat makanan kesukaan ibunya.
Merasa ada yang janggal dengan dapur miliknya, Lian segera menuju kesana.
"Boy?!" Lian menautkan kedua alisnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Mama duduk saja disitu! Biar hari ini aku yang memasak."
Lian makin tak mengerti dengan tingkah putranya.
Setelah berkutat cukup lama dengan bahan makanan dan penggorengan, akhirnya menu spesial ala Boy telah siap dinikmati.
"Cumi goreng tepung, dan cumi asam manis. Khusus untuk Mama tercinta!" ucap Boy membawa dua piring menu.
"Kapan kau menyiapkan semua ini?"
"Aku membelinya di pasar tadi. Cobalah, Ma! Ini sebagai tanda permintaan maafku pada Mama. Maafkan aku, Ma."
Lian menatap haru Boy. "Tidak, Nak. Jangan bicara begitu." Lian menerima dua piring menu dan mencicipinya.
"Hmm, ini enak, Boy. Kau belajar memasak?"
"Yeah, hanya sedikit. Ma, tolong maafkan aku." Boy bersimpuh di depan Lian.
Lian merangkum wajah putranya. "Sayang, jika kau semanis ini mana mungkin Mama tidak memaafkanmu. Kau adalah putra Mama. Dan selamanya akan selalu begitu."
"Iya, Ma. Terima kasih karena Mama selalu mengerti aku." Boy memeluk Lian erat.
"Iya, Nak." Lian membalas pelukan putranya itu.
"Wah, wangi apa ini? Sepertinya ada menu spesial ya pagi ini?" Roy ikut bergabung dengan istri dan putranya.
__ADS_1
"Papa!" Boy menghambur memeluk ayahnya.
"Wah, kau makin tampan saja, huh! Kau pasti membuat para gadis desa bertekuk lutut di depanmu ya!" goda Roy.
Boy hanya menanggapi dengan seulas senyum. Entah kenapa ia teringat kembali akan Aleya. Gadis yang ia anggap masih kecil itu nyatanya kini membuat pikirannya tak tenang. Awal pertemuan mereka yang selalu bersitegang, membuat ego itu pun luntur.
"Tidak mungkin kakak menyukai gadis lain, Pa. Kakak hanya takluk di depan Kak Tasha saja!" Nathan yang baru datang langsung menyambar kata-kata Roy.
"Ish, kau ini!" Boy melayangkan tatapan mautnya pada adiknya.
"Sudah, sudah. Nenek bosan mendengar kalian terus bertengkar." Lusi datang dan duduk di tempatnya.
"Hmm, jadi Dokter Boy yang memasak ini semua?" tanya Lusi.
"Iya, Nek. Selamat makan semuanya!" seru Boy.
......***......
Di tempat berbeda, Noel sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Sean. Pria muda yang baru terbangun itu langsung menuju ke meja makan.
"Paman memasak apa?" tanya Sean dengan menguap pelan.
"Hanya menu sederhana saja. Duduklah!"
Sean mengambil air minum dan meneguknya.
"Kudengar putra sulung Roy sudah kembali," buka Noel.
"Hmm, maksud Paman kekasih Natasha?"
"Iya."
"Kudengar begitu. Kenapa Paman?"
"Ingat, Sean! Kau harus tetap fokus pada tujuanmu! Jangan gunakan perasaanmu saat melakukan hal ini, mengerti?"
Sean terdiam, kemudian mengangguk. "Iya, Paman. Tapi, kalau boleh aku tahu ... sebenarnya ramuan apa yang Paman berikan pada Natasha?"
Noel tersenyum seringai. "Kau akan segera mengetahuinya. Gadis itu ... akulah yang membuatnya. Jadi, aku pasti bisa mengendalikannya!"
Sean kembali mematung. Ia tahu jika pria yang bersamanya ini memang jenius di atas rata-rata. Tapi ia tidak mengira jika pria ini akan menggunakan kepintarannya hanya untuk membalas dendam. Sungguh miris. Pikir Sean.
...B E R S A M B U N G...
"Wah, semoga Sean tetap waras dan gak ikutan gila kayak Noel π¨π¨π¨
...HAPPY SUNDAY...
...HAPPY WEEKEND...
MINGGU, ayo berseruuuuuuuuuu
Genks, mampir yuk, ke anak baru mamak, yg masih anget anget kayak gorengan π
klik favorit aja dulu ππ bacanya pelan pelan asal kelakon, wkwkwkwk
__ADS_1