Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 69. Julian yang Tak Terkendali


__ADS_3

Pagi itu setelah Belinda menceritakan semuanya pada Mike, Mike tertegun karena mendapati fakta yang tak pernah ia duga.


"Jadi, yang sudah menyekapmu adalah Tuan Julian?" Mike masih tak habis pikir jika Julian yang ia kenal akan menjadi seperti ini.


"Iya. Aku mendengarnya sendiri dari orang-orang yang mengejarku."


"Kau adalah makhluk kloning?" Mike mengernyitkan dahi.


"Ya, begitulah. Seorang pria yang dipanggil Noel yang sudah membuatku."


"Noel? Dia adalah murid Profesor Gerald. Hmm, kecerdasan buatan memang sungguh luar biasa." Mike mengusap dagunya.


Mike menatap Belinda.


"Baiklah, aku menerimamu untuk tinggal disini sementara waktu. Aku akan mencari cara agar kau bisa hidup dengan aman."


"Iya, Tuan. Aku sangat berterimakasih padamu. Meski aku hanya makhluk kloning, tapi ... aku juga seorang manusia."


Mike menatap iba Belinda.


"Dengar, aku harus pergi bekerja. Selama aku pergi, kunci semua pintu dan jendela. Jangan membuka pintu jika bukan aku yang datang. Kau mengerti?"


Belinda mengangguk.


"Aku yakin Tuan Julian tidak akan melepaskanmu. Aku akan mencari bantuan." ucap Mike.


*


*


*


"Selamat datang, adikku!" sapa Julian dengan merentangkan tangannya.


Roy hanya diam dengan sikap Julian yang terkesan berlebihan.


"Kemarilah, Roy! Apa kau tidak merindukanku?"


"Kak Julian..."


"Kenapa? Bukankah kau selalu datang padaku saat kau ada masalah. Sekarang pun begitu, bukan?"


Roy memejamkan kemudian berjalan menghampiri Julian. Roy memeluk Julian seperti yang diharapkan Julian.


Roy mengurai pelukannya kemudian langsung bicara tentang maksud dan tujuannya datang menemui Julian.


"Ini adalah berkas kerjasama dengan Grup NG. Kuharap kakak bersedia memberi tanda tangan persetujuan. Kerjasama ini sangat penting untuk kelangsungan Avicenna Grup."


Julian mengusap dagunya.


"Apa aku harus menyetujuinya?" Julian menerima berkas itu.


"Kak!"


"Dengar, dalam bisnis tidak ada yang bernama teman atau saudara. Semua persaingan akan tetap berjalan, meski kau adalah adikku."


Roy mengernyitkan dahi. "Apa maksud kakak?"


"Kakak? Bukankah sudah kubilang jika dalam bisnis tidak ada yang bernama kakak ataupun adik. Teman atau sahabat."


Julian melempar berkas yang diberikan oleh Roy.


"Tidak! Aku tidak bisa menyetujuinya." tegas Julian.


"Kak!"

__ADS_1


"Cukup! Silakan keluar!"


"Bagaimana dengan keberlangsungan perusahaan? Tolong jangan egois, Kak!"


"Hmm, aku tidak egois. Aku hanya akan menyetujui proyek yang menurutku bagus. Jika tidak? Maka jangan berharap. Pergilah!"


"Kak! Proyek ini bernilai besar. Orang-orang mulai percaya dengan perusahaan kita lagi setelah kemarin terjadi banyak hal."


"Kalau begitu apa yang bisa kau lakukan? Lakukanlah! Bukankah kemarin kau berlutut untuk meminta maaf? Maka ... lakukanlah seperti apa yang kau lakukan saat itu."


"Apa?" Roy tercengang.


"Ayolah! Lakukan! Jangan sampai aku berubah pikiran."


Roy mulai berpikir. Ia melirik kearah Ben yang selalu setia mendampinginya. Ben menggeleng.


"Jika aku berlutut, apakah kakak akan menyetujui proyek ini?"


"Ya, tentu saja."


"Berjanjilah, Kak!"


Julian memutar bola matanya malas.


"Iya, aku berjanji." jawabnya malas.


"Baik, akan kulakukan! Demi perusahaan dan juga untuk semua karyawan Avicenna Grup."


"Tidak, Tuan!" larang Ben.


Namun sepertinya Roy menurunkan egonya hanya untuk menyelamatkan perusahaan. Maka Roy pun berlutut di depan Julian.


"Aku mohon setujui proyek ini, Kak!"


Julian tersenyum seringai. "Leon!" serunya.


"Ambilkan berkas itu. Aku akan menandatanganinya."


"Baik, Tuan."


Roy tersenyum lega karena Julian bersedia memberi persetujuan.


*


*


*


Di sebuah tempat yang bernuansa serba putih, Zara terbangun dari tidur panjangnya. Zara terkesiap mendapati dirinya sudah bukan lagi di rumah Julian namun di sebuah tempat seperti tempat isolasi pasien rumah sakit.


"Dimana aku?" tanya Zara dengan memegangi kepalanya.


Zara berjalan menuju pintu lalu menggedornya.


"Buka pintunya!"


Zara berteriak keras agar ada orang yang mendengarnya.


"Buka pintunya! Brengsek kalian semua! Julian! Brengsek kau!!!" Zara mengeluarkan seluruh emosinya.


Zara mengamuk dan membanting semua barang yang ada disana. Hingga akhirnya pintu terbuka dan beberapa orang datang menghampiri Zara.


Zara meronta ketika orang-orang itu membawanya keluar dari ruangan. Mereka membawa Zara ke sebuah ruang yang ternyata sudah ada Julian disana.


"Julian!!! Brengsek kau!!" umpat Zara.

__ADS_1


"Sudahlah, Zara. Jangan mengelak lagi agar semuanya cepat selesai." Julian memerintahkan orang-orangnya untuk memberi suntikan pada Zara.


Sejurus kemudian Zara sudah tergolek lemah dan dibaringkan diatas brankar.


"Kami akan melakukan penelitian lebih dulu sebelum benih Tuan siap untuk kami masukkan kedalam rahim Nona Zara." jelas Noel.


"Hmm, baguslah. Lebih cepat lebih baik. Aku tidak bisa menunggu lagi." tegas Julian.


"Baik, Tuan. Tiga hari lagi kami pastikan sudah bisa melakukannya." Jawab Noel yakin.


*


*


Tiga hari kemudian,


Julian kembali ke laboratorium milik Noel dan bersiap menerima hasil laporan pemeriksaan milik Zara. Rasanya hari ini adalah hari yang cukup menggembirakan untuk Julian.


"Tuan, hasil pemeriksaan Nona Zara sangatlah baik. Ia siap untuk menerima benih milik Tuan." ujar Noel.


"Baiklah, siapkan semuanya." titah Julian.


Beberapa orang bertubuh besar kembali membawa Zara yang lagi-lagi meronta minta di lepaskan.


"Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri. Jangan memerintahku! Tidak!!!"


Zara menggeram kesal menatap Julian.


"Zara sayang... Jangan membantah lagi atau kau akan lebih tersakiti. Mengerti?"


Zara mulai menitikkan air mata.


"Baiklah! Lakukan saja sesuka hatimu. Kau pasti akan menyesal karena pernah melakukan ini padaku!" ucap Zara dengan suara bergetar.


Tubuh Zara dibaringkan diatas brankar dan mulai disuntikkan obat bius padanya. Kesadaran Zara mulai hilang dengan matanya yang terus menatap marah pada Julian.


Sementara itu, Mike akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Roy dan keluarganya. Semua hal yang diceritakan Belinda ia beberkan di depan keluarga Avicenna.


"Aku tidak percaya jika Kak Julian bisa melakukan hal sebesar ini. Membuat kloning Belinda? Ini sungguh gila!" Roy mengusap wajahnya.


"Mas, tenanglah!" Lian mencoba menenangkan Roy.


"Kak Julian sengaja melakukan ini agar keluargaku hancur. Ini tidak bisa kubiarkan." geram Roy.


"Apa yang akan kau lakukan, Nak?" tanya Donald.


"Aku akan menemui gadis itu. Gadis bernama Belinda. Dia bisa menjadi saksi kunci atas kejahatan yang dilakukan Kak Julian."


"Mas, apa ini tidak berbahaya? Kita tidak tahu seperti rencana yang disusun oleh Patrick." balas Lian.


Roy juga tahu seperti apa resiko yang akan ia hadapi karena berani melawan Julian. Bahkan di sisa-sisa kekuatannya ia harus bisa mengumpulkan keberanian untuk melawan kakaknya itu.


Roy pergi bersama Mike dan Ben menuju kediaman Mike di pinggiran kota. Ya, Roy akan menemui Belinda secara langsung.


Ia ingin tahu seperti apa Belinda kloning yang berhasil di buat oleh Julian.


Begitu tiba di rumah Mike, terdapat keanehan dimana rumah Mike masih gelap gulita tanpa adanya lampu yang menyala.


Roy yang akan mendekati rumah Mike segera di cegah oleh Ben.


"Jangan masuk, Tuan! Sepertinya terjadi sesuatu dengan gadis itu," ucap Ben yang membuat Roy dan Mike saling pandang.


#bersambung...


"Apa yang terjadi dengan Belinda? Berhasilkah penanaman benih Julian pada rahim Zara?"

__ADS_1


Next???πŸ”œπŸ”œπŸ”œπŸ”œ


__ADS_2