
Aleya masih bergeming dengan pikiran yang sudah berkecamuk. Nathan yang melihat Aleya terdiam usai menerina panggilan dari Dion, memilih untuk tidak berkomentar apa pun.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Aleya berpikir keras untuk bisa menemukan keberadaan Rion.
"Nathan, bisakah kau membantuku?"
"Eh? Jika aku bisa maka akan kubantu."
"Bantu aku mencari kak Rion. Aku takut terjadi sesuatu dengannya." Wajah Aleya mulai cemas.
"Baiklah, ayo!"
Nathan dan Aleya keluar dari kafe dan masuk ke dalam mobil. Nathan melajukan mobilnya perlahan.
"Kita akan mencarinya kemana?" tanya Nathan.
"Aku tidak tahu. Apa kau tahu kemana kak Rion akan pergi ketika suntuk?"
Nathan mengedikkan bahunya. "Apa aku boleh menghubungi kakakku?"
Aleya mengangguk. Nathan segera menghubungi Boy. Namun ternyata hasilnya juga sama. Boy menjawab tidak mengetahui keberadaan Rion.
"Bagaimana Aleya?"
"Aku juga tidak tahu kita harus kemana," jawab Aleya pasrah.
Ketika Aleya dilanda kebingungan, Dion kembali menghubunginya. Dion berkata jika ia sudah menemukan Rion dan meminta Aleya segera menuju ke tempat yang ia beritahukan.
Di lain tempat, Boy memijat pelipisnya pelan. Bayangan akan kejadian semalam dimana dirinya menemui Aleya dalam keadaan mabuk, membuatnya menyesal.
"Tidak seharusnya aku menemui Aleya dalam keadaan seperti semalam. Ah sial!"
Ditambah lagi dengan berita menghilangnya Rion yang membuatnya juga merasa bersalah.
"Jadi, Rion menghilang?" gumam Boy setelah mendapat panggilan dari Nathan.
Dalam keheningannya, Choky, orang kepercayaan Boy mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Boy.
"Tuan Boy!" tegur Choky yang melihat tuannya melamun.
Boy tersentak kemudian menatap Choky.
"Ada apa?"
"Ada kabar terbaru lagi mengenai nyonya Natasha."
Boy menghela napasnya. Ia hanya diam menanggapi kalimat Choky.
"Apa Tuan yakin tidak ingin melihatnya? Sudah bertahun-tahun Tuan mengawasi nyonya tapi Tuan sendiri tidak ingin melihat hasil investigasi dariku."
Boy menimang-nimang apakah ia akan membuka map yang disodorkan oleh Choky atau tidak.
"Letakkan saja disitu!" perintah Boy.
Sejak Natasha berubah, Boy memang sudah mencurigai ada sesuatu yang aneh dengan istrinya. Namun tiap kali Choky membawa hasil pengintaiannya pada Boy, selalu ditolak oleh pria itu dan memintanya untuk menyimpan semua bukti itu. Entah sampai kapan Boy akan menutup mata hatinya untuk melihat siapa Natasha sebenarnya.
......***......
Aleya tiba disebuah area pemakaman dan bertemu dengan Dion.
"Kak Dion!" sapa Aleya.
__ADS_1
"Temuilah dia!" ucap Dion dengan menunjuk kearah Rion yang sedang bersimpuh di sebuah makam.
Aleya mengangguk dan berjalan menghampiri Rion. Dion meminta Nathan untuk pergi dari sana dan membiarkan Aleya dan Rion menyelesaikan masalahnya.
"Kak Rion!"
Rion terkejut karena mendengar suara Aleya. Ia segera bangkit dan berbalik badan.
Aleya memeluk Rion begitu pria itu menghadap dirinya.
"Jangan melakukan hal ini lagi, Kak!" ucap Aleya dengan tubuh bergetar. "Aku sangat takut terjadi sesuatu dengan kakak!" Aleya memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rion yang didekapnya.
Rion tersenyum. "Jadi kau mengkhawatirkanku?"
Aleya mengangguk dalam dekapan Rion. Ia melepaskan pelukannya.
Rion menyeka air mata Aleya. "Ya sudah. Sekarang kita pulang! Aku akan mengantarmu pulang."
Aleya kembali mengangguk. Mereka berdua keluar dari area pemakaman.
Aleya masih bertanya-tanya dalam hatinya. "Makam siapa tadi? Mikail Ibrahim?"
......***......
Hari telah berubah gelap ketika Rion tiba di depan rumah Zetta. Mereka masih terdiam di dalam mobil.
"Kau pasti ingin bertanya makam siapa yang aku kunjungi tadi," ujar Rion yang dapat menebak isi pikiran Aleya.
"Eh? Dari mana kakak tahu?"
"Itu adalah makam ayah kandungku, Mikail Ibrahim. Ayahku juga terlahir kembar seperti aku dan kak Dion. Kembaran ayah bernama Maliq Ibrahim."
Aleya mendengarkan dengan seksama. Ia tidak menyangka jika pria bernama Maliq yang menemuinya dulu bukanlah ayah kandung Dion dan Rion.
Aleya tersenyum berusaha menguatkan Rion.
"Entah kenapa jika aku merasa sedih, aku selalu datang ke makam ayah."
"Apa kakak sedih karena aku?" tanya Aleya dengan penuh sesal.
Rion tersenyum. Ia membelai wajah Aleya.
"Bukan! Bukan karenamu."
"Ini sudah waktunya makan malam. Kakak mampirlah dulu. Aku akan buatkan makan malam untuk kakak."
Rion mengangguk kemudian turun dari mobilnya.
Aleya mempersilakan Rion masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya kak Zetta sudah kembali," tebak Aleya yang melihat mobil Zetta terparkir di halaman rumah.
Benar saja, Zetta keluar dari kamar Andra dan menyapa Aleya juga Rion.
"Kakak!" Aleya menghambur memeluk Zetta.
"Terima kasih sudah menjaga Andra. Terima kasih dokter Rion."
"Kakak, Andra adalah putraku juga. Tidak perlu berterimakasih."
"Ada yang ingin aku katakan pada kalian berdua," ucap Zetta dengan mimik serius.
Aleya dan Rion saling bertukar pandang.
__ADS_1
......***......
Di rumah besar itu, Riana sedang memandangi foto mendiang suaminya, Kenzo. Masih terekam jelas dalam ingatannya apa yang membuat suaminya itu meregang nyawa.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bisa menjaga putri kita. Maafkan aku." Riana memeluk foto Kenzo dan menangis pilu mengingat peristiwa itu.
Di malam kematian Kenzo, ia dan Riana sedang makan malam berdua di sebuah resto. Mereka memang suka menghabiskan waktu berdua setelah Natasha menikah dan tinggal bersama keluarga suaminya.
Di dalam resto, mereka bertemu dengan Noel yang juga sedang ada disana. Noel mengatakan pada mereka jika pria itu akan menggunakan putri Kenzo dan Riana sebagai alat balas dendam pada keluarga Avicenna.
Tentu saja Kenzo meradang mendengar pernyataan Noel. Noel menganggap jika Natasha adalah putrinya juga karena dialah yang menciptakan Natasha.
Kenzo yang begitu terkejut dengan semua rencana Noel akhirnya terkena serangan jantung dan meninggal saat menuju ke rumah sakit.
"Maafkan aku, suamiku. Aku tidak bisa menjaga putri kita. Aku sudah mencobanya tapi tidak bisa. Dia bukan lagi putri yang kita kenal dulu. Noel sudah meracuninya."
Suatu waktu Riana pernah menemui Natasha saat sedang bersama Sean. Riana meminta Natasha untuk berhenti mengkhianati pernikahannya dengan Boy.
Namun apa yang didapat Riana hanyalah cacian dari seorang putri yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Riana memendam semua rahasia putrinya itu.
Hatinya sakit saat mengetahui bahwa putrinya telah berubah. Tapi ia hanya seorang wanita tua yang lemah yang tak bisa melakukan apa pun.
Riana memeluk foto Kenzo dengan linangan air mata dan sebuah penyesalan yang akan selalu dikuburnya.
......***......
Zetta mengakui semuanya di depan Rion dan Aleya. Ia mengakui jika Kenji lah ayah biologis Andra. Tapi ia tak bisa mengatakan itu kepada siapapun.
"Aku tidak bisa mengatakan semua ini padanya, Aleya. Dan aku minta kau juga jangan bicara apa pun pada Kenji. Biarlah aku sendiri yang menanggung akibat dari kesalahanku."
Aleya dan Rion berusaha memahami keputusan Zetta.
"Lalu hubungan kakak dan kak Dion?" tanya Aleya.
"Kami saling mencintai. Awalnya aku memang menolak Dion karena aku merasa tidak pantas dicintai olehnya. Tapi dia selalu meyakinkanku bahwa dia serius dengan cintanya. Akhirnya aku menerima perasaannya. Tapi aku belum memberitahu Andra soal ini."
"Perlahan saja, Kak. Aku yakin dia pasti senang memiliki ayah seperti kak Dion."
"Terima kasih, Aleya. Terima kasih, Rion.
Sementara itu, Boy masih duduk di kursi kebesarannya dengan memandangi map yang diberikan Choky sore tadi. Perasaannya berkecamuk apakah harus membukanya atau menutupinya seumur hidupnya.
Ia mengusap wajahnya kasar. Dengan segala keberanian yang tinggal secuil, Boy mengambil map itu dan mulai membukanya.
Lembar paling atas adalah hasil pengintaian anak buah Choky di hari ini. Ada sebuah foto yang ia kenali disana.
"Aleya?" Boy melihat dengan seksama foto yang memperlihatkan adegan saat Natasha menampar Aleya.
"Jadi dia menemui Aleya? Kau pasti sedih karena mendapatkan perlakuan kasar dari Natasha. Maafkan aku, Aleya."
Boy meninggalkan lembar pertama dan melanjutkan ke lembar-lembar berikutnya. Rahangnya mengeras ketika mengetahui semua yang selama ini berusaha ia tepis. Firasat-firasat buruk yang selama ini ia coba singkirkan nyatanya tetap tidak bisa menutupi fakta yang sebenarnya terjadi. Hal yang berawal indah, kini telah hancur berkeping-keping.
Di tempat berbeda, Lian mendapat pesan misterius yang memintanya untuk datang ke suatu tempat yang sudah ditentukan oleh si pengirim pesan.
Lian mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh orang di rumah besar itu. Begitu situasi aman, ia segera melajukan mobilnya dengan menyetir sendiri membelah jalanan kota yang sudah mulai sepi.
...B E R S A M B U N G...
*Hmm, semua rahasia mulai terkuak, karena memang tidak ada yg bisa menyembunyikan bangkai. Iya kan?
Lalu siapakah yang akan ditemui oleh Lian?
...Happy Friday...
__ADS_1
...Jumuah mubarak...