
Boy dan Natasha kembali ke hotel usai berkendara dengan mobil baru Boy dan sedikit melakukan adegan drama romansa yang akhirnya membuat Fajri geram dan naik pitam. Fajri sengaja memasang alat sadap di mobil pesanan Boy karena tahu apa maksud Boy memesan mobil itu. Dasar dokter gila! Begitulah ucap Fajri berkali-kali mengumpati Boy.
Tiba di depan lobi hotel, Boy dan Natasha disambut oleh Fajri yang sedang berkacak pinggang. Tatapan matanya menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.
Fajri menggeleng ketika Boy dan Natasha mulai mendekat.
"Kau!" tunjuk Fajri pada Boy.
Tubuh Natasha yang sudah terbungkus jas milik Boy hanya bisa beringsut bersembunyi dibalik tubuh Boy.
"Tenang, kawan! Kau jangan bicara macam-macam pada keluargaku dan Natasha. Dia sama sekali tak bersalah," terang Boy.
"Tentu saja dia tidak bersalah. Kaulah yang bersalah!"
"Kau benar-benar menyebalkan! Kenapa kau memasang alat penyadap di mobilku?"
"Aku akan tetap memasangnya hingga kau dan Natasha sudah resmi menikah. Ayo kembali masuk ke dalam! Semua orang mencari kalian tapi kau malah membawa Natasha kabur. Dasar dokter mesum!" tutup Fajri kemudian berlalu.
Boy menenangkan Natasha yang ketakutan karena kemarahan Fajri.
"Sayang, jangan dipikirkan. Kau tahu kan Fajri memang begitu." Boy merangkum wajah Natasha.
"Aku sengaja melakukan ini karena besok aku harus berangkat ke Desa Selimut. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti." Boy memeluk Natasha.
"Astaga! Kalian ini!" Fajri berbalik dan sedikit berteriak.
Boy tersenyum meringis memperlihatkan deretan giginya. "Iya, Profesor Fajri. Aku akan segera kesana. Ayo!" Boy membawa Natasha masuk kembali ke ballroom hotel.
......***......
Hari ini Boy dan kelima temannya akan melakukan proyek di Desa Selimut selama dua bulan. Untuk menuju ke desa yang jaraknya cukup jauh dari kota itu, Fajri sudah menyiapkan pesawat jet pribadi untuk mereka berenam.
"Gila! Ini sangat mengagumkan, Ji!" seru Kenji.
"Kita tidak mungkin menggunakan jalur darat. Itu hanya akan menghabiskan waktu di jalan. Kita harus menghemat waktu," balas Fajri.
"Kau memang yang terbaik, Ji," sahut Boy dengan menepuk pelan bahu Fajri.
"Kalau begitu ayo berangkat!" seru Rana yang sangat bersemangat.
Kemudian mereka berenam naik keatas pesawat dan melakukan perjalanan selama hampir dua jam.
Untuk mendaratkan pesawat jetnya, Fajri sudah memilih lapangan hijau yang agak jauh dari desa. Setelah turun dari pesawat, mereka kembali melanjutkan perjalanan melalui jalur darat hingga menuju ke Desa Selimut yang diselimuti kabut tebal.
__ADS_1
Hawa dingin mulai menusuk kulit ketika memasuki desa yang tak tersentuh oleh dunia luar itu. Semua yang datang kesana harus membawa pakaian hangat dan juga memakai sepatu boots.
Boy dan kawan-kawan tiba di Desa Selimut di siang hari dan disambut langsung oleh kepala desa setempat.
"Selamat datang di Desa Selimut, Tuan Fajri. Saya Kosih Sugandi, kepala desa disini. Semoga selama dua bulan kedepan, Tuan-tuan kerasan tinggal di desa ini," sapa kepala desa bernama Kosih tersebut.
"Iya, Pak Kosih. Saya juga berterimakasih karena bapak sudah bersedia menerima kami untuk melakukan beberapa proyek disini," balas Fajri.
"Mari silakan masuk! Kita bicara di dalam rumah saja," ajak Kosih pada keenam pemuda tampan yang berasal dari kota.
Sambil berbincang ringan, Kosih menjelaskan tentang kondisi geografis desa yang dipimpinnya. Keenam pria muda itu mengangguk paham dengan peraturan-peraturan yang ada di desa yang masih mengandalkan alam itu.
Tak lama seorang gadis keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil. Gadis itu menghidangkan secangkir teh untuk masing-masing tamu.
"Perkenalkan ini adalah putri saya, namanya Aleya," ucap Kosih.
Sepasang mata milik keenam pemuda itu melirik sekilas ke arah Aleya. Gadis cantik itu tersenyum ramah kepada para tamu ayahnya.
Kosih melanjutkan ceritanya tentang desa yang banyak menyimpan misteri itu. Keempat pemuda tamu Kosih ternyata masih betah memandangi Aleya. Hanya Fajri dan Boy saja yang mendengarkan penjelasan Kosih.
"Baiklah, saya rasa cukup untuk penjelasan hari ini. Kalian pasti lelah dan ingin beristirahat. Aleya, tolong antarkan keenam tamu kita ke rumah joglo yang sudah disiapkan," titah Kosih pada Aleya.
"Baik, Ayah. Mari tuan-tuan ikut saya!" ucap Aleya dengan suara lembutnya.
Aleya adalah gadis yang ramah. Ia menyambut hangat para tamu yang akan tinggal di desanya selama dua bulan ini.
"Sudah sampai. Semoga tuan-tuan bisa menyesuaikan dengan suasana desa ini. Selamat beristirahat!" Aleya sedikit membungkukkan badan lalu pamit undur diri.
Mereka berenam masuk ke dalam rumah yang bermodel joglo itu.
"Dengar, rumah ini memiliki tiga kamar. Itu berarti kita akan berbagi kamar. Aku dengan Boy, Rion dan Dion, lalu Rana bersama Kenji. Kita akan mulai bekerja besok karena barang-barang kita akan tiba besok. Sekarang sebaiknya kita istirahat dulu," jelas Fajri yang diangguki oleh yang lain.
Mereka masuk ke kamar masing-masing yang sudah dibagi. Boy mengambil ponselnya bermaksud ingin menghubungi Natasha.
"Ada apa, Boy?" tanya Fajri karena melihat Boy menggoyang-goyangkan ponselnya.
"Tidak ada jaringan. Ternyata benar jika desa ini menyimpan banyak misteri," tutur Boy.
"Apa yang akan kau lakukan, Boy?"
"Aku akan mencari jaringan untuk menghubungi Natasha. Aku harus memberinya kabar jika aku sudah tiba," jelas Boy dengan berlalu meninggalkan Fajri.
Boy berjalan keluar rumah dan menuju ke bukit yang ada di dekat rumah itu. Ia mengeluarkan alat yang bisa memancarkan sinyal ke satelit. Ia harus segera menghubungi tunangannya.
__ADS_1
Tak lama Boy pun berhasil mendapatkan sinyal untuk ponselnya. Ia segera menghubungi Natasha dengan mata berbinar.
"Halo, sayang..." sapa Boy gembira.
"Halo, dokter tampan..." Bukan suara Natasha yang ia dengar melainkan suara manager Natasha.
"Dimana Natasha?" tanya Boy dengan suara yang di pertegas.
"Princess Natasha sedang melakukan pengambilan gambar. Apa Tuan Dokter ingin menitip pesan untuknya?"
"Tidak perlu. Aku akan menelepon lagi saat Nat sudah selesai bekerja."
"Ah begitu, baiklah Dokter Tam..." Tanpa menunggu kalimat Cicind, Boy segera memutus panggilan.
Boy berjalan kembali menuruni bukit. Ia berpapasan dengan Aleya yang sedang melintas.
Sejenak Aleya menatap wajah tampan Boy yang dingin itu. Aleya memberikan seulas senyum namun Boy tak menggubrisnya sama sekali dan malah berlalu tanpa mengucap sepatah kata apapun.
"Astaga! Apa dia tidak punya sopan santun ya?" Aleya menggeleng pelan kemudian kembali ke rumahnya.
Aleya menemui ayahnya. "Ayah! Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentang apa, Nak?"
"Sebenarnya proyek apa yang akan dilakukan oleh keenam pemuda kota itu?" Gadis berusia 18 tahun itu amat penasaran.
"Mereka akan mendirikan sebuah rumah sakit disini. Dan juga mereka akan membantu menyediakan alat-alat pertanian untuk desa kita. Tuan Fajri adalah seorang profesor muda yang pandai dalam bidang mesin. Sedangkan Tuan Boy adalah seorang dokter. Lalu keempat lainnya juga memiliki keahlian di bidang yang berbeda," jelas Kosih.
Aleya manggut-manggut paham.
"Mereka tidak akan membangun jaringan telekomunikasi juga kan, Ayah?"
"Tentu saja tidak! Ayah sudah menolak tegas jika mereka ingin melakukan itu!"
Aleya kembali mengangguk.
Tapi tadi pemuda bernama Boy itu melakukan komunikasi dengan dunia luar. Aku hanya takut jika kehadiran mereka akan merusak tradisi dan kebiasaan di desa ini. Batin Aleya.
...B E R S A M B U N G...
"Nah, ini Aleya sudah muncul ya genks. Kira2 siapa dia ya?"
Jangan lupa tinggalkan dukungan kalian untuk mamak 😘😘
__ADS_1
...Terima kasih...