Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 157. Balas Dendam Terindah


__ADS_3

"Aleya! Tunggu!" Boy mengejar Aleya yang di bawa pergi oleh Rion.


Rion yang merasa kesal pada Boy akhirnya menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" tanya Rion dengan marah.


"Maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu Aleya. Aku hanya ingin mengatakan satu hal saja," ucap Boy.


"Katakan!" balas Rion berhadapan dengan Boy.


"Jika Aleya butuh bantuan, maka aku bersedia untuk membantu."


"Tidak perlu! Sudah ada aku yang akan siap sedia membantunya," tegas Rion.


Boy mengangguk paham. Rion membuka pintu mobil dan meminta Aleya masuk. Kini Aleya tidak mendengar lagi apa yang dibicarakan oleh Rion dan Boy.


"Dengar, Boy. Kau masih dalam masa berkabung. Jangan membuat opini jika kau sudah mengejar-ngejar wanita lain setelah istrimu meninggal. Serahkan Aleya padaku dan jangan pernah muncul lagi didepannya!" tegas Rion.


"Aleya bukan barang, Rion."


"Tapi kau juga tidak berhak memainkan perasaannya. Tidak dulu, atau sekarang. Aku tidak akan membiarkan itu." Rion memutar tubuhnya dan ikut masuk ke dalam mobil.


Mobil Rion melesat cepat meninggalkan area kantor polisi. Tak lama setelah kepergian Aleya dan Rion, ponsel Boy berdering. Sebuah panggilan dari Lian. Wajah Boy pucat usai menerima telepon dari Lian. Kini Boy pun dengan kecepatan penuh melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Tiba di rumah, Boy berlarian menuju kamar Riana. Ia bertemu dengan Lian disana.


"Mommy! Apa yang terjadi?" tanya Boy panik dan duduk di tepi tempat tidur.


"Aku tidak apa-apa, Nak," jawab Riana tak ingin membuat Boy khawatir.


"Tekanan darahnya tinggi. Ia jatuh pingsan. Dokter sudah memeriksanya dan memintanya untuk beristirahat," sahut Lian dengan nada tak suka. Pasalnya, Boy lebih memperhatikan Riana ketimbang dirinya yang ibu kandungnya.


Setelah kematian Natasha, Boy kini sudah kembali menata hati dan hidupnya. Ia akan mencoba melupakan apa yang sudah Natasha dan Sean lakukan padanya.


Meski hatinya sakit karena perbuatan putri Riana, namun Boy tidak bisa membenci Riana. Wanita itu sudah seperti ibu baginya.


"Mommy pasti belum makan, aku suapi ya!" tawar Boy.


Riana mengangguk pelan. "Terima kasih, Nak."


Lian yang melihat putranya menyuapi Riana hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Drama apa lagi ini?" ucapnya ketus.


"Ma, tolong jangan bicara begitu. Mommy Riana sedang sakit. Mom, habiskan makanannya ya! Lalu setelah ini istirahat."


Riana hanya bisa mengangguk. Ketika dirasa sudah cukup kenyang, Riana meminta Boy berhenti.


"Baiklah, Mommy istirahat dulu saja. Aku akan ambilkan buah kiwi untuk Mommy. Tunggu ya!" Boy keluar dari kamar Riana dan menuju dapur.


Lian mendekati tempat tidur.


"Lihatlah bagaimana putraku memperlakukanmu dengan baik. Dia bahkan menganggapmu seperti ibunya. Tapi apa yang sudah dilakukan oleh putrimu? Dia hanya bisa menoreh luka di hati putraku. Jika kau memang menyayangi putraku. Tolong jangan membuatnya khawatir. Hiduplah dengan baik dimanapun kau berada."


Riana memilih untuk tidak menjawab. Ia tahu jika putrinya memang sudah membuat keluarga ini malu bahkan setelah dia tiada.


"Mungkin akan lebih baik jika aku pergi dari sini saja. Aku tidak ingin merepotkan Boy dan juga keluarga ini. Terlalu banyak luka yang ditorehkan oleh Natasha di hati Boy," batin Riana.


......***......


Seorang pria separuh abad kini bisa tersenyum bahagia melihat hasil kekacauan yang sudah diperbuatnya. Rasa sakit hati dan dendam yang dipendamnya selama bertahun-tahun tak juga luntur karena memang ia sudah tak memiliki siapapun untuk bisa meredam dendam itu.

__ADS_1


Keluarga yang dicintainya telah tiada saat dirinya belum mengerti cara kerja dunia. Orang-orang terdekatnya satu persatu juga pergi meninggalkannya. Dan selama bertahun-tahun ia menyalahkan satu nama. Keluarga Avicenna.


Jeruji besi dingin yang sempat memenjarakannya tak membuatnya jera dan bertobat malah justru makin memupuk dendam hingga bertahun lamanya.


"Sebentar lagi. Tunggulah sebentar lagi! Kalian akan hancur seperti yang aku rasakan. Maafkan Paman, Sean. Paman harus melenyapkanmu karena kau mulai tidak mendukungku."


Pria itu menyiapkan senjata terakhir untuk pembalasan dendam terindah baginya.


"Bersiaplah, permainan ini akan segera kita akhiri," seringai Noel dengan senyum mengerikannya.


......***......


Riana merasa sudah tidak bisa lagi tinggal di rumah keluarga Avicenna. Ia merapikan barang-barangnya dan memutuskan untuk pindah. Meski ia tidak tahu akan pergi kemana, tapi ini lebih baik dari pada menambah luka pada keluarga Avicenna. Biarlah semua rahasia dan kesakitannya akan ia simpan dalam hatinya.


Riana menuruni tangga dan bertemu dengan Lian.


"Ada apa ini? Kenapa kau membawa tas besar?"


"Bibi? Bibi mau kemana?" tanya Nathan menghampiri Riana.


"Jangan bilang jika kau ingin pergi dari rumah ini?" tebak Lian.


Riana tetap tidak menjawab.


"Bibi, kau tidak boleh pergi. Jika kakak tahu Bibi pergi, kakak pasti akan kecewa." Dengan cepat Nathan menghubungi Boy. Ia meminta Boy untuk segera pulang ke rumah.


Riana tidak peduli lagi dengan semuanya. Ia kembali melangkah.


"Jika kau memang ingin pergi, tidak akan ada yang melarangmu," ketus Lian.


"Riana tidak boleh pergi dari rumah ini!" Roy keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri mereka semua.


"Mas!" protes Lian.


Lian membuang muka. Ia tidak bisa membantah suaminya.


"Tidak apa, Roy. Aku sudah cukup merepotkan kalian selama ini. Sudah saatnya aku pergi. Lagi pula, aku bukan lagi ibu mertua Boy," sahut Riana. Ia kembali melangkah.


Riana telah sampai di depan pintu dan akan membuka pintu, namun ia terkejut karena Boy membuka pintu dari luar.


"Mommy! Apa yang terjadi? Kenapa Mommy membawa tas besar?" tanya Boy.


"Biarkan Mommy pergi, Nak. Mommy tidak mau menjadi beban untukmu," ucap Riana lirih.


"Apa yang Mommy bicarakan? Mommy bukanlah beban untukku. Sekarang ayo kembali ke kamar Mommy!"Boy segera merebut tas yang ada di tangan Riana.


"Tidak, Boy! Mommy harus pergi!" tolak Riana. Terjadilah tarik menarik antara Boy dan Riana hingga membuat tas terlempar dan isi didalamnya keluar dan jatuh berserakan di lantai.


Boy terkejut mendapati satu barang diantara tumpukan pakaian Riana. Itu adalah sebuah foto.


Riana membulatkan mata menatap foto yang terekspos itu. Ia akan mengambil foto itu namun dengan cepat Boy lebih dulu mengambilnya.


Tangan Boy bergetar melihat foto yang dipegangnya. Ada tiga orang yang ia kenali dalam foto itu.


Mata Boy memerah menatap Riana. "Apa ini, Mom? Kenapa Mommy bisa ada dalan foto ini bersama mereka berdua? Apa Mommy sudah mengetahui semuanya?"


"Boy... Mommy bisa jelaskan semuanya." Riana yang ingin mengusap wajah Boy mendapat penolakan dari pria itu.


"Siapa lagi orang di rumah ini yang sudah tahu mengenai hal ini?!" tanya Boy dengan suara menggelegar.


"Boy..." Riana menghampiri Boy namun pria itu tetap menolak.

__ADS_1


"Tega sekali Mommy melakukan ini padaku!"


"Maafkan Mommy, Nak. Saat itu Mommy menemui mereka hanya untuk menasihati mereka agar berhenti mengkhianatimu. Mommy minta maaf..." ucap Riana dengan tangisnya.


Boy menggeleng pelan. "Tidak ada lagi yang bisa kupercaya di dunia ini. Tidak ada!" ucap Boy kemudian pergi meninggalkan semua orang yang masih terdiam dalam pikiran masing-masing.


"Kau benar-benar keterlaluan, Riana. Bukan hanya putrimu saja yang mengkhianati putraku tapi juga dirimu! Dia sudah menganggapmu seperti ibunya sendiri. Tapi kau malah..." Lian berucap dengan berapi-api namun segera dihentikan oleh Roy.


"Sudahlah! Kita jangan menambah suasana makin kacau. Ayo!" Roy membawa Lian pergi.


Nathan menatap iba pada Riana. Ia menghampiri wanita yang sedang menangis itu.


"Bibi..."


"Aku tidak apa, Nak. Aku akan pergi saja dari sini."


"Bibi mau pergi kemana?"


"Bibi akan tinggal di rumah kerabat Bibi. Atau juga di rumah peninggalan paman Kenzo."


"Kalau begitu biarkan aku mengantar Bibi ya?"


"Terima kasih, Nak. Kau adalah anak yang baik." Riana membelai wajah Nathan. "Maaf jika Bibi banyak menoreh luka untuk kalian."


......***......


Lian menemui Boy di kamarnya. Pria itu terlihat rapuh dan hatinya hancur.


"Boy..." panggil Lian lirih.


"Mama!" Boy memeluk Lian dengan erat.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, putra sulungnya itu memeluk dirinya. Ada rasa haru dalam diri Lian.


"Mama...." Boy menangis dalam dekapan Lian.


"Iya, Nak. Ada Mama disini. Kau selalu memiliki Mama di sisimu."


Ketika ibu dan anak itu sedang berbagi rasa, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan seorang asisten yang mengatakan jika beberapa petugas polisi mencari Lian.


Boy dan Lian saling pandang. Mereka menemui para petugas itu yang sudah lebih dulu ditemui oleh Roy.


"Ada apa ini, Mas?" tanya Lian pada Roy.


"Selamat siang Nyonya Berlian. Kami membawa surat perintah untuk menangkap Anda terkait kasus tewasnya nona Natasha Watanabe dan tuan Sean Connan," ucap seorang petugas polisi.


"A-apa?!" Lian terkejut. Begitu juga dengan Boy.


"Sebaiknya Anda ikut kami terlebih dahulu. Detilnya akan kami sampaikan di kantor polisi."


"Boy, Mama tidak melakukannya!" Lian memegangi lengan Boy.


"Mari, Nyonya!" Dua petugas wanita menghampiri Lian dan memakaikan borgol ke tangan Lian.


Tanpa perlawanan lagi, Lian hanya pasrah saat dirinya di bawa ke mobil polisi.


...B E R S A M B U N G...


*Hah?! Apakah memang Lian yang membunuh Natasha dan Sean? Sebenarnya apa yang dilakukan Lian malam itu?


Silakan beri deduksi kalian 😬😬

__ADS_1


...Happy Sunday...


__ADS_2