Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 94. Terbongkar (3)


__ADS_3

"Seorang teman di masa lalu. Dia adalah sahabatku. Dia adalah cinta pertamaku. Dia adalah cintaku. Tapi dia meninggalkanku demi egonya sendiri," ucap Roy dengan mata memerah.


"Hah?!" Esther membulatkan mata.


Lidahnya kelu dan tubuhnya menegang seketika. Wajahnya gusar memikirkan apa yang akan dikatakan Roy selanjutnya.


Apa ini? Jangan-jangan Roy sudah tahu jika aku adalah Zara? Tapi bagaimana bisa?


Esther masih diam, kemudian menerbitkan sebuah senyum.


"Di dunia ini banyak orang yang memang mirip, Dokter Roy," balas Esther.


"Tapi kau bukan hanya mirip, kau memang dia."


"Heh?! Lelucon macam apa ini, Roy? Sudahlah. Aku hanya ingin memberikan bekal makanan untukmu. Kalau begitu, aku permisi."


Roy tersenyum seringai melihat Esther yang salah tingkah.


Esther melangkah cepat keluar dari rumah sakit. Ia merasa posisinya sebagai Esther sudah terancam.


Esther naik kedalam taksi kemudian melaju pulang kw apartemen Noel. Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Noel.


"Sial! Sejak semalam dia tidak pulang ke rumah. Sebenarnya dia pergi kemana? Apa terjadi sesuatu dengannya? Apakah aku harus menghubungi Julian?" Gumam Esther dengan harap-harap cemas.


Tiba di apartemennya, Esther dikejutkan dengan banyaknya orang-orang yang ada disana. Sepertinya ada yang dengan sengaja membobol apartemen Noel.


Esther terpaku di depan pintu memandangi orang-orang mengobrak abrik semua barang disana.


"Astaga! Siapa mereka?" Lirih Esther.


Kemudian Esther mengenali salah seorang dari mereka.


"Cepat cari apapun yang bisa dijadikan barang bukti. Geledah semua barang-barang milik Noel!" seru seorang pria yang Esther kenal.


"Leon? Jadi, orang-orang ini adalah suruhan Julian. Ada apa ini sebenarnya?"


Esther masih berkutat dengan pikirannya. Sebelum orang-orang itu menyadari kehadirannya, Esther segera pergi dari sana.


"Sungguh membingungkan! Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Noel hingga Julian menyuruh anak buahnya menggeledah apartemen Noel?"


Esther kembali berjalan cepat dan menyetop taksi. Ia melaju entah kemana. Ia sendiri masih bingung akan pergi kemana.


"Untuk sementara aku juga harus menghilang. Entah itu Roy ataupun Julian, mereka sudah menemukan fakta mengenai aku dan Noel. Tapi aku harus kemana?" Esther kembali berpikir.


"Ah, iya! Rumah yang dulu Julian berikan padaku sekarang kosong. Aku akan tinggal disana untuk sementara waktu." Esther menganggukkan kepalanya.


Esther segera meminta supir taksi untuk menuju ke rumah yang berada di pinggiran kota itu.


......***......

__ADS_1


Leon melapor pada Julian jika dia dan anak buahnya tidak menemukan jejak Noel.


"Sepertinya Profesor Noel sudah mempersiapkan semuanya, Tuan. Dia tidak ada di apartemennya. Nona Esther juga tiba-tiba menghilang," ucap Leon.


"Sial!!! Kenapa semuanya jadi begini?"


"Tuan, kami menemukan ini di apartemen Profesor Noel." Leon menyerahkan beberapa berkas pada Julian.


"Apa ini?" Julian membaca dengan seksama semua berkas milik Noel.


"Brengsek! Jadi dia sudah menyiapkan semuanya! Dia juga yang sudah membuat penduduk desa di kampung Lian menghilang. Dia yang sudah memfitnahku dan membuatku jauh dari keluargaku sendiri..."


Julian terduduk lemas. Ia mulai merutuki semua sikapnya terhadap orang-orang terdekatnya. Keluarga yang menyayanginya.


Julian memegangi kepala dengan kedua tangannya. Ia menyesal. Sungguh amat menyesal.


Julian nekat menemui keluarga Lian. Sungguh ia tak ingin dipandang buruk oleh orang yang sudah menghargainya.


Julian mengetuk pintu rumah Lian. Terlihat Lusi membukakan pintu untuk Julian.


"Kau! Mau apa lagi kau datang kemari? Pergilah! Kami tidak ingin melihatmu lagi!" usir Lusi dengan menutup pintu namun di cegah oleh Julian.


"Bibi! Tolong dengarkan aku dulu! Sungguh ini semua bukan perbuatanku! Percayalah!" Julian berucap dengan ekspresi se memelas mungkin.


"Sudahlah! Tidak ada yang perlu kau jelaskan! Sudah cukup kami dihina oleh orang-orang!"


Mendengar keributan dari arah depan rumah, Lian dan Lono segera menghampiri Lusi.


"Lian! Tolong percaya padaku! Aku tidak melakukan apapun! Ini semua adalah ulah Noel. Aku bersumpah!"


Semua kata-kata Julian selalu dibantah oleh Lusi.


"Ayah, tolong bawa ibu masuk. Biar aku yang bicara dengan Kak Julian," perintah Lian pada ayahnya.


Lono segera membawa Lusi masuk kedalam rumah.


Lian menatap Julian dengan tatapan datar.


"Kenapa kakak datang kemari?"


"Aku hanya ingin menjelaskan semuanya, Lian. Sungguh ini tidak seperti yang kalian pikir." Julian melirihkan suaranya.


"Percuma saja. Meski bukan kakak yang melakukannya, tapi perusahaan kakak yang sudah meluncurkan produk milik ayahku. Sekarang apa yang harus dilakukan ayahku?" Lian menyilangkan tangannya.


"Aku akan memperbaiki semuanya. Aku janji. Setelah aku menemukan Noel, aku akan membuatnya mengaku dan membersihkan nama ayahmu."


"Baiklah. Kalau begitu cepat temukan dia dan buat dia mengakui perbuatannya." Tutup Lian kemudian menutup pintu rumahnya.


Julian hanya bisa mendesah kasar.

__ADS_1


"Brengsek kau, Noel! Selama ini kau hanya memanfaatkanku! Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahan pada keluargaku." Tak terasa buliran bening membasahi pipi Julian.


"Daddy... Kakek... Roy... Bibi Helena... Maafkan aku... Kumohon maafkan aku..."


......***......


Beberapa hari kemudian,


Tanpa kenal menyerah, Esther kini berani menemui Julian meski dengan cara sembunyi-sembunyi. Esther menemui Julian di kediamannya. Kini ia sudah membawa bukti-bukti yang akan membuat Julian naik pitam.


"Luar biasa! Kau dan kakak palsumu itu memang benar-benar licik, Esther!" Julian bertepuk tangan ketika Esther memperlihatkan beberapa foto pada Julian.


"Kenapa kau malah bertepuk tangan? Aku kemari membawakan bukti jika Roy dan Lian sebenarnya masih bersama. Mereka tidak benar-benar bercerai!" Ucap Esther dengan berapi-api.


Beberapa hari ini, Esther sengaja mengikuti kegiatan Roy secara tersembunyi karena ingin tahu kegiatan Roy selama ini. Ternyata hari itu Esther beruntung karena saat itu Roy dan Lian sedang berkunjung ke apartemen mereka.


Esther tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengambil gambar kebersamaan Roy dan Lian ketika keluar dari apartemen dan saat masuk ke apartemen.


Namun kini apa yang ia harapkan ternyata tidak terjadi. Tak ada reaksi kemarahan yang ditunjukkan Julian.


"Selama ini kau sudah ditipu, Julian!" Tegas Esther sekali lagi.


"Apa urusanku jika mereka masih bersama?" tanya Julian.


"Hah?! Kau ini kenapa, Julian?"


"Jika tidak ada lagi yang kau perlukan, pergilah!" usir Julian.


"Apa katamu? Kau mengusirku? Tidak Julian! Kau tidak bisa melakukan ini. Tolong aku, Julian! Roy sudah tahu jika aku adalah Zara. Tolong sembunyikan fakta ini. Hanya kau yang bisa membantuku!" Esther menyatukan kedua tangannya dan memohon.


"Katakan dimana Noel? Kau pasti tahu dimana dia bersembunyi!"


"Tidak, Jul. Aku benar-benar tidak tahu. Aku bersumpah!" Esther tidaklah berbohong dan Julian tahu hal itu.


"Baiklah! Sekarang sebaiknya kau pergi dari sini. Atau aku harus mengantarmu ke penjara karena kau sudah memalsukan identitas." Tegas Julian.


.


.


.


Lian segera datang begitu dihubungi oleh seorang penjaga pemakaman yang ia sewa untuk mengawasi makam milik Rain. Lian curiga ada seseorang yang sengaja datang kesana tiap seminggu sekali.


Dan kali ini Lian menangkap basah orang itu.


"Apa ini? Jadi kakak lah yang selama ini datang ke makam Rain dan menaruh buket bunga disini?"


Seru Lian dengan mata memerah dan memandangi Julian tajam.

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


"mon maap telat up, 🙏🙏🙏hehehe


__ADS_2