
"Apa kau menyukai Boy?"
"Eh?" Aleya menatap Rion yang juga sedang menatapnya.
"Tidak perlu menjawabnya jika kau tidak ingin menjawabnya." Rion tersenyum getir.
Aleya merasa tak enak hati dengan Rion.
"Kakak mau teh jahe?" tawar Aleya.
"Boleh," jawab Rion singkat lalu melirik kearah majalah yang sedang Aleya baca.
Aleya segera menuju dapur dan membuatkan teh jahe untuk Rion. Tak lama Aleya kembali dan menghidangkan secangkir teh jahe panas untuk Rion.
"Diminum dulu, Kak. Mumpung masih hangat," ucap Aleya.
"Terima kasih, ya." Rion meniup sebentar kemudian meneguknya perlahan.
Aleya menutup majalah yang tadi sedang dibacanya.
"Apa kau ingin berkuliah?" tanya Rion yang membuat Aleya salah tingkah.
Aleya bingung harus menjawab apa. Ia tak ingin membuat ayahnya khawatir dengan keinginannya itu.
"Bu-bukan begitu, Kak. Aku..."
"Jika kau punya tekad yang kuat, kau pasti bisa mencapainya."
"Tapi..."
"Apa ini tentang ayahmu?"
Aleya kembali tak menjawab.
"Seorang ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kau coba bicarakan baik-baik dengan ayahmu. Aku yakin Pak Kosih adalah orang yang berpikiran terbuka. Buktinya beliau bersedia menerima bantuan proyek dari kami."
"Iya, Kak. Terima kasih atas sarannya." Aleya mengulas senyum manisnya.
"Boy sudah bertunangan." Entah kenapa Rion ingin memberitahu tentang Boy pada Aleya.
"Eh?" Aleya tertegun.
"Boy sudah bersama dengan tunangannya sejak mereka masih kecil. Dan satu hari sebelum datang kemari, mereka mengadakan pesta pertunangan."
Aleya memalingkan wajahnya. "Kenapa kakak memberitahukan hal ini padaku?"
"Tidak apa. Aku hanya tidak ingin kau kecewa jika mendengarnya dari orang lain."
"Untuk apa aku kecewa? Aku dan Kak Boy tidak ada hubungan apapun..." Aleya berusaha menguatkan hatinya.
Rion tersenyum getir. "Ini sudah malam. Sebaiknya kau kembali ke rumah." Rion beranjak dari duduknya dan berlalu.
Aleya masih mematung setelah mendengar penjelasan Rion.
"Jadi benar jika Kak Boy sudah bertunangan? Sudahlah, Aleya. Kau jangan berharap lebih pada seseorang yang tidak akan pernah bisa kau gapai. Sebaiknya kau fokus saja pada tujuanmu! Semangat!" Aleya menyemangati dirinya sendiri.
......***......
Tinggal beberapa malam lagi, Boy dan kelima kawannya berada di Desa Selimut. Malam ini, Kosih mengumpulkan keenam pemuda kota itu untuk menyampaikan sesuatu.
"Karena keberadaan kalian bertepatan dengan agenda tahunan desa yaitu pembacaan kisah Legenda Desa Selimut, maka saya mengundang kalian untuk datang ke resort milik saya yang dekat dengan acara tahunan nanti di gelar."
Keenam pria muda itu mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
"Tidak semua orang bisa ikut dalam acara tahunan desa ini. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa mengikuti acara tahunan ini."
Mereka berenam saling pandang.
"Bagaimana bisa kami terpilih, Pak?" tanya Fajri.
"Hanya semesta yang mengetahui soal itu. Tapi, kehadiran kalian yang ternyata bertepatan dengan acara akan digelar, itu menandakan jika kalian adalah orang-orang pilihan."
Fajri dan kawan-kawan saling pandang.
"Baiklah, Pak. Kami sangat menghargai undangan bapak."
"Jika kalian semua setuju, maka bersiaplah. Kita akan menuju ke resort."
.
.
.
Tiba di sebuah resort milik Kosih, Boy dan kawan-kawan begitu terpana dengan pemandangan alam yang sungguh indah.
Kosih mengantar para tamunya menuju ke kamar masing-masing.
"Silakan beristirahat lebih dulu. Setelah itu kalian bisa menikmati keindahan alam desa ini," jelas Kosih.
"Terima kasih banyak, Pak," jawab Fajri lalu menyuruh kawan-kawannya masuk ke dalam kamar masing-masing.
Aleya mengikuti langkah Kosih menuju kamar mereka.
Keesokan harinya, mereka berenam keluar dari kamar dan mulai menjelajahi keindahan alam Desa Selimut. Aleya mengantar keenam pemuda itu menuju ke sebuah air terjun yang memang menjadi daya tarik resort.
"Apa ayahmu menerima banyak kunjungan dari wisatawan tiap tahunnya?" tanya Fajri.
"Tidak, Kak. Tidak banyak orang yang tahu tentang desa ini, jadi tidak banyak pula orang yang berkunjung kemari."
"Siapa mereka?" tanyanya.
"Mereka adalah anak-anak terpilih yang dipercaya menjaga desa ini. Kak Alam!" Aleya memanggil salah satu anak yang terpilih itu.
"Halo, Aleya. Apa kabar?"
"Baik, Kak. Oh ya, kenalkan. Ini Kak Fajri dan teman-temannya. Mereka yang sedang membangun rumah sakit di desa ini," terang Aleya.
"Aku sudah mendengarnya. Silakan menikmati keindahan desa ini, Tuan-tuan."
Aleya membiarkan tamu-tamunya untuk menjelajah sekitar air terjun. Ia memilih mengikuti langkah Alam karena pemuda itu memanggilnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alam.
"Eh? Iya, ada apa, Kak?"
"Rasa di hati tidak akan bisa tersembunyi. Aku merasakan ada sesuatu."
"Eh?"
Alam seakan memiliki indera keenam untuk bisa mengetahui sesuatu yang akan terjadi.
"Aku melihat cinta dan juga ... kesedihan," ucap Alam.
"Kakak..."
"Kuharap kau tidak mengalami yang kedua."
__ADS_1
"Kakak, aku..."
"Salah satu. Kau terikat dengan salah satu diantara mereka."
Aleya terdiam.
"Cinta dan air mata itu berdekatan. Jadi, kau harus siap menahan air mata saat kau merasakan cinta. Kau masih muda, adikku. Perjalanan hidupmu masih panjang. Akuilah itu atau tinggalkan. Hanya itu saja yang ingin kukatakan padamu. Aku pergi ya!"
Aleya masih diam ketika Alam ternyata sudah menghilang dari pandangan. Meski ia tak paham sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Alam, tapi semua yang ia katakan adalah benar.
"Aleya!" Suara seseorang membuyarkan lamunan Aleya.
"Kak Boy?"
"Bisa temani aku berjalan ke sebelah sana?"
Aleya mengangguk. "Di sana adalah kawasan hutan lindung. Pemandangan alamnya sangat bagus. Ayo!" Aleya berjalan di depan.
Mereka berdua menghilang masuk di dalam hutan sementara kelima pria muda lainnya malah sedang asyik berdiskusi seandainya mereka diijinkan untuk membuat tempat wisata di desa itu.
Aleya berjalan pelan ketika menyusuri hutan. Langkah Boy yang berada di belakangnya sengaja memperhatikan Aleya yang sedari tadi seakan kesusahan.
"Kau pasti jarang masuk kesini," tebak Boy.
"Iya. Disini hanya untuk para pengunjung saja. Aku jarang datang kemari."
Karena kurang berhati-hati Aleya tergelincir dan akan terjatuh namun dengan sigap Boy menahan tubuh Aleya.
Posisi keduanya yang begitu dekat membuat degup jantung Aleya makin tak beraturan. Ia mengingat kata-kata yang diucapkan Alam tadi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Boy.
"I-iya. Aku baik-baik saja. Terima kasih, Kak." Aleya segera melepaskan diri namun tangan Boy malah menarik pinggang Aleya mendekat.
Aleya membulatkan mata ketika jarak mereka sangatlah dekat.
Sebuah kecupan Boy daratkan di pipi Aleya.
"Kau sungguh menggemaskan," ucapnya yang membuat Aleya tersipu malu.
Aleya mengerjapkan matanya. "To-tolong lepaskan!" pintanya.
Boy melepaskan Aleya dan kembali melangkah. Aleya memegangi dadanya yang bergemuruh.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba dia menciumku?" Aleya kembali melangkah mengikuti jejak Boy.
"Jika aku memang terikat takdir dengan salah satu diantara mereka ... apakah orang itu adalah Kak Boy? Kenapa harus dia? Dia bahkan sudah mengikat takdirnya bersama orang lain. Ya Tuhan! Tolong hilangkan semua rasa ini."
...B E R S A M B U N G...
"ayoyoooo, Babang Boy mulai berani nih ππ
Dia yg di cium, disini yang mesam mesem πππ
Yang mau tahu kisahnya Bang Fajri bisa mampir ke lapak dedek Bucin Fi Sabilillah dengan judul Anak Sultan Milik CEO. Sebuah karya waow yg sedang naik daun ππ
...HAPPY FRIDAY...
JUMUAH mubarak ππ
*Rekomendasi hari ini, bertema romance-spiritual yg bikin esmosi para pembacanya π
__ADS_1
Kisah seorang muallaf yg harus menerima takdirnya untuk di poligami sang suami. Bagaimana Cecilia menghadapi masalah demi masalah yang hadir dalam hidupnya?
Cerita ini ditulis dengan ide cerita sejak tahun 2013 yg lalu. Semoga berkenan di hati pembaca πππ