
...Ketika hati bicara, sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata...
...Hanya semburat wajah dan mata yang melukiskan rasa...
...Akankah ini abadi?...
......***......
Rion mulai melajukan mobilnya menjauh dari area kampus Avicenna. Diliriknya Shelo yang diam memandangi jalanan sekitar. Rion merasa bersalah karena sudah tersulut emosi karena ulah Reval. Sebenarnya siapa pemuda itu? Apakah Shelo memiliki hubungan dengannya?
Rion memarkirkan mobilnya ke sebuah kedai es krim yang pernah didatanginya bersama Shelo. Shelo mengerjap dan melihat jika mobil Rion telah berhenti.
"Kenapa kita kemari?" tanya Shelo kesal.
"Kudengar es krim bisa mendinginkan hati seseorang yang sedang kesal. Ayo turun! Aku akan mentraktirmu es krim sepuasnya." Rion turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Shelo.
Shelo masih terlihat kesal karena sikap Rion yang tidak bisa ia pahami.
Masuk ke dalam kedai, Shelo memesan beberapa es krim dengan varian rasa berbeda. Rion terperangah melihat banyak cup es krim yang ada di meja mereka.
"Selamat makan!" ucap Shelo lalu melahap es krim kesukaannya.
Rion hanya menggeleng pelan dengan tingkah lucu gadis di depannya. Bagaimana pun juga Shelo adalah gadis remaja yang manja dan ingin diperhatikan oleh orang di sekelilingnya.
"Hmm, ini sangat enak. Kenapa kakak hanya diam saja? Kakak makanlah!" Shelo menyendokkan satu suap es krim dan diarahkan ke mulut Rion.
"Aaa! Buka mulut kakak!" titah Shelo.
Rion yang merasa canggung dengan apa yang dilakukan Shelo hanya diam dan tersenyum kaku.
"Buka mulut kakak! Es krimnya nanti keburu meleleh lho!" Shelo terus membujuk Rion hingga pria itu menyerah dan membuka mulutnya.
Rion meringis merasakan ngilu pada giginya.
"Kenapa? Apa gigi kakak sensitif dengan makanan dingin?"
"Hmm, sepertinya begitu!"
"Wah, sudah ketahuan jika usia kakak tidak lagi muda," ejek Shelo santai dengan terus melahap es krimnya.
"Apa katamu?!" Rion tak terima saat Shelo membahas usia mereka yang terpaut jauh.
"Aku memang pria tua, kenapa kau mau dijodohkan denganku?"
Shelo terdiam dan menghentikan makannya. Ia terlihat menghela napas.
"Aku hanya tidak ingin menyakiti hati orang tuaku. Mereka sudah menyayangiku hingga aku besar. Tidak mungkin aku tega melihat mereka bersedih."
Jawaban Shelo membuat Rion tersentak. Gadis di depannya ini memang sangat luar biasa. Berpemikiran dewasa di usianya yang masih muda. Rion mulai menarik sudut bibirnya menatap Shelo yang begitu mempesona.
"Rion!" Tiba-tiba seorang wanita cantik menepuk bahu Rion.
"Eh? Shanum? Kau disini?" tanya Rion.
"Iya. Aku mengantar Aluna membeli es krim. Aku tidak menyangka bertemu denganmu disini."
Seakan heboh sendiri dengan wanita cantik bernama Shanum, Rion malah tidak memperhatikan Shelo yang terlihat masam.
"Aku senang karena kau akhirnya bersatu dengan Ken. Kau tahu, dia amat frustasi karena kau meninggalkannya." Rion bercerita dengan antusias.
"Iya, Rion terima kasih. Terjadi banyak kesalahpahaman diantara kami. Tapi semua telah berakhir."
"Selamat ya. Salam untuk Ken. Oh ya, kenalkan ini Shelo." Rion akhirnya mengenalkan Shelo pada Shanum.
"Oh hai, aku Shanum. Aku adalah kawan Rion. Lebih tepatnya, suamiku yang berteman dengan Rion." Shanum mengulurkan tangannya.
Shelo tersenyum canggung dan menerima uluran tangan Shanum.
__ADS_1
"Aku Shelo," balas Shelo datar.
"Kau terlihat masih sangat muda. Wah Rion, kau pintar mencari istri," goda Shanum.
"Masih belum jadi istri, Shanum. Tapi kupastikan kau akan kuundang di hari pernikahanku nanti. Iya kan, sayang?"
"Eh?" Shelo terkejut karena Rion memanggilnya 'sayang'.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu ya! Sampai bertemu lagi, Rion, Shelo." Shanum berpamitan dengan dua sejoli itu.
Shelo masih memasang wajah datarnya di depan Rion.
"Kenapa? Apa kau cemburu melihatku bicara dengan Shanum?" tanya Rion sedikit menggoda Shelo.
"Ti-tidak! Siapa juga yang cemburu!" jawab Shelo kemudian melahap kembali es krim yang hampir meleleh itu.
Rion kembali menarik sudut bibirnya. "Melihat reaksimu, kini aku tahu jika kau merasakan sesuatu padaku. Terima kasih pada Shanum yang tiba-tiba datang menghampiriku." Batin Rion berbunga-bunga.
...πΉπΉπΉ...
Usai menyantap es krim, Rion mengantar Shelo kembali ke rumahnya. Tak ada percakapan yang berarti selama perjalanan menuju kediaman Julian Avicenna.
Dan ketika mobil akhirnya berhenti, mereka berdua masih terdiam di tempat masing-masing. Rion melirik kearah Shelo yang juga terdiam.
"Sudah sampai di rumahmu. Apa kau tidak ingin turun?"Β tanya Rion.
Shelo masih bergeming dan tak berkeinginan menjawab.
"Kau tahu, Shanum adalah desainer yang berbakat. Kau bilang kau ingin menjadi desainer yang hebat. Kau bisa belajar dari dia."
Mendengar kata Shanum dari mulut Rion, Shelo tersentak dan akhirnya turun dari mobil Rion tanpa berpamitan. Rion terkejut karena Shelo tiba-tiba keluar. Ia pun menyusul langkah Shelo.
"Shelo, tunggu!" Rion mencegat langkah Shelo.
"Ada apa lagi? Kakak sengaja melakukan ini padaku kan? Kakak membuatku terpesona pada kakak lalu kakak menghancurkannya dalam sekejap. Kakak memang pria yang buruk!"
Rion memegangi kedua bahu Shelo. "Aku akan membuktikannya padamu. Aku janji!"
Shelo tidak menjawab. Ia masih ragu dengan semua kata-kata yang diucapkan Rion.
*
*
*
Malam itu, Rion sengaja datang untuk menemui Shelo. Ia ingin membuktikan semua kata-kata yang pernah ia ucapkan untuk Shelo. Sebagai seorang pria sejati, tentu ia harus menepati janji yang telah terucap.
"Kau sudah siap?"
Shelo hanya menganggukkan kepala. Rion berpamitan pada Julian dan Kartika. Tentu saja sebelum membawa Shelo pergi Rion harus mengantongi izin dari kedua orang tua Shelo.
Entah sebenarnya apa yang Rion inginkan, tapi Shelo mengikuti semua keinginan Rion.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Shelo pada akhirnya.
"Sebuah tempat yang akan kau sukai."
Shelo memutar bola matanya malas. Ia tak menyahuti lagi jawaban Rion. Baginya sudah cukup sekali bertanya saja pada pria itu.
Rion membawa mobilnya masuk ke dalam area pantai.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia membawaku kesini? Apa dia ingin melakukan sesuatu padaku?" batin Shelo bertanya-tanya dengan was-was.
"Bukankah pantai sangat sepi di malam hari? Untuk apa dia membawaku kemari? Mencurigakan sekali!"
"Jangan berpikiran negatif dulu! Aku tidak akan melakukan apa pun. Kau tenang saja!"
__ADS_1
Seakan tahu apa yang ada dipikiran Shelo, Rion segera menyangkalnya.
"Ayo turun!" Mobil Rion berhenti di bibir pantai.
Shelo tercengang karena mendapati sebuah jamuan makan malam yang sudah tersedia disana.
"Apa ini, Kak?" tanya Shelo.
"Duduklah! Kita akan makan malam disini!"
Shelo hanya menurut dan duduk di kursi berhadapan dengan Rion.
Suasana syahdu dan suara ombak pantai membuat mereka hanyut dalam menikmati menu makanan yang berupa hidangan laut tersebut.
"Kapan kakak menyiapkan semua ini?"
Rion tersenyum. "Apa kau lupa? Kakak iparku adalah pengatur acara terbaik di kota ini. Meski dia sedang hamil besar, tapi dia menyempatkan diri untuk mengatur ini untukku."
"Untuk apa kakak melakukan ini?"
Rion menatap manik Shelo dalam. Meski rasa itu belum sepenuhnya hadir, tapi Rion mulai yakin jika Shelo adalah jodoh terbaik yang Tuhan kirim untuknya.
Rion berdiri dan menghampiri Shelo. Kemudian ia berlutut di depan Shelo.
"Kak? Apa yang kau lakukan?"
"Maukah kau menikah denganku, Shelomita Avicenna?" ucap Rion tanpa berbasa-basi.
Shelo hanya tertegun mendengar kata-kata Rion. Ia membulatkan mata dan masih tak paham dengan yang terjadi.
Rion yang menunggu dengan harap-harap cemas akhirnya berdiri karena tak juga mendapat jawaban dari Shelo.
"Ah, sudah kuduga! Aku memang tidak cocok melakukan ini! Kenapa mereka memintaku untuk melakukan hal konyol begini!" Sungut Rion sambil meninju udara dan berjalan ke tepi pantai.
Sebenarnya ide melamar di tepi pantai adalah ide Dion. Ditambah dengan Zetta yang meyakinkan Rion dan akan mengatur semua sedemikian rupa. Bahkan Rion memakai setelan jas lengkap dengan dasi yang melilit lehernya. Namun semua malah sia-sia karena Shelo tak menjawab lamaran Rion.
Rion tersentak merasakan dua tangan mungil melingkar di pinggangnya. Itu adalah Shelo yang memeluk Rion dari belakang.
"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud untuk membuat kakak kecewa. Aku hanya terkejut karena kakak tiba-tiba melamarku," ucap Shelo.
Rion tersenyum dan melepas pelukan Shelo. Ia berbalik badan dan menatap gadis kecil itu.
"Aku juga minta maaf karena mendadak melakukan ini. Mungkin semua terlalu cepat bagimu. Tapi aku yakin jika kau adalah wanita yang dikirim Tuhan untukku."
"Ish, kakak!" Shelo memukul dada Rion. "Sejak kapan kakak pintar menggombal?"
Rion terkekeh. "Entahlah. Mungkin karena aku sedang jatuh cinta, makanya aku jadi pintar menggombal. Tapi itu bukan gombalan! Aku berani bersumpah!"
Shelo tersenyum. "Iya, aku percaya. Tapi... Apa kakak mau menungguku? Maksudku paling tidak tunggu hingga usiaku 22 tahun, baru kita menikah."
"APA?! Yang benar saja! Tidak bisa! 20 tahun! Ah, tidak tidak! 19 tahun saja! Kau masih bisa tetap kuliah meski sudah menikah! Dan aku tidak akan menghalangi karirmu! Kau ingin jadi apa? Desainer! Baiklah kau boleh jadi apa pun yang kau...."
Kalimat Rion terhenti karena Shelo tiba-tiba membungkam bibirnya.
"Iya, aku mau menikah denganmu," balas Shelo dengan sebuah senyuman.
ππππ
Aw aw aw aw baper dah baper ππ
*Buat kalian yg mau tahu kisahnya Shanum-Ken, bisa mampir ke nopelnya Kak Senja Merona berjudul Cinta Terlarang.
ππππ
__ADS_1