Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 48. Julian Patrick Avicenna


__ADS_3

Zara kembali ke rumah keluarga Rayyan setelah tadi ia datang ke gedung Ar-Rayyan dan malah mendapatkan hasil yang tidak menyenangkan. Padahal hari ini ia sudah berpenampilan 'wah' untuk menghadiri pembacaan wasiat kakeknya.


Tiba di rumah, Zara kembali dikejutkan dengan beberapa orang yang memindahkan barang-barang miliknya.


"Ada apa ini? Kenapa mereka memindahkan barang-barangku?" tanya Zara pada orang yang berlalu lalang di depannya.


"Bi Odah, apa yang terjadi disini? Kenapa mereka membawa barang-barangku, Bi?"


"Maaf, Nona. Bibi tidak tahu. Coba Nona tanya saja pada salah satu orang itu."


Tanpa harus bertanya, seseorang tampak menghampiri Zara.


"Nona Zara, sesuai dengan surat wasiat Tuan Rayyan, maka rumah ini resmi menjadi milik Tuan Julian Avicenna. Nona harus pindah dari rumah ini sekarang juga." jelas petugas bernama Roni.


"Apa katamu? Enak saja! Rumah ini atas nama ibuku, tidak mungkin menjadi milik si brengsek Julian!"


"Mohon maaf, Nona. Rumah ini atas nama Tuan Gerald Rayyan. Jadi, sesuai dengan wasiat beliau, maka rumah ini menjadi milik Tuan Julian. Nona tenang saja. Tuan Julian sudah menyiapkan rumah untuk Nona dan juga Bi Odah."


Zara mengepalkan tangannya. Ia segera pergi dari sana dan menuju ke suatu tempat. Makam Gerald. Zara ingin mengadu diatas tanah makam Gerald yang masih belum kering.


Sesampainya disana, Zara berteriak mengeluarkan semua kekesalannya pada kakeknya itu.


"Apa mau kakek sebenarnya? Kenapa melakukan ini padaku? Kakek tega mengusirku dari rumahku sendiri. Kakek tega membuatku jatuh miskin dalam satu hari. Kenapa kakek?!" teriak Zara namun tak sedikitpun mengeluarkan air mata. Ia amat kesal hingga tak bisa lagi menangis.


"Kenapa harus Julian? Kenapa?! Dia bukanlah cucu kakek. Akulah cucu kakek! Mendekamlah di neraka, kau Gerald!!!" Zara bersimpuh lemas. Hatinya sudah tak kuat lagi menerima hal ini.


Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk. Isi pesan itu memintanya untuk datang ke sebuah alamat. Dengan hati yang masih kesal, Zara segera pergi dari area pemakaman.


Zara menuju sebuah alamat rumah. Ia mengernyit heran. Kemudian ia turun dari mobil dan disambut oleh Bi Odah.


"Bi, ada apa? Rumah siapa ini?" Zara mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang cukup sederhana.


"Ini adalah rumahmu, Zara." suara seseorang dari dalam rumah membuat Zara menajamkan penglihatannya.


"Julian?" Zara masuk ke dalam rumah itu.


"Semua barang-barangmu sudah dipindahkan kemari. Dan kau juga akan tinggal bersama Bi Odah. Untuk bulan ini aku sudah membayar gaji Bi Odah. Tapi untuk bulan depan, kau sendiri yang harus mengurus masalah keuanganmu." Julian segera pergi setelah mengatakan semuanya pada Zara.


......***......


Satu minggu kemudian,


Berita tentang pewaris Ar-Rayyan Grup telah menyebar di media sosial dan juga berita di televisi. Banyak orang yang penasaran dengan siapakah sang pewaris itu.


Hari ini Daniel sudah mempersiapkan semuanya dan mengundang beberapa media dalam konferensi pers yang akan dilakukan oleh Julian. Tibalah saatnya, Daniel mengumumkan siapakah penerus Ar-Rayyan Grup yang menguasai bisnis di bidang medis dan kesehatan.


"Marilah kita sambut, Pimpinan Ar-Rayyan Grup yang baru, Tuan Julian Patrick Avicenna." seru Daniel.


Suara tepuk tangan menggema di lobi gedung Ar-Rayyan menyambut kedatangan Julian dengan senyum merekahnya.

__ADS_1



Dengan tampilan jas hitam dan dasi kupu-kupu yang membuatnya tampak sangat berbeda dengan penampilannya sehari-hari. Julian memberikan sedikit pidato di depan semua awak media yang meliput.


Sementara itu, Maliq berlari tergesa-gesa mendatangi ruang kerja Roy.


"Roy!" ucap Maliq dengan mengatur nafasnya.


"Maliq? Ada apa?"


"Cepat nyalakan televisi!" perintah Maliq.


Dengan raut wajah bingung, Roy mengambil remote TV dan menekannya.


Sebuah headline news tentang pelantikan pimpinan baru Ar-Rayyan terpampang jelas di televisi.


Roy mengernyitkan dahinya. "Julian? Bagaimana bisa dia menjadi pimpinan Ar-Rayyan yang baru?"


"Itulah yang juga ingin kutanyakan, Roy."


Roy tak bisa berkata apapun. Disisi lain, Helena yang sedang bersama teman-teman sosialitanya, juga dikejutkan dengan berita di televisi.


"Jeng Helena, itu bukannya anak tiri jeng ya? Si Julian 'kan?" ucap teman Helena.


"Hah?!" Helena tampak tercengang dan tak bisa berkomentar apapun. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi suaminya, Dandy Avicenna.


"Halo, Pa. Apa papa sudah lihat berita di televisi?"


"Bagaimana bisa anak itu...?"


"Aku juga tidak tahu."


"Apa ini adalah rencana ayahmu?"


"Tidak mungkin! Ayah tidak akan melakukan hal seperti ini. Sudah, aku tutup teleponnya."


Helena mendengus kesal karena tak mendapat jawaban yang memuaskan.


Di tempat berbeda, Belinda dan Jimmy juga sedang menonton berita di televisi yang menampilkan Julian sedang di wawancarai oleh awak media.


"Ya Tuhan! Aku tidak menyangka jika Tuan Hensen adalah bagian dari keluarga Avicenna." ucap Jimmy dengan menutup mulutnya.


"Aku pernah dengar jika Tuan Donald memang memiliki dua cucu laki-laki. Tapi aku tidak pernah tahu jika kakak Dokter Roy adalah Tuan Hensen." Jimmy menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Belinda, sedari tadi ia mematung memikirkan semua hal yang terjadi belakangan ini.


"Patrick adalah bagian dari keluarga Avicenna. Jadi, sejak awal dia sudah membohongiku. Ada apa ini sebenarnya? Siapa kau sebenarnya Patrick?" batin Belinda tak bisa menerima semua ini dengan nalarnya.


......***......

__ADS_1


Belinda mendatangi apartemen Kenzo dan menekan bel berulang kali. Munculah Kenzo dari balik pintu.


Belinda tak kuasa ingin mengeluarkan semua tanya dalam hatinya.


"Apa ini, Ken? Patrick adalah bagian dari keluarga Avicenna. Apa kau tahu soal ini?"


"Maafkan aku, Bels. Aku hanya tahu sebatas itu saja. Tidak lebih."


"Jadi, dia memang sudah merencanakan ini semua? Dia sudah membohongiku dan Boy!"


"Patrick tidak tahu jika Boy adalah putra dari Roy. Dia begitu banyak menyimpan rahasia dan juga misteri. Aku tidak tahu sebanyak yang kau pikir."


"Lalu bagaimana dengan keanggotaannya di FBI?"


"Dia sudah mengundurkan diri dari FBI. Hanya itu yang Tuan Webster katakan padaku."


Belinda terduduk lemas di sofa. "Lalu barang-barangnya yang ada disini?"


"Sudah diambil oleh orang-orang suruhannya beberapa hari lalu."


Belinda memejamkan matanya. "Siapa Belinda, Ken? Kenapa Patrick memberikan nama itu untukku?"


"Bels..."


"Tolong katakan!"


"Aku tidak tahu pasti. Tapi, yang kutahu jika pemilik nama Belinda itu sudah meninggal."


Belinda menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh ia ingin mendapat jawaban dari semua teka teki rumit ini.


"Dimana Patrick tinggal sekarang?"


"Kudengar dia menempati rumah keluarga Rayyan."


Tanpa berpamitan, Belinda segera pergi dari apartemen Kenzo. Ia ingin bertemu dengan Patrick dan meminta jawaban padanya.


Belinda berpapasan dengan Roy saat akan masuk ke dalam lift.


"Bels..." sapa Roy.


Belinda menggeleng pelan. "Kau sudah tahu soal ini?" tanya Belinda dengan air mata yang sudah tak bisa lagi ia bendung.


"Maaf..."


Hanya itu yang bisa Roy katakan pada Belinda kemudian membawanya kedalam pelukan.


......***......


#bersambung

__ADS_1


"Masih terasa rumit genks 😵😵😵 akupun pusing memikirkannya😅😅"


__ADS_2