
...Penantianku telah usai,...
...Menapaki kehidupan selama usiaku,...
...Kini kutemukan satu cinta,...
...Yang akan kujaga dibawah nama Tuhan...
...πππ...
Satu bulan kemudian,
Shelo bersiap pergi bersama Kartika. Hari ini ibunya itu akan mengenalkannya dengan seorang desainer muda berbakat, Shanum Melodia. Shelo sudah tak sabar menunggu karena selama sebulan ini ia sibuk mengurus kuliahnya yang memasuki tahap awal.
Dengan diantar oleh Rion, ibu dan anak itu terus berceloteh ria selama perjalanan. Rion yang duduk di bangku kemudi, sesekali melirik kearah ibu dan anak itu. Ia sadar jika Shelo masih amat muda dengan segala keceriaannya. Akhirnya Rion memutuskan untuk menunda pernikahannya dengan Shelo dalam waktu dekat karena gadisnya memang masih butuh dunia masa mudanya. Ia tak ingin merenggut semua kebahagiaan Shelo.
Tiba di sebuah resto, Shelo terus mengembangkan senyumnya. Kartika mengedarkan pandangan mencari keberadaan Shanum.
"Nah itu dia!" tunjuk Kartika pada sebuah keluarga kecil yang sedang bercengkerama.
Ketiganya menghampiri sosok yang di duga adalah Shanum. Karena membelakangi jadi Shelo pun tidak begitu jelas mengenali Shanum.
"Shanum!" sapa Kartika.
Wanita cantik itu membalikkan badan dan tersenyum ramah pada Kartika.
"Kak Tika!" Shanum bercipika cipiki dengan Kartika.
Sementara Shelo malah mematung melihat ibunya dan Shanum saling sapa.
"Oh ya, Shanum, ini Shelo, putriku," ucap Kartika.
Shanum mengulas senyumnya. "Hai, Shelo. Senang bertemu denganmu lagi."
"Eh?" Kartika mengernyit bingung.
"Kak, aku dan Shelo sudah pernah bertemu sebelumnya. Saat itu Shelo sedang bersama Rion. Kebetulan Rion adalah kawan suamiku, Ken." Shanum menjelaskan secara singkat pertemuan pertamanya dengan Shelo.
"Hai, Rion." Kini Shanum menyapa Rion.
"Hai, Shanum, Ken," balas Rion.
Shelo tertunduk malu karena ia pernah merasa cemburu dengan Shanum.
"Sayang, aku akan berbincang dengan Ken. Kalian nikmati waktu kalian saja! Bibi, aku permisi dulu," pamit Rion.
Kartika mengangguk. "Ayo sayang, duduk!" ucap Kartika pada Shelo.
"Kak Shanum, aku ingin minta maaf. Waktu itu aku tidak tahu jika Kak Shanum adalah orang yang mama maksud," ujar Shelo.
"Tidak apa. Saat itu kita memang belum saling mengenal. Jadi, kau ingin belajar apa saja? Aku memiliki butik yang memang khusus untuk desainer pemula dan juga biasanya dijadikan tempat magang untuk mahasiswa fashion design."
Shelo manggut-manggut mengerti dengan penjelasan Shanum.
"Kudengar untuk pernikahan Boy dan Aleya, kau yang menyiapkan gaun pengantinnya," timpal Kartika.
"Iya, Kak. Itu benar. Shelo, apa kau mau membantuku untuk menyiapkan gaun pengantin Aleya?" tawar Shanum.
"Heh?! Aku? Aku masih amatiran, Kak. Lagi pula, aku sedang sibuk-sibuknya kuliah karena masih semester awal," jawab Shelo pasrah. Sebenarnya tentu saja ia ingin sekali menyiapkan gaun pernikahan Boy, kakak sepupunya.
"Kau harus membagi waktumu, Nak! Coba kau buat jadwal kegiatanmu selama satu minggu. Lalu sesuaikan jadwal kuliahmu dan butik milik Shanum. Mama yakin kau pasti bisa!" saran Kartika.
"Itu berarti jadwalmu bertemu dengan Rion jadi berkurang," goda Shanum.
"Ish, kakak ini!" Shelo tersipu malu.
Kartika dan Shanum terkekeh geli melihat tingkah Shelo yang masih malu-malu kucing.
"Jika Shelo tak ada waktu untuk bertemu denganku, maka aku yang akan menyediakan waktu untuknya." Tiba-tiba Rion datang dan mencuri sebuah ciuman di bibir Shelo.
__ADS_1
Gadis itu tersentak dengan serangan tiba-tiba kekasihnya. "Kakak!" Shelo memegangi bibirnya.
Sementara Kartika dan Shanum hanya memalingkan wajah pura-pura tak melihat kebucinan yang dilakukan Rion.
...πππ...
Pernikahan Boy dan Aleya tinggal beberapa hari lagi. Zetta yang sudah pulih pasca melahirkan, kini merancang acara dengan sebaik mungkin agar keluarga Avicenna tidak kecewa. Pastinya tidak akan kecewa, karena Zetta adalah yang terbaik.
Sementara itu sang mempelai wanita kini sedang menjalani ritual sebagai adat dari warga desa Selimut. Aleya melakukan semuanya dengan senang hati.
Seluruh warga juga ikut bersuka cita dengan pernikahan Aleya dan Boy. Orang-orang yang pernah menghujat Aleya telah meminta maaf pada Akeya dan ayahnya.
Satu hari sebelum pernikahan digelar, Aleya memohon restu kembali pada Kosih dengan duduk bersimpuh dibawah kaki ayahnya itu. Semua yang hadir ikut terharu dengan kata-kata permohonan restu dari Aleya.
"Ayah, hari ini, putrimu yang bernama Aleya Sugandi ingin meminta restu dan berkat darimu. Setelah 25 tahun ayah menjagaku dengan baik, kini aku telah menemukan seorang tambatan hati yang bernama Boy Putra Avicenna. Izinkan dan doakan kami agar bisa mengarungi bahtera pernikahan bersama-sama dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Meski badai akan menerjang pernikahan kami, doakan agar kami selalu bisa melewatinya. Terima kasih karena ayah sudah memberikan restu pada kami. Aleya pamit, karena Aleya akan mengikuti kemanapun suami Aleya tinggal. Aleya harap, ayah selalu sehat dan selalu dilindungi Tuhan." Usai mengucapkan semua kata-kata pamitnya, Aleya berhambur memeluk Kosih. Tangis gadis itu pecah dipelukan ayahnya.
Zetta pun ikut terharu dan ikut menitikkan air mata. Dion yang berdiri disampingnya memeluk Zetta erat. Dion tahu bagaimana perasaan Zetta. Zetta juga ingin menikah dengan memenuhi adat desa Selimut.
Namun apalah daya, kesalahan yang sudah diperbuatnya telah memutus tali ikatan sebagai warga desa Selimut. Saat Zetta datang, masih ada beberapa warga yang bergunjing tentangnya. Beruntung Zetta adalah wanita yang kuat dan dia memiliki Dion disampingnya.
...πππ...
Hari bahagia untuk dua insan yang memadu kasih pun akhirnya tiba. Aleya muncul dengan gaun panjang berwarna putih yang sangat cantik. Sedangkan Boy tetap memakai setelan lengkap yang juga berwarna putih.
Mereka berdua berjalan bersama menuju para sesepuh desa yang akan menikahkan mereka secara adat. Pemangku adat membacakan beberapa mantra pernikahan dan nasihat kepada kedua mempelai.
Setelah upacara adat selesai, Boy dan Aleya siap terbang menggunakan pesawat jet pribadi milik Avicenna Grup menuju ke gedung resepsi yang akan diadakan malam nanti. Selama perjalanan, Boy selalu bermanja-manja pada Aleya.
Pria besar itu bahkan berkali-kali hampir lepas kendali kalau Aleya tidak mengingatkannya.
"Kak, jangan sekarang! Ya? Masih banyak agenda kita setelah ini." Aleya merangkum wajah suaminya yang tampak kusut itu.
"Sedikit saja!" Boy segera mendorong tubuh Aleya dan mengungkungnya.
"Kak!" pekik Aleya.
"Sedikit saja!" Boy segera membungkam bibir Aleya yang terus saja protes.
Suara lembut Aleya memenuhi isi ruangan yang tentu saja hanya ada mereka berdua di pesawat mewah itu.
"Kak, sakit!" pekik Aleya ketika Boy berhasil memasuki ruang terdalamnya.
"Maaf ya. Setelah ini aku akan bermain dengan pelan."
Aleya mengerucutkan bibirnya. Tanpa menunggu lagi, Boy segera bergerak pelan dan berirama.
"Aku mencintaimu, Aleya..."
"Aku juga mencintai, Kakak..." Aleya memeluk erat pria yang sedang bergerak diatasnya. Rasa sakit yang ia rasa berusaha ia tepis karena ia juga menikmatinya.
...πππ...
Tiba di Royale Hotel yang dipilih sebagai gedung resepsi, Aleya tampak kelelahan karena selama perjalanan yang menempuh dua jam itu Boy terus menggempurnya. Zetta memicingkan mata kearah Aleya.
"Jangan bilang kalian melakukannya diatas pesawat!" Zetta menutup mulutnya tak percaya.
Aleya salah tingkah dengan pertanyaan Zetta.
"Aku sudah berusaha menolaknya, Kak. Tapi kak Boy..."
"Astaga! Duda tampan itu memang tidak sabaran ya! Tapi kau masih kuat kan melakukan prosesi hingga malam nanti? Kau tahu kan berapa banyak tamu yang diundang keluarga Avicenna?"
"Iya, Kak. Aku masih kuat kok."
"Kalau begitu aku akan mengambilkan vitamin untukmu." Zetta menggeleng pelan kemudian keluar dari kamar Aleya.
Tak lama setelah Zetta keluar, Shanum masuk dan menyapa Aleya.
"Selamat ya! Kau sangat cantik dengan gaun pengantinmu!" puji Shanum.
__ADS_1
"Bukankah ini rancanganmu? Terima kasih, Shanum," balas Aleya.
"Yuk, kita fitting baju untuk acara resepsi tiga jam lagi. Kau juga harus dirias agar terlihat sempurna."
Aleya mengangguk kemudian menuju ke ruang ganti bersama Shanum. Shanum terkejut karena tubuh putih Aleya sudah dipenuhi tanda oleh suaminya.
Shanum menggeleng pelan. "Sepertinya dokter tampan itu tidak sabar menunggu nanti malam."
Aleya tertunduk malu. "Maaf ya!"
"Kenapa harus meminta maaf? Kalian adalah pasangan suami istri. Sini, akan kuoleskan concealer untuk menutupi bekasnya."
"Terima kasih, Shanum."
...πππ...
Acara resepsi yang digelar dengan tiga sesi itu akhirnya selesai juga. Aleya merasa tubuhnya amat lelah. Boy terus meminta maaf karena sudah membuat istri cantiknya kelelahan.
"Sayang, kau istirahat saja di kamar. Aku akan menemui teman-teman dulu."
Boy meminta izin kemudian mengecupi bibir Aleya berulang kali. Aleya yang sudah berbaring di tempat tidur memukul dada Boy.
"Ish, kakak! Sudah sana temui teman-temanmu. Aku akan tidur saja!"
"Baiklah! Kau harus banyak istirahat karena kita akan mengulanginya besok."
"Ish, kakak!"
Boy terkekeh kemudian keluar dari kamar yang penuh dengan bunga mawar merah itu.
Boy turun ke resto yang ada di bawah hotel. Ia menyapa kawan-kawannya yang ternyata sudah menunggu.
"Wah, kita terlalu kejam bukan? Kawan kita tidak melalui malam pertamanya dan malah berkumpul bersama kita," celetuk Kenji.
"Dia sudah melakukan pagi tadi. Diatas pesawat!" goda Dion.
"Iyakah? Wah kau gerak cepat, kawan!" balas Kenji lagi.
"Sudahlah, jangan membahas soal diriku! By the way, terima kasih kalian semua bisa datang di hari pernikahanku."
"Setelah ini siapa kira-kira yang akan menuju pelaminan selanjutnya?" tanya Fajri melihat kearah Rion dan Kenji yang memang belum menikah diantara mereka berenam.
"Kuramal sepertinya Kenji lebih dulu!" tunjuk Rana.
"Iya, karena calon istri Rion masih 17 tahun," kekeh Dion, sang kakak.
"Ish, kakak ini!" Rion tak terima.
"Bagaimana hubunganmu dengan Keyra?" tanya Boy.
"Kami baik-baik saja. Doakan saja kami segera melangkah ke pelaminan. Aku sudah mem-booking istri Dion untuk mengatur pernikahan kami," jawab Kenji.
"Yeah. Lalu bagaimana kalau kita adakan acara liburan bersama?" usul Fajri.
"Iya, ide yang bagus. Kita berenam dengan keluarga kita masing-masing." Boy menimpali.
"Tapi, sebaiknya tunggu Rion menikah dulu dong! Kasihan dia kalau harus sendiri," canda Rana.
Rion hanya menggeleng pelan. Diusianya yang sudah hampir 30 tahun, ia memang sudah pantas untuk menikah. Tapi, ia juga tidak bisa memaksa Shelo untuk menikah secepatnya.
"Eh, ulang tahun Shelo tinggal dua bulan lagi. Itu berarti dia akan berusia 18 tahun. Kau coba bicara dengannya lagi. Siapa tahu dia benar-benar mau menikah di usia muda," usul Boy.
Rion nampak berpikir. "Oke! Aku akan kembali bicara juga pada paman Julian dan bibi Kartika. Siapa tahu mereka mau membantuku."
"Asyik! Mari kita bulan madu bersama!" teriak Kenji yang disambut gelak tawa oleh kelima sahabatnya.
ππππ
Bahagianya mereka
__ADS_1
Hiks hiks
Detik detik menuju ending ya genks