
Boy melihat putri kecilnya sedang tertunduk lesu di tempat duduknya. Ia tahu jika Aurel pasti bersedih karena dirinya terlambat menjemputnya.
"Hai, sayang. Maafkan Papa ya! Papa tadi ada pekerjaan mendesak, makanya Papa terlambat," Boy berjongkok agar bisa melihat wajah putrinya yang terlihat bersedih.
Tanpa menjawab Aurel langsung menghambur memeluk Boy. Boy terkesiap kala putrinya memeluknya dengan erat.
"Tidak apa, Pa. Aurel senang karena Papa sudah datang. Ayo kita pulang!" Aurel melepas pelukannya dan meraih tangan besar ayahnya. Ia menggenggamnya erat seakan tak ingin ayahnya pergi.
Tiba di kediaman Avicenna, Aurel disambut oleh dua neneknya.
"Cucu Oma sudah pulang!" sapa Lian yang langsung memeluk Aurel.
Tak ingin ketinggalan, Riana pun ikut menyambut Aurel.
"Ini Grandma buatkan puding coklat kesukaan Aurel."
Mata Aurel berbinar gembira.
"Wah, ini pasti enak ya, Grandma. Terima kasih."
"Sama-sama. Ayo ganti bajumu dulu." Riana membawa Aurel menuju kamarnya, sedang Lian menemui Boy.
"Kau akan makan siang di rumah, Nak?" tanya Lian.
Boy nampak melirik jam tangannya.
"Kurasa aku harus segera kembali ke rumah sakit, Ma. Aku tadi bilang hanya pergi sebentar. Maaf!"
Lian menghela napas. "Tidak apa. Yang penting kau tetap melakukan tugasmu sebagai seorang ayah. Tidak seperti istrimu itu yang seakan tidak punya tanggung jawab merawat Aurel."
"Ma, tolong jangan bicarakan ini sekarang ya! Aku harus pergi. Love you, Ma." Boy mengecup pipi Lian.
Lian hanya bisa menggeleng pelan. "Sampai kapan aku harus berpura-pura menyembunyikan ini semua? Kau terlalu baik, Nak. Harusnya kau mendapatkan seorang wanita yang bisa menjagamu dan juga putrimu," gumam Lian.
"Jangan membicarakan sesuatu yang sudah terjadi. Takdir Boy adalah bersama Natasha. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri." Lusi tiba-tiba datang menghampiri Lian.
"Ibu..."
"Putramu sudah dewasa, Nak. Biarkan dia yang menutuskan mana yang baik dan mana yang tidak. Makan siang sudah siap. Sebaiknya kau panggil Aurel dan Riana."
"Iya, Bu." Lian segera berlalu dan menuju ke kamar Aurel.
Di dalam kamar, Aurel yang sudah mengganti bajunya, bercerita pada Riana tentang kawannya yang tadi ia temui di sekolah.
"Temanku dijemput oleh bundanya, kapan aku juga seperti itu, Grandma? Aku ingin Mama juga menjemputku di sekolah. Kasihan Papa jika harus menjemputku setiap hari. Bukankah Papa sangat sibuk di rumah sakit?"
__ADS_1
Riana menatap bocah kecil itu dengan sendu.
"Anak kecil juga tahu mana orang yang benar-benar menyayanginya atau yang hanya berpura-pura." Lian masuk ke dalam kamar Aurel dan menginterupsi obrolan nenek dan cucu itu.
"Lian! Jangan bicara hal buruk di depan Aurel. Dia masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa."
"Bukan anak kecil yang harus memahami masalah orang dewasa, tapi orang dewasalah yang harus memahami perasaan anak kecil. Sebaiknya katakan itu pada putrimu. Ayo Aurel!" Lian membawa Aurel keluar dari kamar.
Riana masih mematung dengan semua kata-kata Lian. Apa yang Lian katakan memang benar. Tapi Riana tidak ingin menyalahkan semuanya pada Natasha. Putrinya itu hanya melakukan apa yang bisa membuat keluarga mereka setara dengan keluarga Avicenna.
Riana tak ingin putrinya dipandang sebelah mata hanya karena dia adalah manusia buatan.
"Semoga suatu saat Natasha bisa menyadari semua ini dan bisa memperbaiki hubungannya dengan keluarga Avicenna," harap Riana.
......***......
...Hidup tidak akan selalu sejalan dengan apa yang kau inginkan,...
...Ingin hati merengkuh bulan,...
...Namun tangan tak akan sampai,...
...Meski kau bisa terbang ke langit ke tujuh,...
Aleya memandangi bulan yang bersinar dengan terang malam ini. Ingin hati mata terpejam, namun jiwa masih ingin terjaga.
Aleya mengingat lagi kejadian siang tadi saat dia pergi ke kampus untuk mengisi formulir studi lanjutannya. Seseorang yang memanggilnya tadi adalah seorang ayah yang mengharapkan sebuah kebahagiaan untuk putranya.
"Aleya! Kau belum tidur?" tanya Zetta yang juga baru pulang bekerja.
"Iya, Kak. Aku masih belum mengantuk. Kakak baru pulang ya? Pasti sangat melelahkan harus bekerja sendiri seperti ini. Setelah ini aku juga akan bekerja bersama kakak untuk meringankan beban kakak."
"Apa yang kau bicarakan? Kau adalah tamu disini. Aku tidak akan membiarkanmu juga ikut bekerja sepertiku."
"Aku adalah seorang dokter, Kak. Tentu saja aku ingin terus bekerja menolong pasienku."
"Jadi, kau sudah punya rencana ingin mencari pekerjaan? Bagaimana tadi? Kau memilih studi apa?"
"Seperti yang kakak sarankan, aku memilih menjadi dokter anak."
"Benarkah? Apa Rion sudah tahu?"
"Belum. Aku belum memberitahunya. Entah apa aku bisa bersikap biasa di depannya nanti."
Zetta mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku tadi bertemu dengan ayah Kak Rion."
"Eh? Maksudmu Dokter Maliq?"
Aleya mengangguk.
"Apa yang dia katakan padamu? Apa dia melarangmu berhubungan dengan putranya?"
"Ish, kakak ini. Kenapa kakak sangat bersemangat mengetahui semuanya?"
"Eh? Bu-bukan begitu. Aku hanya ingin tahu apakah Dokter Maliq menerima orang biasa seperti kita."
"Kita?" Aleya merasa jika Zetta sedang bertanya tentang dirinya sendiri dan bukan tentang Aleya.
"Ah, itu ... Maksudku orang dari kalangan biasa. Kau tahu kan jika keluarga Ibrahim adalah keluarga yang cukup berpengaruh dalam dunia medis. Mereka memiliki pengaruh sama besar seperti keluarga Avicenna."
"Aku bahkan tidak tahu banyak tentang mereka, Kak. Kakak sangat tahu soal mereka?"
Zetta salah tingkah. "Tidak! Aku juga tidak tahu banyak tentang keluarga itu. Aku hanya pernah mengatur acara untuk mereka dan ternyata mereka adalah keluarga yang berpengaruh. Hanya begitu saja. Tidak ada yang lain." Zetta melambaikan tangannya.
Entah kenapa aku merasa, ada sesuatu yang Kak Zetta sembunyikan. Tapi apa?
"Sudahlah, tidak perlu membahasnya. Aku yakin kakak pasti lelah. Sebaiknya kakak beristirahat. Andra sudah tidur dari tadi."
"Ah iya. Kau juga sebaiknya istirahat. Jangan memikirkan apapun selain tujuanmu, impianmu. Kakak akan mendukung apapun keputusanmu." Zetta menepuk pelan bahu Aleya.
Zetta berlalu masuk ke dalam kamarnya sedang Aleya masih setia duduk di teras belakang.
Kata-kata yang diucapkan Maliq kembali terngiang di telinga Aleya.
"Putraku meninggalkan rumah karena ingin mengejar cintanya. Aku harap kau tidak membuat impiannya hancur berkeping. Dia sudah pernah merasakan kepedihan karena ditinggalkan oleh orang yang dia cintai. Aku tidak ingin semua kenangan buruk itu kembali menimpanya. Aku harap kau bisa membuatnya kembali tersenyum seperti dulu..."
Aleya memejamkan mata.
"Sungguh, Paman. Aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Jika aku bersama dengan putramu, itu hanya akan menambah luka pada hatinya. Karena aku masih belum siap untuk jatuh cinta lagi. Aku sendiri juga takut jika aku harus kembali terluka hanya karena cinta."
Aleya kembali masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh dan hatinya yang lelah.
"Semoga keputusanku untuk datang kemari bukanlah keputusan yang salah. Aku takut semua yang kuharapkan tidak sesuai dengan takdir yang terjadi."
Setelah banyak bermonolog dalam hati, akhirnya mata Aleya terpejam juga dengan membawa sejuta mimpi.
...B E R S A M B U N G...
Kamis manis mari meringis...๐๐๐
__ADS_1