Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 87. Kejutan untuk Berlian


__ADS_3

"Jiwaku rapuh tanpamu, Berlian..." ucapnya, kemudian makin mengikis jarak diantara mereka.


Lian yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya segera menyadarkan diri dan memalingkan wajahnya.


"Maaf, Kak..." ucapnya.


Julian pun mulai memundurkan tubuhnya. Ia berjalan ke meja makan dan menunggu Lian selesai memasak.


"Aku hanya memasak makanan sederhana. Silakan dinikmati, Kak!" Lian meletakkan piring di depan Julian.


"Kau tidak ikut makan?"


"Tidak. Aku hanya membuat untuk satu orang."


Lian duduk berseberangan dengan Julian. Ia memperhatikan Julian yang makan dengan lahap.


"Apa Mas Roy juga merasakan hal yang sama dengan Kak Julian? Mereka sama-sama rapuh dan kesepian. Aku harus bagaimana? Seandainya saja mereka tidak berselisih seperti ini. Semuanya hanya seandainya..."


Lian menghembuskan nafasnya pelan.


.


.


Sore harinya, Lian kembali ke rumahnya dengan langkah gontai. Lusi sudah bersiap menyambut kedatangan Lian.


"Bagaimana? Apa Nak Julian baik-baik saja?" Lusi bertanya tanpa basa basi.


Lian tak menjawab dan hanya melewati ibunya.


"Sudahlah, Bu. Putri kita baru pulang, biarkan dia istirahat dulu." Lono menasehati istrinya.


Lian langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Saat makan malam tiba, Lian baru keluar dari kamar.


Dan lagi-lagi Ibunya bertanya tentang Julian.


"Bagaimana kondisi Nak Julian? Dia baik-baik saja, 'kan?"


Lian menghela nafas.


"Dia baik-baik saja, Bu." jawab Lian datar.


"Syukurlah! Kau harus lebih memperhatikan dia. Sepertinya dia sangat kesepian."


"Jika dia kesepian harusnya dia menikah saja, bukannya malah merepotkan putri kita," sela Lono.


Lian menggelengkan kepala mendengar perdebatan ayah dan ibunya.


*


*


*


Pagi ini di Ar-Rayyan Grup,


Lian sibuk berkutat dengan para asistennya untuk mengatur riset pasar yang akan mereka lakukan.


"Dengar, hari ini kita akan melakukan riset pasar terhadap produk kita yang seminggu lalu kita luncurkan. Nanti akan kubagi dalam beberapa tim agar tidak terlalu berat." Lian menjelaskan panjang lebar di depan para asistennya.


"Baiklah, jika tidak ada yang kalian tanyakan, maka kita akan berangkat sekarang. Aku akan ke Mall XYZ sekaligus melakukan promosi disana."


"Baik, Bu." jawab para asisten serempak.

__ADS_1


Lian meraih tas slempangnya kemudian keluar dari ruangan.


"Desta, bisa kau antarkan aku lebih dulu? Nanti setelahnya kau dan yang lainnya bisa langsung ke tempat masing-masing."


"Baik, Bu. Tapi, apakah Ibu tidak apa disana sendirian?"


"Tentu saja tidak apa. Ayo berangkat!"


.


.


.


Lian tiba di Mall XYZ dan melihat sekeliling. Ia mencari etalase produk yang Ar-Rayyan luncurkan.


Lian tersenyum bangga. Meski ini bukan impiannya, tapi paling tidak, ada sebuah kebahagiaan tersendiri dari pencapaiannya kali ini.


Sudah dua jam Lian berada disana. Ia sangat menikmati saat orang-orang menerima produk yang ia buat dengan suka cita.


Saat sedang meregangkan otot-ototnya, ponsel Lian berbunyi. Sebuah panggilan dari Julian.


"Astaga! Aku lupa waktu! Pria ini pasti akan memarahiku!" Lian menepuk keningnya pelan.


Lian menjawab panggilan dari Julian sambil berjalan cepat.


"Iya, iya, Kak. Aku sedang menuju ke kantor lagi."


Lian menekan tombol lift namun tak kunjung terbuka. Ia memilih untuk memakai tangga saja.


"Sudah kusiapkan semua, Kak. Kakak jangan khawatir. Baiklah, aku tutup teleponnya." Lian mendengus kesal.


Karena kurang memperhatikan sekitar, Lian tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita dan membuat ponselnya terjatuh.


"Sekali lagi saya minta maaf," ulang Lian.


"Tidak apa, Nona. Saya juga kurang berhati-hati."


Lian sedikit menunduk kemudian segera berlalu. Ia kembali mempercepat langkahnya dan malah berlari.


"Ya Tuhan! Kapan aku bisa hidup tenang?" Sungut Lian dengan memanggil sebuah taksi yang melintas.


*


*


*


Tiba di kantor, Lian sudah di tunggu oleh Julian yang berkacak pinggang. Lian tahu hari ini ia pasti akan terkena amukan bos besar.


Namun ternyata hal tak terduga malah terjadi. Julian memberikan kejutan dengan membunyikan terompet bersama dengan para asisten Lian.


"Congratulation, Ibu Berlian!" seru anak buah Lian bersamaan.


Jantung Lian yang hampir terlepas dari tempatnya kini berganti dengan senyum merekah di bibirnya.


"Kalian ini!!!" Lian memukul pelan para anak buahnya satu persatu.


Julian menghampiri Lian dan memberikan sebuah buket bunga mawar merah.


"Selamat ya! Produk yang kau buat mendapat respon yang bagus dari konsumen," ucap Julian.


"Jadi ... kakak sengaja melakukan ini? Kakak mengerjaiku?" Lian mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Oke! Tenang semuanya! Untuk merayakan keberhasilan tim pengembangan produk, maka malam ini kita akan adakan makan malam tim. Saya yang akan traktir." ujar Julian.


Sontak semua orang bersorak sorai mendengar angin segar tentang makan malam.


Julian memesan tempat di sebuah restoran seafood. Para karyawan di pengembangan produk makan dengan lahap.


"Astaga, Desta! Kau jangan membuat Bu Lian malu. Apa kau tidak makan selama seminggu, huh?!" goda Dessy pada Desta.


"Sudah, Dess. Biarkan saja." lerai Lian.


"Lagipula ini semua gratis. Tidak ada orang yang menyia-nyiakan sesuatu yang gratis. Benar 'kan, Tuan Julian?" Desta memang selalu bicara ceplas ceplos.


"Iya, kau benar. Lian, makanlah yang banyak. Kau terlihat kurus akhir-akhir ini." ucap Julian.


"Iya, Kak. Terima kasih."


.


.


Julian mengantarkan Lian hingga ke depan rumahnya.


"Terima kasih untuk malam ini, Kak. Aku tidak menyangka jika kakak akan membuat kejutan seperti ini."


"Jangan berterimakasih. Ini semua adalah hasil kerja kerasmu. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu." Julian mengambil sesuatu dari jok belakang mobil.


"Apa ini, Kak?" tanya Lian ketika Julian menyerahkan sebuah paper bag.


"Terimalah atau aku akan marah. Ini adalah hadiah keberhasilanmu."


"Terima kasih. Kalau begitu, aku permisi."


"Iya. Beristirahatlah! Kau pasti lelah sudah bekerja keras selama ini."


Lian mengangguk kemudian membuka pintu mobil. Ia masuk ke dalam rumah ketika mobil Julian sudah tak terlihat di pandangannya.


Lian langsung masuk ke kamar karena mendapati kedua orang tuanya yang sudah terlelap. Sudah pukul sebelas malam. Tentu saja mereka sudah tertidur.


Lian membersihkan diri kemudian merebahkan diri di tempat tidur.


"Ah! Rasanya melelahkan sekali." Lian menatap langit-langit kamarnya.


"Bagaimana kabar Mas Roy? Seharian ini aku tidak bertukar pesan dengannya. Dia sudah tidur atau belum ya?" gumam Lian kemudian kembali bangkit dari rebahannya.


"Dimana ponselku?"


Lian mengambil tas slempangnya kemudian merogoh bagian dalam tasnya.


"Ah, ini dia!" Lian membawa ponselnya naik keatas tempat tidur.


"Eh? Apa ini?" Lian bingung karena ia merasa jika yang digenggamnya bukanlah ponsel miliknya.


Lian mengetuk layar ponselnya dan muncul sebuah wallpaper bergambar seorang anak lelaki kecil.


"Foto siapa ini? Bocah lelaki yang lucu." Lian mengerutkan keningnya.


Lian mencoba mengingat-ingat rentetan peristiwa yang terjadi hari ini.


"Astaga! Jangan-jangan ini adalah ponsel wanita itu! Ponsel kami tertukar!"


...B E R S A M B U N G...


"Hayooo lho!! Adakah yg bisa menebak apa yg terjadi selanjutnya?" ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

__ADS_1


__ADS_2