Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 25. Menguak Fakta Masa Lalu


__ADS_3

Patrick menggeram kesal karena tingkah Roy yang menurutnya menyebalkan dan memojokkannya. Secara teknis, Patrick memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Belinda dan Boy. Ia hanya mendapat perintah dari Gerald untuk menjaga Belinda dan Boy.


“Bels, kau masuklah dulu!” ucap Patrick karena melihat wajah Belinda yang pucat.


Belinda hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Jangan pikirkan apa yang dikatakan dokter itu.


Istirahatlah!”


Belinda masuk ke dalam apartemennya. Sementara Patrick melajukan langkahnya menyusul langkah Roy.


“Dokter Roy!” panggil Patrick saat Roy akan masuk kedalam lift.


Roy berbalik dan menatap Patrick.


“Ada apa Tuan Hensen?” Tanya Roy.


Patrick berdecih. “Jadi kau sudah menyelidiki


tentang diriku?”


“Hmm, tidak banyak yang dapat kutemukan.” Balas Roy.


“Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali saja. Jadi, kau harus dengarkan baik-baik. Aku tidak ingin kau terlalu menekan Belinda. Jauhi


Belinda!” Ucap Patrick dengan tegas.


“Kenapa aku harus menuruti kata-katamu? Apa kau ingin membalas dendam padaku karena aku banyak mengambil apa yang seharusnya


menjadi milikmu?”


Patrick mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia


melayangkan tinjunya kearah Roy.


“Julian, kau harus tahu jika aku tidak akan


membiarkanmu terus mendukung Belinda dengan segala sandiwara yang kalian buat. Boy


adalah putraku, dan bukan putramu. Aku akan tetap melakukan tes DNA dengan atau tanpa


ijin darimu maupun Belinda.”


“Roy!!!” pekik Patrick dengan amarah memuncak.


“Dia bernama Putri Berlian, bukan? Dia bukan


Belinda. Atau kau sengaja mengubah identitasnya agar aku tidak bisa menemukannya? Kenapa kau memakai nama Belinda? Apakah agar kenanganmu tentang


gadis itu tetap ada meski dia bukan Belinda yang asli?”


“Tutup mulutmu, Roy!!!” Patrick sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia mendorong tubuh Roy hingga terbentur dinding dan menarik


kerah bajunya. Tangannya terkepal siap melayangkan tinjunya kearah Roy.


Namun aksi Patrick segera terhenti kala Kenzo keluar dari pintu lift.


“Pat! Apa yang kau lakukan? Lepaskan dokter Roy!” Kenzo menahan tangan Patrick yang sudah siap meninju wajah tampan Roy.

__ADS_1


“Tenangkan dirimu, Pat!” Kenzo menjauhkan Patrick dari Roy.


“Dokter Roy, sebaiknya kau pergi dari sini.” pinta Kenzo.


Roy merapikan penampilannya kemudian menekan tombol lift. Begitu pintu terbuka, Roy langsung masuk dan menekan angka 20.


Sedangkan Patrick mengatur nafasnya yang memburu karena tersulut emosi.


“Sebenarnya ada apa, Pat? Kenapa kau ingin memukul Dokter Roy?”


“Ceritanya panjang. Sebaiknya kita kembali ke kamar saja. Aku merasa muak jika mengingat tentang hal tadi.” Ucap Patrick sambil


melenggang pergi.


Kenzo hanya menggeleng pelan dan mengedikkan bahunya kemudian mengikuti langkah Patrick.


...…***…...


Roy menatap datar layar didepannya yang berisi informasi yang sudah didapat Ben tentang Boy dan Belinda. Roy bekerja secara


sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang mengetahui gerak geriknya terutama anggota keluarga Avicenna. Ia berhasil mendapatkan alamat kampung halaman Putri Berlian. Tekadnya sudah bulat untuk menemukan siapa identitas gadis itu sebenarnya dan juga masa lalunya. Roy yakin jika Belinda adalah Putri Berlian. Tapi masih banyak yang harus ia buktikan didepan gadis itu agar ia mau mengaku.


Hari ini, Roy ditemani Ben menempuh perjalanan untuk menuju kampung halaman Putri Berlian yang berada di pesisir pantai. Perjalanan selama tiga jam akhirnya membawa mereka berdua ke sebuah pemukiman sepi dan


sunyi tanpa ada satupun penduduk desa yang ada disana.


Roy turun dari mobil dan menyusuri pandangannya ke sekeliling tempat yang tak berpenghuni itu.


“Ben, kau yakin ini tempatnya? Kenapa sepi sekali? Tidak ada satu orang pun yang tinggal disini.” Ucap Roy.


“Benar, Tuan. Disinilah tempatnya. Saya tidak


“Lalu kita harus bertanya kepada siapa? Sepertinya desa ini sudah mati selama beberapa tahun. Lihatlah tembok rumah-rumah disini. Semuanya sudah berjamur dan warna catnya sudah pudar.”


“Tuan!” panggil Ben yang membuat Roy menghampirinya.


“Lihatlah ini!” tunjuk Ben pada sebuah serpihan


bekas kayu terbakar.


“Hah? Bekas terbakar? Apakah sebelumnya disini ada rumah?”


“Rumah Nona Putri Berlian, Tuan.”


“Apa katamu? Jadi disini adalah bekas rumah gadis itu?” Roy menelisik lebih jauh dengan kondisi rumah yang telah terbakar itu.


Namun secara tak terduga, ada seorang pria paruh baya yang menodongkan senjata kearah Roy dan Ben.


“Jangan bergerak! Siapa kalian? Untuk apa kalian ada di desa ini?” Tanya pria paruh baya yang tak lain adalah Hendra.


Roy dan Ben sontak mengangkat tangan tanda tidak melawan.


“Tenang, Pak. Kami tidak memiliki maksud jahat.” Ucap Roy berusaha bersikap tenang.


“Benar, Pak. Kami bukan penjahat.” Sahut Ben.


Hendra memperhatikan dengan seksama pakaian dan gerak gerik Roy juga Ben.


“Kalian belum menjawab pertanyaan saya. Siapa kalian? Dan ada keperluan apa kalian datang kemari?” ulang Hendra.

__ADS_1


“Nama saya Roy. saya adalah seorang dokter.” Ucap Roy. “Dan ini adalah asisten saya bernama Benjamin.” Imbuh Roy.


“Apa yang kalian cari? Desa ini tidak memiliki


penduduk, jadi untuk apa seorang dokter datang kemari?” Tanya Hendra dengan masih mengacungkan senjata apinya kearah Roy.


Roy terus mengajak Hendra bicara agar fokusnya mulai hilang. Dan benar saja, ketika Hendra mulai kehilangan fokusnya, dengan cepat Ben mengambil senjata api yang dipegang Hendra dan berganti Ben yang


menodongkan senjata pada Hendra.


“Hei, kalian!!!” pekik Hendra yang kini sudah kalah.


“Tenang, Pak. Saya tidak akan melukai bapak. Saya hanya ingin bertanya saja pada bapak.” Ucap Roy berusaha setenang mungkin.


Setelah melalui perdebatan yang alot, akhirnya Roy mengajak Hendra untuk duduk bersama dan berbincang dengan tenang. Hendra pun


dengan terpaksa membawa Roy dan Ben masuk kedalam rumahnya.


“Sebenarnya apa mau kalian?” Tanya Hendra pasrah.


“Ceritakan apa yang terjadi dengan desa ini, Pak? Kenapa kami tidak menemui satu orang pun yang tinggal disini?” Tanya balik Roy.


Hendra mendesah kasar. “Sebaiknya kalian pergi saja dari sini. Kalian tidak akan mendapatkan apapun disini.” Hendra tak ingin


bercerita lebih lanjut tentang masalah desa mati ini.


“Pak, tolonglah! Saya sedang mencari seseorang. Dia berasal dari desa ini.” Roy memohon.


“Maaf, tapi saya dilarang bercerita dengan orang asing. Saya adalah penghuni terakhir disini sekaligus kepala desa untuk menjaga


desa ini.”


Roy dan Ben saling pandang.


“Apa bapak mengenal seorang gadis bernama Putri Berlian?” Tanya Roy.


Hendra sangat terkejut dengan pertanyaan Roy, namun ia bereaksi datar.


“Untuk apa Anda mencari gadis bernama Putri Berlian?”


“Dia adalah gadis yang sudah mengandung anak saya.” Jujur Roy agar Hendra mau bercerita yang sebenarnya.


“Eh? Mengandung?”


“Iya. Tujuh tahun lalu saya dan dia mengikuti proyek yang menyebabkan dirinya hamil. Dia dan anaknya menghilang begitu saja dan tidak bisa saya temukan. Saya mohon jika bapak memiliki informasi tentangnya tolong beritahu saya.” Ucap Roy dengan wajah sendu.


Hendra menatap Roy dengan iba. Ia tak tega jika harus membohongi Roy.


“Sebenarnya . . .


#bersambung dulu ya genks…


*wah kira2 apakah Hendra akan berkata jujur pada Roy?


Jangan lupa tinggalkan jejak beruba Like, Comments, Vote and Gifts.


Mumpung besok senin, kali aja ada yang mau kasih VOTE untuk Boy.


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2