Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 120. Suara Hati Nathan


__ADS_3

Nathan yang sedang melintas di depan kamar kedua orang tuanya, melihat kakaknya, Boy sedang bermanja-manja di pangkuan sang ibunda. Ia yang tadinya ingin masuk dan mengucap selamat malam untuk Roy dan Lian menjadi enggan.


Ada sedikit rasa cemburu dihati Nathan karena Lian selalu perhatian pada Boy. Meski ia tahu jika ibu kandungnya itu juga menyayanginya.


Nathan memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Malam ini ia tidak menyapa kedua orang tuanya secara langsung namun dalam untaian sebuah doa.


"Selamat malam Mama. Selamat malam Papa. Aku menyayangi kalian," lirih Nathan kemudian memejamkan matanya.


Sementara itu, Boy yang sudah merasa cukup melepas kerinduan pada ayah dan ibunya, ia berpamitan untuk kembali ke kamarnya sendiri.


"Selamat malam, Pa, Ma."


"Selamat malam, Nak. Tidurlah yang nyenyak," balas Lian.


Boy mengangguk kemudian menutup pintu kamar.


"Tidak terasa dia sudah dewasa, Mas. Kita akan melepasnya untuk dimiliki oleh orang lain," ucap Lian sendu.


"Bukankah anak-anak kita hanyalah titipan Tuhan? Suatu saat nanti mereka akan meninggalkan kita, begitu juga sebaliknya. Kau jangan terlalu terbawa suasana dengan pertunangan Boy dan Natasha."


"Iya, Mas."


"Oh ya, kenapa Nathan belum datang? Bukankah dia biasanya datang mengunjungi kita sebelum pergi tidur?"


"Entahlah, Mas. Mungkin Nathan kelelahan karena kegiatan di sekolahnya. Kurasa dia punya bakat yang berbeda dengan kakaknya."


"Kita bebaskan mereka memilih apa yang ingin mereka lakukan di masa depan. Jangan terlalu menekannya."


Lian mengangguk.


"Sebaiknya kita tidur. Bukankah besok kau akan kembali mengurus persiapan pesta pertunangan Boy?"


"Iya, Mas. Ayo tidur!"


Lian merebahkan tubuhnya disamping Roy.


"Aku mencintaimu, Mas," ucap Lian sebelum terpejam.


"Aku juga mencintaimu, sayang," balas Roy kemudian mengecup puncak kepala Lian.


......***......


Pagi hari itu, Nathan merasa tidak bersemangat menerima pelajaran di sekolahnya. Pagi tadi ia hanya sarapan ditemani oleh neneknya, Lusi. Karena semua orang sudah melakukan aktifitas masing-masing. Roy yang harus bertemu klien, Lian yang sibuk mengurus pesta pertunangan, lalu Boy yang juga langsung pergi ke laboratnya.


Nathan merasa hidupnya mulai hampa karena semua orang selalu sibuk. Beruntung hari begitu cepat berlalu. Nathan keluar dari gedung sekolah dan berjalan dengan langkah gontai. Ia menyuruh supir untuk kembali ke rumah karena dirinya akan naik kendaraan umum saja.


Langkah gontainya yang tidak melihat sekitar membuatnya bertabrakan dengan seseorang yang melintas berlawanan arah dengannya. Suara gaduh timbul dari bibir seorang gadis yang kini mengumpati Nathan karena sudah membuat buku-buku yang dipegangnya jatuh ke tanah.


"Astaga! Kau punya mata tidak, huh?! Lihat ini! Buku-bukuku jadi berjatuhan!" kesal seorang gadis yang sedang menunduk memunguti buku-bukunya.


"Sedangkan Nathan masih diam membisu dan tak mengatakan sepatah katapun.


"Astaga! Kenapa kau diam saja? Setidaknya ucapkanlah kata maaf!" kesal gadis itu lagi.


"Hei, apa kau tuli?!" Gadis itu makin naik pitam.

__ADS_1


"Saya tidak tuli, Nona. Saya minta maaf." Nathan sedikit membungkukkan badan lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Dasar tidak tahu diri! Sudah salah malah main pergi saja!" Gadis itu akan kembali pergi namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Ia berbalik badan dan mengejar langkah Nathan.


"Hei, tunggu!" Gadis itu sedikit berlari untuk menyamai langkah Nathan.


"Tunggu!" Gadis itu merentangkan tangannya dan membuat langkah Nathan terhenti.


"Wah, ternyata benar. Kau adalah Nathaniel, bukan? Kau adiknya Kak Boy!" seru gadis itu.


Nathan menautkan kedua alisnya.


"Aku Ivanna. Aku adiknya Kak Fajri, teman Kak Boy." Gadis itu mengulurkan tangannya.


"Oh, kau adiknya Kak Fajri? Lalu, kau mau apa?"


"Ish, kau! Apa yang kau lakukan dengan berjalan seorang diri tanpa melihat sekitar? Bukankah kakakmu akan bertunangan dua hari lagi?"


"Lalu apa urusanmu? Pergi sajalah sana! Jika kau ingin aku meminta maaf padamu lagi, maka akan kulakukan!"


"Astaga! Kau sangat menyebalkan! Ternyata benar rumor yang beredar. Semua pria di keluarga Avicenna itu memang menyebalkan!" sungut Ivanna kemudian pergi meninggalkan Nathan.


Nathan hanya menggeleng pelan setelah kepergian Ivanna. "Dasar gadis aneh!"


Nathan kembali melanjutkan perjalanannya. Entah sampai kapan ia akan terus berjalan. Jarak menuju rumahnya cukup jauh jika harus di tempuh dengan berjalan kaki.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan Nathan. Seorang gadis kecil keluar dari dalam mobil.


"Kak Nathan!" seru gadis itu.


"Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Shelo.


"Aku sedang berjalan kaki, ha ha." Nathan memaksakan tawanya.


"Aku tahu kakak dengan baik. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Shelo menyelidik.


"Tidak ada," elak Nathan dan akan kembali melangkah.


Shelo segera mencekal lengan Nathan. Gadis kecil itu sangat memahami saudara sepupunya itu.


"Ikut denganku, Kak!" Shelo menarik tangan Nathan dan memintanya masuk ke dalam mobil.


"Kau ini! Masih kecil sudah berani memerintahku!" sungut Nathan yang mendapat senyuman manis dari gadis kecil yang duduk disampingnya.


"Pak, kita ke taman kota ya!" perintah Shelo pada supirnya.


"Untuk apa kita ke taman kota?" tanya Nathan.


"Ada sebuah kedai es serut yang sangat enak disana. Aku ingin memakan itu di hari yang terik ini." Lagi-lagi Shelo mengulas senyumnya.


Nathan hanya menggeleng pelan dengan tingkah adik kecilnya itu.


Tiba di taman kota, mereka berdua turun dari mobil dan menuju ke kedai es serut yang di maksud Shelo.


"Duduklah, Kak!" titah Shelo.

__ADS_1


Nathan melihat suasana sekitar kedai yang cukup asri dan angin-angin sepoi yang menerpa wajahnya.


"Kau sering datang kemari?" tanya Nathan.


"Tidak juga. Bang, es serutnya dua porsi ya!" ucap Shelo pada abang tukang es serut.


"Siap, Nona!" jawab si abang tukas es.


"Kau masih kecil jangan suka jajan di luar. Makanan di luar tidak baik untuk tumbuh kembangmu," nasihat Nathan.


"Ish, kakak ini. Aku membawa kakak kemari untuk menghibur kakak. Aku tahu hati kakak sedang tidak baik-baik saja," ungkap Shelo.


Nathan bergeming dengan pernyataan Shelo. Hatinya memang sedang gundah karena semua orang seakan menjauh darinya.


"Aku sudah terbiasa sendiri. Kau tidak perlu menghiburku. Masa kecilku kujalani di panti asuhan. Aku biasa menghadapi kesunyian," ucap Nathan sendu.


"Aaa!" Shelo bersiap menyuapkan sesendok es serut kedalam mulut Nathan.


Dengan ragu Nathan membuka mulutnya dan menerima suapan dari Shelo.


"Sepanas apapun hati kita, kita harus tetap mendinginkannya," celoteh Shelo dengan senyum indahnya.


Nathan sedikit terhibur dengan kehadiran adik sepupunya.


"Oh ya, Kak. Sebentar lagi hari ulang tahunku yang ke sembilan, kakak harus siapkan kado istimewa untukku."


Nathan memukul pelipisnya pelan. "Aku sampai lupa! Tapi aku tidak bisa memberimu kado yang bagus. Kau tahu kan aku masih jadi anak sekolah, aku belum memiliki uang sendiri."


Shelo merengut mendengar penuturan Nathan. Namun ternyata semua tingkah Shelo membuat Nathan tertawa terbahak.


"Kak Nathan! Kenapa malah tertawa?" Shelo makin mengerucutkan bibirnya.


"Terima kasih, ya. Terima kasih karena sudah menghiburku."


Shelo terdiam sejenak.


"Apapun yang sedang kakak hadapi, jangan pernah merasa sendiri. Jika kakak merasa semua orang memiliki perhatian khusus pada Kak Boy, itu hanya perasaan kakak saja. Kak Boy akan bertunangan, tentu saja semua orang sibuk. Bahkan Ayah dan Ibuku juga ikut sibuk."


"Aku mengerti. Kau masih kecil tapi kenapa sikapmu sangat dewasa?" Nathan mengacak pelan rambut Shelo.


"Sudah mulai sore, sebaiknya kita pulang," ajak Nathan.


Shelo mengangguk. "Kakak memiliki aku. Jadi jangan pernah merasa sendiri."


"Iya, terima kasih adik kecilku," gemas Nathan dengan sikap dewasa Shelo.


...B E R S A M B U N G...


"Ada kalanya anak2 merasa jika orang tua mereka hanya berpihak pada satu anak saja. Tapi ketahuilah, orang tua memberikan kasih sayang tanpa melihat mana anak tertua dan termuda. Mereka mendapatkan cinta yang sama.


Hiks hiks, semoga kalian mengerti, anak2 mamak...


Mumpung hari senin, siapa tahu ada yg mau sedekah Vote untuk Dokter Boy 😁😁


...HAPPY MONDAY...

__ADS_1


Senin ngangenin πŸ’•πŸ’•


__ADS_2