Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 140. Malaikat Kecil


__ADS_3

Aleya kembali ke rumah Zetta dengan wajah yang tidak bersemangat. Rion bisa melihat itu.


"Aleya!" Rion mencekal lengan Aleya yang akan turun dari mobilnya.


"Ada apa, Kak?"


"Maafkan aku."


Aleya mengulas senyumnya. "Tidak ada yang perlu di maafkan, Kak. Aku turun ya!"


Rion mengangguk. "Sebaiknya pikirkan saja soal studimu. Sebentar lagi pendaftaran untuk pengambilan spesialis. Kau harus segera memutuskan."


Aleya mengacungkan jempolnya. "Terima kasih untuk makan siangnya. Kapan-kapan aku akan mentraktir kakak. Bye!"


Aleya menutup pintu mobil dan masuk ke dalam rumah. Mata Aleya langsung tertuju pada seorang anak yang sedang bermain bersama pengasuhnya.


"Hai, sayang..." sapa Aleya pada bocah lelaki yang menggemaskan itu.


Bocah kecil itu tampak mengerutkan dahinya.


"Namaku Aleya, siapa namamu?" tanya Aleya dengan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Andra.


"Namaku Andra. Mama bilang kau adalah adik Mama. Berarti aku harus memanggilmu dengan panggilan bibi?"


"Tidak! Bagaimana kalau memanggilku bunda saja?"


"Hmm? Maksudmu aku memiliki dua ibu, begitu?"


"Iya, begitulah. Mulai sekarang bunda akan tinggal disini bersama denganmu dan Mamamu."


"Oke! Aku akan memanggilmu bunda. Apa kau tahu permainan puzzle?"


"Oh, tentu saja. Aku sangat pandai memainkannya. Ayo kita bermain bersama!"


Rasa gundah Aleya mulai berkurang setelah bertemu dengan Andra. Mereka bermain bersama hingga lupa waktu.


Zetta kembali ke rumah dan melihat keakraban Aleya dengan putranya. Sungguh ia salah menduga. Ia pikir Aleya akan memganggapnya sebagai wanita kotor karena memiliki anak di luar nikah.


"Wah, kalian sedang bermain apa? Sepertinya seru sekali. Mama boleh ikut tidak?" seru Zetta sambil menghampiri Aleya dan Andra.


"Mama! Aku sedang bermain puzzle dengan Bunda. Bunda sangat pandai menyusun puzzle, Ma."


"Bunda?" Zetta mengerutkan keningnya.


"Iya, Ma. Mulai hari ini Bibi Aleya akan menjadi bundaku. Jadi, aku punya dua ibu. Aku tidak akan kesepian lagi," seru Andra dengan gembira.


Aleya tersenyum pada Zetta. "Tidak apa kan, Kak? Aku hanya ingin kami menjadi lebih dekat saja."


Zetta membalas dengan sebuah senyuman juga. "Sejak dulu kau kan menyukai anak-anak. Bagaimana jika kau mengambil studi dokter anak saja?"


"Hah?! Dokter anak? Sama seperti Kak Rion?"


Zetta mengangguk mantap. "Kulihat kalian ... sangat serasi."


"Ish, kakak! Aku dan Kak Rion hanya berteman baik. Tidak lebih!"


"Suatu saat kau harus membuka hatimu, Aleya. Jangan karena kau telah memilih cinta masa lalu, kau mengabaikan orang yang selalu ada untukmu. Jangan sampai kau menyesal nanti."

__ADS_1


Aleya terdiam.


"Andra sayang, ini sudah malam. Sudah saatnya kau tidur. Ayo!"


Zetta berlalu dari hadapan Aleya dengan membawa Andra masuk ke dalam kamar.


Aleya menghela napas kasar. "Apa yang dikatakan Kak Zetta memang benar. Tapi ... aku masih belum siap untuk jatuh cinta lagi."


......***......


Keesokan harinya, Aleya datang ke Universitas Avicenna untuk mendaftar studi lanjutannya. Sebenarnya ia masih ragu untuk menjadi seorang dokter anak. Ia takut jika Rion menganggap jika dirinya hanya ikut-ikutan saja.


Saat Aleya berjalan menyusuri koridor kampus, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Rion.


"Jangan ragu untuk menentukan pilihanmu. Apapun itu, aku akan tetap mendukungmu."


Aleya tersenyum mendapat satu semangat untuknya.


"Baiklah. Aku akan mengisi formulirnya."


Aleya menuju ke ruang administrasi dan mendaftarkan diri disana. Setelah berkutat selama beberapa lama, Aleya keluar dengan memegangi dadanya.


"Huft! Rasanya lega sekali. Semoga ini adalah yang terbaik." Aleya kembali melangkah akan meninggalkan kampus. Ini bukanlah kali pertama Aleya menapakkan kaki di kampus bergengsi ini.


Saat mendapat beasiswa dulu, Aleya pernah datang kemari meski hanya sebentar. Lalu saat Aleya dinyatakan lulus sebagai sarjana kedokteran. Ia juga datang bersama Ayahnya.


"Kampus ini sudah banyak berubah. Begitu juga dengan aku. Mulai sekarang aku harus berubah!"


Aleya melangkah mantap menapaki keputusan yang baru ia ambil.


"Bisa bicara sebentar?" ucap orang itu.


.


.


.


Aleya terburu-buru mendatangi sekolah Andra. Setelah urusannya selesai di kampus, Zetta menghubunginya dan meminta Aleya untuk menjemput Andra di sekolah.


Sekolah sudah mulai sepi karena jam belajar telah usai sejak tadi.


"Bunda!" Andra merengut melihat Aleya datang terlambat.


"Maaf, sayang. Bunda terlambat." Aleya menangkupkan kedua tangannya. Tak lupa ia juga memasang wajah memelas agar Andra mau memaafkannya.


"Ini bundamu, Andra?" Sebuah suara merdu dari seorang gadis kecil membuat Aleya menoleh.


"Hai, sayang. Iya, aku adalah bundanya Andra. Apa kau juga terlambat dijemput? Biasanya siapa yang menjemputmu?"


"Papaku. Dia biasanya tidak pernah terlambat. Tapi hari ini sepertinya dia sangat sibuk."


"Bunda, bagaimana kalau kita mengantar dia juga?" usul Andra.


"Eh? Tidak, sayang. Jika nanti papanya datang bagaimana? Bunda yakin sebentar lagi papamu pasti akan datang." Aleya berusaha menghibur kedua bocah itu.


"Iya, Bunda Andra. Terima kasih. Sebaiknya kalian pulang saja. Aku yakin papa pasti sebentar lagi datang."

__ADS_1


"Anak pintar. Siapa namamu?" Aleya membelai lembut puncak kepala gadis kecil itu.


"Namaku Aurel, Bunda."


"Baiklah, Aurel. Bunda sama Andra pulang dulu. Aurel hati-hati ya disini. Masih ada ibu guru juga disini. Aurel tidak perlu takut."


"Iya, Bunda. Aku adalah anak yang pemberani."


"Bagus! Ayo, Andra!" Aleya menggandeng tangan Andra dan mereka berjalan bersama. Tak lupa Andra berpamitan dengan Aurel.


Aurel menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan sendu.


"Seandainya saja Mama bisa menjemputku juga seperti yang dilakukan Bundanya Andra. Tapi Mama sangat sibuk." Aurel terduduk lesu.


Di luar sekolah, Aleya menuju mobil.


"Bunda! Aku ingin beli itu!" tunjuk Andra pada tukang balon yang melintas.


"Hmm?" Aleya mengernyitkan dahi.


"Lihat, Bunda. Orang yang menjualnya sudah sangat tua. Aku kasihan padanya."


"Ah, sayang. Kau memang bagai malaikat kecil yang sangat manis. Sepertinya kau sengaja dikirim Tuhan untuk mengisi hari-hariku yang selama ini kelabu."


"Ayo, Bunda!" teriak Andra yang mendapat perhatian dari orang-orang disekitarnya. Mereka menatap Aleya tak percaya jika wanita muda ini sudah memiliki anak.


Bahkan seorang pria yang baru turun dari mobil mewahnya pun tak luput memperhatikan Aleya. Pria itu mematung saat melihat sosok Aleya.


"Aleya? Jadi benar jika dia ada disini," gumam sang pria yang adalah Boy.


"Bunda pilih yang mana?" suara keras Andra terdengar di telinga Boy.


"Bunda? Jadi ... Aleya sudah menikah?" gumam Boy dalam hati.


"Tapi dengan siapa dia menikah? Apa dengan Rion? Tapi sepertinya bukan. Jika Rion menikah pasti aku mendengar beritanya."


"Dokter Boy!" suara seorang pria menginterupsi lamunan Boy.


"Eh, iya Pak. Ada apa?"


"Maaf, Dokter sudah ditunggu Nona Aurel. Sedari tadi Nona Aurel menunggu kedatangan Dokter," jelas seorang penjaga sekolah.


"Ah, iya maaf. Saya akan segera masuk. Mari, Pak!"


Boy menoleh ke tempat Aleya tadi namun yang ia cari sudah tidak ada disana.


"Dia pasti sudah pulang. Paling tidak aku tahu jika anaknya satu sekolah dengan Aurel."


Boy tersenyum penuh arti lalu melangkahkan kakinya memasuki area sekolah.


...B E R S A M B U N G...


😳😳😳😳


Entah apa yang akan kukatakan.


Aku hanya bisa memberikan hiburan ini untuk kalian semua. Terima kasih untuk yg selalu mendukung karya yang satu ini.

__ADS_1


__ADS_2