Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 34. Getaran yang Berbeda


__ADS_3

Belinda yang tak siap dengan serangan Roy hanya bisa membulatkan mata merasakan bibir Roy menyentuh bibirnya untuk pertama kali.


Ada getaran aneh yang Belinda rasakan ketika Roy menempelkan bibirnya dan sedikit menyesap pelan juga berirama. Sadar semua semakin membuatnya melayang, Belinda ikut memejamkan mata dan menikmati sentuhan yang Roy berikan.


Roy melepaskan Belinda. Ia menyatukan keningnya dengan kening Belinda. Degup jantung mereka berdua memburu seakan saling berkejaran.


"Selamat malam, Bels." Roy kembali mengucap kata perpisahan.


Belinda hanya mengangguk dan melepas kepergian Roy. Ia masuk kedalam kamarnya dan memegangi dadanya yang berdegup tak beraturan.


"Ya Tuhan! Apa itu tadi?" Belinda memegangi bibirnya.


"Itu adalah ciuman pertamaku." Belinda menutup matanya dengan kedua tangan.


Sementara itu, Roy juga memegangi dadanya begitu tiba di kamar apartemennya.


"Bagaimana bisa aku berbuat secepat ini? Bagaimana jika dia marah? Ah, sial!!!" Roy malah merutuki kebodohannya.


Roy merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya namun matanya masih enggan untuk terpejam. Bayangan tentang ciuman yang dilakukannya tadi masih menari-nari dengan apik di memorinya.


"Bagaimana jika Belinda menganggapku pria mesum?" Roy mengacak rambutnya.


"Aarrgghh!!!" Roy amat frustasi dengan tindakannya yang dirasa terlalu terburu-buru.


"Besok sebaiknya aku meminta maaf padanya. Aku tidak mau dia kembali menjauhiku." tutup Roy sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan menuju ke dasar mimpi yang indah.


......***......


Keesokan harinya, Belinda memasak sarapan pagi untuk anggota keluarganya yang baru. Belinda memastikan jika semua sudah sempurna. Kini hanya tinggal menunggu para tamu yang akan datang untuk bergabung sarapan bersama.


Bunyi bel apartemen menandakan jika tamunya sudah datang. Dengan senyuman yang lebar, Belinda berjalan cepat menuju pintu.


Ia membuka pintu dan melihat sosok Patrick berdiri di depan pintu.


"Hai, Bels." Sapa Patrick.


"Hai juga, Pat." balas Belinda datar.


"Kenapa? Apa kau berharap jika Roy yang datang?"


"Eh? Tidak! Bukan begitu, Pat." Belinda melambaikan kedua tangannya di depan Patrick.


"Mari masuk, Pat!" ajak Belinda. "Kenzo mana? Akhir-akhir ini dia jarang kemari." Belinda mencoba mencairkan suasana.


"Kenzo sedang sibuk, Bels. Dia tidak hanya bekerja sebagai dokter."


Belinda mengangguk paham. Riana dan Boy juga ikut bergabung di meja makan. Kemudian mereka menyantap makanan masing-masing dalam diam.


Usai sarapan, Boy berpamitan untuk berangkat ke sekolah bersama Patrick. Riana pun ikut undur diri untuk berangkat ke rumah sakit.


Sementara Belinda juga sedang bersiap untuk berangkat bekerja. Setelah rapi, ia segera keluar apartemen. Namun ia amat terkejut karena ternyata Roy menunggunya di depan apartemen.


"Dokter Roy?" Seru Belinda kaget.


"Hai, Bels. Selamat pagi."


"Ah iya, pagi."


Terjadi kecanggungan diantara dua orang ini.


"Umm, apa kau akan berangkat ke butik?" tanya Roy.


"Iya." balas Belinda singkat.


"Kalau begitu, biar aku mengantarmu."

__ADS_1


Meski ragu, Belinda akhirnya mengangguk.


......***......


Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan menuju butik Jimmy. Belinda masih setia menatap jalanan yang dilewati mobil Roy. Ia enggan menoleh kearah kanan dimana ada Roy disana.


Roy sendiri pun merasa aneh dengan sikap Belinda. Namun ia juga enggan untuk membuka pembicaraan lebih dulu. Ia mencengkeram erat kemudinya.


Tiba-tiba Roy menurunkan laju mobilnya, ia ingin sedikit bicara dengan Belinda terkait kejadian semalam.


"Umm, Bels..." Roy mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.


"Iya, ada apa?" Belinda berusaha menetralkan hatinya.


"Aku ... aku ingin minta maaf tentang kejadian semalam..."


DEG!


Belinda tertegun. Ia bingung harus menanggapi apa.


"Aku tahu aku salah. Maafkan aku, Bels..."


Belinda akhirnya menatap Roy.


"Tidak apa. Aku ... sudah memaafkanmu." Belinda berusaha tersenyum.


Hingga akhirnya mobil Roy tiba di depan butik Jimmy Choo, tidak ada lagi percakapan yang terjadi diantara mereka.


Belinda melambaikan tangan saat mobil Roy berlalu meninggalkannya. Ia menarik sudut bibirnya dan memperhatikan mobil Roy hingga tak nampak di pandangannya.


"Kau beruntung mendapatkannya, Bella." Suara Jimmy membuyarkan lamunan Belinda.


"Eh? Apa maksudmu?"


"Pria seperti Roy bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta."


"Tidak apa. Tidak perlu menyangkalnya. Sudah lama rumor tentang hubungannya dengan dokter Zara yang merenggang sejak dokter Zara memutuskan meninggalkan dokter Roy."


"Meninggalkan?"


"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi yang jelas dokter Roy memang sudah tak memiliki perasaan lagi terhadap dokter Zara. Dia tipe pria yang setia, Bella. Asal kau tidak mengkhianatinya lebih dulu, dia akan memperlakukanmu bak seorang ratu."


"Dari mana kau tahu tentangnya?"


"Seorang desainer harus menyesuaikan pakaian yang dia buat dengan kepribadian kliennya. Aku hanya menebak saja setelah beberapa tahun ini mengenalnya."


Belinda terdiam.


"Cepatlah masuk! Kau harus segera bekerja, Bella."


Belinda tersadar dari lamunannya dan segera masuk ke dalam butik.


......***......


Patrick sedang mengerjakan pekerjaannya dari rumah ketika bel apartemennya berbunyi. Ia sedikit kesal karena tak biasanya ia memiliki tamu. Atau mungkin tamunya adalah Kenzo yang ingin mengerjainya?


Dengan malas Patrick beranjak dari ruang kerjanya dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui siapa orang yang bertamu ke apartemennya.


"Julian..."


"Kakek Donald?"


Wajah keriput pria itu berubah sendu dan matanya mengembun.


"Julian cucuku..."

__ADS_1


Patrick segera menghambur memeluk kakeknya itu. "Kakek..."


Patrick mempersilahkan Donald masuk ke apartemennya.


"Kenapa kau tidak memberitahu kakek jika kau sudah kembali, Nak? Apa kau tidak menganggap kakek sebagai kakekmu lagi, huh?"


"Tidak, Kek. Bukan begitu. Aku hanya..."


"Kau tidak ingin berhubungan dengan keluarga Avicenna lagi?"


Patrick terdiam.


"Maafkan kakek. Ini semua salah kakek yang tidak bisa menghentikan ulah ibu tirimu." Pria tua itu menitikkan air matanya.


"Sudahlah, Kek. Semua sudah berlalu."


"Lalu untuk apa kau kembali dengan mengganti nama belakangmu?"


Patrick kembali diam.


"Kakek mengharapkan kau bisa kembali, Nak."


Patrick menggelengkan kepala. "Semua hal sudah berubah, kakek. Aku tidak bisa kembali ke rumah itu. Aku berterimakasih karena kakek masih ingat padaku."


Donald menatap cucunya dengan raut kesedihan.


......***......


Pukul tujuh malam, Belinda keluar dari butik Jimmy dan melihat Ben, asisten Roy sudah menunggu di luar butik.


"Nona Belinda, silahkan ikut dengan saya. Tuan Roy sudah menunggu."


"Eh? Dokter Roy?" Belinda mengerutkan dahi.


"Mari, Nona."


"Umm, baiklah." Belinda masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Ben.


Belinda tiba di sebuah resto mewah yang didalamnya sudah ada Roy yang menunggu. Belinda melangkah masuk dan melihat Roy sedang berdiri menunggunya.


Roy membalikkan badan dan menyambut kedatangan Belinda. Roy tersenyum pada Belinda.


"Terima kasih karena sudah bersedia datang memenuhi undanganku." ucap Roy.


"Umm, sebenarnya ada apa ini? Kenapa menyiapkan makan malam di tempat seperti ini?" Belinda merasa kikuk dengan situasi romantis yang tercipta di restoran itu.


"Duduklah dulu. Kita akan bicara setelah makan malam..."


Roy menarik satu kursi untuk di duduki Belinda kemudian ia juga ikut duduk di kursi yang lain yang berhadapan dengan Belinda.


......***......


#bersambung


"Kira2 Roy mau bilang apa yak? Duh kok jadi aku yang deg2an 😅😅😅"


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS


💯VOTE

__ADS_1


...THANK YOU...


__ADS_2