
Tiba di lokasi yang di tentukan oleh pihak rumah produksi, Boy setia mendampingi Natasha yang kini membaur bersama teman-teman kru drama terbarunya. Natasha mengenalkan Boy sebagai kekasihnya. Hubungan mereka masih di sembunyikan dari publik dan media karena permintaan Boy. Dan semua kru drama juga orang yang bekerja didalamnya sangat paham dengan posisi Boy yang berasal dari keluarga terpandang dan cukup berpengaruh. Sekali mereka membuat masalah akan langsung mendapat pelajaran yang tidak akan mereka lupakan.
Selama proses reading berlangsung, Boy menunggu di ruang tunggu sambil memainkan ponsel pintarnya. Ia menghubungi Fajri dan memintanya untuk membuatkan sebuah mobil dengan mesin otomatis dan pastinya canggih. Untuk biaya tidak akan jadi masalah untuk seorang Boy Avicenna. Tapi sekali lagi Fajri juga adalah pria yang baik dan dari keluarga tajir melintir pula. Terkadang ia memberikan teman-temannya barang mahal ciptaannya tanpa meminta imbalan.
Setelah sekitar dua jam proses reading dan pengenalan tokoh, tibalah saatnya pihak rumah produksi mengadakan konferensi pers. Natasha dan Sean diperkenalkan sebagai pemeran utama drama romansa yang akan segera memulai proses pengambilan gambarnya.
Sean nampak memeluk pinggang Natasha ketika para awak media mewawancarai mereka berdua. Ada rasa jengkel dan kesal di hati Boy ketika melihat kekasih pujaan hatinya di peluk oleh pria lain. Ia mengepalkan tangan meski hanya memperhatikan dari jarak yang cukup jauh.
Ingin rasanya Boy pergi dari sana. Namun ia masih ingat dengan janjinya yang akan menemani Natasha hari ini.
"Ah, sial!" umpat Boy yang ternyata di dengar oleh Sean.
"Halo, Dokter Boy! Akhirnya kita bisa berjumpa juga," sapa Sean yang sengaja menghampiri Boy. Ia tahu jika saat ini Boy sedang terbakar api cemburu karena ulahnya.
Boy tidak membalas sapaan dari Sean.
"Jadi ini adalah wajah kekasih yang sudah membuat lawan mainku kesal. Tidak seharusnya seorang pria membuat wanitanya kecewa karena tidak mengangkat panggilan telepon. Apa kekasihnya begitu sibuk sampai-sampai tidak bisa menjawab dering ponselnya?"
Kalimat Sean membuat Boy mulai naik darah. Ia segera berhadapan dengan Sean dan menarik kerah baju Sean.
"Apa maksudmu bicara begitu?" tanya Boy geram.
Sean malah tersenyum seringai. "Apa kau juga main kasar dengan wanitamu? Ingat, kawan! Wanita tidak suka pria yang kasar dan membuatnya kesal."
"Kau!" Boy melayangkan tinjunya namun segera dicegah oleh Natasha.
"Boy! Apa yang kau lakukan? Lepaskan Sean!" pinta Natasha.
Boy segera melepaskan tangannya dari kerah baju Sean.
"Kau sudah selesai? Ayo kita pergi!" Boy segera menarik tangan Natasha dan membawanya pergi.
Sean menatap kepergian dua sejoli itu dengan senyum yang aneh.
"Kita lihat saja! Aku yakin aku pasti akan merebut Natasha dari dokter sombong sepertimu," lirih Sean dengan tangan mengepal.
Di perjalanan, baik Natasha maupun Boy tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka seakan menekan ego masing-masing. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah Natasha.
Boy dan Natasha masih diam membisu didalam mobil. Natasha melirik kearah pria disampingnya yang masih diam. Ia menghela napas panjang.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya Natasha mengalah.
Boy masih diam.
"Baiklah, jika kau tidak juga bicara, aku akan keluar." Natasha melepas seatbelt dan bersiap membuka pintu mobil.
"Tunggu!" akhirnya Boy bersuara.
Natasha terhenti dan menatap pria yang masih menatap datar ke depan.
"Jika aku memintamu untuk membatalkan kontrak drama barumu itu, apa kau bersedia?" Kini Boy menatap Natasha.
__ADS_1
Natasha tidak percaya dengan permintaan Boy kali ini.
"Bukankah kita sudah sepakat tidak akan mencampuri urusan masing-masing?"
"Aku tidak suka kau beradu akting dengan pria itu!" tegas Boy.
"Dia punya nama, Boy. Namanya Sean Connan." Natasha tak mau kalah.
"Aku tidak peduli siapa namanya. Aku hanya tidak suka dengan sikapnya yang seolah menginginkanmu."
Natasha tersenyum kecut. "Jadi hanya karena kau tidak menyukainya lalu kau memintaku membatalkan kontrak ini? Apa kau sudah tidak waras?"
"Iya! Aku memang sudah tidak waras! Apa aku salah jika aku tidak suka ada pria lain yang menyentuh wanitaku? Dia terlalu intim denganmu, Nat. Apa kau tidak menyadarinya?"
"Astaga, Boy! Itu hanya akting! Apa lagi tadi ada awak media yang meliput. Tentu saja kami harus profesional. Aku juga tidak suka dengan caranya menatapku, tapi apa dayaku? Aku sudah terikat kontrak dan tidak bisa dibatalkan begitu saja! Ini menyangkut kredibilitasku di bidang ini."
"Jika hanya masalah uang aku bisa mengurusnya. Berapa yang harus kau bayar jika kau membatalkan kontrak itu?"
Natasha makin jengah dengan sikap Boy.
"Ini bukan soal uang, Boy. Kau tidak akan mengerti!" Natasha segera membuka pintu dan keluar dengan kekesalan yang menumpuk di ujung kepalanya.
Boy memukul kemudi meluapkan kekesalannya juga. Ia benar-benar tidak menyangka jika hari yang akan ia anggap menjadi hari membahagiakan berubah menjadi hari yang mengesalkan untuknya dan Natasha. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Kenji. Kenji adalah keponakan Kenzo dan juga sahabat Boy dan Natasha. Kenji yang terkesan paling santai diantara sahabat Boy yang lain pastinya bisa membuat harinya menjadi sedikit lebih berwarna dari pada memikirkan tentang pertengkarannya dengan Natasha barusan.
Kenji yang ditemui di apartemennya hanya menyambut Boy santai.
"Ada apa, kawan? Kau terlihat suntuk dan tidak bergairah!" canda Kenji.
Kenji tertawa. "Kemarin kau mendatangi Fajri dan kini kau mendatangiku! Apa aku hanya pria cadangan bagimu, huh?!"
"Cih, kau selalu bisa menghiburku!" Boy memukul bantal sofa kearah Kenji.
"Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau bersedia membaginya denganku?"
Boy menatap Kenji datar dan serius.
"Apa aku bisa percaya padamu?" tanya Boy.
Kenji mengedikkan bahunya. "Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku. Tapi jika sekali kau bercerita denganku, maka aku akan menjaganya dengan baik."
"Baiklah. Ini..." Boy menyerahkan ponsel pintarnya.
"Apa ini?"
"Baca saja dan pahami!" perintah Boy.
Kenji membaca dengan seksama berkas yang tertera di layar pipih itu.
"Kau serius, Boy? Ini adalah hasil tes kesehatanmu?" Kenji mengernyitkan dahi.
"Iya, begitulah yang tertulis setelah aku memeriksakan diri pada Dion." Boy terlihat lesu.
__ADS_1
"Astaga! Ini tidak bisa dibiarkan! Kau di diagnosa mengalami impotensi dini? Bagaimana bisa?" Kenji mengacak rambutnya.
Boy hanya tertunduk lesu.
"Kau pasti terlalu stres. Atau juga karena adanya keturunan? Bukankah ayahmu juga mengalami hal yang sama?" Kenji ikut pusing memikirkan nasib sahabatnya.
"Begini saja! Ayo ikut denganku ke klub!" ajak Kenji.
"Klub? Yang benar saja! Untuk apa aku pergi ke klub?"
"Kita akan mengetes apakah benar adik kecilmu itu tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik?"
Boy merasa malu mengakuinya. "Itu memang benar! Aku bahkan sudah bercumbu dengan Natasha pagi tadi, tapi ... tidak ada hasil. Aku bahkan sudah membuat Natasha bergairah tapi dibawah sana hanya bergeming." aku Boy dengan malu.
Kenji menutup mulutnya tak percaya. "Astaga! Jadi Natasha sudah tahu?"
"Tentu saja tidak! Aku tidak ingin mengecewakannya. Meski dia tidak bisa memiliki anak, tapi ... kau tahu kan dia diciptakan dengan sangat sempurna. Dia bahkan memiliki selaput dara buatan yang bisa aku robek di saat waktu yang tepat tiba."
Kenji hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tak menyangka seorang Boy yang datar dan dingin bisa gamblang bercerita dengannya.
"Baiklah! Kita langsung ke klub saja!" ajak Kenji dengan penuh usaha.
"Kau yakin cara ini berhasil?"
Kenji mengedikkan bahunya. "Who knows?"
"Baiklah, ayo berangkat!" putus Boy kemudian.
......***......
Tiga puluh menit kemudian, Boy dan Kenji tiba di sebuah klub malam langganan mereka, Angels and Demons. Suara musik menghentak keras saat mulai memasuki ruangan yang remang itu. Kenji melambaikan tangannya pada seorang temannya dengan memberi kode.
Kenji dan Boy duduk di meja paling pojok pilihan Kenji. Boy merasa risih dengan suara bising di sekitarnya. Sudah sangat lama ia tidak datang ke klub.
Tak lama tiga orang wanita datang ke meja Kenji. Dua orang langsung duduk di kanan dan kiri Kenji, dan satu wanita menemani Boy.
Kenji memberi kode pada si wanita di samping Boy untuk beraksi. Tanpa aba-aba, wanita itu langsung mengelus dada bidang Boy.
"Eh? Apa ini?" Boy tersentak kaget karena wanita itu menyentuhnya tanpa permisi.
"Tenanglah, Boy! Jangan bergerak dan nikmati saja!" seru Kenji.
Boy mematung saat wanita berpakaian minim itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat pada tubuh tegap Boy. Wanita itu bahkan berani duduk diatas pangkuan Boy dan mulai mengecup leher Boy.
Kenji yang melihat reaksi Boy hanya bisa tersenyum dan berharap jika caranya ini berhasil mematahkan diagnosa Dion.
...B E R S A M B U N G...
"aduh duh duh duh duh, Babang Boy mulai nackal nih ya ๐๐๐
Kira2 cara koplaknya Kenji berhasil tidak ya? wkwkwkwkwk.
__ADS_1