
Semua orang yang hadir merasa lega dan bahagia mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir Natasha. Terlebih Boy yang merasa sangat bahagia karena niatnya disambut baik oleh keluarga Natasha.
Meski Lian masih tidak percaya dengan keputusan putranya untuk menikah muda, namun ia tetap mendukung apapun keputusan putra sulungnya itu. Boy menghampiri Natasha dan membawanya bicara berdua di taman belakang rumah Natasha.
"Ada apa?" tanya Natasha ketika Boy masih setia menggenggam tangannya.
"Aku ingin berdua denganmu."
Natasha mengernyitkan dahi.
"Aku sudah menerima lamaranmu. Apa lagi?"
"Apa lagi katamu? Tentu saja setelah ini kita akan mengadakan pesta yang meriah untuk pesta pertunangan kita."
"Secepat ini?"
"Iya, tentu saja. Niat baik harus disegerakan, bukan?"
Natasha bingung bagaimana harus mengatakan tentang kontrak barunya itu.
"Ada apa?" Boy menangkup wajah Natasha.
"Tidak apa. Aku hanya..."
"Kau jangan khawatir! Aku tidak akan menghalangimu untuk terus berkarya di dunia hiburan," ucap Boy yang tahu akan kegundahan kekasihnya.
"Baiklah. Aku juga tidak akan menghalangimu dalam pekerjaanmu," balas Natasha.
Boy membawa Natasha kedalam dekapannya.
"Aku mencintaimu, Nat. Sangat mencintaimu. Sejak dulu hingga sekarang."
"Iya, aku tahu," sahut Natasha.
"Kak Boy, Kak Tasha! Papa dan Mama menunggu kalian!" suara Nathan membuat Boy mengurai pelukannya.
"Dasar bocah! Mengganggu saja!" sungut Boy pelan.
"Sudahlah, ayo kita kembali ke dalam. Sepertinya para orang tua mencari kita." Natasha meraih tangan Boy dan membawanya pergi dari taman belakang rumahnya.
......***......
Kembali ke rumah, Lian masih diam termenung di kamarnya. Roy yang malah sibuk dengan pekerjaannya membuat Lian harus sendirian di dalam kamar mereka.
Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Lian bangkit dari lamunannya.
"Nathan? Kau belum tidur, Nak?"
"Belum, Ma. Mana bisa aku tidur di saat Mama sedang gundah begini?" Bocah remaja ini seakan tahu kegundahan hati ibunya. Ia pun memeluk Lian dengan mesranya.
"Mama pasti tidak rela, kan, jika Kak Boy menikah muda?" tanya Nathan.
"Ish, kau ini! Mana mungkin begitu! Mama senang karena kakakmu sudah menemukan kebahagiaannya."
"Kak Boy sudah menemukan Kak Tasha sejak dulu, Ma. Kita semua tahu itu. Kak Boy sangat mencintai Kak Tasha."
"Kau masih terlalu kecil untuk tahu apa itu cinta."
"Tentu saja aku tahu." Nathan mengeratkan pelukannya. Remaja 16 tahun ini menganggap Lian adalah cinta pertama baginya.
"Ma, aku janji, aku tidak akan meninggalkan Mama secepat ini seperti apa yang dilakukan oleh Kak Boy. Aku akan membahagiakan Mama lebih dulu baru setelah itu aku mencari kebahagiaanku sendiri."
Lian melepas tangan putranya. "Jangan bicara begitu! Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Mama juga. Sekarang pergilah tidur! Besok kau harus ke sekolah."
Nathan menghela napas. "Iya, iya, Mamaku sayang. Aku akan pergi tidur. Sebaiknya Mama juga tidur. Aku tidak mau Mama sakit hanya karena memikirkan Kak Boy."
__ADS_1
Lian mengangguk kemudian mengulas senyumnya.
......***......
Boy masih berkutat dengan pekerjaannya ketika Natasha datang ke laboratorium miliknya. Boy makin mengembangkan eksperimennya yang ia buat pertama kali 10 tahun lalu.
"Boy!" sapa Natasha.
"Hm, kau datang? Apa kau sedang tidak sibuk?" tanya Boy dengan tetap menatap layar datarnya.
"Kau sendiri tahu aku belum menerima kontrak baru lagi. Tapi ... hari ini aku ada janji dengan teman-teman kru dan juga beberapa teman artis untuk menonton film. Aku ingin mengajakmu juga."
"Oh, begitu. Film apa yang akan kalian tonton?"
"Film ini adalah karya dari Produser Kang. Dia adalah produser yang terkenal itu, Kang Joon A. Kau tahu, bukan?"
"Hm, aku pernah mendengarnya darimu." Boy menyahut dengan tetap tidak menatap Natasha.
"Kau bisa ikut, kan?"
Boy menghentikan pekerjaannya. "Sayang, kau lihat aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Lagi pula ini masih siang, kenapa tidak menonton di malam hari saja?"
Natasha menatap Boy jengah. Lagi dan lagi dia harus di duakan dengan pekerjaan Boy. Mereka pernah menonton film saat malam hari dan setelah Boy selesai bekerja. Namun yang terjadi adalah bukan Boy yang menonton film tapi malah filmnya yang menonton Boy karena yang ia lakukan hanya tidur selama pertunjukkan.
"Jadi ... kau tidak bisa ikut denganku?" Natasha mulai bicara dengan nada malas.
"Maafkan aku, sayang. Aku sangat ingin ikut tapi aku ... tidak bisa meninggalkan ini. Ditambah, sebentar lagi aku akan melakukan sebuah proyek di sebuah desa. Kau tahu Desa Selimut? Desa yang masih asri tanpa adanya sentuhan teknologi disana. Aku dan teman-teman akan melakukan proyek disana." Boy bercerita dengan antusias.
Natasha mendengarkan dengan seksama dan senyum yang dipaksakan.
"Apa sudah selesai?"
"Eh?" Boy mengerutkan dahi.
"Sayang, tentu saja aku mencintaimu bahkan melebihi diriku sendiri. Kenapa kau meragukan aku hanya karena aku tidak bisa ikut menonton film bersamamu?" Boy memegangi kedua bahu Natasha.
"Baiklah, aku mengalah. Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing terutama urusan pekerjaan. Maafkan aku karena sudah mengganggumu. Kalau begitu aku permisi. Teman-teman sudah menungguku." Natasha melepas tangan Boy dan melangkah pergi dari laborat Boy.
"Sayang..." panggil Boy.
"Apa lagi?"
"Kau melupakan sesuatu!" Boy menunjuk pipinya.
Natasha memutar bola matanya malas. Ia mendekat kemudian mengecup pipi Boy.
"Hati-hati di jalan, sayang. Setelah ini aku akan menemuimu."
Natasha mengangguk kemudian menghilang di balik pintu berwarna putih itu.
......***......
Tiba di bioskop, teman-teman Natasha sudah berkumpul disana dan berfoto ria dengan produser film Kang Joon A. Dia adalah produser yang sedang naik daun karena karya-karyanya dan yang terpenting adalah karena ketampanannya.
"Natasha!" Cicind melambaikan tangan pada Natasha. "Ayo, sini!"
Natasha mendekat dan menyapa teman-temannya.
"Halo, Nona Natasha!" sapa Kang Joon A, yang biasa dipanggil Joon oleh orang-orang terdekatnya.
"Halo, Pak Produser. Selamat atas karya barunya. Aku sangat menyukai karya-karya Pak Produser." Natasha menyambut uluran tangan Kang Joon A.
"Ah, tidak. Semua hasil karyaku tidak akan bagus jika tanpa peran kalian yang memainkannya."
Natasha tersenyum.
__ADS_1
"Ayo, masuk! Filmnya akan segera diputar. Semoga kau menyukainya, Nona Natasha," ajak Joon.
Cicind menyenggol lengan Natasha dan menggodanya.
"Sepertinya dia tertarik padamu, Sha," goda Cicind.
"Ish, kau! Kurasa otakmu itu travelling terlalu jauh, Cind. Dia hanya ingin menunjukkan karyanya padaku dan juga kita semua. Itu saja!"
"Nona Natasha!" sebuah suara berat kembali mengalihkan perhatian Natasha.
Natasha mengernyitkan dahi melihat pria tinggi dan tampan di depannya.
"Natasha, ini adalah Sean Connan!" Edwin memperkenalkan Sean pada Natasha.
Sean mengulurkan tangannya. Natasha masih bergeming menatap tangan Sean.
Cicind kembali menyenggol lengan Natasha dan memberi kode jika Natasha harus membalas uluran tangan Sean.
"Ah iya, maaf." Natasha segera mengulurkan tangannya.
"Nah, obrolannya kita lanjut lagi nanti. Kita akan ketinggalan nonton filmnya jika terus saling bertatapan begini." Cicind segera menarik lengan Natasha dan masuk ke teater bioskop.
......***......
Sementara itu di ruang laborat, Boy telah menyelesaikan pekerjaannya. Namun tiba-tiba tubuhnya sedikit limbung merasakan sakit di dadanya.
"Dokter Boy! Anda baik-baik saja?" tanya Aland, staf Boy di laborat.
"Saya baik-baik saja. Tolong antarkan saya ke mobil."
Aland mengangguk kemudian memapah tubuh Boy.
"Apa dokter tidak apa menyetir sendiri? Akan lebih baik jika dokter memanggil supir," usul Aland.
"Tidak perlu. Saya bisa menyetir sendiri." Boy masuk ke dalam mobilnya. Ia mulai menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas perlahan.
"Sebaiknya aku meminta Fajri untuk membuatkan mobil otomatis untukku. Rasanya aku terlalu lelah jika harus menyetir sendiri," gumam Boy.
Boy menghubungi kawannya di rumah sakit dan memintanya untuk melakukan pemeriksaan pada tubuhnya. Sungguh ia takut apa yang terjadi pada ayahnya terjadi juga padanya.
Tiba di rumah sakit, Boy disambut oleh duo kembar putra dari Maliq Ibrahim, teman Roy, Dion dan Rion. Dion meneruskan jejak ayahnya sebagai ahli bedah jantung sedang Rion lebih memilih menjadi dokter anak.
"Hai, kawan, apa kabarmu? Aku sangat terkejut saat kau menghubungiku tadi," sapa Dion.
"Apa tubuhmu mulai melemah, kawan?" tanya Rion dengan nada bercanda.
Boy hanya tersenyum kecut. "Dion, ada yang harus kubicarakan denganmu," ucap Boy.
"Baikah, kau tidak membutuhkanku. Aku akan kembali ke ruanganku," balas Rion kemudian berlalu.
"Bukan begitu, kawan. Aku hanya..."
"Sudahlah, biarkan saja dia. Ayo ikut denganku!" ajak Dion.
Boy hanya menatap kepergian Rion dengan penyesalan dihatinya.
......***......
...B E R S A M B U N G...
"Waaah, pemeriksaan apa yang dilakukan Boy?Apakah nasib Roy akan menurun pada Boy?"
Please leave Likes, Comments, and Support for me.
...Thank You...
__ADS_1