Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 70. Nasib Tragis Belinda


__ADS_3

Julian tersenyum puas setelah proses penanaman benih pada rahim Zara telah dilakukan. Masih perlu menunggu sekitar satu bulan apakah proses hari ini dinyatakan berhasil atau tidak.


"Bagus, Noel. Kurasa kau perlu mengembangkan bakatmu lebih dari ini. Kau adalah murid Kakek Gerald. Aku yakin ada hal lain yang bisa kau lakukan selain ini," ucap Julian.


"Terima kasih, Tuan. Saya akan lebih banyak belajar agar lebih bisa berinovasi dalam bidang ini."


"Anak yang dilahirkan Zara harus lebih genius dari anak yang dilahirkan oleh Putri Berlian."


"Pasti, Tuan. Kami akan terus melakukan penelitian tentang itu. Dan karena Nona Zara ada dalam pengawasan kami, maka saya jamin janin yang dikandung Nona Zara pastilah seorang anak genius."


"Bagus. Pertahankan kinerjamu jika kau masih ingin bekerja padaku." Julian menepuk bahu Noel kemudian berlalu.


Sepeninggal Julian, Noel masuk kedalam ruang rawat Zara. Ia menatap tubuh Zara yang tergolek lemah usai proses yang mirip dengan bayi tabung itu.


"Nona, maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk menolongmu. Aku merasa bersalah pada Profesor Gerald. Maaf karena harus jadi begini..." gumam Noel.


Noel membalikkan badan dan bersiap keluar. Namun tak diduga tangannya di cekal oleh Zara.


"Noel..." lirih Zara yang ternyata sudah sadarkan diri.


"Nona Zara?" Noel membulatkan mata melihat Zara terbangun.


"To..long a..ku.."


Noel menggeleng. "Maafkan aku, Nona. Aku tidak bisa menolongmu."


"Kumohon, Noel..."


"Sebaiknya Nona mengikuti kemauan Tuan Julian jika Nona ingin selamat. Hanya itu yang bisa kukatakan untuk saat ini. Saya permisi!"


Noel melepas tangan Zara dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Tubuh lemah Zara tak bisa melawan. Ia pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


Julian tersenyum puas selama perjalanan menuju kembali ke kantornya. Leon melirik kearah Julian yang sepertinya suasana hatinya sedang bagus.


"Beruntung suasana hati Tuan Julian sedang gembira. Aku harus bisa menemukan gadis itu sebelum Tuan Julian mengetahui kebenarannya." Batin Leon.


"Leon!"


"Iya, Tuan."


"Apa jadwalku setelah ini?"


"Tuan ada pertemuan dengan Grup JK. Pertemuannya akan diagendakan berlangsung sekitar dua jam."


"Hmm, lumayan lama juga ya!"


"Tuan sendiri tahu Grup JK adalah perusahaan yang sudah mendunia. Kita tidak sembarangan menyambut tamu, Tuan."


"Iya, iya, aku mengerti. Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"


"Eh?"


"Leon, kau tahu 'kan aku adalah mantan anggota FBI. Aku tahu jika ada seseorang yang sedang membohongiku. Jadi, sebelum aku marah sebaiknya kau katakan apa yang harus kau katakan!" ucap Julian tegas.


Leon menelan salivanya. "Baik, Tuan. Akan saya katakan!"


"Oke! Katakan setelah kita tiba di kantor. Jangan lagi menyembunyikan sesuatu dariku. Aku sangat pandai membaca orang, Leon!"

__ADS_1


Seringai Julian sangatlah menyeramkan di mata Leon. Julian yang ia kenal dulu benar-benar sudah berubah.


Setibanya di gedung Ar-Rayyan, Julian tak sabar untuk mendengar kejujuran Leon.


Leon yang sudah gemetar berusaha menenangkan diri.


"Jangan takut! Aku tidak akan memecatmu atau menyakitimu! Katakan saja!"


"Begini, Tuan. Umm ... gadis kloning itu berhasil melarikan diri." ucap Leon ragu.


Julian terdiam. Dia belum memberikan respon.


Hingga akhirnya...


"Temukan dia!" Ucap Julian datar.


"Eh?"


"Temukan lalu lenyapkan!"


Leon membulatkan mata mendengar perintah Julian.


"Laksanakan!" ulang Julian.


"Baik, Tuan."


"Dan ingat! Aku ingin saat kau kembali kau membawa kabar gembira untukku. Mengerti?"


"Saya mengerti, Tuan." Leon segera undur diri dari hadapan Julian.


Leon kembali menemui Noel dan memintanya untuk melacak keberadaan Belinda. Berkutat beberapa lama di depan layar datarnya, akhirnya Noel berhasil menemukan titik lokasi Belinda.


"Dia ada di sebuah rumah di pinggir kota," ucap Noel.


"Baiklah. Terima kasih, Tuan Noel. Kalau begitu aku akan segera kesana."


"Tunggu, Leon! Apa yang akan kau lakukan setelah menemukan gadis itu?" tanya Noel yang merasakan firasat buruk.


Leon tak menjawab dan langsung meninggalkan Noel yang harap-harap cemas.


"Ya Tuhan! Apa lagi ini? Bagaimana nasib gadis kloning itu? Tolong selamatkan dia, Tuhan!" harap Noel dengan memandangi Leon yang kian menjauh.


Satu jam kemudian, Leon dan anak buahnya tiba di sebuah rumah yang tampak asri dengan rimbunnya pepohonan dan tanaman hias. Leon mengecek lagi titik lokasi yang diberikan Noel.


"Benar ini adalah titiknya." gumam Leon.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya seorang pria bertubuh tinggi besar.


"Hmm, kau sudah siapkan alatnya?"


"Sudah, bos."


"Bagus! Masukkan benda itu kedalam rumah."


Orang itu langsung memeriksa kondisi rumah yang terlihat sepi.


Pucuk dicinta ulampun tiba, Leon melihat siluet Belinda dari dalam rumah.


Leon tersenyum puas. "Bagus sekali! Sepertinya tugas kita akan semakin mudah."

__ADS_1


Leon mengetuk pintu rumah itu. Tak ada jawaban dari dalam meski Leon tahu Belinda ada didalam.


Sementara itu di dalam rumah, Belinda panik karena ada yang mengetuk pintu dan ini bukanlah jam pulang kerja Mike.


"Siapa itu? Apa jangan-jangan itu adalah anak buah Tuan Julian?" Belinda menggeleng cepat.


"Tidak! Bagaimana ini?" Belinda mondar mandir didalam rumah.


"Aku harus bersembunyi."


Bunyi ketukan di luar rumah semakin keras. Belinda mulai takut. Firasatnya benar jika yang datang adalah anak buah Julian.


Belinda mendengar suara jendela yang berhasil dibuka. Kepulan asap keluar dari benda yang dilempar dari arah jendela ruang depan.


"Asap apa itu?" tanya Belinda yang mulai mencari cara untuk keluar dari sana.


Ternyata mereka tak hanya melempar satu benda tapi sekitar dua atau tiga benda.


Kepulan asap itu mulai terhirup oleh Belinda. Belinda mulai merasakan sesak saat bernafas.


"Apa ini?" Belinda berusaha untuk menahan nafas.


Namun karena terlalu banyak asap yang memenuhi ruangan, membuat Belinda tak mampu lagi menahan untuk tidak menghirup asap itu.


Belinda mulai terbatuk-batuk sambil berusaha berjalan meninggalkan rumah Mike. Namun tubuhnya tak kuat lagi untuk menahan rasa sesak yang membuatnya mulai kehilangan kesadaran.


"To...long..." suara Belinda tercekat. Tubuhnya mulai ambruk tersungkur di lantai.


Dari luar rumah, anak buah Leon memastikan jika Belinda sudah tak bernyawa.


"Apa kau yakin?" tanya Leon.


"Iya, bos. Aku sangat yakin. Asap itu mengandung racun yang sangat ampuh untuk membunuh dalam waktu kurang dari 15 menit." jawab pria besar itu.


"Baiklah. Kalau begitu, kita harus segera pergi dari sini." Leon segera menyuruh anak buahnya pergi dari sana.


Dalam perjalanan, Leon merasa puas telah berhasil melaksanakan perintah Julian. Namun entah kenapa ada rasa sesak dalam hatinya.


"Perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan sesak?" Leon memegangi dadanya.


"Apakah ini perasaan bersalah?" Leon memejamkan mata menepis semua perasaan itu.


"Tidak! Gadis itu hanyalah gadis kloning. Dia bukanlah manusia! Dia hanya manusia buatan." Leon segera meraih ponselnya dan menghubungi Julian.


"Halo, Tuan..."


"Ada apa, Leon? Kuharap kau membawa berita bagus untukku!"


"Iya, Tuan. Kami sudah berhasil melenyapkan gadis itu tanpa jejak."


"Kerja bagus, Leon! Kau akan mendapat bonus untuk pekerjaan kali ini!"


Panggilan berakhir. Mendengar kata 'bonus' entah kenapa tidak sesenang seperti biasanya.


"Kenapa aku malah tidak senang? Aarrgghh!!!" Leon mengacak rambutnya.


#bersambung...


"Bagaimana nasib Belinda? Akankah dia selamat atau malah tewas? Lalu apakah Leon dan Noel akan berbalik melawan Julian setelah merasakan penyesalan?"

__ADS_1


__ADS_2