
Boy keluar dari kamar Aurel usai melihat putri kecilnya telah terbuai dalam alam mimpi. Kembali ia bertemu dengan Lian, ibunya saat akan masuk ke dalam kamarnya.
"Bagaimana? Apa Aurel mengatakan sesuatu padamu?" tanya Lian.
"Iya, Ma. Dia melakukan kesalahan dengan membuat teman sekolahnya masuk rumah sakit," papar Boy.
"Ya Tuhan! Bagaimana bisa? Aurel adalah anak yang baik. Dia tidak akan melakukan kenakalan di sekolahnya."
Boy menghela napas. "Ma, Aurel bukan menjahili temannya. Kurasa temannya mengalami alergi usai makan camilan bersama Aurel. Besok kami akan menjenguknya dan meminta maaf pada keluarganya."
Lian bernapas lega. "Syukurlah. Mama pikir Aurel berkelahi dengan teman sekolahnya. Ya sudah, kau pasti lelah. Sekarang beristirahatlah! Istrimu belum pulang juga, kan? Sudah Mama duga jika dia mem--"
"Ma, sudahlah. Jangan membahas ini lagi. Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Natasha. Ya?"
Boy pun masuk ke dalam kamarnya.
"Semoga kau benar-benar bisa menyelesaikan masalahmu. Mama tidak ingin wanita itu terus bermain api seperti ini," gumam Lian kemudian ia pun berlalu.
Keesokan harinya, Boy sudah bersiap untuk berangkat ke kantor sementara Natasha baru saja terbangun dari tidurnya. Boy selalu memaklumi sikap Natasha karena ia tahu jika kegiatan istrinya sangatlah padat.
Boy bukannya lemah. Ia hanya tak ingin ada perdebatan diantara mereka yang akhirnya akan menyakiti Aurel, putrinya. Saat ini hanya Aurel saja prioritas utama Boy. Ia amat menyayangi bocah itu. Ia akan mendidik putrinya dengan benar agar menjadi orang yang berbeda dengan ibunya.
"Kau sudah bangun?" tanya Boy ketika Natasha turun dari tempat tidur.
"Iya. Kau sudah mau berangkat?"
"Iya, aku ada rapat pagi dengan para stafku."
"Kau membuatku terlihat seperti istri yang tidak berguna, Boy. Lalu ibumu akan berceramah panjang tentang menjadi istri yang baik, bla bla bla."
"Astaga, Nat! Kenapa kau berpikir seperti itu? Wajar jika mama menegurmu karena kau tidak pernah peduli pada Aurel. Aku tidak memintamu untuk peduli padaku, tapi perhatikanlah Aurel. Dia masih terlalu kecil untuk selalu kau abaikan!"
"Dan sekarang kau juga ikut menceramahi aku? Bagus sekali! Sekalian saja semua orang di rumah ini menghujatku!"
"Mama, Papa! Kalian sedang apa?" Tiba -tiba saja Aurel datang karena pintu kamar orang tuanya tidak terkunci.
"Sayang... Mama dan Papa tidak melakukan apapun. Sini Mama rapikan pakaianmu. Kau sudah bersiap untuk pergi ke sekolah?" Natasha menghampiri Aurel dan merapikan seragam sekolahnya.
"Iya, Ma," jawab Aurel datar seolah tak mengerti apa yang baru saja di dengarnya. Tentu saja anak-anak sebenarnya lebih peka terhadap permasalahan orang dewasa. Apalagi jika mendengar pertengkaran kedua orang tua yang tak kunjung ada jalan keluarnya.
"Bagaimana kalau hari ini Mama yang mengantarmu ke sekolah?" tawar Natasha.
"Benarkah?" Aurel berseru gembira.
"Tentu saja, sayang," balas Natasha dengan mengusap puncak kepala Aurel.
"Asyik! Bagaimana kalau Mama juga ikut menjenguk temanku yang sedang sakit di rumah sakit?"
"Eh?" Natasha melirik kearah Boy dan menunjukkan raut tak setuju dengan apa yang dilontarkan Aurel.
"Sayang, kau tahu kan jika Mama sangat sibuk. Biar kita berdua saja yang ke rumah sakit," sahut Boy membantu penolakan Natasha.
Natasha tersenyum kearah Aurel. "Mungkin lain kali Mama akan ikut denganmu. Ya?" bujuk Natasha agar Aurel menurut.
Aurel pun mengangguk tanda ia tak membantah lagi. Kemudian, Natasha bersiap untuk mengantar Aurel ke sekolah. Kali ini Natasha sengaja mengendarai mobilnya sendiri karena ingin berdua saja dengan putrinya.
Tiba di depan sekolah Aurel, Natasha mengantar putrinya hingga menuju kelasnya. Kembali Natasha merapikan penampilan Aurel agar terlihat sempurna. Mata Natasha tertuju pada benda berkilauan yang ada di leher Aurel.
__ADS_1
"Sayang, kau memakai kalung?" tanya Natasha.
"Iya, Ma. Ini pemberian dari Papa. Bagus kan?" Aurel menunjukkan liontin yang bertuliskan huruf A.
Raut wajah Natasha mulai berubah masam. Ia memperhatikan liontin itu dengan seksama.
"Tidak mungkin Boy membelikan barang murahan seperti ini. Lalu untuk apa Boy memakaikan kalung ini pada Aurel?" Natasha berpikir keras. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dengan Aurel.
"Aku sangat yakin jika kalung itu pasti milik gadis desa itu! Jadi mereka masih berhubungan, huh! Tidak akan kubiarkan!" Natasha berjalan cepat menuju mobilnya.
......***......
Jam pulang sekolah pun tiba. Seperti biasa Boy menjemput Aurel di depan kelasnya.
"Papa!" seru Aurel dengan gembira ketika melihat sosok Boy yang tak terlambat menjemputnya.
"Aku pikir Papa akan datang terlambat."
"Tentu saja tidak, sayang. Ayo! Kita beli sesuatu dulu untuk temanmu yang sedang sakit itu," ucap Boy yang mendapat sebuah anggukan dari Aurel.
Tiga puluh menit kemudian, Boy dan Aurel tiba di rumah sakit Avicenna. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Siapa nama temanmu?" tanya Boy.
"Namanya Andra."
Boy bertanya pada resepsionis rumah sakit. Namun pihak resepsionis kebingungan karena ada beberapa nama yang sama.
"Begini saja, sayang. Papa akan bertanya pada Paman Rion. Kau tunggulah disini. Jangan pergi kemana-mana. Mengerti?"
Aurel mengangguk kemudian duduk di sofa panjang ruang tunggu.
Sementara itu, Aleya yang tak sengaja melintas di ruang tunggu resepsionis melihat sosok anak kecil yang dikenalinya.
"Aurel? Kau Aurel, kan?" tanya Aleya.
"Bunda Andra!" Aurel berseru gembira.
"Apa yang kau lakukan disini? Dimana orang tuamu?" tanya Aleya sambil celingukan.
"Aku datang bersama Papa. Aku ingin menjenguk Andra."
"Benarkah? Lalu dimana Papamu? Kenapa malah meninggalkanmu sendirian disini?"
"Papa sedang menemui temannya untuk bertanya dimana kamar Andra. Tapi ternyata aku bertemu dengan Bunda Andra, jadi kami tidak perlu bertanya lagi."
Aleya tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Aurel. Aleya menangkap sesuatu yang ia kenali dipakai oleh Aurel.
"Kalung itu kan..." batin Aleya.
"Umm, apa Bunda boleh melihat kalungmu?" tanya Aleya dengan hati-hati.
"Boleh, Bunda. Sepertinya banyak orang yang menyukai kalung yang kupakai ini," celoteh Aurel percaya diri.
Aleya memperhatikan liontin yang memang sangat dikenalinya.
"Ini kan ... Kalung milikku! Bagaimana bisa Aurel memakainya?" batin Aleya mulai bertanya-tanya.
__ADS_1
"Aurel sayang, kalau boleh Bunda tahu, dari mana kau mendapat kalung ini?"
"Ini adalah hadiah dari Papaku. Bagus kan, Bunda?"
"Papa?" gumam Aleya dengan menerawang jauh.
"Jangan-jangan Papanya Aurel adalah..."
"Aurel! Paman Rion sedang tidak ada di ruangannya!" Suara yang tak asing membuat Aleya menoleh.
"Kak Boy?" gumam Aleya tertegun.
"Aleya?" Boy terkejut saat mendapati Aleya bersama putrinya.
"Papa, ini adalah Bunda Andra. Jadi kita tidak perlu bertanya pada paman Rion," celetuk Aurel yang membuat Boy makin mengerutkan kening.
"Ja-jadi, Aurel adalah anak Kak Boy?" tanya Aleya.
"Dan Andra adalah--"
"Ayo, Pa! Aku sudah ingin bertemu Andra. Ayo, Bunda! Kita ke kamar Andra." Aurel menarik tangan Aleya. Aleya hanya menurut dan berjalan menuju kamar rawat Andra.
Tiba di kamar rawat Andra, kedua sahabat itu langsung berceloteh ria. Sementara kedua orang dewasa yang menemani mereka hanya diam membisu. Kecanggungan terjadi diantara mereka.
"Aku pernah melihatmu menjemput putramu di sekolah Aurel. Tapi aku tidak tahu jika Aurel dan Andra adalah teman dekat," ujar Boy membuka percakapan.
"Aku juga tidak menyangka jika kakak adalah ayahnya Aurel."
"Jadi, kau sudah menikah?"
Aleya memilih tidak menjawab. Tidak ada gunanya juga menjelaskan semuanya pada Boy.
"Maaf atas kejadian tempo hari," lanjut Boy.
"Tidak perlu membahas masa lalu. Jadi, kakak memberikan kalung dariku kepada Aurel?"
"Eh?" Boy terkejut.
"Mungkin bagi kakak kalung itu tidak ada artinya. Tapi bagiku ... itu adalah benda berharga karena itu satu-satunya peninggalan mendiang ibuku." Mata Aleya mulai menghangat.
"Aku tidak bermaksud un--"
"Selamat siang, Andra!" Suara Rion memenuhi ruangan bernuansa putih itu. Ia tercengang mendapati Aleya sedang bersama dengan Boy.
"Paman Rion! Kemari!" Suara Andra membuyarkan lamunan Rion.
"Iya sayang, ada apa?" Rion menghampiri pasiennya.
"Kenalkan, ini adalah Aurel. Dia adalah temanku di sekolah," cerita Andra pada Rion.
Rion menarik sudut bibirnya.
"Aku dan Paman Rion sudah saling kenal, Andra. Paman Rion adalah teman Papaku. Papaku juga seorang dokter," timpal Aurel.
Rion tersenyum getir mendapati kenyataan ini. "Dunia ini benar-benar sempit," gumam Rion.
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1
*okeh, cukup untuk hari ini, ketemu lagi besok yak. Kira2 apa yang akan terjadi dengan mereka bertiga. Dan siapakah ayah kandung Andra? Sedikit demi sedikit teka teki akan mulai terbuka ya genks. Masih setia menunggu kan? 😬😬😬
...Terima kasih...