
Lian terbangun dan melihat Roy ada disampingnya. Semalam, setelah saling mengungkap rasa dan maaf, Lian dan Roy memutuskan bermalam di apartemen mereka. Malam yang hangat telah mereka lalui bersama. Lian amat bahagia karena Roy lebih memilih dirinya dari pada bersama Esther.
Beruntung hari ini adalah hari libur. Lian sudah mengabari orang tuanya jika ia menginap di rumah Amira. Sedikit kebohongan Lian rasa tidak apa.
Lian melihat Roy mulai menggeliat bangun.
"Selamat pagi, Mas..." sapa Lian.
"Pagi, sayang."
Wajah Roy masih terlihat tampan meski baru bangun dari tidur.
"Ada apa?" tanya Roy yang melihat Lian senyum-senyum sendiri.
"Tidak ada. Aku hanya suka melihatmu bangun tidur. Rasanya sudah lama sekali sejak kita terakhir tidur bersama."
"Benar. Banyak hal terjadi selama lima tahun ini."
"Umm, karena ini hari libur. Maka aku akan menghabiskan waktu disini bersamamu hingga sebelum jam makan siang," ucap Lian.
Roy tersenyum bahagia kemudian membawa Lian dalam dekapan.
"Terima kasih. Tapi kenapa hanya sampai jam makan siang?"
"Aku sudah bilang pada Ibu jika aku akan pulang sebelum jam makan siang. Maaf ya."
"Ya sudah, tidak apa. Setidaknya aku sudah bersama denganmu sekarang."
"Kalau begitu aku akan siapkan sarapan. Mas mandilah dulu."
"Iya."
Lian bangkit dari tempat tidur kemudian langsung menuju dapur.
Selesai memasak, Lian membersihkan diri kemudian menyantap sarapan bersama Roy.
"Mas..."
Lian rasa sudah saatnya Roy tahu yang sebenarnya tentang Esther. Semakin lama disembunyikan, akan semakin membuat Lian merasa sesak.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Roy yang sedang membaca koran tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.
"Soal apa?"
Lian mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Roy.
"Bacalah!" pinta Lian.
Roy menerima ponsel Lian. Ia membaca pesan dari Kenzo.
Roy mengernyitkan dahi setelah membaca pesan itu.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya.
"Beberapa hari lalu, aku masuk ke ruang kerja Noel dan mencari bukti disana. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan kedatangan adik Noel kemari. Lalu kuputuskan untuk meminta tolong pada Kenzo untuk menyelidiki Esther. Ternyata firasatku benar. Esther yang bekerja denganmu bukanlah Esther yang asli."
Roy mencoba mencerna semua penjelasan Lian.
"Awalnya kupikir aku akan menyembunyikan fakta ini darimu, tapi setelah melihat kedekatan kalian kemarin ... aku tidak bisa membiarkan ini. Aku tidak ingin kau jatuh ke pelukan wanita lain."
Roy tertawa kecil.
"Aku tidak akan jatuh ke pelukan wanita lain, sayang. Kau tahu aku hanya mencintaimu saja."
"Aku tahu. Tapi Esther juga wanita yang sangat cantik."
"Jadi, menurutmu Noel juga terlibat dalam hal ini?"
Lian mengangguk.
"Entah dia berperan sebagai apa, tapi ... kurasa dia tahu tentang identitas asli Esther."
Roy mengusap dagunya.
__ADS_1
"Aku minta kau menjaga jarak dengan Esther. Aku takut jika Esther memiliki motif yang tersembunyi," terka Lian.
"Baiklah. Aku juga akan menyelidiki soal ini."
Lian mengangguk. Kemudian melirik jam tangannya.
"Kenapa kau selalu melirik jam tanganmu jika sedang bersamaku?"
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya..."
"Iya, aku tahu. Kita harus menjalani ini untuk suatu tujuan kebahagiaan di masa depan."
Lian menyesal setelah mendengar Roy bicara begitu.
"Maafkan aku," ucap Lian.
Lian memeluk lengan Roy yang duduk disampingnya.
Roy meraih wajah Lian dan menghujani kecupan disana. Tak lupa ia meraih sesuatu yang kenyal dan manis menurutnya.
Setelah dirasa cukup, Roy melepas tautannya.
"Pergilah! Ingatlah jika aku selalu mencintaimu. Hanya mencintaimu..."
Lian mengangguk.
"Aku tidak akan meragukanmu lagi, Mas. Aku pergi."
Kesunyian kembali mengisi hati Roy. Jiwanya rapuh tanpa adanya Lian di sisinya.
*
*
*
Lian tiba di rumahnya dan mendapat tatapan tak menyenangkan dari ibunya. Lian menyadari kesalahannya. Ia menghampiri ayah dan ibunya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" cecar Lusi tanpa berbasa basi.
"Ah, ponselku mati. Maaf!" jawab Lian dengan merasa bersalah.
"Maaf, Bu. Aku tidak berpikir sampai kesana."
"Sudahlah. Jangan berdebat! Yang penting putri kita sudah kembali," lerai Lono.
"Sedari tadi pembantu di rumah Nak Julian menelepon. Dia bilang terjadi sesuatu dengan Nak Julian. Dia meminta tolong pada Ibu untuk menyampaikannya padamu. Tapi berkali-kali Ibu menghubungi ponselmu dan tidak tersambung." cerita Lusi dengan sedikit marah.
"Maaf. Kalau begitu aku akan ke rumah Kak Julian sekarang."
"Iya, lebih baik begitu. Ibu takut terjadi sesuatu dengan Nak Julian."
"Di rumah Nak Julian pasti banyak asisten yang membantu, putri kita tidak perlu harus kesana." cegah Lono.
"Apa kau lupa betapa baiknya Nak Julian pada keluarga kita? Pergilah! Temui Nak Julian!" perintah Lusi.
"Putri kita tidak perlu melakukannya. Lagipula dia baru saja datang, Lian pasti lelah." Lono masih tak setuju dengan pendapat istrinya.
"Ayah! Ibu! Tidak perlu berdebat. Aku akan ke rumah Kak Julian. Aku harus memastikan jika dia baik-baik saja."
"Ayah akan mengantarmu, Nak!"
"Tidak perlu, Ayah. Aku akan naik taksi saja. Aku pergi dulu!"
Lian kembali pamit dan memanggil taksi
.
.
Setibanya di rumah Julian, Lian segera mencari keberadaan Julian dengan menanyakan pada asisten di rumahnya.
"Dimana Kak Julian?"
"Tuan sedang ada di kolam ikan di taman belakang, Nona."
"Baiklah, aku akan segera kesana."
__ADS_1
"Nona, tunggu!"
"Ada apa, Bi?"
"Tolong bujuk Tuan Julian untuk memakan sarapannya. Sedari kemarin Tuan belum memakan apapun."
Lian menghela nafasnya. "Iya, Bi."
Lian menuju taman belakang dan melihat Julian masih dengan piyama tidurnya sedang memberi makan ikan di kolam.
"Kak Julian..." Sapa Lian.
"Kau datang?"
"Bibi Nur bilang Kakak belum memakan apapun sejak kemarin. Sekarang makanlah!"
"Kau datang kemari hanya untuk menyuruhku makan?" Julian menatap Lian.
"Aku mengkhawatirkan kakak."
"Benarkah?" Julian menautkan alisnya.
Lian memutar bola matanya malas.
"Ya Tuhan! Kakak dan adik sama saja!"
"Iya, aku mengkhawatirkan kakak. Sekarang makan ya!" Lian mengambil piring berisi makanan dan diserahkan pada Julian.
"Aku ingin makan masakan buatanmu."
"Eh?"
"Sudah lama sekali aku tidak memakan masakanmu. Benar 'kan?"
Lian mengalah.
"Baiklah. Aku akan memasak untuk kakak."
Lian segera menuju dapur. Ia mengambil bahan-bahan makanan dari dalam lemari es.
Dengan telaten Lian memotong sayuran dan bumbu yang akan ia masak.
Julian mendekat dan meraih rambut panjang Lian kemudian mengikatnya ke belakang agar tidak mengganggu saat memasak.
"Terima kasih, Kak," ucap Lian gugup.
Julian yang perhatian telah kembali. Sikapnya kini berbeda dengan beberapa tahun belakangan yang penuh dengan tatapan obsesi dan dendam.
Lian merasa risih diperhatikan oleh Julian dalam jarak sedekat ini.
"Kak, bisakah kau menunggu di meja makan saja? Aku..."
"Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman? Aku suka saat melihatmu memasak. Karena kau terlihat fokus saat sedang mengerjakan sesuatu. Aku menyukai itu, Berlian..."
Lian mengerjapkan matanya. Sungguh ia tak menyangka jika Julian akan mengatakan hal seperti itu.
Julian kini sudah berada di sebelah Lian. Ia masih memperhatikan wajah cantik alami Lian.
Lian melirik kesamping karena Julian terus menatapnya.
"Ada apa, Kak?"
Tatapan mata mereka beradu.
"Aku rapuh, Lian. Tolong jangan pergi..."
Lian melihat sorot mata yang telah lama tidak ia lihat. Sorot mata pria yang penuh dengan kesakitan dalam hidupnya.
Julian meraih pinggang Lian dan memeluknya. Ia menopangkan dagunya di ceruk leher Lian.
"Jangan pergi, Lian. Aku mohon!" ucapnya lirih.
Bibir Lian tak bisa berkata apapun. Julian melepas pelukannya.
Mata mereka kembali beradu dengan tangan Julian yang mengusap wajah Lian.
"Jiwaku rapuh tanpamu, Berlian..." ucapnya, kemudian makin mengikis jarak diantara mereka.
__ADS_1
...B E R S A M B U N G...
"Waduuuuhhh, Julian mau ngapaen itu??ππππ