Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 81. Kerinduan yang Terpendam


__ADS_3

Roy kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu bersama Lian. Ia merasa rumah besarnya terasa sunyi tanpa kehadiran anak dan istrinya, juga Donald.


Roy memandangi foto keluarga yang terpasang di ruang keluarga.


Sudah lima tahun ini Roy belum bertemu lagi dengan Helena. Ibunya selalu menolak saat Roy ingin menemuinya.


Roy sendiri. Namun ini harus ia jalani. Kebahagiaan yang abadi akan segera menghampiri. Yakinnya dalam hati.


Roy merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia memijat pelipisnya pelan. Tak lama, ia pun terlelap dan masuk ke alam mimpi. Ia bermimpi jika ia bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya.


*


*


Keesokan harinya di apartemen Noel, Esther terbangun dan melihat Noel berdiri di samping tempat tidurnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Noel.


Esther mengerjapkan mata. Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan hatinya.


"Oh ya, hari ini aku harus berangkat bekerja. Kemarin aku sudah seharian ada di rumah. Jadi sekarang aku harus kembali ke aktifitasku."


"Jadi ... kemarin kau seharian menemaniku?"


"Iya. Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan kondisi seperti itu. Aku sudah siapkan sarapan. Jangan lupa memakannya. Sarapan itu penting untuk kesehatanmu." Setelah itu Noel keluar dari kamar Esther dan pergi ke kantor.


Esther terdiam mematung di tepi tempat tidurnya. Hari ini rencananya ia akan datang ke rumah sakit Avicenna untuk pengenalan.


*


*


Lian merasa melupakan sesuatu. Harusnya hal ini ia lakukan kemarin ketika Noel tidak masuk bekerja. Entah kenapa firasatnya mengatakan jika Noel menyembunyikan sesuatu tentang Esther.


Lian mengendap-endap masuk ke ruangan Noel yang masih kosong. Ia mengacak meja kerja Noel dan mencari sesuatu.


Lian mengecek dokumen-dokumen yang ada disana.


"Harusnya kulakukan ini kemarin. Ah! Bodohnya aku!"


Ketika Lian sedang memeriksa satu berkas yang ia kira penting, terdengar suara Noel dari luar ruangan.


"Tidak! Bagaimana ini?" gumam Lian. Lian segera mengambil satu berkas kemudian mengambil gambar dengan ponselnya.


Lian segera bergegas keluar ruangan. Beruntung Noel dihadang oleh beberapa orang yang mengajaknya bicara. Lian bernafas lega karena ia berhasil menemukan setidaknya satu bukti.


*


*


Pukul enam sore, Roy pulang dari rumah sakit. Kini ia lebih leluasa karena sudah berkendara sendiri. Ketika melintas di depan gedung Avicenna Grup, ia menghentikan mobilnya. Ia menatap gedung yang sudah lima tahun ini tak ia datangi.


Entah dorongan dari mana, Roy turun dari mobilnya dan menuju kesana. Ia pandangi dari luar gedung tinggi itu. Hatinya sakit mengingat tentang gedung ini.


"Tuan Roy?" seorang satpam menghampiri Roy.


"Eh? Pak Suwandi? Bapak masih bekerja disini?"

__ADS_1


"Masih, Tuan. Sudah seusia saya mau kerja apa lagi. Tidak ada perusahaan yang mau menerima saya."


Roy tersenyum.


"Apa Tuan ingin masuk?"


"Eh?"


"Mari masuk, Tuan!"


Roy pun masuk mengikuti langkah Suwandi. Ia mengedarkan pandangan. Semuanya terasa masih sama.


"Apa Kak Julian sering datang kemari?"


"Tidak, Tuan. Tuan Julian tidak pernah datang kemari. Sejak diambil alih oleh Ar-Rayyan Grup, Tuan Julian lebih sering berada disana dan hanya mengontrol dari kepala bagian saja." jelas Suwandi.


"Apa ... saya boleh naik ke atas?"


"Tentu saja, Tuan. Gedung ini sudah sepi. Semua karyawan sudah pulang."


Roy mengangguk paham kemudian menekan tombol lift. Ia menuju ke ruang CEO. Lantai itu memang di khususkan untuk pimpinan saja.


Roy memasuki ruangan itu. Dingin dan sunyi. Ia menyalakan saklar lampu. Ia menuju ke meja kerja pimpinan. Beberapa foto masih terpajang rapi di meja.


Foto seorang ayah bersama dengan kedua putranya yang berusia 10 dan 7 tahun. Roy ingat kapan foto itu diambil.


.


.


Saat itu Roy dan Julian ikut dengan Dandy ke kantor bersama Helena.


"Iya, Mommy. Kami tidak akan nakal." jawab kedua bocah lelaki itu bersamaan.


"Sudahlah, Helena. Mereka tidak akan menggangguku. Ayo kalian kemari! Kita ambil foto bersama. Helen, tolong kau ambil gambar kami bertiga."


Dandy mengambil kamera andalannya. Ia memang hobi di bidang fotografi.


Dandy duduk di kursi kebesarannya, sementara Roy dan Julian berada di sisi kanan dan kirinya.


"Senyum!" ucap Helena.


"Hasilnya pasti bagus. Daddy akan memasangnya di meja Daddy."


"Kau yakin mereka tidak akan mengganggu?" Helena melirik jam tangannya. Ia akan menghadiri arisan bersama teman-temannya.


"Yakin! Bukankah perusahaan ini akan menjadi milik mereka nantinya. Mereka harus dikenalkan dengan dunia bisnis sejak dini." jawab Dandy.


.


.


Mata Roy berkaca-kaca mengingat semua momen kebersamaan mereka.


"Kak..."


Roy mengusap gambar Julian yang tersenyum ceria.

__ADS_1


"Kapan kita akan kembali seperti dulu? Aku sangat merindukan saat-saat kita bersama. Kenapa semuanya jadi begini?"


Buliran bening itu akhirnya lolos ke wajah tampan Roy. Dadanya begitu sesak. Ia menaruh kembali bingkai foto tersebut kemudian keluar dari ruangan itu.


*


*


Julian menyenderkan kepalanya di bantalan mobil sambil memijat pelipisnya pelan.


"Tuan, kita akan kemana lagi?" tanya Leon.


"Kita langsung pulang saja." jawab Julian sambil melihat jalanan.


Netranya tertuju pada sebuah tulisan besar diatas sebuah gedung.


"Avicenna Grup," gumam Julian.


Sejenak Julian memandangi gedung tinggi itu.


"Hentikan mobilnya!" perintah Julian.


"Ada apa, Tuan?"


"Kau pulanglah dulu! Aku ada urusan sebentar." Julian langsung keluar dan menyeberang jalan.


Leon hanya mengerutkan dahi kemudian melajukan mobilnya kembali.


Julian melangkah masuk kedalam gedung yang kini menjadi miliknya. Ia menaiki lift menuju ke ruang pimpinan.


Suwandi yang melihat Julian berlari tergesa hanya diam menatap Julian.


"Tadi Tuan Roy, sekarang Tuan Julian. Kalian itu punya ikatan yang sangat kuat, kenapa harus berselisih begini?" Gumam Suwandi dengan menggeleng pelan.


Julian masuk ke ruangan milik ayahnya. Ruangan berlapis kaca dan luas itu mengembalikan semua memori masa lalunya. Julian melangkah maju menuju ke meja kerja bertuliskan CEO.


Julian duduk di kursi kebesaran yang dulu di tempati ayahnya dan juga Roy. Ia menatap beberapa bingkai foto yang ada di meja.


Ada sebuah bingkai foto yang ternyata adalah foto Herlina. Julian cukup terkejut karena ternyata ayahnya masih menyimpan gambar ibunya.


"Mom..." Julian mengusap foto itu.


Kenangan demi kenangan yang terjadi di ruangan itu mulai menguar di benak Julian. Ia masih ingat jika dirinya sering datang ke kantor ayahnya bersama Roy.


Julian membawa bingkai foto ibunya dan duduk di sofa.


"Katakan apa yang harus kulakukan, Mom?" Julian mengusap wajahnya. Ia tak ingin menjadi lemah dan menangis.


"Kenapa semuanya jadi begini, Mom? Apa ini yang Mommy inginkan?" seru Julian bicara pada gambar ibunya.


"Katakan, Mom!!!" Julian mulai merasa sesak.


Hatinya yang dipenuhi dendam mulai luluh karena memori masa lalunya.


"AARRGGHH!!!" teriak Julian.


Julian beringsut merebahkan tubuhnya di sofa dengan memeluk foto mendiang ibunya.

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


"hedehhh, mewek lagi mewek lagi 😭😭😭😭"


__ADS_2