
Hari ini adalah hari minggu. Hari dimana keluarga biasanya menghabiskan waktu bersama-sama. Seperti yang akan dilakukan Roy pagi ini. Ia sudah siap dengan outfit casualnya karena memang ia akan mengajak Boy bertemu dengan kakeknya, Donald Avicenna.
"Sempurna!" seru Roy ketika memandang pantulan dirinya di cermin. Ia ingin membuat Belinda terpukau dengan penampilannya hari ini yang nampak berbeda dari biasanya.
Tak lupa ia menyemprotkan wewangian maskulin yang pasti dengan merk mahal yang bisa membuat hati para wanita bergetar karena mencium aromanya.
Roy keluar dari kamar apartemennya dan menuju ke lantai 17 dimana Belinda dan Boy tinggal. Ia menetralkan hatinya yang gugup karena akan bertemu Belinda. Sudah sekian lama sejak ia merasakan getaran itu kembali. Getar asmara yang membuat hati berbunga-bunga.
Roy menekan bel kamar apartemen Belinda. Tak butuh waktu lama sesosok wanita cantik dengan dress rumahan membukakan pintu untuk Roy.
Sejenak mata mereka beradu. Belinda memperhatikan penampilan Roy yang sungguh berbeda dari hari-hari biasa. Hari ini Roy memakai kaus polo berkerah warna putih dan celana jeans navy. Membuat hati Belinda mengagumi apa yang ada di depannya.
"Selamat pagi, Bels..." sapa Roy.
"Eh? Ah iya, selamat pagi Dokter Roy." Belinda merasa gugup dengan kedatangan Roy kali ini. Padahal ini bukan kali pertama Roy datang ke apartemennya.
"Silahkan duduk! Aku akan memanggilkan Boy di kamarnya." ucap Belinda.
"Terima kasih." balas Roy.
Belinda mengetuk pintu kamar Boy dan munculah bocah kecil tampan yang ternyata memakai pakaian senada dengan Roy.
"Apa kalian sudah merencanakan ini?" tanya Belinda ketika melihat Roy dan Boy yang nampak kompak.
"Tidak, Ma. Kami hanya ... memiliki ikatan batin yang kuat. Iya 'kan, Pa?" ucap Boy.
"Papa?" gumam Belinda. "Sejak kapan Boy memanggil Roy dengan sebutan Papa?" batin Belinda.
"Ma, kami pergi dulu ya!" pamit Boy.
"Bels, aku ijin bawa Boy dulu ya!" ucap Roy.
"Ah, iya. Nak, jangan nakal ya disana."
"Mama tenang saja. Boy adalah anak yang baik. Iya 'kan, Pa?"
"Iya sayang. Kau adalah anak yang baik."
Belinda melihat keakraban diantara ayah dan anak itu. Padahal mereka belum lama ini bertemu. Tapi kedekatan mereka memang tak bisa lagi dipungkiri.
"Apa kau tidak ingin memberi Boy keluarga yang utuh, Bels?" tanya Riana yang tiba-tiba datang menghampiri Belinda.
Belinda hanya bisa diam. Ia masih belum bisa menjawab semua pertanyaan itu. Sungguh ia ingin mencari keberadaan kedua orang tuanya lebih dulu.
"Maafkan Mama, Nak. Mama belum bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu." batin Belinda dengan wajah sedih.
......***......
Boy dan Roy tiba di tempat yang sudah disepakati bersama Donald. Mereka tidak mungkin bertemu di rumah keluarga Avicenna. Donald memilih villa pribadi miliknya yang tak banyak diketahui oleh orang-orang.
Donald langsung menyambut kedatangan Roy dan Boy dengan antusias. Setelah sekian lama akhirnya Donald bertemu dengan cucu pewarisnya kelak.
Donald meminta Boy untuk memeluknya. Boy melirik kearah Roy meminta persetujuan. Roy mengangguk sebagai tanda setuju.
"Kemarilah, Nak. Ini kakek buyutmu!" ucap Donald.
Boy memeluk Donald yang menyamakan tingginya dengan Boy.
"Kau sudah besar, Nak. Kau sangat mirip dengan ayahmu saat kecil. Dia memang anakmu, Roy." Donald memeluk Boy dan mengecupi pipi bocah enam tahun itu.
"Mari masuk, Tuan Donald, Tuan Roy." ucap Michael, asisten Donald.
__ADS_1
"Kakek mengajak Mike juga?" tanya Roy yang merasa khawatir jika keberadaan Boy diketahui banyak orang.
"Kau tidak perlu khawatir. Mike adalah orang kepercayaan kakek. Dia bisa menyimpan rahasia dengan baik."
Boy berlarian di villa yang cukup luas itu. Boy menemukan satu kotak besar yang ada di ruang tengah.
"Kakek buyut, apa ini?" tanya Boy.
Donald memberi kode pada Mike untuk membuka kotak besar itu.
"Itu adalah hadiah dari kakek buyut untukmu..." ucap Donald.
"Wah, banyak sekali mainannya. Terima kasih, Kakek buyut." Mata Boy berbinar bahagia.
Roy membiarkan Boy bermain bersama Mike. Sementara dirinya bicara berdua dengan sang kakek.
"Jadi, sejak kapan kau menemukan jejak gadis itu?" tanya Donald.
"Boy adalah pasien Zara, Kek."
"Eh?"
"Apa kakek tahu, jika Zara mengumpulkan anak-anak yang tergolong genius lalu mendapatkan pelatihan khusus darinya."
"Apa? Kakek tidak pernah mendengar hal seperti itu."
"Jadi... Zara membohongiku? Dia bilang dia sudah mendapat ijin dari kakek."
"Kakek tidak pernah mengijinkan hal-hal seperti itu. Lagipula, pelatihan macam apa yang akan dia lakukan? Kenapa kau tidak memberitahu kakek sejak awal?"
"Maaf, Kek. Kupikir kakek sudah lebih dulu mengetahuinya."
"Tidak. Kakek tidak mengetahui apapun."
Donald terdiam. Ia mengusap dagunya.
"Dimana gadis yang bernama Putri Berlian?"
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu tentangnya. Dia masih belum bisa menghadapi dunia luar, Kek. Selama ini Boy terdaftar sebagai anak asuh dari Kenzo dan Riana."
"Kenzo asisten Zara?"
"Iya, Kek. Apa kakek mengenalnya?"
"Iya."
"Apa Kakek yang memintanya untuk jadi asisten Zara?"
"Benar. Kakek curiga jika Zara ada dibalik menghilangnya Gerald."
Roy terdiam dengan mengepalkan tangan.
"Kau sudah banyak berubah, Zara. Aku tidak mengenalimu lagi." batin Roy.
"Jika benar Zara yang menyembunyikan Gerald, kita harus segera menemukannya, Roy. Kakek takut Zara berbuat nekat."
"Kakek tenang saja. Aku juga sedang mencari keberadaan kakek Gerald. Dan juga Kak Julian."
"Julian? Kakakmu?" Donald terkejut mendengar nama cucu sulungnya.
"Iya, Kek. Kak Julian ada di kota ini. Dia sudah kembali."
__ADS_1
Mata Donald menghangat. Ia sangat merindukan cucu sulungnya. Ia masih ingat bagaimana Julian memutuskan untuk pergi dari rumahnya sepuluh tahun lalu.
Roy mengusap punggung Donald. Ia tahu kakeknya sangat merindukan Julian. Kakeknya banyak merasa bersalah pada Julian.
"Dimana dia sekarang, Roy?"
"Dia tinggal di apartemen yang sama denganku. Dia juga ikut menjaga Boy dan ibunya."
"Julian..." Donald memegangi dadanya yang terasa sesak.
......***......
Malam harinya, Roy membawa Boy kembali ke apartemen Belinda. Karena kelelahan bermain, Boy tertidur dan kini Roy membawanya dalam gendongannya.
Belinda mengarahkan Roy untuk merebahkan tubuh Boy di tempat tidurnya. Roy mengecup puncak kepala Boy usai menyelimuti tubuh mungil itu.
"Maaf ya, jadi merepotkan Anda, Dokter Roy." ucap Belinda.
"Jangan sungkan, Bels. Bukankah anak-anak selalu begitu jika kelelahan bermain?"
"Duduklah dulu. Aku akan buatkan teh untuk Anda."
Belinda menyeduh teh untuk Roy.
"Silahkan diminum selagi hangat."
"Terima kasih." Roy segera menyeruput pelan teh hangat buatan Belinda. "Ini enak."
"Terima kasih," ucap Belinda.
"Bels, bisakah kita ... tidak terlalu formal dalam berbincang?"
"Eh?"
"Kita adalah orang tua Boy. Meski kita ... belum memiliki hubungan yang jelas. Kumohon kau mencoba untuk menerima semua ini."
Belinda terdiam kemudian mengangguk.
Usai menghabiskan tehnya, Roy berpamitan pada Belinda. Belinda mengantar Roy hingga ke depan pintu.
"Selamat malam, Berlian..."
"Eh?" Belinda tercengang Roy memanggil nama aslinya.
Melihat ekspresi Belinda yang menurutnya menggemaskan itu, Roy mengulurkan satu tangannya dan menarik tengkuk Belinda mendekat. Satu kecupan Roy daratkan di bibir Belinda.
Belinda yang tak siap dengan serangan Roy hanya bisa membulatkan mata merasakan bibir Roy menyentuh bibirnya untuk pertama kali.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
__ADS_1
...THANK YOU...