Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 166. Sebuah Drama


__ADS_3

Dion mengendarai mobilnya menuju rumah Zetta. Selama dalam perjalanan, baik Dion maupun Zetta hanya diam. Sementara Andra sudah tertidur di kursi belakang.


Setelah pertemuannya dengan Kenji, Zetta tidak ingin membahasnya bersama Dion. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun semua kata-kata masih tercekat dan lidahnya terasa kelu.


Sudah cukup ia mengubur dalam-dalam cerita masa lalunya. Memang sudah saatnya semua menjadi jelas dan selesai.


Tiba di rumahnya, Zetta segera turun dari mobil. Dion dengan telaten mengangkat tubuh Andra dan menggendongnya. Zetta membukakan pintu rumah untuk Dion.


Dion segera menuju kamar Andra. Dengan hati-hati ia merebahkan tubuh mungil itu. Sebelum pergi, Dion menatap Zetta lama. Dion tahu banyak hal yang ingin Zetta katakan padanya. Dion hanya bisa menunggu tanpa bisa memaksa.


Dion masih diam dan menunggu. Pria itu sudah siap mendapat amukan dari Zetta. Tindakannya memang terlalu gegabah. Namun itu lebih baik dari pada harus bersembunyi seumur hidup Zetta. Bagaimana pun juga Kenji berhak tahu jika dia memiliki seorang anak dari Zetta.


"Pergilah!"


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Zetta.


Dion menghela napas. "Kau yakin tidak ada lagi yang ingin kau katakan?"


Zetta memejamkan matanya. "Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya dengan mata memerah.


"Aku sudah bahagia hanya dengan hidup bersama Andra dan dirimu. Kenapa kau harus membawa dia kembali dalam hidupku?" Tangis Zetta kembali pecah.


"Maaf. Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku membawamu dalam posisi yang sulit. Tapi, Kenji berhak tahu tentang anaknya. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa memisahkan hubungan darah antara ayah dan anak."


"Tapi kau bisa membicarakan hal ini denganku dulu, Dion! Kenapa kau melakukan semuanya sendiri? Seolah-olah aku adalah orang yang bisa seenaknya kau permainkan," kesal Zetta.


"Aku tidak mempermainkanmu! Aku hanya ingin tahu apa setelah kau bertemu dengan Kenji, kau masih tetap memilihku?"


Zetta menggeleng. "Kau egois, Dion!"


"Maafkan aku. Kita bicarakan hal ini lain kali lagi. Kau pasti lelah. Istirahatlah!"


Dion mencium puncak kepala Zetta kemudian berlalu.


Aleya yang mendengar pertengkaran Zetta dan Dion hanya diam dan tak berkomentar. Ia tak ingin mencampuri urusan pribadi kakak sepupunya itu.


......***......


Hari itu, Aleya baru kembali dari kampus sekitar pukul lima sore. Tubuh lelahnya ingin segera ia rendam dengan air hangat agar kembali bugar.


Aleya turun dari mobil taksi online dan masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu. Tentu saja rumah Zetta sudah seperti rumahnya sendiri saat ini.


Aleya meregangkan otot-ototnya yang kaku.


"Ah, lelahnya," gumamnya.


"Aleya!" Sebuah suara membuat Aleya tersentak.


Aleya membulatkan mata melihat siapa sosok yang sedang duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ayah!" seru Aleya terkejut karena melihat ayahnya ada di rumah Zetta.


Aleya yang ingin datang memberi salam pada ayahnya segera urung karena melihat tatapan ayahnya yang tajam kepadanya.


"A-ayah? Kapan Ayah tiba disini?" tanya Aleya gugup. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres disini.


"Ayah baru saja tiba. Duduklah, Nak!" balas Kosih.


"Kenapa Ayah tidak menghubungiku dulu sebelum kemari?"


"Ayah hanya ingin memberikan kejutan untukmu dan Zetta. Tapi ternyata ... Ayahlah yang terkejut."


"Hah?!" Kata-kata Kosih membuat Aleya mengernyitkan dahi. Sepertinya ia mulai paham kemana arah pembicaraan ayahnya.


"Siapa anak itu? Apa benar itu adalah anak Zetta?" tanya Kosih dengan kilatan amarah namun dengan suara yang tetap tenang.


"Ayah..." Aleya tahu jika ayahnya pasti merasa kecewa dengan keponakannya itu.


"Cepat suruh kakakmu pulang!" perintah Kosih.


Aleya mengangguk kemudian meraih ponselnya.


......***......


Zetta tiba di rumahnya pukul enam petang. Ia yang sudah tahu tentang kedatangan Kosih ke rumahnya dari Aleya, segera bersimpuh di depan pamannya itu.


Zetta menangis tersedu meminta pengampunan dari pria yang sudah mengasuh dan merawatnya.


"Maafkan aku, Paman. Aku memang anak yang tidak berguna. Aku hanya bisa membuat Paman malu. Aku juga sudah melakukan dosa yang amat besar. Tolong maafkan aku, Paman..." Tubuh Zetta bergetar hebat menangis di hadapan Kosih.


Aleya tidak tega melihat kakaknya begitu merasa bersalah pada ayahnya.


"Katakan siapa ayah dari anakmu itu? Setidaknya kau harus menikah dengan pria itu. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya," ucap Kosih.


Tangis Zetta makin pilu. Sungguh ia tidak ingin mengingat tentang masa lalunya lagi.


"Saya yang akan menikahinya!"


Sebuah suara membuat semua orang tersentak kaget. Zetta yang sedari tadi menunduk kini menatap penuh tanya pada pria yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.


Kosih menatap pemuda yang ia kenali itu. Pemuda itu ikut bersimpuh di depan Kosih.


"Saya yang akan bertanggung jawab, Pak," tegas pemuda itu.


Zetta menatap tajam pada pemuda yang kini bersimpuh bersamanya.


"Saya mencintai Zetta. Dan saya menerima Zetta juga anaknya dengan tulus."


Kosih melihat ada kejujuran dan kesungguhan dalam setiap kata-kata yang terucap dari bibir pemuda itu.

__ADS_1


"Andra memang bukan darah daging saya. Tapi saya menyayangi dia seperti anak saya sendiri. Tolong restui cinta kami, Pak," ucap pemuda itu yang tak lain adalah Dion.


Kosih menghela napasnya.


"Baiklah. Jika Nak Dion memang mencintai keponakan saya dan mau menerimanya dengan hati lapang, maka saya juga akan menerima Nak Dion sebagai menantu di keluarga kami," balas Kosih.


Dion dan Zetta saling pandang. Ada sebuah kelegaan dalam hati Zetta ketika Dion memang memperjuangkan dirinya dan Andra bahkan di depan pamannya.


Seorang pria lain yang sebenarnya memiliki niat untuk menemui Zetta, akhirnya mengundurkan diri karena kini yang ia dengar hanyalah sebuah kekecewaan. Tidak akan ada kesempatan untuk dia mendekati Zetta meski sedikit.


Pria muda itu melajukan kembali mobilnya menuju ke sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Pria yang patah hati itu adalah Kenji. Kini ia harus merelakan Zetta untuk hidup bahagia bersama Dion, sahabatnya. Padahal ia mengira jika Zetta akan membuka hati untuknya setelah pertemuan beberapa waktu lalu.


Teguk demi teguk gelas berisi minuman memabukkan itu tandas oleh Kenji.


"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa memintaku kemari?" tanya Boy sambil menepuk pelan bahu Kenji.


Kenji masih belum bisa menjawab dan terus menenggak minumannya.


"Ken!" Boy mulai tersulit emosi.


Dengan sedikit mengatur napasnya, Kenji mulai menceritakan tentang hal yang dilihatnya tadi.


"Kalau begitu relakan saja Zetta bersama Dion. Selama ini kau terlalu asyik dengan duniamu sendiri," ucap Boy dengan menepuk bahu Kenji.


"Aku bahkan belum memulai, Boy," racau Kenji.


"Tapi mereka sudah memulainya beberapa tahun lalu, Ken. Kitalah yang terlambat. Sungguh sangat terlambat."


Wajah Boy berubah sendu. Ia sendiri juga mengingat kisahnya bersama Aleya yang sepertinya harus tertunda lagi. Boy merebut gelas yang ada di tangan Kenji dan meminumnya dalam sekali tenggak.


"Pelayan, berikan aku satu gelas martini," titah Boy.


Kini dua orang pria yang mengalami nasib sama dalam kisah cintanya sedang berbagi kesedihan.


...Kau tahu,...


...Kau akan merasa belum terlambat sebelum kau benar-benar mulai kehilangan...


...Maka jangan salahkan siapapun...


...Saat kau memang sudah jauh tertinggal di belakang...


...B E R S A M B U N G...


...HAPPY WEEKEND ALL...


*Nyesek pas bikin part ini ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ


Ah, kamu mah kayaknya nyesek mulu mak ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

__ADS_1


__ADS_2