Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 168. Kesan Pertama


__ADS_3

Tiga Tahun Kemudian,


"Pa, Ma, aku berangkat ke sekolah dulu ya," pamit seorang gadis cantik setelah meminum habis susu di dalam gelasnya.


"Iya, sayang. Apa kau ingin diantar supir?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Tidak, Ma. Aku akan naik bus umum saja. Apa Mama tahu? Bus umum kota ini adalah yang terbaik. Tidak kalah dengan kota-kota di luar negeri. Sekali-kali Mama harus mencobanya. Aku sudah terlambat. Aku pergi dulu."


Gadis itu mencium pipi kedua orang tuanya  bergantian.


Sepeninggal putri semata wayang mereka, kedua orang tua yang sudah berusia setengah abad lebih itu nampak mengulas senyumnya.


"Tidak terasa ya dia sudah besar. Usianya sudah 17 tahun dan sebentar lagi dia kuliah. Lalu setelah itu dia menemukan tambatan hati dan menikah," ucap sang istri.


"Jangan bicara begitu. Dia akan tetap menjadi putri kecil kita, Tika."


"Iya, Jul. Oh ya, apa kau tidak ada pekerjaan? Atau semuanya sudah kau serahkan pada Leon?"


"Tidak, aku harus tetap mengawasi semuanya. Aku harap Shelo mendapatkan jodoh yang bisa mewarisi perusahaanku nantinya."


"Ish, Shelo masih terlalu muda untuk menikah, Jul. Masa depannya masih panjang."


"Jika dia mendapatkan yang terbaik, kenapa tidak? Iya, kan?"


Kartika hanya menghela napas mendengar penuturan Julian.


...*...


...*...


...*...


Tiba di sekolahnya, Shelo mendapat panggilan dari Nathan.


"Halo, Kak..."


"Halo, adikku sayang. Apa kau sudah sampai di sekolah?"


"Hmm, iya."


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Kau tahu aku sangat sibuk di kantor."


"Iya, iya, aku tahu. Lagi pula menaiki bus umum lebih menyenangkan dibandingkan naik mobil mewahmu."


"Ish, kau! Sejak kapan adikku ini menjadi dewasa? Ah rasanya aku tidak rela."


"Kak, aku sudah 17 tahun dan aku bukan lagi adik kecilmu, oke? Sudah ya, aku harus masuk ke kelas dulu. Bye!"


Shelo mengakhiri panggilannya bersama Nathan.


Di seberang panggilan, Nathan menggeleng pelan mendapat jawaban yang cukup menohok dirinya. Dilihatnya foto Shelo saat dia masih berusia remaja dan kini gadis itu sudah beranjak dewasa.


"Tuan, Anda sudah ditunggu di ruang rapat," ucap David, asisten Nathan.


"Ah iya, apa perwakilan mereka sudah datang?"


"Sudah, Tuan."


"Baiklah, ayo! Siapkan semua berkas kerjasamanya."


"Baik, Tuan."


Nathan melangkah diikuti David dibelakangnya. Pria yang dulu masih terlihat lugu itu kini menjelma menjadi pria matang yang dikagumi banyak wanita. Meski dikenal dingin dan tidak banyak bicara, namun Nathan mampu menjadikan Avicenna Grup menjadi yang terdepan di kota ini dan mulai merambah ke mancanegara.


"Selamat pagi, terima kasih atas kedatangan Anda," sapa Nathan saat memasuki ruang rapat.

__ADS_1


Dilihatnya seorang wanita membelakanginya sambil melihat pemandangan gedung-gedung bertingkat yang sejajar dengan tempatnya berdiri.


Nathan tak mendapat jawaban dari wanita itu. Ia yang ingin kembali menegur namun ternyata wanita itu membalikkan badan dan bertemu pandang dengan Nathan.


"Kau!" Nathan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya, ini aku," jawab wanita itu.


"Kupikir perwakilan Dirgantara Corp bukanlah dirimu. Aku tidak menyangka kau ... mau melanjutkan perusahaan Paman Irfan."


Wanita itu memutar bola matanya malas. "Aku melanjutkan perusahaan ayah sambil melanjutkan kuliah bisnis di kampus Avicenna. Apa bibi Lian tidak cerita padamu?"


"Untuk apa mama bercerita tentangmu? Tidak penting!" Nathan menarik kursi lalu duduk diatasnya.


"Kau! Kau masih saja menyebalkan seperti dulu!" sungut gadis berambut panjang itu.


"Duduklah, Ivanna. Kita akan membahas soal kerjasama, bukan untuk berdebat."


Dengan sedikit kesal, Ivanna menarik kursi dan mendaratkan bokongnya disana.


"Ini kontrak kerjasama dari kami. Silakan kau baca dulu!" Nathan menyerahkan berkas yang dibawa oleh David.


Ivanna membaca berkas itu dengan seksama sambil manggut-manggut.


"Kau lumayan juga," gumam Ivanna.


"Apa katamu?!" Nathan mendengar gumaman Ivanna meski gadis itu berkata lirih.


"Kubilang kau lumayan juga!" seru Ivanna.


"Aku memang tidak sepandai dan sejenius kakakku. Tapi aku belajar dengan keras. Bukankah tidak ada hasil yang mengkhianati usaha?"


"Kau benar. Kalau begitu, selamat atas kerjasama yang akan terjalin." Ivanna mengulurkan tangannya.


......***......


Sepulang sekolah, Shelo berjalan menuju ke halte bus dekat sekolahnya. Sambil menunggu bus datang, Shelo terbiasa memasang headset untuk mendengarkan lagu kesukaannya. Sambil berdendang ria ia menikmati teriknya matahari kota yang mulai beranjak sore.


Ketika sedang asyik berdendang, tiba-tiba Shelo dikejutkan dengan suara dentuman keras yang sepertinya suara mobil menabrak. Shelo bangkit dari duduknya dan melihat sekeliling.


Dilihatnya sebuah mobil menabrak pembatas jalan dan sebuah sepeda motor terjatuh dengan seorang pria muda yang terlempar dari motornya. Shelo menghampiri si pengendara mobil yang ternyata didalamnya adalah pasangan suami istri paruh baya.


Shelo memanggil ambulans agar datang ke tempat kejadian. Shelo juga membantu si pengendara sepeda motor untuk bangun.


"Kau tidak apa-apa? Apa kakimu masih bisa berjalan?" tanya Shelo pada pemuda itu.


Pemuda itu tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala. Sejenak pemuda itu terhipnotis dengan kecantikan dan kebaikan hati Shelo.


Ketika ambulans datang, Shelo ikut mengantar para korban ke rumah sakit. Jika dilihat sekilas, pengendara mobil lah yang terluka cukup serius.


Tiba di rumah sakit, Shelo ikut membantu menjelaskan duduk perkaranya pada petugas medis. Beruntung tidak ada korban jiwa. Hanya si istri pengemudi mobil yang lukanya bisa dibilang serius dan memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.


Shelo menunggu di ruang tunggu hingga semua korban ditangani oleh para dokter.


"Terima kasih, Nak. Berkat kau, istriku bisa segera ditolong," ucap si suami.


"Tidak apa, Paman. Itu sudah menjadi tugasku untuk membantu sesama," balas Shelo.


Shelo menatap tajam pada pemuda pengendara sepeda motor.


"Kau! Aku yakin kau mengendarai motor besarmu itu dengan kecepatan tinggi. Apa kau tahu, kau bisa mencelakai orang lain. Lain kali bijaklah dalam berkendara. Memangnya jalanan itu milik nenek moyangmu apa?" sungut Shelo. Si pemuda itu hanya diam mendengar kata-kata Shelo. Apa yang dikatakan Shelo memang benar jika dirinya mengendarai motornya dengan ugal-ugalan tadi.


"Maaf..." ucap lirih pemuda itu.


"Minta maaflah pada Paman dan bibi itu! Kau hampir saja mencelakai mereka."

__ADS_1


"Sudah, Nak. Yang penting istriku selamat."


"Iya, Paman. Oh ya, bagaimana kondisi bibi? Apa aku boleh menjenguknya?" tanya Shelo.


"Bisa. Mari, Nak!"


Shelo mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu.


"Sayang, ini adalah orang yang sudah menolong kita," ucap sang suami.


"Oh, terima kasih banyak ya, Nak. Siapa namamu?"


"Namaku Shelo, Bi. Bagaimana keadaan Bibi?"


"Bibi sudah lebih baik," jawab Marinka.


"Ayah! Ibu!" Tiba-tiba sebuah suara memasuki ruangan itu.


"Dion?" ucap sang suami yang tak lain adalah Maliq.


"Kak Dion?" Shelo terkejut karena kedua orang yang ditolongnya adalah orang tua Dion.


"Eh? Kau Shelo, kan?" tanya Dion.


"Iya, Kak."


"Dialah yang sudah menolong kami," sahut Maliq.


"Ah, syukurlah. Terima kasih, Shelo." Dion bernapas lega. "Bagaimana kondisi ibu?" Dion mendekat ke brankar ibunya.


"Ibu baik-baik saja, Nak."


"Jadi, kau adalah putrinya Julian dan Kartika?" tanya Maliq.


"Iya, Paman."


"Wah, kau sudah besar rupanya. Terakhir melihatmu adalah saat hari pernikahan Dion dan Zetta. Sekarang kau sudah besar dan menjadi gadis yang cantik," timpal Marinka.


Shelo tersenyum canggung dengan pujian Marinka.


"Apa kau sudah menghubungi keluargamu? Bukankah kau harusnya pulang ke rumah?"


"Heh?! Ya ampun, aku lupa, Paman. Sebentar ya!" Shelo menepuk kepalanya pelan dan meraih ponselnya untuk menghubungi ibunya.


Maliq dan Marinka saling melempar pandang. Sepertinya ada sesuatu yang akan mereka rencanakan.


"Aku akan hubungi Zetta dulu untuk datang kemari," ucap Dion.


"Tidak perlu, Nak. Sudah ada ayahmu yang menemani ibu. Kasihan istrimu sedang hamil besar," tolak Marinka.


"Tidak apa, Bu. Ayah juga mengalami luka. Ayah harus istirahat di rumah. Oh ya, tadi petugas polisi bilang sudah mengevakuasi mobil ayah."


Maliq hanya menganggukkan kepala menyahuti kalimat Dion.


...B E R S A M B U N G...


*masih ingat sama Ivanna gak? Itu lho, yg ada di novel sebelah "Anak Sultan Milik CEO" karya dek Bucin.


Kira2 ada kisah apa antara Nathan dan Ivanna?


Lalu bagaimana dengan Boy dan Aleya? Kemanakah mereka?


"Mereka ada kok, tenang saja. Tapi untuk sementara mereka di simpan dulu, hehehe."


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘

__ADS_1


__ADS_2