Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 75. Pada Akhirnya


__ADS_3

Roy sangat antusias dengan kehamilan Lian kali ini. Ia ingin menebus kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu. Kini ia jadi suami siaga untuk Lian. Kemanapun Lian pergi, Roy selalu mengikutinya.


Seperti hari ini, rencananya Lian akan memeriksakan kandungannya. Karena ini masih awal kehamilan, makanya masih terlalu rentan untuk mengalami resiko keguguran.


Sikap Roy yang terlihat berlebihan membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri. Kebahagiaan terpancar dari wajah Roy yang terus mengelus perut Lian yang masih rata.


"Wah, Dokter Roy benar-benar suami siaga ya! Dia selalu menemani istrinya dan malah meninggalkan pekerjaannya." goda Maliq saat bertemu Roy dan Lian di rumah sakit.


Lian tersipu malu namun tidak dengan Roy.


"Dengar, kawan. Kau harus menikah untuk mengetahui betapa menyenangkannya menemani istri yang sedang hamil."


Maliq menggelengkan kepala. "Umm, baiklah. Kutanya satu hal padamu. Apa Lian mengalami nyidam?"


"Nyidam? Umm, kurasa keinginannya tidak terlalu berat. Tapi kau tahu, anakku itu hanya bisa makan jika aku yang memasaknya. Sekarang aku juga harus belajar memasak."


"Benarkah itu? Wah, kau sangat hebat, Roy!"


Lian mengangguki pertanyaan Maliq.


"Iya, dia adalah ayah yang hebat. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku hanya bisa memakan makanan yang dimasak oleh Mas Roy. Jika bukan Mas Roy yang membuatnya, aku langsung mual dan memuntahkannya." cerita Lian.


"Selamat ya! Kudoakan kalian selalu bahagia."


"Terima kasih, Maliq." Roy memeluk sahabatnya itu.


*


*


*


Di tempat berbeda, seorang wanita paruh baya sedang menyiapkan makan malam di rumah yang jauh dari hingar bingar kota. Sebuah ketukan di pintu rumahnya membuat wanita itu segera bergegas ke arah ruang depan.


Wanita itu menyambut kedatangan seorang pria muda dengan senyum sumringah.


"Tuan sudah datang! Silakan masuk!" ucap wanita itu.


"Bagaimana kondisinya? Apa dia sudah bersedia bicara?"


"Dia baik-baik saja. Tapi dia masih terus mengurung diri."


"Boleh aku melihatnya?"


"Silakan, Tuan."


Pria muda itu mengetuk pintu kamar kemudian membukanya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucapnya.


Sontak seseorang yang berada di kamar itu menoleh ke arah sumber suara.


"Noel?"


"Iya, Zara. Ini aku, Noel." Pria muda yang tak lain adalah Noel tersenyum pada Zara.


"Jadi, kau yang sudah menolongku?"


"Bukan menolong, lebih tepatnya mengamankanmu."


Zara memalingkan wajahnya. "Apa kau akan membawaku kembali ke tempat itu?"


"Tidak jika kau tidak menginginkannya."


"Bagaimana bisa kau...?"

__ADS_1


"Hmm, aku melakukan ini tanpa sepengetahuan Tuan Julian. Aku tahu jika kau pasti akan kabur. Makanya aku sudah menyiapkan semuanya dan meminta orang-orangku untuk mengawasimu."


"Aku masih tidak mengerti." Zara mengernyitkan dahi.


"Saat kecelakaan itu terjadi, sebenarnya mobil yang kau tumpangi tidak jatuh ke jurang. Mobil itu hanya menabrak pembatas jalan. Lalu di saat kau tak sadarkan diri, anak buahku menyelamatkanmu dari dalam mobil. Mobil itu kembali di dorong dan masuk ke dalam jurang."


"Kenapa kau melakukan ini?"


"Kau sedang mengandung, Zara."


"Hah?! Tidak! Aku tidak menginginkan anak ini!"


"Julian berasumsi jika kau sudah meninggal."


"Maka dari itu aku tidak perlu mempertahankan anak ini!" tegas Zara.


"Aku yang akan bertanggung jawab."


"Apa?"


"Aku bersedia menjadi ayah untuk anakmu. Aku merasa bersalah karena sudah melakukan ini padamu. Jadi, jangan kau gugurkan anak itu. Kumohon!"


Zara berpikir sejenak.


"Kau bisa kembali ke kehidupan lamamu setelah kau melahirkan. Biarkan janin itu tumbuh, Zara. Aku akan mengurus segalanya."


Zara menatap Noel. Ia tahu ada kesungguhan dalam tatapan Noel.


......***......


Delapan bulan kemudian,


Julian sedang menatap nanar gedung-gedung tinggi yang sejajar dengan gedung miliknya. Tatapannya seakan kosong tak memiliki kehidupan.


Sudah berbulan-bulan Julian mencari keberadaan Zara namun masih tak menemukan titik terang. Meski pihak berwajib sudah menyatakan jika Zara telah meninggal dunia, tapi Julian masih tak percaya dengan itu semua karena jasadnya belum ditemukan. Ia yakin jika Zara masih hidup dengan mengandung benih miliknya.


"Iya, Tuan!"


"Apa masih belum ada kabar dari pencarian Zara?"


"Belum, Tuan."


"Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menyerah? Apa ini adalah karma untukku? Bahkan di saat aku hanya menginginkan seorang anak, Tuhan juga tidak mengabulkannya. Dosa macam apa ini?"


Sungguh Leon ingin membantu tuannya agar terbebas dari jerat ini. "Mungkin sudah saatnya Tuan merelakan segalanya."


"Merelakan segalanya?" Julian berpikir sejenak sambil memejamkan matanya.


"Baiklah. Aku akan mulai melepaskan segalanya..."


*


*


*


Zara sedang berdendang ria sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. Ia mulai bisa menerima kehadiran si buah hati yang tumbuh dalam rahimnya.


"Nona sepertinya sangat bahagia." ucap Laras, wanita paruh baya yang di bayar Noel untuk menjaga Zara.


Laras tinggal di sebuah desa yang cukup jauh dari kota. Noel hanya sebulan sekali datang menjenguk Zara. Pria itu sudah lama memendam rasa terhadap Zara namun tak pernah diungkapkannya.


"Iya, Bu. Dia mulai rajin menendang. Kurasa dia adalah anak laki-laki." jawab Zara sumringah.


"Kenapa Nona tidak bertanya saja pada dokter tentang jenis kelaminnya?"

__ADS_1


"Tidak, Bu. Itu tidak lagi menjadi kejutan."


"Benar juga ya. Biarkan dia menjadi kejutan untuk mama dan papanya nanti." ucap Laras yang membuat Zara terdiam.


Zara hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah. Ia duduk di tepi ranjang sederhana miliknya.


Meski awalnya ia tak menginginkan bayi dalam kandungannya, tapi setelah berbulan-bulan janin itu tumbuh, membuat Zara mulai menyayanginya.


"Apa yang harus kulakukan?" gumam Zara sambil memejamkan mata.


Keesokan harinya, Zara terbangun dari tidurnya dan merasakan ada yang aneh dalam dirinya.


"Sejak semalam kenapa dia tidak bergerak? Biasanya dia sangat rajin menendang."


Zara bergegas menemui Laras.


"Ibu! Ibu!" panggil Zara.


"Ada apa, Nona?"


"Bu, kenapa bayiku sejak semalam tidak bergerak sama sekali?"


"Heh? Apa? Kok bisa?" Laras memegangi perut besar Zara dan sedikit menekannya.


Laras mengernyit bingung.


"Kenapa, Bu?" tanya Zara panik.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" putus Laras.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, Zara terus menangis. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan bayinya.


Laras menghubungi Noel dan memintanya untuk segera datang. Laras berusaha menenangkan Zara yang terus menerus menangis.


"Nona, tenanglah! Ibu yakin bayi Nona baik-baik saja." ucap Laras berkali-kali.


Tiba di rumah sakit, Zara segera di larikan ke poli dokter kandungan. Rumah sakit di wilayah itu hanya satu dan milik pemerintah daerah.


Laras meminta dokter segera memeriksa kondisi Zara.


"Cepat, Dokter!" pinta Laras.


Zara tak bisa berkata apapun dan hanya menangis.


Dokter memandang Laras dengan menggeleng pelan.


"Ada apa, Dok?" tanya Laras.


"Mohon maaf, Ibu. Bayi yang ada di kandungan Nona Zara sudah meninggal."


Zara sangat syok dengan penuturan dokter itu. Ia berteriak tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Noel memutuskan untuk memakai jet pribadi agar lebih cepat tiba di tempat Zara. Ia tiba di rumah sakit dan bertemu dengan Laras.


Noel juga amat syok mengetahui jika janin Zara telah meninggal dalam kandungan. Ia segera menemui Zara yang masih terus berontak.


Noel tak tega melihat kondisi Zara. Ia segera memeluk erat Zara dan menenangkannya.


Di sisi lain, Lian dan Roy sudah tak sabar menanti kelahiran si jabang bayi. Mereka sudah bersiap di rumah sakit Avicenna karena Lian akan melahirkan hari ini.


Beberapa awak media datang meliput dan mewawancarai Roy.


"Mohon doanya untuk istri saya. Semoga proses kelahirannya lancar." ucap Roy.


"Jenis kelaminnya apa, Dokter Roy?"

__ADS_1


"Menurut dokter bayinya laki-laki. Tapi, apapun nanti yang terpenting bayinya lahir dalam keadaan sehat. Itu saja yang saya harapkan." tutup Roy dengan diiringi senyum.


#bersambung. . .


__ADS_2