Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 137. Lembar Hidup Baru


__ADS_3

...Apa kau pernah dengar pepatah, jika cinta tidak harus memiliki?...


...Mungkin itulah yang aku alami saat ini...


...Saat melihatnya saja sudah membuatku bahagia, apalagi saat melihat senyumnya...


...semua itu sudah cukup bagiku...


...Terdengar aneh dan gila, tapi itulah kenyataannya...


Sudah setahun ini dokter muda ini tinggal di Desa Selimut. Ia meninggalkan hingar bingar kota dan kemewahan yang selama ini didapatnya. Hanya demi seorang gadis yang telah menancap dihatinya sejak pertama kali bertemu. Tidak pernah ia sangka jika dirinya akan mengambil keputusan sebesar ini.


Mencintai seseorang dalam diam dan bertahun-tahun. Meski ia tahu rasa yang ditanamnya tidak akan mendapat balas. Namun bukan itu yang ia harap.


Ketulusan seseorang tidak harus mendapat balasan, bukan? Mungkin itulah yang ada di benak Rion Ibrahim selama hampir lima tahun ini.


Saat tak ada pasien di rumah sakit, Rion memilih ikut bertani dan berkebun bersama dengan warga desa. Awalnya, ia mengira tidak akan pernah di terima sebagai warga baru di desa. Namun ternyata mereka menyambut baik niat Rion yang ingin memajukan desa itu.


"Wah, Nak Rion. Kau semakin pandai menanam padi. Bagus!" puji Kosih.


"Jika harus melakukannya secara manual kurasa aku tidak akan mampu, Pak. Beruntung Fajri memberikan banyak mesin yang berguna ini. Ah, aku jadi merindukan dia dan teman-temanku," balas Rion dengan menyeka keringatnya.


"Jika Nak Rion rindu dengan keluarga, maka pulanglah. Sudah lama Nak Rion tidak kembali ke kota. Memangnya tidak rindu dengan teknologi canggih yang ada di kota?"


"Entahlah, Pak. Aku sudah tidak memikirkan teknologi lagi. Berteman dengan alam rasanya lebih menyenangkan."


Ketika sedang berbincang dengan Kosih di sawah, seorang pria berjas rapi menghampiri mereka berdua diantar oleh seorang warga desa.


Pria berjas hitam itu terlihat kaget saat melihat Rion keluar dari area sawah dengan bermandikan lumpur dan keringat.


"Ricko?" Rion mengenali orang itu. Pria itu adalah anak buah kakaknya, Dion.


"Tuan Rion!" Ricko memberi hormat.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rion dengan membersihkan kaki dan tangannya yang terkena lumpur di air mengalir dekat sawah.


Ricko tak percaya jika adik tuannya ini berubah 180 derajat dari yang pernah ia kenal.


"Saya mendapat pesan dari Tuan Dion dan juga Tuan Maliq."


"Hm?" Rion mengerutkan kening.


"Tuan Maliq meminta Tuan Rion kembali ke rumah sakit Avicenna. Beliau bilang jika disana membutuhkan tenaga dokter anak. Ini suratnya!" Ricko menyerahkan sebuah amplop pada Rion.


"Kembalilah, Nak. Disana ada yang lebih membutuhkanmu." Kosih menepuk pelan bahu Rion.


Rion menerawang jauh. Semua hal yang pernah ia alami disini terasa sangat membekas dihatinya. Sungguh ia tak rela jika harus meninggalkan semua kehangatan ini.


......***......


Malam itu, Rion termenung di dalam pondok. Sendiri dam memandangi surat yang dikirimkan oleh ayahnya. Ia memijat pelipisnya pelan.


"Kak Rion!" panggil Aleya yang juga baru datang ke pondok.


Gadis cantik itu sudah terlihat lebih dewasa dari pertama kali Rion bertemu dengannya.


"Aleya! Ikutlah denganku!" ucap Rion tanpa berbasa basi.


"Eh? Ikut? Ikut kemana maksud kakak?"


"Ini..." Rion menyerahkan surat tugas untuknya pada Aleya.


"Rumah sakit Avicenna? Itu kan..."


"Iya. Aku harus kembali ke kota. Dan aku ingin ... kau juga ikut denganku."

__ADS_1


Aleya terdiam.


"Bukankah kau harus mengambil studi lagi setelah ini? Apa yang akan kau pilih?"


Aleya menundukkan wajahnya kemudian menggeleng.


"Entahlah, Kak. Aku masih belum tahu akan mengambil apa."


"Kalau begitu sambil berpikir kau bisa ikut denganku. Mungkin setelah disana kau akan menemukan tujuanmu."


"Kenapa kakak ingin aku ikut?"


"Aku sudah bicara dengan ayahmu. Dia mengizinkanmu untuk keluar dari desa ini."


"Apa?! Kenapa kakak lancang sekali bicara dengan ayah?" Aleya mulai marah.


"Karena dia tahu apa kau inginkan tidak ada disini. Bahkan setelah aku ada disini pun, kau tidak pernah melihatku, Aleya."


"Kakak... Tolong jangan bicara seperti itu!"


"Aku hanya ingin kau bisa menggapai impianmu. Tolong pikirkanlah! Jika memang kau tidak bersedia, maka ... aku akan pergi sendiri," tutup Rion kemudian pergi meninggalkan Aleya yang masih mematung.


......***......


Keesokan harinya, Rion sudah mengemas barang-barangnya dan akan pergi meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan. Ia berpamitan pada penduduk desa yang terlihat sedih karena kehilangan sosok Rion.


"Tenang saja! Saya akan sering berkunjung kesini. Disini adalah rumah kedua saya," ucap Rion.


"Jangan lupa undang kami saat menikah nanti." celetuk seorang warga desa.


Rion hanya menggaruk tengkuknya.


"Iya, Pak. Semoga saja di mudahkan. Kalau begitu saya permisi."


"Aleya?" Rion mengernyit heran.


"Aku ... aku ... mau ikut dengan kakak!"


Sebuah senyum terbit di wajah tampan Rion. Begitu juga dengan Kosih dan para warga desa.


"Kau serius?"


Aleya mengangguk mantap. Kemudian ia menghampiri ayahnya.


"Ayah! Aleya tidak akan mengecewakan ayah dan warga Desa Selimut. Aku akan belajar dengan giat agar saat pulang nanti aku menjadi dokter yang hebat!"


"Iya, Nak. Kau jangan khawatirkan ayah. Disini ayah bersama dengan warga desa yang akan menemani ayah."


"Ayah!" Aleya memeluk Kosih dengan erat. Ini adalah pertama kalinya Aleya pergi jauh dari desa.


"Pergilah, Nak! Nak Rion sudah menunggu."


Aleya mengangguk.


"Setelah ini saya akan kirimkan ponsel untuk bapak. Jadi bapak bisa menghubungi Aleya," ucap Rion.


"Terima kasih, Nak Rion. Kau memang pria yang baik." Kosih menepuk pelan bahu Rion. Dalam hatinya ia berharap jika putrinya bisa menerima Rion sebagai pendamping hidupnya.


......***......


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan juga waktu yang cukup lama, akhirnya Rion dan Aleya tiba di kota. Mereka harus melanjutkan perjalanan menggunakan mobil pribadi menuju apartemen yang Rion siapkan untuk Aleya.


Aleya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota dibuat kagum dengan banyaknya gedung bertingkat dan jalanan yang penuh padat dengan kendaraan.


"Wah, kota benar-benar menakjubkan ya! Bagaimana caranya mereka membangun bangunan setinggi itu, Kak?"

__ADS_1


Rion tertawa. "Kau tanya saja pada Rana dan Fajri. Kau pasti merindukan mereka kan?"


"Iya. Aku ingin bertemu dengan mereka." Aleya tersenyum bahagia. Tak ada raut lelah dari wajahnya meski telah melakukan perjalanan jauh.


Namun tiba-tiba Aleya meminta Rion untuk menepikan mobil.


"Ada apa, Aleya?"


"Umm, Kak. Kurasa aku tidak bisa tinggal di apartemen milik kakak. Aku akan tinggal di tempat Kak Arzetta saja," ucap Aleya.


"Hah?! Arzetta? Siapa dia?"


"Dia adalah kakak sepupuku. Dia sudah lama tinggal di kota."


"Sepertinya aku tidak asing dengan namanya. Arzetta?" Rion nampak berpikir.


"Dia adalah perancang acara pernikahan Kak Boy..." Aleya mengucapkannya dengan ragu.


"Ah iya! Zeze! Dia adalah perancang acara terbaik di kota ini. Jadi, dia adalah kakakmu?"


Aleya mengangguk. "Saat pernikahan Kak Boy, Kak Zetta menyerahkan kartu namanya padaku. Ini!"


"Disini tidak tertera alamat rumahnya. Jadi, kau akan pergi ke kantornya saja?"


"Iya, antarkan aku kesana saja. Lagi pula kakak sudah ditunggu oleh keluarga kakak."


Rion menghela napas. "Baiklah. Aku akan mengantarmu kesana."


Sebenarnya Rion masih ingin bersama dengan Aleya, tapi sedari tadi ponselnya terus berdering. Sebuah panggilan masuk dari ibunya.


Tak lama, mereka tiba di sebuah gedung perkantoran. Mereka berhenti tepat di depan Zeze Event Organizer milik Arzetta.


Aleya turun dari mobil dan berterimakasih pada Rion. Aleya melambaikan tangan ketika mobil Rion mulai berjalan menjauh.


Aleya berdiri di depan bangunan berlantai 3 itu dengan tatapan kagum.


"Aku tidak menyangka jika Kak Zetta bisa sesukses ini di kota," gumam Aleya.


Aleya menyeret tas besarnya masuk kedalam bangunan itu.


...Mulai hari ini aku akan membuka lembaran hidupku yang baru disini...


...Di sebuah kota yang ramai akan hingar bingar kendaraan bermotor...


...Entah seperti apa takdir yang akan kujalani...


...Tapi yang jelas, aku hanya tahu satu hal...


...Aku tak akan lagi berharap apapun padamu...


...Aku hanya akan menapaki impianku saja...


...Tak ada dirimu disana...


...dan hanya ada aku...


...B E R S A M B U N G...


"hai, hari selasa menyapa...


End of month, tetap semangat ya genks.


semangatin mamak juga dengan selalu mendukung karya mamak


...terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2