
Julian sengaja mengundang Noel dan Esther untuk makan siang bersama. Sudah setahun lalu, Julian menemukan jejak Zara yang diduga telah meninggal dunia.
Zara telah mengubah jati diri dan identitasnya menjadi orang lain. Dan itu semua adalah berkat Noel.
Julian masih bisa menahan diri karena dia membutuhkan Noel dalam proyek-proyek perusahaannya. Tapi ia tidak akan tinggal diam jika Zara melakukan hal yang membuatnya murka.
Julian mengambil segelas air putih dan meneguknya. Ia menatap Esther yang sedang berbincang dengan Noel.
"Dasar ja'lang! Berani sekali kau ingin menipuku! Kita lihat saja, apa kau masih akan terus menyamar atau kau akan menyerah?!" Batin Julian dengan seringai mengerikan di wajahnya.
Seorang pelayan mengantarkan makanan yang sebelumnya sudah dipesan lebih dulu oleh Julian.
"Silakan dinikmati!" ucap Julian.
"Terima kasih, Tuan." jawab Noel.
Esther hanya memperhatikan Julian dari ekor matanya.
"Sebenarnya apa maksud Julian mengundangku makan siang? Aku yakin dia punya motif tersembunyi." batin Esther.
Perbincangan ringan pun terjadi selama makan siang mereka. Julian antusias dengan cerita Esther selama menjadi dokter forensik untuk ISS.
Hingga akhirnya obrolan mereka harus terjeda karena Esther pamit ke kamar kecil. Julian terus memperhatikan gerak gerik Esther dan membuat Noel tidak nyaman.
Tiba-tiba ponsel Noel berdering. Pekerjaan yang menumpuk selama ia ijin kemarin harus segera ia selesaikan.
"Maaf, Tuan. Saya harus kembali ke kantor," ucap Noel.
"Oh iya, tidak apa. Kau tenang saja! Aku akan mengantar adikmu dengan selamat."
"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."
Noel pamit undur diri. Itu adalah rencana Julian agar dia bisa bicara empat mata dengan Esther.
Julian bangkit dari duduknya dan menemui Esther di toilet. Esther sangat terkejut dengan kehadiran Julian di toilet wanita.
"Tu-tuan Julian? Apa yang Anda lakukan disini? Ini adalah toilet wanita!" tanya Esther gugup.
"Tidak ada. Aku hanya ingin bicara denganmu, Nona Zara Asterlita Rayyan." Julian mendekati Esther.
"Hah?!" Esther membulatkan mata.
"A-apa maksudmu, Tuan Julian?"
"Kau sendiri tahu apa maksudku." Julian membuat Esther terpojok dan menempelkan tubuhnya ke dinding.
Julian mencengkeram dagu Esther hingga Esther memekik kesakitan.
"Kau pikir kau bisa bermain-main denganku, huh! Jangan kau kira aku tidak tahu sepak terjangmu. Apa yang kau inginkan dengan menjadi adik Noel?"
Esther memejamkan mata merasakan kerasnya cengkraman tangan Julian.
"Jawab!!!" Seru Julian didepan wajah Esther.
"Roy! Aku ingin Roy!" jawab Esther dengan susah payah.
Julian melepas tangannya dari dagu Esther.
__ADS_1
"Roy? Kenapa kau menginginkan Roy?"
"Karena aku ingin cinta Roy kembali padaku."
Julian tersenyum seringai. "Lalu dimana anak yang kau kandung? Dia adalah benihku!" tanya Julian dengan sorot mata tajam.
Esther berdecih. "Anakmu? Dia sudah mati!"
Julian mengepalkan tangan lalu mendorong tubuh Esther kembali menabrak dinding.
Esther berteriak meminta tolong ketika Julian mencekik lehernya.
"Mati katamu?! Kau yang harusnya mati! Bukan anakku!!" Geram Julian.
Esther hampir saja kehilangan nyawanya jika saja Leon tidak menginterupsi.
"Tuan! Apa yang Tuan lakukan? Tuan bisa membunuhnya!"
Suara Leon membuyarkan emosi Julian yang sudah mencapai puncak. Ia pun melepaskan Esther. Tubuh Esther meringkuk jatuh ke lantai dengan terbatuk-batuk.
"Jika apa yang kau katakan tidaklah benar. Maka kau akan menerima akibatnya." tegas Julian.
"Itu semua benar! Aku kehilangan bayiku!" Esther mulai terisak.
Julian terdiam di tempatnya.
"Tapi aku juga tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Kau tenang saja! Wanita itu juga merasakan apa yang kurasakan!"
Julian membulatkan matanya.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
Julian mencoba menggabungkan kepingan puzzle yang sedang dimainkan Esther alias Zara.
"Jangan bilang jika kau..."
"Iya! Aku menukar bayiku dengan bayinya. Bayi yang mereka makamkan adalah anakmu, Julian."
Julian sangat syok mendengar pengakuan Esther. Tangannya berpegangan pada pintu agar tidak terjatuh.
"Lalu dimana anak Roy dan Lian?" tanya Julian.
"Aku tidak tahu. Anak itu sudah menghilang."
"Katakan dimana anak itu!!!" Julian kembali mengguncang tubuh Esther.
"Aku bilang aku tidak tahu. Lima tahun lalu aku menitipkannya di panti asuhan. Tapi ternyata pihak panti asuhan sudah memberikannya pada orang lain untuk diadopsi."
Julian segera keluar dari toilet dengan terburu-buru. Ia menitip pesan pada Leon yang berjaga di depan toilet.
"Tolong kau antar wanita itu pulang! Aku harus pergi ke suatu tempat."
"Baik, Tuan."
Leon masuk kedalam toilet dan melihat Esther dengan penampilan yang kacau. Matanya sembab dan rambutnya acak-acakan.
"Saya akan mengantar Nona pulang."
__ADS_1
Esther menatap Leon datar. Ia membenahi penampilannya kemudian keluar dari toilet.
"Dimana Noel?" tanya Esther.
"Profesor Noel sudah kembali ke kantor."
Esther memejamkan mata sambil menghela nafas.
"Antarkan aku kembali ke apartemen." titah Esther.
"Baik, Nona."
*
*
*
Julian berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia menekan klakson pada setiap mobil yang mengganggu perjalanannya.
Julian mengusap wajahnya kasar. Semua kata-kata Esther mengulang di otaknya.
"Tidak mungkin! Anakku tidak mungkin meninggal!!!"
Saat itu Julian menghadiri pemakaman anak ke dua Lian dan Roy. Ia tahu dimana bayi mungil itu beristirahat dengan tenang.
Julian berjalan sempoyongan masuk ke area pemakaman. Sebuah nisan yang bertuliskan 'Jonathan Rain Avicenna' membuat Julian bersimpuh disana.
"Anakku!!!" Julian mengusap tanah makam Rain.
"Anakku!!!" Julian meraung-raung terisak dengan penuh penyesalan.
"Maafkan Papa, Nak. Papa tidak sempat melihatmu. Maafkan Papa!" Julian memeluk nisan Rain erat.
Sementara itu, Lian mencari keberadaan Julian yang hingga sore hari belum kembali ke kantor.
"Kemana sih dia? Leon bilang dia pergi setelah makan siang. Tapi sampai sekarang belum kembali juga." gumam Lian.
Saat sedang berjalan kembali ke laboratnya, Lian mendapat pesan dari Kenzo.
Lian membulatkan mata setelah membaca pesan dari Kenzo.
"A-apa?" Lian menutup mulutnya tak percaya. Ia segera masuk ke dalam toilet untuk memahami apa yang dibacanya tadi.
"Surat hasil pemeriksaan yang kemarin kau kirimkan adalah milik pasien wanita bernama Esther Alexandra. Dia didiagnosa kanker otak stadium akhir. Dan dikabarkan jika nyawanya tidak selamat. Wanita bernama Esther Alexandra sudah meninggal. Jadi, yang bersama Dokter Roy bukanlah Esther yang asli."
Berulang kali Lian membaca pesan dari Kenzo.
"Apa ini? Kenapa jadi begini? Jadi siapa sebenarnya wanita itu?" Gumam Lian dengan memikirkan semua yang terjadi dalam otaknya.
Lian segera membalas pesan Kenzo.
"Jangan beritahukan hal ini pada Mas Roy lebih dulu. Kita harus menyelidiki siapa wanita itu sebenarnya."
Lian menatap ke depan dengan perasaan tak menentu.
"Aku pasti akan menemukan semua jawaban dari teka teki ini." yakin Lian.
__ADS_1
...B E R S A M B U N G...